
Jlebbb...
Erland menancapkan pisau ke meja kebesaran Tuan Mario dengan menatap tajam padanya "Jangan pernah berani menyakiti Eliana lagi jika tidak ingin mati ditanganku seperti ini." Erland menunjuk pisau yang tertancap di meja kebesarannya.
Bukannya marah, Tuan Mario malah terkekeh. Entah mengapa dia melihat Erland persis seperti dirinya yang rela melakukan apapun demi orang yang dicintainya. Termasuk bagaimana Erland menatapnya, begitu sangar. Sebenarnya sosok kuat seperti ini yang diinginkan Tuan Mario. Namun sayangnya Erland berada di posisi lawan.
Juan hanya terdiam, memandangi dua orang yang saling menatap, Juan rasa tanpa perlu tes DNA pun dia begitu yakin bahwa mereka ini ayah dan anak.
"Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu ucapkan." Tuan Mario berbicara dengan santai, sama sekali tidak merasa berdosa dengan apa yang telah dia perbuat.
"Kecelakaan Eliana, aku tau anda dalangnya. Bukan hanya itu bahkan hari ini anda menyuruh seseorang untuk membunuh Ryan karena anda menyadap pembicaraan kami." Erland mengatakannya dengan begitu emosi.
Juan tercengang mendengarnya begitu mendengar Ryan terbunuh, dia semakin yakin Tuan Mario yang telah menyuruhnya untuk mencelakai Eliana. Dia mengepalkan tangannya menatap Tuan Mario dengan tatapan menahan amarah.
Tuan Mario terkekeh, "Apa kamu punya bukti menuduhku seperti ini?"
Erland tak langsung menjawab karena dia tidak memiliki bukti atas ucapannya, walaupun dia tau dari mulut Ryan sendiri yang mengatakannya. "Saat ini aku tidak memiliki buktinya tapi aku akan pastikan mencari bukti itu sampai aku berhasil membuat Anda membusuk di dalam penjara."
Tuan Mario merasa tertantang, dia tertawa kecil. "Baiklah aku akan menunggunya. Asalkan kamu tau aku bukanlah orang yang gampang kamu singkirkan."
__ADS_1
Erland berjalan mundur, menatap tajam pada Tuan Mario, "Tentu saja, aku akan mengalahkanmu."
Tanpa basa basi Erland segera pergi meninggalkan Masion Wilam, dia masih memiliki kepentingan, ingin tau bagaimana perkembangan tentang kematian Ryan.
Namun begitu di kantor polisi, dia mendapatkan kabar yang tidak mengenakan karena Ryan diduga bunuh diri gara-gara tidak terima dengan kematian istrinya.
"Gak mungkin Pak, Ryan sudah jelas di bunuh. Malah aku berkelahi dengan tersangkanya." Erland memprotes sambil menunjukkan pelipisnya yang terluka.
"Sepertinya anda sedang mabuk sampai melukai diri sendiri." Polisi tidak mempercayai ucapan Erland, apalagi polisi memperlihatkan surat yang ditulis oleh tangan Ryan sendiri yang menyebutkan bahwa dia ingin menyusul istrinya.
Ya Ryan terpaksa menulis surat itu atas ancaman Black.
Erland sadar Tuan Mario bukanlah lawan yang mudah, makanya sampai saat ini Eliana kesulitan untuk mencari bukti kebenaran mengenai kecelakaan yang menyebabkan ayahnya meninggal.
Erland mencoba menelpon sahabatnya, dia ingin meminta bantuan padanya. "Zal, lu dimana sekarang?"
"Gue lagi Jepang, istri dan anak gue masih betah liburan disini." jawab Rizal, "Memangnya kenapa?" Rizal balik nanya pada Erland.
"Emm...oh tidak, puas-puasin aja liburannya." Erland tidak ingin mengganggu kesenangan sahabatnya itu.
__ADS_1
Setelah menutup telepon, dia melihat ada pesan masuk dari nomor asing.
[Aku Juan, aku ingin bicara dengan kamu sekarang. Aku tunggu di Cafe Jingga.]
Erland tidak mengerti untuk apa Juan ingin bertemu dengannya.
Erland jadi teringat dengan Black, mengapa ayah angkatnya menjadi pembunuh bayaran Tuan Mario? Apa yang ayah angkatnya rencanakanrencanakan?
...****************...
Black tertawa terbahak-bahak, dia rasa rencananya berhasil, dia ingin membuat Tuan Mario mati ditangan anaknya sendiri. "Hahaha... pertunjukan yang menarik."
"Pada akhirnya mereka berdua akan saling membunuh."
Drrrtt... Drrrtt...
Ponselnya bergetar, dia menghela nafas begitu melihat nomor Tuan Mario menghubungi dirinya. Dia terpaksa menerima panggilan telepon itu.
"Dasar *******, Mengapa bisa ketahuan seperti itu? Mengapa bisa teledor Black?" Tuan Mario terus saja memaki-maki Black dengan umpatan kasar.
__ADS_1
"Maafkan saya Tuan. Saya janji tidak akan mengulangi lagi." ucap Black, padahal dihatinya dia tidak sudi memohon seperti itu pada Tuan Mario.