Terjerat Pesona Sang Direktur

Terjerat Pesona Sang Direktur
Dunia Bisnis Menakutkan


__ADS_3

Hari ini Regan bertemu dengan Virendra di dalam ruangannya. Disana juga ada Angelia, karena Regan memintanya untuk hadir disana.


“Saya sangat senang akhirnya bisa menjalin kerjasama dengan Anda. Banyak rumor mengatakan kalau Anda begitu hebat dan hampir semua pebisnis ingin bekerjasama dengan Anda,” seru Virendra begitu ramah.


“Jarang sekali ada anak muda yang begitu berbakat seperti Anda. Saya sungguh kagum pada Anda, selain memiliki wajah yang tampan Anda juga begitu pintar dan sangat berbakat.” Virendra terus saja memuji Regan, dimana Regan hanya menunjukkan ekspresi datar.


“Jadi kerjasama apa yang ingin Anda ajukan dengan perusahaan ini?” tanya Regan menghentikan bualan menjijikkan Virendra.


Virendra terlihat menelan salivanya sendiri, aura Regan sangat menakutkan bahkan begitu mengintimidasi dirinya.


“Ini project yang hendak saya laksanakan. Anda bisa membacanya terlebih dahulu,” seru Virendra menyerahkan sebuah dokumen kepada Regan.


Angelia masih berdiri di samping kursi Regan dimana Regan sedang membaca dokumen itu.


“Jadi Anda berniat menggunakan salah satu lahan milik W.E Inc?” tanya Regan.


“Benar. Keuntungan yang di dapat Anda bisa lihat sendiri disana,” seru Virendra.


“Angel bacalah. Bagaimana menurutmu?” seru Regan menyerahkannya pada Angelia.


Angelia mengambil dan membaca berkas itu dalam waktu singkat.


“Ini tidak begitu menguntungkan bagi W.E Inc yang merupakan pihak kedua, keuntungan yang di dapat pun hanya 30% sedangkan untuk pihak pertama 70% dan lagi disini tercantum beberapa perusahaan besar yang akan bekerjasama. Tetapi tidak tertulis perusahaan mana saja yang ikut bergabung dalam project ini.” Virendra menatap kesal kepada Angelia, kenapa dia harus membacanya dengan begitu teliti.


“Dan lagi kenapa disini tertulis CB Production yang menjadi pihak pertama. Bukankah ini salah satu anak perusahaan dari Virendra Production, kenapa tidak mencantumkan nama perusahaan utama saja. Kenapa harus anak perusahaan?” seru Angelia mengernyitkan dahinya.


'Anak sialan itu!' batin Virendra.


“Bagaimana Mr. Virendra?” tanya Regan masih dengan nada tenang.


“Itu karena project ini dilakukan dekat dengan salah satu anak perusahaan Virendra Production, jadi kami mencantumkannya. Tetapi yang akan bertanggung jawab penuh tetaplah Virendra Production,” jelas Virendra.


“Mr. Virendra, apa Anda paham mengenai apa itu kontrak?” seru Regan.


“Segalanya harus jelas tertulis di dalam kontrak. Saya tidak butuh kata-kata Anda, saya hanya ingin semuanya jelas di dalam kontrak. Apa Anda berniat membodohi dan mempermainkan W.E Inc?”

__ADS_1


“Saya tidak berani melakukan hal itu, bagaimana mungkin saya melakukannya?” seru Virendra berusaha menenangkan keadaan.


“Kalau Anda ingin kerjasama kita berjalan dengan lancar, maka perbaiki kembali kontrak kerjasamanya dan saya ingin keuntungannya 50:50,” ucap Regan.


“Tapi Mr. Danial, saya berencana memasukkan perusahaan GU ke dalam project ini. Apa keuntungan ini tidak bisa lebih adil lagi? Saya yakin Anda sangatlah bijaksana,” seru Virendra


“40:60 saya tidak ingin nego lagi. Kalau Anda keberatan maka silahkan cari lahan lain untuk project Anda,” Regan berkata dengan sangat tegas.


“Baiklah saya akan mengikuti ucapan Anda,” seru Virendra.


“Kalau begitu perbaiki lagi kontraknya dan nanti serahkan saja kepada Angelia, dia yang akan bertanggung jawab untuk project ini.”


“Apa? Bagaimana mungkin Anda mempercayakan semua ini pada gadis ini?”


“Memangnya kenapa? Apa Anda meragukan pilihan saya,” seru Regan penuh penekanan.


“Tidak. Bukan begitu,” seru Virendra tidak tau harus berkata apa.


“Kalau Anda sudah paham, maka perbaikilah kontraknya.”


“Kalau begitu saya permisi dulu,” Virendra berlalu pergi meninggalkan Regan dan Angelia berdua.


“Pria itu sungguh tamak. Dia benar-benar ingin mengambil keuntungan besar dari W.E Inc,” seru Angelia merasa begitu kecewa.


“Kita lihat saja permainan tipuan apalagi yang akan dia lakukan kedepannya,” seru Regan.


“Dunia bisnis itu benar-benar menakutkan,” seru Angelia.


“Aku akan meminta seseorang untuk menyelidiki Virendra mengenai projectnya ini dan untuk kerjasama ini aku serahkan padamu, Angelia.”


“Ehh apa? Aku? Angelia kaget mendengar seruan Regan barusan.


“Kenapa?” tanya Regan menyandarkan bokongnya ke meja kebesaran di belakangnya dengan memasukkan kedua tangannya pada saku celana.


“Tapi ini sangat penting. Bagaimana bisa aku bertanggung jawab untuk ini,” seru Angelia.

__ADS_1


“Aku sangat mempercayai kemampuanmu, Angelia. Kini Virendra Production dan perusahaan GU ada dalam genggamanmu. Maka kamu lakukanlah apapun yang kamu inginkan untuk bermain-main dengan mereka, walau rugi sekalipun aku akan tetap melindungimu dan mendukungmu.” seru Regan membuat hati Angelia sangat menghangat hingga membuat wajahnya begitu merona.


“Terima kasih,” seru Angelia merasa bahagia.


“Aku tidak ingin hanya ucapan terima kasih,” seru Regan tersenyum misterius membuat Angelia mengerucutkan bibirnya, Regan ini benar-benar Devil mesum.


“Jadi apa yang kali ini Mr. Regan inginkan? Tadi pagi kau menipuku,” seru Angelia.


“Temani aku besok malam ke acara amal, seru Regan.


“Baiklah. Hanya itu?” tanya Angelia.


“Untuk sementara itu. Tetapi nanti aku akan meminta sesuatu yang lebih dari itu,” seru Regan mengedipkan sebelah matanya.


“Ck, aku tau kamu pasti sedang memikirkan hal yang mesum,” seru Angelia membuat Regan terkekeh.


“Apa kau akan terus menemaniku disini?” sindir Regan.


“Baiklah Mr. Regan aku akan kembali bekerja,” seru Angelia beranjak pergi meninggalkan Regan yang hanya tersenyum saja.


- - -


“Sialan!” Virendra mengamuk saat memasuki ruangan kerjanya dengan menepis semua barang yang ada di atas meja kerjanya.


“Ada apa sayangku?” seru Suya yang juga ada disana.


“Anak sialan itu, dia menjadi begitu sombong setelah mendapat dukungan dari Mr. Danial. Dia bahkan berani mempermalukanku dihadapan Mr. Danial!” Virendra sangat kesal dan begitu marah.


“Kita beri pelajaran saja anak haram itu,” seru Suya dengan pikiran busuknya.


“Apa kau ada ide?” tanya Virendra.


“Tentu saja, kau hanya cukup tenang saja disini dan biarkan aku yang bertindak untuk memberi pelajaran pada anak itu.” seru Suya tersenyum sarkasis.


***

__ADS_1


__ADS_2