Terjerat Pesona Sang Direktur

Terjerat Pesona Sang Direktur
Tawaran dari Cristian


__ADS_3

Angelia memasuki ruangannya dan semua mata tertuju kepadanya. Angelia bergegas menuju kubikelnya dan duduk disana.


“Angel, ada apa? Kamu baik-baik saja kan?” tanya Rosie mengintip dari kubikelnya.


“Aku baik-baik saja,” jawab Angelia.


“Lalu kenapa Direktur memanggilmu?” tanya Rosie terlihat sangat ingin tau.


Angelia terdiam sesaat untuk menemukan alasan yang tepat. Tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya.


“Itu, mengenai presentasiku kemarin di rapat triwulan. Dia sedikit menanyakannya dan memberiku masukan untuk kedepannya presentasiku harus lebih detail dan jelas supaya dapat dipahami semua orang,” jelas Angelia berusaha menghilangkan kecurigaan mereka.


“Tuh kan. Aku sudah mengira tidak ada apa-apa. Ck, dasar mulut besar mereka tidak pernah dijaga dan asal menuduh orang saja,” seru Rosie sedikit keras hingga terdengar oleh yang lainnya.


“Sudahlah, biarkan saja,” seru Angelia.


“Tapi Angel. Kamu tidak benar-benar menyukai Direktur, kan?” tanya Rosie dengan nada pelan.


“Eh? Emm apa maksudnya?” tanya Angelia.


“Iya aku tidak ingin sampai harus bersaing dengan teman sendiri karena seorang pria. Jadi aku harus memastikan bahwa kau tidak menyukai Direktur,” seru Rosie.


Angelia mendadak sedikit sulit untuk menjawabnya. “Emm itu, tidak kok. Kamu tenang saja, Direktur bukan tipeku,” seru Angelia tersenyum kecil.


“Ah syukurlah. Aku tau kamu tidak menyukainya dan tidak akan menikung teman sendiri,” kekeh Rosie sangat bahagia.


“Sudahlah kembali bekerja,” jawab Angelia membuat Rosie mengangguk dan kembali bekerja.


Angelia menarik kemeja yang ia gunakan untuk menutup gelang di pergelangan tangannya. Gelang itu terlihat mahal dan akan membuat orang-orang merasa curiga.


***


“Cristian?” seru Angelia saat ia keluar dari kantornya. Ia melihat Cristian berdiri di samping mobilnya.


Kini Angelia sudah berdiri di hadapan Cristian.


“Aku menjemputmu pulang. Ayo naik,” seru Cristian membukakan pintu penumpang untuk dirinya.


Disaat bersamaan sebuah mobil SUV mewah lewat di depan mereka. Angelia mengetahui siapa pemilik mobil itu.


'Apa dia melihatnya?' batin Angelia melirik mobil itu sebelum akhirnya menaiki mobil Cristian.


Di dalam mobil SUV itu, Regan melihatnya dari cermin depan. Ia kebetulan menggunakan supir dan ia duduk di kursi penumpang belakang. Ia dapat melihat dari cermin depan.


“Pria itu lagi,” gumamnya hanya mampu menghela nafasnya saja.


“Kita langsung pulang saja, Jose.” Regan berucap pada supirnya. Awalnya ia berniat mengantarkan Angelia pulang.


***


Keesokan harinya, Angelia baru saja sampai di kantornya dan bertemu dengan Rosie. Mereka berjalan bersama memasuki lobby kantor. Seperti biasa, setiap pagi di bagian lift karyawan akan penuh mengantri menuju ruangan masing-masing. Mereka berdua juga ikut mengantri sambil berbincang.


Tak lama terdengar heboh sekali dari para karyawan lain yang berada disana ikut mengantri. Ternyata Regan datang seorang diri.


Ia mengenakan jas berwarna abu yang begitu menawan. Mata tajamnya dengan bulu mata lentik membuatnya semakin tampan.


Ia berjalan dengan langkah lebar dan begitu elegan. Semua mata tertuju padanya dan mereka membuka jalan untuk Regan. Ada yang diam-diam memotretnya. Regan terus berjalan, tetapi bukan menuju lift para petinggi, melainkan menuju Angelia berada.


Melihat Regan berjalan kearahnya membuat jantung Angelia berdebar dan ia merasa takut. Apalagi semua mata tengah tertuju pada sosok Regan.


Regan berhenti tepat di hadapan Angelia dan tak di sangka-sangka ia membisikkan sesuatu pada Angelia dengan mendekatkan bibirnya ke daun telinga Angelia.


“Kamu terlihat menawan hari ini,” bisiknya.


Deg


Wajah Angelia bersemu merah begitu juga dengan telinganya membuat Regan yang sudah menarik kembali tubuhnya merasa gemas melihatnya. Setelah membisikkan itu, Regan berlalu pergi meninggalkan Angelia yang membeku di tempatnya. Sebelum Regan memasuki liftnya, ia kembali menoleh ke arah Angelia dan menyeringai membuat Angelia tersadar dari lamunannya. Dan saat itu juga ia sadar kalau kini seluruh pasang mata tertuju padanya dengan tatapan menuduh.


“Angel, ada apa semua ini?” tanya Rosie yang terlihat cemburu dan kesal juga padanya.


“Itu-“ Angelia benar-benar bingung harus menjelaskan apa.


'Devil sialan. Dia sengaja melakukan ini untuk memancing semua orang,' batin Angelia.


Syukurlah lift terbuka, Angelia bergegas memasuki lift dan berusaha mengabaikan berbagai macam tatapan yang tertuju padanya. Bahkan temannya sendiri pun terlihat marah padanya.


Ya Tuhan bagaimana ini....


***


Angelia tadi ke kamar mandi dulu sebelum memasuki ruang divisinya. Ia berusaha menenangkan dirinya.


Dan saat ini ia berdiri di hadapan beberapa pasang mata yang menatapnya penuh rasa ingin tau, marah, kesal dan juga iri. Disana juga sudah ada Rosie yang tadi ia tinggalkan begitu saja tanpa menjelaskan apapun.


“Ah, hari ini kenapa terasa panas sekali yah,” seru Angelia berusaha mencairkan suasana. Ia bergegas menuju kubikelnya.


“Apa kau tidak berniat menjelaskan sesuatu kepada kami?” seru Rosie menghadang langkah Angelia membuat Angelia menatap ke arahnya dengan canggung.

__ADS_1


“A-apa maksudmu?” seru Angelia menjadi begitu canggung.


“Angel, aku melihat juga mendengar apa yang tadi Direktur bisikkan padamu. Sebenarnya ada hubungan apa kau dan Direktur? Kau bilang kau tidak menyukainya, tetapi sekarang kenapa malah seperti ini?” seru Rosie terlihat begitu kesal.


“Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Direktur, Rosie”.


“Aih kau selalu berpura-pura polos. Aku pikir kau benar-benar polos, ternyata kau seperti ini, Angelia. Apa kau sudah merayu Direktur?” seru Mandy.


“Jangan asal menuduh tanpa bukti, Mandy!” Angelia merasa kesal.


“Kamu selalu menjaga jarak dari kami disini. Bahkan cintaku pun kamu tolak. Ternyata pada Direktur, kamu langsung menyerah begitu saja. Ternyata memang uang dan jabatan adalah segalanya,” seru Andra yang juga bagian dari divisi itu.


“Ada apa ini? seru Adam yang baru saja datang. “Apa kalian tidak memiliki pekerjaan sampai begitu santai mengobrol?”


Seruan Adam menghentikan mereka dan langsung kembali ke meja kerja masing-masing. Angelia pun memasuki kubikelnya dengan kesal dan membuka laptopnya.


'Ini semua gara-gara Devil itu. Sebenarnya apa yang dia inginkan? Kenapa dia berlaku seperti ini? Apa dia memang sengaja ingin menjebakku atau mempermalukanku?' batin Angelia merasa sangat kesal.


***


Hari demi hari Angelia menjalani pekerjaannya dengan sangat berat. Ia merasa sangat tersiksa dengan isu isu yang tidak enak di dengar di kantor. Dan ternyata memang Angelia yang mereka salahkan sebagai wanita penggoda, ****** dan bahkan banyak yang berkomentar kalau dirinya telah menghangatkan ranjang Direktur. Ia di tuduh sebagai wanita yang polos tetapi ternyata aslinya adalah seorang ******. Bahkan Rosie sendiri yang merupakan temannya menghindarinya karena rasa cemburu. Padahal kalau di pikir lagi, Rosie bukan kekasih dari Regan, kenapa dia harus marah pada Angelia.


“Haisshh sungguh penuh drama,” keluh Angelia menyembunyikan wajahnya di bantal. Sudah dua hari dia tidak masuk kantor karena merasa tertekan dan malas meladeni Rosie yang setiap hari terus menanyakan hubungannya dengan Regan dan itu sangat membuat Angelia jengah.


'Mom, sekarang aku harus bagaimana? Apa aku keluar saja dari pekerjaan berharga ini? Lalu kalau aku kembali menjadi pengangguran, keluarga Virendra akan dengan mudahnya menginjakku dan semakin menyudutkanku. Mom, aku sudah melangkah dalam jalan ini, jadi aku harus bagaimana sekarang?' batin Angelia.


Ia menatap lurus ke depan dengan tatapan menerawang.


Bel rumahnya berbunyi membuat ia menoleh ke sumber suara. Ia pun berjalan menuju pintu dan membukanya.


“Cris?”


“Angel. Apa kamu baik-baik saja?” tanya Cristian.


“Masuklah,” seru Angelia memberi ruang untuk Cristian.


Cristian masuk ke dalam rumahnya dan Angelia segera menutup pintunya tanpa menyadari ada mobil lain yang juga berhenti tak jauh dari depan rumahnya.


Sang empu di dalam mobil tersebut adalah Regan. Regan menghela nafasnya seraya memijat pangkal hidungnya. Ia baru saja pulang dari meeting tiga hari diluar kota. Saat ia kembali, ia mendapat kabar dari Nickolas mengenai Angelia, makanya ia bergegas kemari untuk melihat Angelia.


Regan menoleh ke sampingnya dimana sebucket bunga nan indah tersimpan manis.


“Sepertinya dia baik-baik saja,” seru Regan berlalu pergi meninggalkan area rumah Angelia.


Di dalam rumahnya, Angelia menyuguhkan segelas teh hangat kepada Cristian yang duduk di sofa.


“Aku mendapat kabar dari salah satu teman yang bekerja di kantormu juga. Sebenarnya kami baru saja bertemu setelah sekian lama. Saat mengetahui dia bekerja disana, aku langsung bertanya mengenai dirimu dan dia menceritakan sebuah scandal antara kamu dan Direktur. Aku juga dengar kamu tidak masuk kantor beberapa hari ini, makanya aku datang kemari,” seru Cristian.


“Terima kasih karena kamu begitu peduli padaku,” seru Angelia tersenyum kecil.


“Sebenarnya ada hubungan apa antara kamu dan Direkturmu?” tanya Cristian penuh selidik.


“Kami tidak memiliki hubungan apapun, semua itu hanya kesalahpahaman saja. Mereka terlalu membesar-besarkan masalah,” seru Angelia.


“Ah begitu yah. Syukurlah kalau tidak memiliki hubungan apapun,” seru Cristian tersenyum penuh arti.


Angelia tidak bodoh. Dia mengetahui arti senyuman Cristian itu. Akhirnya semua rencananya berjalan mulus. Cristian kini jatuh cinta padanya dan berada dalam genggamannya.


“Jadi bagaimana kamu menghadapi semua tuduhan ini? Aku dengar mereka begitu kejam menuduhmu,” ucap Cristian.


“Entahlah. Mungkin aku akan berusaha tidak peduli. Bagaimanapun juga aku membutuhkan pekerjaan ini,” ucap Angelia.


“Jangan menyiksa diri kamu seperti ini. Bagaimana kalau kamu keluar saja dari W.E Inc dan bekerja di perusahaanku. Kebetulan posisi Sekretaris sedang kosong. Kamu bisa menjadi sekretarisku, bagaimana?” tanya Cristian.


‘Perusahaan Cristian tidak sebesar W.E Inc yang masuk kategori 50 besar perusahaan terkemuka di Dunia. Tetapi perusahaan Cristian memegang saham cukup lumayan di Virendra Entertainment. Aku harus bagaimana? Selain dukungan, aku juga butuh uang yang lumayan untuk melancarkan rencana ini,’ batin Angelia.


“Angel.”


Angelia tersadar dari lamunannya saat Cristian menyentuh tangan Angelia.


“Itu-“


“Aku tau gaji di perusahaanku tidak sebesar di W.E Inc. Tapi kamu akan menjadi pengecualian, apalagi kamu disana menempati posisi sekretaris yang akan selalu berhubungan denganku.


Terdengar manis…


“Aku akan memikirkannya. Kalau aku sudah yakin dengan keputusanku, aku akan menghubungimu,” seru Angelia.


“Baiklah kalau begitu.”


Mereka kembali terdiam dan focus dengan pikiran masing-masing.


“Baiklah, aku harus kembali ke kantor.” Cristian berdiri dari duduknya dan berdiri menjulang di hadapan Angelia yang masih duduk.


“Kamu beristirahatlah. Dan ingat, jangan lupa untuk menghubungiku,” seru Cristian hendak menyentuh kepala Angelia dengan telapak tangannya, tetapi Angelia spontan menghindar membuat Cristian membeku dan tangannya menggantung di udara.


“Aku akan beristirahat,” seru Angelia bergegas berdiri dengan tersenyum kecil.

__ADS_1


“Baiklah, aku akan pergi. Beristirahatlah.”


Setelah itu Cristian pun pergi meninggalkan Angelia seorang diri.


Angelia duduk di atas sofa dengan menyandarkan kepalanya ke kepala sofa dengan tatapannya tertuju pada langit-langit ruangan.


“Dia begitu manis sekarang, apa dia lupa dengan apa yang pernah dia lakukan di masalalu?” gumam Angelia.


***


Angelia memutuskan masuk kerja setelah mengambil cuti beberapa hari. Kali ini ia tidak mendengar lagi sindiran maupun cemoohan dari orang-orang kantor. Hanya saja tatapan tajam dan mencemooh juga sinis masih ia dapatkan dan Angelia berusaha mengabaikannya.


Ini hanya ujian kecil dalam mencapai tujuannya. Ia sudah pernah mendapatkan luka lebih sakit daripada ini.


“Wah lihat siapa ini yang akhirnya masuk kantor,” sindir Rosie saat Angelia memasuki ruangannya. Ia berjalan menuju kubikelnya dan membuka laptopnya.


“Sebenarnya aku penasaran apa yang sudah kamu serahkan pada Direktur kita, sampai Direktur begitu melindungimu,” seru Rosie berdiri di balik kubikelnya.


“Apa maksudmu? Tolong jangan menggangguku, aku sedang tidak ingin berdebat dan pekerjaanku sedang banyak,” seru Angelia.


“Kemarin Direktur mengadakan pengumuman penting di aula. Sangat jarang sekali ia melakukan pengumuman penting di aula. Dan kamu tau apa isi pengumumannya,” seru Rosie membuat Angelia mengernyitkan dahinya bingung.


“Dia bilang. Siapa saja yang terdengar bersinggungan denganmu dan menghinamu, membicarakanmu di belakang. Kalau sampai itu terdengar, maka Direktur tak akan segan-segan memecatnya,” seru Rosie.


“Apa?”


“Huh, actingmu boleh juga. Kamu sungguh seorang yang munafik. Kau berkata tidak menyukainya, tetapi ternyata di belakang kau merayunya. Menjijikkan!”


Setelah mengatakan itu Rosie berlalu pergi meninggalkan Angelia. Angelia hanya bisa menghela nafasnya.


“Ternyata semudah ini menghancurkan pertemanan. Aku sungguh membenci sebuah ikatan dan pertemanan. Semua itu palsu!” Angelia sangat kesal.


Angelia beranjak pergi meninggalkan ruangannya dan pergi menuju ruangan Regan.


Sesampainya disana, Angelia tidak menghiraukan Nickolas yang berusaha menahannya dan ia melupakan sopan santunnya.


“Mr. Danial!” seru Angelia saat masuk begitu saja ke dalam ruangan Regan.


Ternyata disana ada GM Calvin. Baik Regan maupun Calvin, mereka sama-sama melihat ke arah Angelia.


“Emmm sepertinya kau membuat masalah pada seorang wanita cantik,” goda Calvin.


“Pergilah. Nanti kita lanjutkan membahas ini,” seru Regan.


“Baiklah bos. Aku tidak akan merusak kesenanganmu,” goda Calvin beranjak pergi.


“Kau sungguh wanita yang begitu bersemangat,” goda Calvin saat melewati Angelia membuat Angelia merasa malu sendiri.


“Duduklah,” seru Regan dengan tenang setelah Calvin menutup pintu ruangannya.


“Aku datang kemari untuk memberikan surat pengunduran diri ini,” seru Angelia menyimpan amplop dihadapan Regan.


“Kau serius?”


“Iya. Aku serius akan keluar dari kantor ini,” seru Angelia penuh keyakinan.


Regan beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Angelia membuat Angelia siaga dengan tegang.


“A-anda mau apa?” tanya Angelia berjalan mundur saat Regan terus berjalan mendekatinya.


“Eh?” Pinggang belakang Angelia sudah membentur kepala sofa di belakangnya, membuat ia terjebak dan tidak bisa kabur. Regan mengungkung tubuhnya dengan kedua tangannya berpegangan pada kepala sofa disisi kiri dan kanan Angelia.


“Anda mau apa? Jangan macam-macam atau aku akan berteriak!” ancam Angelia.


“Benarkah? Kalau begitu berteriaklah,” tantang Regan membuat Angelia membisu.


“Kenapa hanya diam?”


“Saya datang kemari hanya untuk menyerahkan surat itu. Tolong jangan mempersulit saya dan biarkan saya pergi,” seru Angelia membuat Regan menyeringai.


“Angelia, apa kamu lupa dengan apa yang kamu tuduhkan padaku saat kita pertama kali bertemu?” seru Regan membuat Angelia bungkam. “Selain itu, kamu sudah menandatangani kontrak kerja dengan W.E Inc untuk 3 tahun ke depan dan sekarang kamu baru menghabiskan waktu 1 tahun bekerja disini dan ingin mengundurkan diri. Tetapi menurut kontrak kerja yang berlaku, saat karyawan memutuskan kontrak kerja di tengah jalan maka dia harus membayar denda finalty,” jelas Regan dengan nada pelan.


“Denda finalty?”


“Iya. Kau boleh baca ulang kontraknya,” jelas Regan tersenyum bahagia melihat wajah pucat Angelia.


“Aku tau penderitaanmu selama ini. Makanya aku memberikan sebuah penawaran padamu,” seru Regan membuat Angelia menatap wajahnya dalam jarak dekat.


“Aku akan memindahkanmu ke bagian sekretaris pribadiku. Jadi kamu tidak akan merasa tidak nyaman untuk bekerja. Selain itu, gaji kamu juga akan naik, belum tunjangan dan insentif lainnya. Apa kamu akan melepaskannya begitu saja hanya karena beberapa kerikil?” seru Regan. “Kehidupan ini begitu kejam. Kamu harus bisa menjadi lebih kuat dan focus saja pada tujuanmu. Jangan terpengaruh kerikil-kerikil yang tidak berguna.”


Angelia termenung mendengar penjelasan dari Regan barusan. Melihat Angelia termenung, Regan mencuri untuk mencium bibir Angelia dan mampu menyadarkan lamunan Angelia.


“Apa yang Anda lakukan?” seru Angelia mendorong dada Regan hingga menjauh darinya.


“Saya akan memikirkan tawaran dari Anda.”


Angelia bergegas pergi meninggalkan Regan seorang diri membuat Regan tersenyum penuh arti.

__ADS_1


***


__ADS_2