
Satu minggu kemudian...
Ingatan Eliana belum kembali, namun gadis itu terlihat begitu ceria tanpa memiliki beban pikiran apapun, dia sudah tidak memerlukan perawatan lagi, hanya saja satu minggu satu kali dokter pribadi Eliana akan mengecek keadaannya.
Hubungan Eliana dan Erland pun baik-baik saja, malah Eliana begitu bersikap manis dan manja pada Erland, walaupun Erland masih menahan diri untuk tidak melakukan hubungan badan selama satu minggu ini karena Eliana belum sembuh total.
"Bagaimana kondisi nona El, Dok?" tanya Miss Bona pada Dokter Bimo.
Dokter Bimo tidak langsung menjawab, dia masih sibuk memeriksa kondisi Eliana dulu. Dia membuka perban di kepala Eliana, "Kondisi nona El sudah semakin membaik."
"Lalu bagaimana dengan ingatannya?" tanya Miss Bona lagi.
"Ingatan nona El pasti akan secepatnya pulih, saya harap Miss Bona ikut membantu memberitahu apa saja kenangan yang pernah Eliana alami selama ini, apalagi itu yang menurut Eliana penting untuk diingat."
"Tentu saja dokter." Miss Bona sangat lega mendengarnya. Dia berharap ingatan Eliana secepatnya pulih karena dia ingin mempertemukan Eliana dengan Rizal, saksi mata yang melihat secara langsung pembunuhan berencana terhadap Tuan Adnan.
"Sudah berapa lama kamu mengabdi padaku?" tanya Eliana pada Miss Bona. Setelah Dokter Bimo pergi.
"Dari nona masih kecil, nona sudah saya anggap anak sendiri."
"Hm... pasti aku sangat merepotkan sekali." gumam Eliana, dia berjalan perlahan ke balkon, memandangi pemandangan yang indah di halaman mansionnnya.
Miss Bona mengikutinya, dia berdiri di samping Eliana. Dia menunjukkan sebuah paviliun di bawah sana, "Dulu nona El suka sekali menyendiri di tempat itu."
Sayangnya Eliana tidak bisa mengingatnya, "Aneh sekali bukan, aku sama sekali tidak ingat apapun tentang kehidupan aku dan orang-orang disekitarku. Tapi jantungku terus berdebar-debar setiap bersama dia, membuat aku ingin selalu di dekatnya. Aku ingin sekali mengingat kenangan aku bersamanya." Eliana mengatakannya sambil memegang dadanya.
__ADS_1
Miss Bona menatap dengan pandangan teduh pada sang nona, "Sepertinya nona sangat mencintainya."
Eliana menghela nafas, "Tapi kenapa dia seperti memiliki beban pikiran, kadang sifatnya begitu dingin, kadang juga diperhatian."
Miss Bona terdiam, dia tidak mengerti mengapa sikap Erland begitu pada Eliana, tapi dia tidak bisa ikut campur dalam urusan nonanya.
"Apa mungkin karena aku belum memberikan service batin?"
Miss Bona yang belum pernah berpacaran, dia terbelalak mendengarnya, bagaimana bisa Eliana mengatakan masalah itu padanya.
"Emm... mungkin saja nona."
"Bukan kah aku sudah sehat jadi aku bisa membuat suamiku senang."
"Anak?" Eliana tersenyum lebar, membayangkan betapa bahagianya dia jika memiliki anak, pastinya rumah tangga dia dan Erland akan semakin lengkap dengan kehadiran seorang anak.
Drrtt...Drrtt...
Handphone Miss Bona bergetar, dia mendapatkan pesan dari Juan.
...****************...
Erland mencoba untuk terus mengintrogasi Arya, karena dia masih kerja disana. Kebetulan dia memanggil Arya datang ke ruangannya saat itu. Namun sayangnya Arya tidak ingin mengakuinya.
"Saya berani bersumpah Pak, saya tidak mencelakai nona Direktur." Arya terus mengelak, dia tidak mungkin berbicara jujur bahwa dia yang mendorong Eliana.
__ADS_1
Erland mencoba bersikap tenang untuk menghadapinya, "Apa kamu tau mengapa Ryan meninggal?"
Arya mengernyit, dia tidak mengerti mengapa Erland membahas kematian Ryan, padahal sudah jelas Ryan bunuh diri. "Dia bunuh diri, Pak."
"Bukan, tapi dia bunuh. Aku menyaksikannya sendiri. Aku bisa melindungi kamu jika kamu ingin bekerja sama denganku."
Tetap saja Arya tidak ingin mengakui perbuatannya, dia yakin dia tidak akan dibunuh jika dia tidak membocorkan kejadian yang sebenarnya. "Maaf Pak, tapi saya tidak mencelakai nona Direktur. Bapak tidak bisa menuduh saya tanpa bukti."
Erland menghela nafas, dia memang tidak bisa memaksa Arya untuk mengakui perbuatannya tanpa adanya bukti. Karena itu dia menyuruh Arya untuk pergi dari ruangannya.
Setelah Arya pergi, Erland membuka sebuah laci di meja kebesarannya, lalu membawa sebuah amplop berwarna putih yang masih bersegel, itu adalah hasil Tes DNA yang dia bawa dari kemarin, tapi dia tidak berani untuk melihatnya.
Tapi bagaimana pun juga Erland tidak bisa lari dari kenyataan, siap tidak siap dia harus melihat semuanya.
"Aku yakin aku bukan anaknya." gumam Erland. Meyakinkan hatinya.
Dengan perasaan berdebar dia membuka surat hasil tes DNA itu. Dia membulatkan matanya begitu melihat hasil tes DNA itu yang menyatakan bahwa sample dia dan Tuan Mario ada kecocokan 100 persen dan menyatakan bahwa Tuan Mario adalah ayahnya. Walaupun disana tidak tertulis nama Tuan Mario, karena Erland melakukan tes DNA secara ilegal.
Betapa remuknya hati Erland saat ini.
Rasanya ada sebuah bom meledak di dadanya. Mengguncang hatinya. Begitu terasa sakit dan menyesakan.
Tidak mungkin!
Bagaimana bisa pria itu adalah ayahku?
__ADS_1