Terjerat Pesona Sang Direktur

Terjerat Pesona Sang Direktur
Menghadiri sebuah acara bersamanya


__ADS_3

Regan baru saja sampai di area parkir salon kecantikan dimana Angelia berada. Tadi siang ia mendapat kabar dari Nickolas kalau Angelia sudah diantarnya kesini.


Regan memasuki salon yang langsung di sambut beberapa pegawai wanita disana. Para pegawai wanita itu seakan berebut ingin melayani Regan. Regan sampai tidak bisa berkata apapun untuk menjelaskan karena mereka malah saling beradu mulut untuk merebutkan siapa yang harus melayani Regan. Sampai deheman seseorang yang sangat kencang membuat mereka menghentikan perdebatan mereka.


“Mr. Danial, Anda sudah datang?” seru seorang wanita cantik yang sudah cukup matang.


“Ya, Mrs. Amelia. Dimana dia?” tanya Regan seakan tidak ingin basa basi.


“Sudah tidak sabar yah ingin melihatnya,” goda Amelia. “Sebentar, aku akan memanggilnya untuk keluar.”


Regan masih berdiri dengan cool di ruang tunggu dengan memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celananya. Sampai terdengar suara hentakan high heels yang anggun.


“Ini dia, Mr. Danial.”


Regan yang awalnya menunduk menatap layar handphonenya pun menengadahkan kepalanya dan menatap sosok yang ia nantikan.


Pupil mata Regan melebar saat melihat sosok di depannya itu.


'Apa benar ini kucing kecilku?' batinnya.


Regan sangat terpukau dengan penampilan Angelia saat ini. Angelia memang tidak suka memakai make up berlebihan dalam kesehariannya. Makanya saat ia full make up seperti saat ini, terlihat sangat berbeda. Regan sendiri pun bahkan tidak mengenalinya. Angelia terlihat sangat cantik dan menawan. Rasanya Regan tidak ingin membawa Angelia ke pesta itu, tetapi ingin membawanya pulang ke apartemennya dan hanya dia yang boleh menikmati kecantikan Angelia.


“Mr. Danial.”


Seruan itu menyadarkan Regan dari lamunannya. Regan memalingkan pandangannya ke arah Angelia.


“Bagaimana menurut Anda, cantik bukan?” seru Amelia merasa puas dan bangga dengan hasil karyanya.


“Lumayan,” jawab Regan membuat Angelia merasa kesal. Bagaimana bisa Regan mengatakan hal itu, padahal ia berharap Regan akan terpukau oleh perubahannya. Ternyata pemikiran Angelia sudah salah, Regan memang tidak bisa di tebak.


“Kamu sudah siap? Kita pergi sekarang,” seru Regan yang diangguki Angelia.


Regan menggandeng tangan Angelia dan berjalan keluar meninggalkan salon kecantikan itu. Dimana para karyawan wanita yang tadi langsung berebut merasa sedih sendiri mengetahui fakta Regan sudah memiliki wanita lain. Harapan mereka pupus sudah.


- - - -


“A-apa ini tidak berlebihan?” tanya Angelia saat mereka berada di dalam mobil.


“Berlebihan bagaimana? Tidak kok,” seru Regan.


“Apa Anda tidak malu mengajak saya datang ke acara seperti ini? Disana pasti banyak sekali kolega Anda. Apa yang akan mereka katakan tentang Anda, saat mengetahui Anda membawa saya yang dari kalangan bawah dan merupakan pegawai Anda,” seru Angelia.


“Tidak masalah. Aku tidak mempedulikan mereka,” jawab Regan dengan santai.


“Tetapi saya merasa tidak enak,” seru Angelia.


“Kamu mau berusaha menghindar, eh? Aku tidak akan memaksa kamu kalau kamu tidak mau. Tetapi sebagai gantinya gaji pokok kamu bulan ini akan saya potong,” jawab Regan sesantai mungkin.


“Apa?” pekik Angelia.


“Pilihan ada padamu. Kamu ingin pulang atau menemaniku,” seru Regan dengan seringai kecilnya.


“Ck, dasar Devil, tukang maksa. Pilihannya gak ada yang menguntungkanku,” gerutu Angelia walau pelan tetapi masih mampu Regan dengar.


Mendengar omelan Angelia, Regan hanya bisa tersenyum kecil.


- - - -


Mereka berdua sampai di acara pertunangan client dari Regan. Angelia berjalan di samping Regan dengan menggandeng lengannya sesuai permintaan Regan. Semua pasang mata tertuju ke arah mereka berdua. Bahkan beberapa wanita terang-terangan menatap sinis ke arah Angelia.


Sial! Inilah yang paling ditakutkan oleh Angelia saat berhubungan dengan salah satu pria billionaire yang sangat terkenal.


“Mr. Danial.”


Sapaan itu menghentikan langkah mereka. Regan menyapa beberapa koleganya yang baru saja menyapanya dan memperkenalkan Angelia sebagai pasangannya membuat Angelia kaget mendengarnya.

__ADS_1


'Mungkin dia malu mengakui aku hanya pegawainya,' batin Angelia.


“Wah, tidak menyangka kekasih Mr. Danial sangat cantik,” puji salah seorang koleganya.


“Dia putri dari pengusaha mana? Pasti kekasih Mr. Danial bukan wanita biasa,” seru kolega yang lain membuat Regan tersenyum kecil.


“Dia bukan putri seorang pengusaha. Tetapi sangat special untukku,” seru Regan membuat Angelia menoleh ke arahnya dimana Regan juga menoleh ke arah Angelia.


“Oh begitu yah. Semoga hubungan kalian langgeng,” seru yang lain.


“Terima kasih. Kalau begitu saya permisi. Saya akan menemui Mr. Sen,” seru Regan saat melihat Mr. Sen yang merupakan tuan rumah acara ini.


Regan masih menggengam tangan Angelia tanpa melepaskannya. Saat kepergian Regan, Angelia masih mampu mendengar para kolega tadi membicarakan mereka dan mengatakan kalau Regan sudah tertipu olehnya karena mau dengan wanita dari kalangan standar.


“Kenapa Anda mengatakan hal tadi? Apa Anda ingin membiarkan saya dihina orang?” seru Angelia membuat Regan menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahnya.


“Apa maksudmu?”


“Kenapa tidak mengatakan kalau aku ini karyawanmu. Kenapa harus berbohong seperti itu,” seru Angelia.


“Memang apa salahnya. Kamu memang pasanganku malam ini, bukan?” seru Regan.


“Aku tidak suka begitu mencolok dan menjadi bulan-bulanan para penggemar Anda,” seru Angelia merasa kesal.


“Kenapa kamu harus mendengarkan omong kosong mereka. Biarkan saja mereka mau berkata apapun juga, itu tidak berpengaruh padaku,” seru Regan.


“Tetapi berpengaruh padaku,” jawab Angelia merasa kesal.


“Ah Mr. Danial.”


Ucapan Regan tertahan karena sapaan dari Mr. Sen.


“Mr. Sen.” Regan berjabat tangan dengan Mr. Sen.


“Ah iya. Ini Angelia.” seru Regan membuat Angelia menatap Regan dengan tatapan tak mengerti. Apa maksud Regan mengakui dirinya sebagai kekasih.


“Nona yang cantik,” puji Mr. Sen.


“Terima kasih,” jawab Angelia tersenyum kecil.


Kemudian Mr. Sen membahas proyekan mereka dengan Regan. Angelia mulai jengah berada disana.


“Aku ingin ke kamar mandi sebentar,” ucap Angelia saat mereka berdua sudah berhenti berbicara.


“Iya.”


Angelia berpamitan pada Mr. Sen dan berlalu pergi. Regan hanya mampu menatap punggung Angelia yang berjalan menjauh.


“Ah sialan! Kenapa aku harus terjebak dalam situasi ini,” seru Angelia saat di kamar mandi.


Ia menatap pantulan dirinya di cermin dan kembali mengingat perkataan Regan tadi.


“Sebenarnya apa yang diinginkan Devil itu. Apa rencananya melakukan semua ini padaku? Apa balas dendam?” Gerutu Angelia merasa tidak paham.


“Kalau seperti ini terus, bagaimana aku bisa mendekati Cristian dan melancarkan rencanaku,” serunya mengusap wajahnya gusar.


'Kenapa aku harus terjebak dengan Devil ini,' batin Angelia.


Angelia berjalan keluar dari toilet saat ia merasa lebih baik dan tenang.


“Aduh!” Angelia mengaduh saat bahunya beradu dengan seseorang.


“Ah maafkan saya,” seru seseorang membuat Angelia menengadahkan kepalanya dan menatap seseorang itu.


“Lho Angelia?”

__ADS_1


“Cristian?”


“Kamu, bagaimana kamu bisa ada disini?” tanya Cristian.


“Aku kemari di ajak atasanku. Kebetulan sekretarisnya sedang ada halangan,” dusta Angelia.


“Ah begitu yah. Ngomong-ngomong aku sempat tidak mengenalimu. Kamu terlihat cantik sekali,” puji Cristian membuat Angelia tersenyum dan bersemu merah.


“Apasih kamu.”


“Aku berkata jujur. Kamu sangat cantik,” seru Cristian. Angelia hanya bisa tersenyum.


“Cris-“ panggilan itu membuat Cristian melihat ke arah belakang Angelia.


Angelia membeku di tempatnya saat mendengar suara itu.


“Kamu kenapa lama sekali, Dad and Mom sudah menunggu,” seru wanita itu.


“Ah iya. Angelia, aku harus pergi sekarang,” ucap Cristian dan Angelia hanya menganggukkan kepalanya.


Cristian berlalu pergi meninggalkannya dan Angelia mampu mendengar suara langkah mereka yang menjauh. Saat itu Angelia membalikkan badannya dan menatap punggung wanita yang berjalan di samping Cristian.


“Sudah lama yah,” gumam Angelia menatap tajam dan ekspresi wajahnya berubah menjadi sangat dingin.


***


Regan mencari keberadaan Angelia. Angelia sudah pergi hampir setengah jam dan ia tidak menemukan Angelia di kamar mandi. Bahkan panggilannya tidak diangkat.


Sampai langkah Regan terhenti di bagian belakang aula yang begitu sepi tak ada orang. Hanya ada taman bunga dengan hiasan lampu taman nan indah. Disana Angel tengah berdiri memunggunginya di bagian gazebo. Regan berjalan mendekatinya dan berdiri di sampingnya menatap ke depan dimana penuh dengan tanaman bunga.


“Aku mencarimu kemana-mana,” ucap Regan membuat Angelia menoleh ke arahnya.


“Aku tidak begitu menyukai acara seperti ini,” seru Angelia.


“Aku minta maaf mengenai hal tadi.”


Deg


Angelia menoleh ke arah Regan dengan tatapan kaget. Seorang Regan Danial, sosok Direktur yang di kenal begitu dingin dan datar meminta maaf kepadanya.


“Itu- itu bukan masalah,” jawab Angelia bergegas memalingkan wajahnya dan kembali melihat ke depan.


“Mungkin aku yang berlebihan,” ucap Angelia.


Terdengar suara music dari dalam.


“Sepertinya acara dansa sudah di mulai,” seru Regan.


“Kalau Anda mau kembali, kembalilah. Saya ingin disini, nanti saat acara selesai, saya baru akan masuk,” seru Angelia.


“Apa kamu mau berdanda denganku,” ucap Regan mengulurkan tangannya ke arah Angelia membuat Angelia membeku kembali di tempatnya.


Regan tidak menjawab seruannya tadi dan malah mengajaknya untuk berdansa.


“Aku tidak akan ke dalam dan meninggalkanmu. Bagaimana kalau kita berdansa saja disini?” ajak Regan.


Entah dorongan darimana Angelia akhirnya menerima uluran tangan Regan. Mereka pun berdansa bersama di gazebo itu.


“Kamu cukup handal berdansa,” seru Regan.


“Aku cukup menguasai gerakan dansa,” ucap Angelia masih menggerakkan tubuhnya seirama music, begitu juga dengan Regan.


Posisi mereka begitu terasa intim. Tubuh mereka menempel dan kedua tangan Regan bebas menyentuh bagian-bagina tubuh Angelia. Jarak wajah mereka hanya beberapa centi dan Angelia mampu merasakan hembusan nafas mint yang begitu harum dan sangat sejuk menerpa kulit wajahnya. Bahkan sesekali hidung mereka bersentuhan secara tidak sengaja. Tatapan keduanya tak lepas satu sama lainnya.


***

__ADS_1


__ADS_2