Terjerat Hasrat Ceo Cantik

Terjerat Hasrat Ceo Cantik
82


__ADS_3

"Kamu kenapa El?" tanya Erland, dia merasa cemas melihat Eliana yang habis muntah ke wastafel.


Erland membantu Eliana dengan cara memijit-mijit tengkuk Eliana.


"Aku gak apa-apa kok." jawab Eliana setelah merasa sedikit plong karena rasa mual itu sedikit hilang.


Erland memegang tangan Eliana, "Lebih baik kita ke dokter."


Tapi Eliana malah melepaskan tangan Erland, "Aku bilang aku gak apa-apa. Mungkin masuk angin aja,"


Erland mengerti Eliana telah kembali ke mode singa betina, walaupun saat Eliana hilang ingatan dia begitu manis tapi Erland mencintai apapun yang ada di Eliana termasuk sifatnya.


Erland memilih mengalah saja.


"Hmm... ya udah lebih baik kita makan, biar aku yang masak ya." ucap Erland sambil tersenyum memandangi Eliana.


"Gak usah, bukannya kamu baru sembuh."


"Kamu mengkhawatirkan aku?"


"Tidak."


Erland hanya terkekeh, dia ingat dulu Eliana yang banyak menggodanya, kini giliran dia yang akan menggoda Eliana, meluluhkan hatinya agar Eliana berubah pikiran untuk mengakhiri pernikahan ini.


Erland tau ini sangat sulit untuk Eliana, dia tau diri dia adalah anak seorang Mario, tapi berpisah bukanlah cara untuk menyelesaikan masalah tapi malah membuat hidup mereka semakin terpuruk. Justru Erland ingin menemani Eliana yang saat ini sedang terpuruk, karena bukan cuma Eliana yang menderita, dia juga sama.


Erland tidak jadi memasak karena Diana sudah mengantarkan banyak makanan, Diana sengaja menitip makanan ke security, dia pasti akan di omelin Erland kalau melihat dia memakai pakaian pria yang kedodoran itu.

__ADS_1


Entah mengapa indra penciuman Eliana begitu kuat mencium wangi masakan Bu Darmi sangat menggodanya. Bahkan sandwich yang ada di depan matanya sama sekali tidak menarik untuknya.


Erland meletakan semua masakan Bu Darmi satu persatu ke atas meja makan, ada capcay, tongseng ayam, dan sosis asam manis yang begitu menggugah selera.


Erland melirik Eliana yang sedang memainkan sandwichnya, "Kau tidak makan?"


"Ini aku sedang makan." ketus Eliana, dia mulai memotong-motong sandwich miliknya.


"Emm... wah enak sekali!" seru Erland sambil makan, dia begitu lahap menyatap makanan buatan Bu Darmi itu.


Eliana menelan saliva melihatnya, ingin sekali dia mencolek sedikit saja masakan Bu Darmi, tapi dia terlalu gengsi, dia ingin Erland menyerah. Padahal sebelum Erland datang ke rumah, Eliana sudah mempersiapkan hatinya untuk berpisah dengan Erland, tapi kehadirannya membuat hatinya goyah lagi.


"Kamu mau?" Tiba-tiba Erland menawarkan masakan Bu Darmi.


"Tidak." Jawab Eliana, dia masih sibuk memainkan sandwichnya.


"Hmm... ya sudah aku habiskan semuanya." goda Erland, dia ingin memasukan semua masakannya ke dalam piring.


Sebenarnya Eliana malu sekali, tapi dia tidak tahan dengan semua aroma masakan Bu Darmi.


Erland hanya tersenyum tipis melihat Eliana yang tumben porsi makannya lebih banyak dari biasanya. Apa saking enaknya masakan Bu Darmi atau selera makan Eliana yang meningkat.


Setelah selesai makan, mereka tidur di kamar masing-masing, karena Eliana ingin tidur terpisah dengan Erland, Eliana ingin terbiasa bisa hidup tanpa Erland. Namun rupanya malam ini dia tidak bisa tidur, Eliana terus memposisikan tidurnya ke kanan lalu ke kiri, terus saja seperti ini.


"Ahhh... ada apa denganku?" Eliana bangkit sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Mengapa dia tidak bisa tidur malah ingin sekali mencium aroma pria itu.


"Oh ini sudah gila Eliana, mengapa aku ingin sekali mencium aroma tubuhnya." Eliana sama sekali tidak mengerti dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Eliana segera keluar dari kamar, dia turun melewati anak tangga satu persatu, dia mondar mandir di depan kamar Erland dalam waktu yang lumayan lama, akhirnya dia terpaksa masuk ke kamar Erland.


"Erland!"


Eliana tidak melihat Erland ada disana, "Kemana dia?"


Lalu ada suara pintu kamar mandi terbuka, dia melihat Erland yang hanya memakai bokser hitam saja, Eliana tak sadar dia tidak mengedipkan matanya dari tadi memandangi otot-otot di perut Erland yang begitu menggodanya walaupun disana masih ada perban yang menempel. Apalagi wajah Erland yang terlihat sangat tampan dengan kondisi rambutnya yang basah.


Sialnya dia tak bisa mengendalikan pandangannya, saat mata itu tertuju kepada sesuatu yang menonjol di dalam boxer itu.


Oh shitt... jaga matamu Eliana, kau tau kan rasanya? Sangat sakit itu.


Erland terkekeh begitu menyadari apa yang dilihat Eliana, "Kenapa? Kamu mau?"


"Ma-mau apa?" Eliana sangat gugup begitu ketahuan apa yang dilihat Eliana.


Sangat malu sekali, ingin sekali dia menggali tanah saat itu juga lalu ngumpet disana.


Erland berjalan mendekati Eliana, dia meraih pinggang Eliana merapatkan kedua tubuh itu, Eliana sangat gugup sekali berada di dalam situasi seperti ini.


"Aku akan mencari bukti semua kejahatan Tuan Mario, aku janji akan membuatnya harus menebus semua kesalahan yang telah dia lakukan. Dan aku tidak akan memaksa kamu jika akhirnya kamu tetap memilih tidak sanggup hidup dengan aku lagi, aku mengerti, ini pasti berat buat kamu. Tapi bisakah selama satu minggu ini kita gunakan baik-baik waktu kebersamaan kita?"


"Maksudnya?"


"Kita habiskan kebersamaan kita dengan penuh cinta dan penuh gairah, seperti sepasang suami-istri sungguhan. Apa kamu mau?"


Eliana belum bisa menjawab, dia hanya diam memandangi wajah tampan Erland, hembusan wanginya nafas Erland entah mengapa Eliana begitu sangat menyukainya, apalagi dia bisa mencium lagi aroma tubuh itu membuatnya sangat nyaman tapi menggairahkan.

__ADS_1


...****************...


...Bilang aja gak mau El hehe ✌✌😁...


__ADS_2