
Siang ini Tuan Mario terus merenung, beberapa kali dia mengetuk-ngetukan jari telunjuknya di meja kebesarannya, dia teringat dengan tatapan Erland padanya, tatapan berbeda dengan waktu Erland yang datang ke mansionnya, sebuah tatapan kebencian, namun kali ini tatapannya begitu sendu padanya.
Tuan Mario menghela nafas, mungkin itu hanya pemikirannya saja. Dia jadi teringat dengan sikap Eliana yang sangat berbeda dengan Eliana yang seperti biasanya, hari ini Eliana kelihatan begitu ramah dan ceria, sungguh itu bukan kepribadian Eliana.
Mengapa sikap Eliana tiba-tiba berubah?
Itulah yang ada dipikiran Tuan Mario saat ini. Dia mencoba untuk menghubungi asisten Ken namun niatnya tertahan, dia malah menghubungi Black.
"Aku ingin kamu secepatnya melenyapkan Eliana, termasuk suaminya."
Black tersenyum puas mendengarnya, dia yakin Mario akan menyesali perbuatannya begitu tahu ternyata orang yang ditargetkan untuk dibunuh olehnya adalah darah dagingnya sendiri.
"Tentu saja Tuan."
"Tidak perlu terburu-buru, aku tidak ingin kamu bertindak gegabah. Aku ingin kamu melenyapkan juga orang yang jadi saksi mata itu."
"Baik Tuan."
Di kantor yang sama, Erland dibuat terperangah begitu melihat masakan Eliana, sebuah nasi goreng dengan disimpan di atas piring berbentuk hati, bahkan Eliana menulis kata I love u dengan saus di atas nasi goreng itu.
Erland merasa terharu melihatnya. Dia senang Eliana bisa bersikap manis padanya walaupun sebenarnya dia sangat merindukan sikap Eliana yang arogan.
"Mengapa terus ditatap seperti itu? Dimakan dong!" Eliana tidak sabar ingin melihat Erland memakan masakannya.
Erland tersenyum tipis, "Tentu saja." Dia segera memasukan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya, senyumannya sirna begitu merasakan bagaimana rasa nasi itu.
__ADS_1
Sangat asin!
Sepertinya Eliana terlalu banyak menaburkan garam ke dalam nasi gorengnya.
"Bagaimana?" Eliana mengangkat kedua alisnya, dia sangat deg-degan sekali.
"Enak sekali." Erland terpaksa berbohong, dia tidak ingin mengecewakan Eliana, dia harus memakannya sampai habis.
"Benarkah? Aku jadi ingin mencobanya!"
Eliana ingin meraih sendok yang dipegang Erland, tapi Erland malah bergeser menjauhkan jaraknya.
"Tidak bisa, ini punyaku." Erland tidak ingin Eliana mengetahui bagaimana rasa masakannya, dia pasti akan sedih sekali.
"Gak boleh." Erland malah semakin menggeser menjauhi Eliana. Dia terus memakan nasi gorengnya dengan begitu lahap.
Eliana merasa kesal karena Erland menghabiskan nasi goreng buatannya padahal dia niatnya ingin memakan nasi goreng itu berdua.
"Dasar pria kaku. Tidak romantis." Eliana mencibir.
Erland meneguk segelas air putih yang tersedia dia atas meja. Setelah itu mendekatkan jaraknya pada Eliana, "Itu karena nasi goreng buatan kamu sangat enak, makannya aku makan sampai habis."
"Padahal aku ingin mengicipinya juga." Eliana mengerucutkan bibirnya.
Erland gemas melihatnya, kedua tangannya memegang wajah Eliana, dia mengecup bibir Eliana, "Aku akan berbagi rasa nasi gorengnya."
__ADS_1
Erland mencium bibir Eliana dengan begitu lembut, dia memutuskan apapun yang terjadi dia akan mencintai Eliana dan menjadi suami yang baik untuknya.
Dengan sudut-sudut jiwa bergelora Eliana membalas ciuman Erland sehingga terdengar bunyi cecapan ciuman mereka, begitu menikmatinya.
Bahkan ciuman itu semakin lama semakin menuntut, mereka saling bertukar saliva diiringi dengan saling bersilat lidah dengan begitu n@fsu. Ciuman itu kini turun perlahan ke leher jenjang Eliana, Erland menghujani beberapa ciuman di leher Eliana, Eliana menggeliat begitu manja.
Dan tangannya nakal menelusup masuk ke dalam baju Eliana, meremas bongkahan bagian kiri yang terasa begitu kenyal dan menggemaskan.
"Er, bukannya kita akan melakukannya di rumah." Eliana mengatakannya dengan nafas tersengal-sengal begitu Erland membuka kancing bajunya.
"Tentu saja, Kamu lupa tidak memberikan aku cuci mulut."
Begitu kedua bongkahan itu menyembul, Erland langsung melahap kedua buah melon itu secara bergiliran. Eliana mengigit bibir bawahnya, tubuhnya menggeliat, memeluk kepala Erland yang sedang menikmati buah melonnya. Rasanya tak tertahankan begitu merasakan mulut Erland terus menghisap nippl3nya dengan begitu rakus seperti bayi yang kehausan.
Setelah puas dengan menikmati cuci mulutnya, Erland merapikan kembali baju Eliana, dia tersenyum manis pada gadis yang sekarang ada di pangkuannya itu, "Bagaimana kalau kita liburan? Hanya kita berdua. Aku ingin menghabiskan waktu berdua denganmu."
Eliana sangat senang mendengarnya, tentu saja dia sangat mau. "Tentu saja aku mau."
"Kamu mau pergi kemana?"
"Kemana pun kamu membawa aku pergi, aku akan ikut." Eliana jadi tidak sabar sekali untuk menikmati hari liburan itu tiba.
Eliana tidak bisa berlama-lama disana, dia harus segera pulang. Apalagi dia harus mempersiapkan acara malam indahnya bersama Erland, "Aku harus pulang dulu, aku akan menunggumu di rumah."
Erland mengangguk, "Hmm... aku akan secepatnya pulang." Erland juga tak sabar ingin menantikannya malam itu dimana Eliana akan menjadi miliknya seutuhnya. Ingin sekali dia melupakan hasil tes DNA itu, dia ingin Eliana tidak pernah tau dia anak dari Tuan Mario.
__ADS_1