
Bu Darmi sebenarnya sangat mengkhawatirkan Juan, apalagi setelah mengetahui Erland adalah putranya Mario, disatu sisi dia bersyukur karena Erland telah menemukan orang tua kandungnya walaupun dia terkejut karena ternyata orang tua Erland adalah mantan majikannya. Di satu sisi lagi dia mengkhawatirkan Juan, Juan pasti terluka sekarang.
Juan, sedang apa dia? Batin hati Bu Darmi, dia akan sangat bahagia sekali jika Juan mau kembali padanya, walaupun rasanya tidak mungkin, Juan masih sangat membencinya.
Sementara saat ini Juan sedang makan malam di mansion William, nyonya Vera yang mengundangnya, Tuan Mario tidak ikut karena akhir-akhir ini hubungan Nyonya Vera dan Tuan Mario sedang tidak baik, nyonya Vera masih sangat kecewa dengan Tuan Mario yang telah membohonginya.
"Kamu yakin tidak mau tinggal disini lagi? Apa karena gara-gara kamu tau bukan anak kandung mama." tanya nyonya Vera sambil makan.
"Bukan begitu ma, tapi aku ingin mencoba hidup mandiri Ma." Padahal Juan sudah makan bareng Diana, tapi dia ingin menghargai perasaan nyonya Vera.
"Hmm... ya udah, mama gak akan maksa. Carilah pasangan, kenalkan nanti sana mama."
"Iya ma." Juan pura-pura tersenyum padahal dia belum memiliki pasangan.
Juan jadi teringat dengan Erland. "Bagaimana kabar Erland?"
__ADS_1
"Dia sudah membaik, rasanya masih canggung, tapi mama senang dia bisa menerima kehadiran mama."
"Syukur lah "
Nyonya Vera memegang tangan Juan, "Tapi kamu harus tau, Juan. Sampai kapanpun mama akan tetap sayang sama kamu. Kamu anak mana, sama Erland juga anak mama. Jadi jangan pernah berniat meninggalkan mama."
Juan terkekeh, "Tentu saja tidak, ma."
"Sekarang mama memiliki dua putra. Mama harap kamu bisa menjadi saudara yang baik buat Erland, begitu juga Erland."
Saat mau pulang dari mansion yang megah itu, Juan berpapasan dengan tuan Mario di halaman depan, dia membungkuk penuh rasa hormat, "Papa!"
Tuan Mario sama sekali tidak menanggapi sapaan dari Juan, dia menatap Juan dengan tatapan dingin.
Juan sudah terbiasa diperlakukan seperti itu.
__ADS_1
Sebelum pulang ke apartemen, Juan sengaja menghentikan mobilnya di pinggir jalan, dia hanya ingin melihat Bu Darmi dari kejauhan, namun sayangnya restoran Bu Darmi sudah tutup, Juan tidak bisa melihat wajah ibunya itu.
Setelah lama berdiam diri disana, Juan pun pulang. Juan memeriksa semua berkas dan juga audio recorder mengenai kejahatan Tuan Mario, dia menghela nafas, ternyata rasanya sangat berat untuk menyerahkan itu semua pada polisi, bagaimana pun bagi Juan dia adalah papanya walaupun tidak pernah dianggap kehadirannya.
Juan ingin menghubungi Erland, apa sebaiknya dia bekerja sama dengan Erland? Tapi dia mengurungkan niatnya karena tau Erland baru saja sembuh .
Sementara itu, Tuan Mario, dia hanya bisa berdiam diri di ruang kerjanya. Nyonya Vera sama sekali tidak ingin berbicara dengannya. Dia duduk bersandar di kursi, mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya sambil berpikir.
Situasi ini membuat dia mendadak menjadi lemah masih terbayang-bayang di benaknya bagaimana dia menembak Erland, bagaimana kondisi Erland saat kritis karena ulahnya, dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika Erland mati karenanya.
Tuan Mario memijat-mijat kepalanya sambil menundukkan kepala, lalu dia menepis semua yang ada di atas meja.
"Aargghh..."
Prang...
__ADS_1
Dia sangat emosi, marah pada dirinya sendiri. Dia tidak mengerti mengapa dia mendadak lemah seperti ini, bahkan dia tidak bisa macam-macam pada Eliana lagi, dia takut Erland akan nekad mengakhiri hidupnya jika terjadi sesuatu pada Eliana. Padahal tingggal selangkah lagi dia bisa mengusai Alaska.