
Saat ini Angelia sudah menggunakan pakaian formal, jas dan rok yang digunakan senada. Regan dan seorang pengacara berada bersama dengannya.
Hari ini mereka bertiga datang ke Virendra Production untuk menghadiri rapat pemegang saham. Sekarang saatnya Angelia muncul di khalayak orang sebagai pewaris dari keluarga Calief.
Mereka sampai di ruang meeting dan masuk begitu saja saat di dalam Virendra terlihat sedang meyakinkan beberapa orang pemegang saham untuk mempertahankan saham mereka dan tetap percaya pada dirinya.
“Anda begitu bersemangat sampai melupakan pemegang saham terbesar,” seru Regan dengan nada sinis dan membuat semua mata tertuju kepadanya.
“Mr. Danial?”
Seketika ekspresi Virendra berubah menjadi berbinar bahagia saat melihat kehadiran Regan, masih ada secercah harapan untuk perusahaannya.
“Mari silahkan masuk Mr. Danial, meeting ini belum di mulai. Bagaimana mungkin kami memulai meeting tanpa Anda,” seru Virendra dengan begitu ramah membuat pemegang saham yang lainnya saling beradu pandang.
“Jadi Anda yang membeli saham milik Mr. Yohan?” tanya Virendra.
“Bukan saya,” jawab Regan dengan pasti membuat yang lain saling menatap satu sama lainnya.
“Saya akan memperkenalkan pemilik saham terbesar di Virendra Production, dia adalah Angelia Malikha Calief. Pewaris tunggal dari keluarga Calief,” seru Regan membuat semua orang kebingungan dan membuat Virendra membelalak lebar karena kaget.
“Pewaris keluarga Calief? Bukankah semuanya telah meninggal?” seru salah seorang pemegang saham yang terlihat tua.
“Saya Mr. Gilby Maleeq pengacara dari Miss Angelia, disini saya membawa beberapa data mengenai Miss Angelia yang merupakan keturunan dari keluarga Calief,” seru Gilby.
“Virendra, bisa kau jelaskan semua ini?” seru pemegang saham yang di ketahui Angelia bernama Syam, dia memang sudah bekerja disini saat Kakeknya memimpin perusahaan ini
“Ini hanya sebuah kesalahpahaman,” seru Virendra sedikit gugup.
“Angelia, Angelia ini adalah putri saya dan Annezia Christabel Calief. Dia memang jarang terekspos karena sedang menyelesaikan studynya di Belanda,” dusta Virendra.
__ADS_1
“Benarkah begitu? Wah kau sungguh Ayah yang baik,” sindir Angelia dengan penuh penekanan membuat Virendra diam.
“Sudahlah tidak perlu melakukan drama lagi, kita langsung ke masalah utamanya saja. Disini Angelia memiliki 60% saham dari Virendra Production. Menurut aturan perusahaan yang saya ketahui, Angelia lah yang menjadi Direktur Utama disini,” seru Regan dengan penuh penekanan.
“Bagaimana bisa 60%?” pekik Virendra.
“Saham milik Yohanes hanya 35%!” seru Virendra.
“Apa Anda lupa Mr. Virendra, Anda sudah memberikan 15% saham Anda kepada saya. Kemudian 10% milik Caroline, jadi keseluruhan saham yang saya pegang saat ini adalah 60%. Anda hanya memiliki 25% saham, bukan?” seru Angelia tersenyum sarkasis.
“Caroline? Tetapi bagaimana bisa?” gumam Virendra.
“Itu hanya sedikit pertukaran dengan hukuman yang akan dia terima,” seru Angelia merasa puas.
‘Anak sial ini!’ batin Virendra.
“Kalau begitu mari kita mulai rapatnya dan aku yang akan memimpin rapat hari ini!” seru Angelia dengan tegas.
***
Saat ini Angelia masuk ke dalam ruangan Direktur bersama Regan.
“Bagaimana Miss Direktur?” seru Regan saat mereka memasuki ruangan Angelia yang baru.
Angelia berjalan mendekati meja kebesaran dan menyentuhnya, kemudian beralih ke kursi utama Direktur disana dan ia kembali menyentuhnya. Ia berdiri menghadap Regan yang berdiri angkuh dengan memasukkan kedua tangannya disaku celananya. Tepat di belakang Angelia, dinding pembatasnya dari kaca hingga memperlihatkan suasana di luar gedung.
“Aku masih belum mempercayai semua ini,” seru Angelia tersenyum lebar.
“Katakan padaku apa ini mimpi?”
__ADS_1
Angelia berjalan mendekati Regan, tanpa segan Regan memagut bibir Angelia cukup dalam dan singkat.
“Kamu-?” seru Angelia dengan kedua pipinya bersemu merah.
“Apa ini terasa mimpi?” tanya Regan.
“Itu terasa sangat nyata,” seru Angelia.
“Kamu bahagia?” tanya Regan.
“Ini yang diharapkan mendiang Kakek dan Ibuku. Setelah ini aku hanya ingin mencari pembunuh Ibuku,” seru Angelia.
“Aku ingin dia di hukum seberat-beratnya.”
“Kamu tenang saja. Kita akan mencarinya bersama nanti,” seru Regan yang diangguki Angelia.
“Angel, aku harus ke kantor. Aku sudah izin beberapa hari ini, kamu tidak masalah kan kalau aku tinggal disini sendiri?” tanya Regan.
“Pergilah, aku baik-baik saja. Lagipula masih ada Gilby disini yang akan membantuku mengurus segalanya,” seru Angelia.
“Baiklah, aku juga akan meminta beberapa bodyguard untuk menjagamu di depan pintu ruangan. Aku tidak ingin Virendra berbuat sesuatu yang lebih gila dari putrinya,” seru Regan.
“Baiklah. Apapun itu yang bisa membuatmu tenang,” seru Angelia.
“Baiklah. Aku ke kantor dulu,” Regan mengecup kening Angelia dan beranjak pergi meninggalkan ruangan itu.
Kini hanya ada Angelia seorang diri di ruangan itu, Angelia menatap sekeliling ruangan.
“Ibu, Kakek... Akhirnya aku mendapatkan kembali apa yang menjadi milik kita,” gumam Angelia tersenyum puas dengan melipat kedua tangannya di dada.
__ADS_1
***