
Erland sudah merasakan bagaimana rasa masakan Eliana saat Eliana sedang amnesia, walaupun rasanya asin tapi Erland sangat menghargainya.
Dan sekarang Erland ingin Eliana menghiburnya dengan masakan sang istri, sampai Eliana terkejut mendengar permintaan Erland karena dia anti sekali dengan dapur.
Tapi demi suami tercinta dia akan melakukan apapun untuknya. Karena itu dia meminta Bu Darmi untuk mengajarkannya memasak.
"Nah iya betul iris kecil-kecil begini." ucap Bu Darmi dengan lembut pada Eliana. Dia sedang mengajari Eliana mengiris bawang merah.
"Iya, bu." Eliana hanya menganggukan kepala, dia begitu bersemangat belajar memasak pada Bu Darmi. Kebetulan saat itu restoran sengaja di tutup lebih awal.
"Ibu bisa membangun restoran ini karena Erland, dia yang sudah memberikan modal buat ibu. Bahkan Erland yang membiayai Diana sekolah." cerita Bu Darmi sambil mengaduk-aduk masakannya.
"Erland memang pria yang baik," Eliana tersenyum memuji suaminya.
"Iya dia anak yang baik. Tapi ibu belum pernah lihat dia sebahagia itu, setelah bersamamu Erland terlihat sangat bahagia. Bahkan setiap mampir kesini, yang dia bicarakannya itu istrinya sendiri. El sangat cantik, El suka ini, El suka itu."
Eliana tersipu malu mendengar ucapan Bu Darmi.
"Kata Erland, El sedang hamil ya? Ibu senang sekali mendengarnya."
"Iya, Bu." Eliana tersenyum tipis.
"Hmm... dia emang bucin banget sama kak El." Diana ikut menimpali ucapan Bu Darmi.
Wajah Eliana merah merona. Dulu dia pernah cemburu karena melihat Erland begitu mencintai Chelsea, sampai dia penasaran bagaimana rasanya dicintai seorang pria begitu dalam. Ternyata dia mendapatkan itu semua dari Erland, Erland rela melakukan apa saja demi dirinya.
Pembicaraan mereka tiba-tiba berhenti saat ada Erland datang, dari tadi Erland habis melepaskan rindu dengan banyak mengobrol bersama sahabatnya, Rizal, yang memang sudah pulang dari Jepang. Rizal sudah siap untuk menjadi saksi atas kecelakaan Tuan Adnan.
__ADS_1
"Pantas dari tadi kuping aku panas rupanya aku lagi dibicarakan sama ketiga bidadari ini."
Diana ingin muntah mendengar ucapan Erland.
Rizal berpamitan untuk pulang, "Tante, saya pulang dulu ya. Istri dan anak saya sedang menunggu di rumah."
"Eh tunggu dulu, ada yang ingin tante titipkan sama istri kamu."
Bu Darmi pergi ke bagian depan restoran untuk membawa banyak makanan untuk Rizal. "Ayah tolong bantu ibu bungkus makanan." katanya pada ayah Redi.
Ayah Redi hanya mengangguk saja sambil membantu Bu Darmi membungkus makan untuk Rizal.
"Aduh gak usah repot-repot tante "
"Gak apa-apa, istri kamu kan langganan restoran ini."
Sementara itu di dapur tinggal ada Erland, Eliana, dan Diana. Diana merasa jadi nyamuk disana, lebih baik dia keluar saja dari pada melihat kedua orang yang lagi kasmaran.
"El..."
"Hm?"
"Mama Vera sangat senang mendengar kamu hamil, dia menitipkan ini padaku." Erland yang masih memeluk Eliana, dia memakaikan sebuah gelang cantik di pergelangan tangan istri tercinta.
Eliana yang sedang mengaduk cumi asam manis sampai berhenti sejenak begitu Erland memakaikan gelang pada pergelangan tangannya. "Wah cantik sekali."
"Kamu menyukainya?"
__ADS_1
"Sangat. Kapan kamu ketemu mamamu?"
"Tadi, hari ini mama ulang tahun, tadi aku sama Juan kesana."
Eliana mendengus, "Kenapa tidak mengajak aku?"
"Nanti saja, aku tau kamu tidak akan nyaman bertemu papaku."
Eliana terdiam sejenak, ya hatinya masih sakit saat mengetahui secara jelas dari Riko bahwa Tuan Mario lah yang menyuruh Riko untuk membunuh papanya.
"Aku sudah membujuk papa untuk bisa menyerahkan diri ke polisi." Erland mengatakannya dengan mata berkaca. Pasti sakit rasanya saat dia bertemu dengan ayah kandung dengan keadaan tragis ingin saling membunuh. Tapi dia sadar kesalahan Tuan Mario tidak bisa termaafkan.
Eliana tertegun mendengarnya, dia sangat tau sekali Erland pasti sedih harus membujuk papanya untuk menyerahkan dirinya sendiri ke polisi, bahkan banyak yang lebih baik menutup mata atas apa yang dilakukan sang ayah. Tapi hukum tidak mengenal darah, siapa yang salah memang harus mendapatkan hukuman yang sesuai dengan kejahatannya.
Bukan karena membunuh Tuan Adnan saja, tapi karena banyak nyawa yang sudah Tuan Mario hilangkan. Termasuk dalang atas kecelakaan Eliana di hutan waktu itu.
Eliana memegang wajah Erland, "Pasti berat sekali buat kamu. Aku minta maaf membuat kamu berada di dalam situasi seperti ini."
"Tidak apa-apa. Papa memang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya."
Eliana mengusap wajah pria tampan itu dengan lembut, lalu menjinjitkan kakinya, mencium bibir Erland. Erland menekan tengkuk Eliana, memperdalam ciuman mereka. Kedua bibir itu saling bertaut mesra.
"Aku mencintaimu, Erland." ucap Eliana setelah melepaskan ciuman mereka.
"Aku lebih mencintaimu." jawab Erland dengan menatap netra kedua mata Eliana.
...****************...
__ADS_1
...Sejahat apapun seorang lelaki, saat dia menjadi seorang ayah , dia akan melakukan yang terbaik untuk anaknya....
...Wah siapa nih yang salah nebak bisikan Erland ke Eliana 🤦♂️😁...