
Sesuai perjanjiannya dengan Virendra, sekarang Angelia sudah berdiri di depan gedung tinggi Virendra Production.
“Setelah sekian lama,” gumamnya.
Angelia menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian ia mengeratkan pegangannya pada tali tas yang disampirkan dibahunya. Ia pun berjalan memasuki gedung kantor itu, ia berjalan menuju meja resepsionis.
“Selamat siang. Ada yang bisa di bantu?” seru resepsionis disana.
“Saya ada janji dengan Mr. Virendra.”
“Anda dengan Miss Angelia?”
“Iya.”
“Mr. Virendra sudah menunggu Anda di dalam ruangannya, Anda tinggal naik ke lantai 20.”
“Baiklah.”
Angelia beranjak pergi menuju ruangan Virendra.
- - -
Angelia sampai di lantai 20 dan seorang sekretaris berjalan menghampirinya.
“Miss Angelia, silahkan. Mr. Virendra sudah menunggu Anda,” seru sekretarisnya itu.
Angelia berjalan mengikuti sekretarisnya menuju ruangan Virendra.
Angelia menatap pintu besar di depannya, dulu ia sering berlari di lorong ini dan masuk ke dalam ruangan pintu besar itu berteriak memanggil kakeknya. Kemudian dirinya juga sering berlarian ke ruangan sekretaris dan staf di divisi lain membuat kakek dan ibunya sedikit kewalahan mengejar dirinya.
Pernah ada kenangan indah itu, walau hanya singkat. Setelahnya hanya kenangan suram yang penuh kesakitan dan trauma mendalam bagi Angelia.
“Angelia,” panggilan itu menyadarkan lamunan Angelia. Ia melihat ke sumber suara dimana pintu besar itu sudah terbuka lebar dan menampakkan sosok pria paruh baya yang begitu Angelia benci.
“Kenapa hanya berdiri saja diluar? Ayo masuk,” serunya masih begitu ramah membuat Angelia merasa sangat jijik dengan actingnya itu.
Virendra mempersilahkan Angelia untuk duduk di sofa ruangannya, Angelia pun duduk di atas sofa berhadapan dengan Virendra.
“Ini surat pernyataan pemindahan saham. Kamu bisa membacanya dulu,” seru Virendra.
Angelia mengambil berkas itu dan membaca isinya, ia benar-benar membacanya dengan teliti, ia juga sudah melihat tanda tangan Virendra disana beserta cap asli perusahaan.
__ADS_1
“Baiklah,” seru Angelia.
“Dan saya juga membawa berita baik untuk Anda, Mr. Danial bersedia meluangkan waktunya untuk bertemu dengan Anda. Beliau berkata kalau Anda senggang datanglah besok pukul 10 ke kantor W.E Inc,” seru Angelia.
Terlihat jelas raut wajah Virendra berubah menjadi berseri bahagia, sungguh sangat menjijikkan dan membuat emosi Angelia meluap, yang ada di kepala Virendra hanyalah uang dan tahta.
“Kamu benar-benar sangat bermanfaat,” serunya tersenyum bahagia berbeda dengan Angelia yang hanya menatapnya datar.
“Tidak sia-sia aku melepaskan saham 15%,” serunya yang kembali ke watak aslinya.
“Kalau sudah tidak ada yang harus di bahas lagi, aku permisi.”
“Baiklah, baiklah. Besok aku akan datang tepat waktu,” seru Virendra.
Angelia beranjak pergi meninggalkan Virendra yang terlihat bahagia.
Angelia berjalan meninggalkan gedung itu dan berjalan ke sebelah kiri kantor. Dia terus berjalan dengan rahang yang mengeras dan kedua tangannya yang mengepal hingga meremas berkas ditangannya.
'Hingga saat ini pun baginya, aku hanya pion. Pion yang bisa dimanfaatkan dan di buang kapan saja,” batin Angelia.
“Angel.”
Panggilan itu menghentikan langkah Angelia. Tetapi sebelum ia berbalik badan, seseorang sudah menarik lengannya hingga tubuhnya tertarik dan membentur dada lebar dan hangat milik seseorang.
Hatinya hancur melihat Ayahnya seperti itu, sebencinya Angel pada Ayahnya tetap saja dia adalah Ayahnya. Ada rasa sakit saat Ayahnya memperlakukannya seperti ini, kadang ia berharap perlakuan lembut dan hangat Virendra kemarin bukanlah kepura-puraan. Sejak kecil ia selalu berharap Ayahnya itu bisa menyayanginya, ia berharap bisa memeluk dan di gendong Ayahnya saat ia kecil dulu.
Angelia sudah merasa lebih tenang, ia kemudian melepaskan pelukannya.
“Aku memang sangat cengeng,” serunya mengusap air matanya.
“Tidak masalah, aku memiliki jutaan jas untuk kamu banjiri dengan air mata juga ingusmu,” gurau Regan membuat Angelia terkekeh.
“Sudah lebih baik?” tanya Regan mengusap air mata di sudut mata Angelia.
“Sudah. Aku sudah mendapatkan saham 15% Virendra Production,” seru Angelia tersenyum lebar.
“Bagus, kalau begitu ayo kita merayakannya. Kita cari restaurant daging terbaik dan terlezat untuk menyenangkan lidah dan perutmu.”
“Selalu mengerti aku,” seru Angelia.
“Tetapi nanti malam pulang ke Villa,” bisik Regan.
__ADS_1
“Eh?”
“Ayo.” Regan menarik tangan Angelia menuju mobil yang parkir tidak jauh dari mereka. Ternyata tadi Regan menunggunya di depan kantor dan membuntutinya perlahan.
'Devil ini sangat romantic walau sangat mesum,” batin Angelia tersenyum menatap punggung lebar Regan.
***
Di Villa milik Regan, Angelia tampak berdiri di balkon dengan gaun tidur yang melambai-lambai tertiup angin. Ia memekik saat ada tangan kekar memeluk perutnya dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahunya.
“Apa yang sedang kau pikirkan, hmm?” bisik seseorang yang tidak lain adalah Regan.
“Tidak ada. Aku hanya sedang menikmati udara malam dan keindahan langit malam dengan salju yang turun,” seru Angelia.
“Tapi disini begitu dingin,” seru Regan semakin mengeratkan pelukannya dan menempelkan tubuhnya dengan punggung Angelia.
“Tidak untuk sekarang,” seru Angelia tersenyum kecil.
Mereka berdua sama-sama menatap langit malam dan butiran salju yang turun dari langit.
“Regan,” panggil Angelia.
“Hmm,”
“Kenapa kamu ingin membantuku membalaskan dendam? Kenapa kamu begitu percaya padaku? tanya Angelia.
“Apa aku harus memiliki alasan untuk itu?”
“Ya, aku ingin tau.”
“Angelia, aku sangat menyukaimu. Bahkan aku sudah jatuh cinta padamu,” seru Regan membuat wajah Angelia bersemu merah.
“Malam itu aku sedang menikmati udara malam dan berjalan-jalan seorang diri tanpa pengamanan. Aku baru satu minggu datang ke Negara ini dan sebelum bekerja dan mengambil tanggung jawab sebagai Direktur menggantikan Ayah, aku ingin menikmati hari-hariku. Tetapi sialnya malam itu aku bertemu dengan salah satu geng, mereka adalah geng yang pemimpinnya adalah musuh dari bisnis Ayahku. Mereka mengenalku dan mengetahui aku tidak dalam perlindungan dan hanya seorang diri, kemudian mereka menyerangku.
“Aku berusaha melawan mereka seorang diri tetapi jumlah mereka terlalu banyak, aku tidak mampu menghadapi mereka semua. Aku berlari tanpa tau harus kemana dan tidak tau jalan. Aku pikir mungkin aku akan mati malam itu sampai aku melihatmu hendak masuk ke dalam rumah. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menerobos masuk.” Regan berhenti sesaat seakan mengingat kembali kejadian malam itu.
“Kamu telah menyelamatkan hidupku, Angelia dan setelah tau kamu adalah karyawanku, aku semakin tertarik padamu. Awalnya aku memang hanya memiliki hutang budi padamu dan aku sangat suka mengganggumu. Tetapi saat melihat kamu terluka, saat kamu menolakku dan memilih pria lain aku merasa begitu hancur dan merasakan rasa sakit yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku berusaha mengabaikannya, tetapi rasa sakit itu semakin lama semakin terasa sangat menyakiti . Saat aku melihatmu dalam bahaya dan melihatmu terluka, hatiku juga merasakan rasa sakit. Aku kini tau kenapa aku bisa merasakan hal-hal yang baru seperti itu. Aku mencintaimu, Angel.”
Regan semakin memeluk Angelia dan mengecup pundak Angelia.
“Tidak peduli walau kamu tidak menyukaiku, aku akan tetap mencintaimu. Aku ingin kamu selalu menjadi milikku, kalau perlu aku akan segera menikahimu.”
__ADS_1
“Menikah?”