
Angelia baru saja sampai di kantornya, ia mendaratkan pantatnya di kursi kebesarannya.
“Angel, datang ke ruangan saya,” seru Regan yang juga baru saja datang bersama dengan Calvin yang tersenyum ke arahnya.
Angelia pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruangan Regan, ia masih berdiri tak jauh dari Regan dan Calvin yang duduk di atas sofa.
“Angelia, kemari dan duduklah disini,” seru Calvin dengan begitu ramah.
Angelia tersenyum kecil seraya melirik ke arah Regan yang terlihat acuh tak acuh dan focus dengan dokumen di tangannya, biasanya Regan melarang Angelia untuk dekat dengan Calvin. Akhirnya Angelia mengambil duduk di samping Calvin.
“Angelia, nanti malam kamu gak ada acara kan?” tanya Calvin.
“Itu, nggak ada pak,” seru Angelia.
“Kamu temani aku datang ke undangan makan malam dari pemerintahan. Ini tidak bisa dibatalkan, Direktur tidak bisa hadir. Jadi kita yang harus hadir,” seru Calvin.
Angelia melirik ke arah Regan yang seakan tak menghiraukan semua itu, ia lebih focus menandatangani beberapa berkas di tangannya.
“Emm baiklah,” jawab Angelia.
“Kita langsung saja yah setelah pulang kerja,” seru Calvin.
“Baiklah,” seru Angelia.
“Nanti seseorang akan datang mengantarkan pakaian untukmu,” seru Calvin.
“Terserah pak GM,” seru Angelia menjadi begitu patuh.
“Kau bisa kembali ke ruanganmu.” Kali ini Regan yang bersuara dan masih terdengar dingin.
“Kalau begitu saya permisi,” seru Angelia beranjak pergi meninggalkan ruangan itu.
“Ada apa denganmu? Biasanya kau bersikap lembut padanya,” seru Calvin menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.
“Tidak apa-apa,” jawab Regan. “Jaga dia, jangan sampai terjadi sesuatu padanya.” Regan berucap dengan penuh penekanan dan sebagai peringatan keras kepada Calvin.
“Aih ternyata masih begitu peduli, baiklah baiklah aku akan melindunginya. Karena dia itu wanita yang istimewa,” seru Calvin menggoda Regan yang hanya menatapnya dengan tajam.
'Hmm... istimewa? Dia adalah wanita yang berani menolakku. Tetapi aku akan tetap memilikinya,' batin Regan.
***
Malam menjelang, Angelia pergi bersama dengan Calvin menuju acara dinner yang di adakan oleh salah satu Menteri dari Pemerintahan.
Mereka di sambut hangat oleh beberapa orang yang mengenal Calvin. Angelia merasa sangat canggung dan tak nyaman, ini pertama kalinya ia mendatangi acara seperti ini.
Calvin mengenalkan Angelia kepada beberapa rekan bisnisnya. Setelah itu Angelia permisi untuk pergi, ia sengaja ingin menghindari suasana itu. Mendengarkan banyak sekali pembicaraan tentang bisnis membuatnya jenuh.
Angelia berjalan mendekati meja makanan, ia mengambil satu pancake dan menikmatinya dengan anggun.
“Yo, lihatlah siapa ini,” seruan itu membuatnya menoleh ke sumber suara.
“Caroline?”
“Ternyata orang sepertimu bisa juga datang ke acara seperti ini,” ejeknya.
__ADS_1
“Aku tidak ada waktu untuk melayanimu,” seru Angelia menyimpan piringnya dan beranjak melewati Caroline, tetapi Caroline mencekal tangan Angelia.
“Lepaskan aku!”
“Ck, kau sombong sekali,” seru Caroline. “Kebetulan sekali kita bertemu disini. Aku ada sesuatu untukmu,” seru Caroline memanggil seseorang untuk datang.
“Lepaskan aku!” seru Angelia berusaha melepaskan cengkraman Caroline tetapi tiba-tiba saja sesuatu membekap mulutnya hingga ia kehilangan kesadarannya. Sebelum matanya benar-benar terpejam, ia sempat melihat ke arah Calvin yang sedang sibuk berbincang dengan orang lain.
“Cepat bawa dia dan jangan membuat orang-orang curiga,” seru Caroline pada dua orang bodyguard yang baru saja membekap mulut Angelia.
Tak banyak yang memperhatikan karena semua orang sibuk berbincang dengan sang Menteri.
- - -
“Angelia kemana sih,” seru Calvin mencari keberadaan Angelia.
Calvin menanyakan ke beberapa orang tetapi tak ada yang melihatnya. Sampai pandangannya tertuju pada dompet pesta milik Angelia yang terjatuh tak jauh dari meja dessert.
“Ini milik Angelia, sebenarnya dia kemana,” gumam Calvin menatap dompet itu.
Tak menunggu lama, Calvin pun segera menghubungi Regan dan menceritakan apa yang terjadi.
“Sorry, aku tidak menjaganya dengan baik,” seru Calvin sebelum akhirnya Regan memutuskan sambungan telponnya.
***
Di tempat lain, Angelia mengerjapkan matanya berkali dan sedikit meringis karena seluruh tubuhnya terasa begitu sakit.
Angelia sudah membuka matanya dengan sempurna dan mulai menyesuaikan penglihatannya, ia berada di dalam sebuah ruangan yang tidak ia kenali, ia menatap sekeliling ruangan dan kondisi tubuhnya yang kini duduk di atas lantai dengan bersandar ke dinding. Kedua tangannya di ikat di belakang tubuhnya, “ini dimana?” gumamnya seraya mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Ia mengingat terakhir kali ia bertemu dengan Caroline.
“Kau sudah bangun.” Seruan itu membuatnya menengadahkan kepalanya dan ia melihat Caroline berdiri di hadapannya.
“Apa maumu?” seru Angelia dengan tatapan tajamnya. “Ah!”
Angelia meringis saat rambutnya di jambak oleh Caroline.
“Kau masih begitu sombong. Padahal kondisimu saat ini sedang kesulitan,” seru Caroline. Angelia hanya menatapnya dengan tajam.
“Aku akan memberikan pilihan untukmu,” seru Caroline melepaskan jambakannya. Ia kini berdiri tegak dengan angkuh.
“Menjauh dari Cristian dan tinggalkan Negara ini. Aku akan memberikanmu uang senilai 10 juta Dollar. Jangan pernah berani menunjukkan wajahmu lagi di hadapanku maupun Cristian.”
“Dan pilihan kedua, aku akan membuat hidupmu sengsara. Bahkan lebih sengsara seperti di Neraka dan membuatmu ingin sekali mengakhiri hidupmu itu,” seru Caroline membuat Angelia tersenyum mengejek.
“Aku tidak akan memilih apapun. Lakukan saja apa yang kamu mau, tetapi aku tidak akan pernah meninggalkan Cristian,” seru Angelia. “Aku akan mengambil semua yang seharusnya menjadi milikku.”
Dug
“Ah... uhuk uhuk...”
Angelia terbatuk-batuk saat Caroline menendang bagian dadanya dengan keras hingga mengakibatkan lebam besar.
“Kau pikir kau ini siapa. Kau hanya wanita rendahan yang miskin, kau bahkan tidak memiliki orang yang mendukungmu,” ejeknya. “Jadi jangan pernah sombong, Angelia dan hari ini pun Cristian tak akan datang untuk menolongmu,” kekehnya penuh kejahatan.
“Aku tidak membutuhkan dukungan dari siapapun, kau sudah melakukan banyak kejahatan dan aku yakin cepat atau lambat kau akan mendapatkan karmamu,” seru Angelia dengan nada tajam.
__ADS_1
Plak
“Ah!”
Caroline kembali menjambak rambut Angelia membuatnya menengadahkan kepalanya melihat ke arah Caroline yang membungkuk ke arahnya.
“Kau berani menyumpahiku,” seru Caroline. “Sebelum itu, kau pikirkan dulu bagaimana nasibmu malam ini,” ejeknya memasukkan sebutir obat ke dalam mulut Angelia.
“A-apa yang kau masukkan?” seru Angelia marah.
“Kau akan mengetahuinya sebentar lagi. Kalian masuklah,” seru Caroline dan tak lama tiga orang pria datang memasuki ruangan itu membuat Angelia menatap mereka dengan curiga.
Caroline melepaskan jambakannya dan kembali berdiri tegak.
“Malam ini kalian bersenang-senanglah. Wanita cantik ini akan memuaskan kalian,” seru Caroline tersenyum bahagia.
Ia mengajak managernya untuk pergi meninggalkan ruangan itu.
“Sialan Caroline!” seru Angelia merasa kesal.
Kini hanya tinggal Angelia dan ketiga pria tadi yang tersenyum cabul menatap tubuh Angelia dan lekukan tubuhnya.
'Sial, kenapa pecahan kaca ini lama sekali memotong talinya,' batin Angelia dimana kedua tangannya tengah berusaha memotong tali yang mengikat pergelangan tangannya.
“Lihatlah wanita cantik ini, ayo kita bersiap untuk pesta,” kekeh mereka.
Seorang pria datang dengan sebotol anggur dan menumpahkan anggur itu di kepala Angelia hingga membasahi tubuhnya dan setiap lekukan tubuhnya.
“Uhh sungguh wanita yang menawan.”
'Ah sial, pandanganku mulai kabur. Obat apa yang diminumkan oleh Caroline. Aku merasa tubuhku mulai aneh,' batin Angelia.
“Biar aku yang melakukan pembukaan,” kekeh seorang pria mendekati Angelia bersama dengan ikatan tali itu terlepas dari Angelia.
Seorang pria tadi siap menerjang Angelia dan ia hendak merobek pakaian Angelia di bagian dadanya.
“Singkirkan tanganmu busukmu!” Angelia langsung melemparkan tinjunya di rahang pria itu dan ia juga meluncurkan tendangannya mengenai bagian intim pria tadi membuatnya kesakitan dan memegang bagian selangkangannya.
“Ah... wanita sialan!”
Angelia bergegas berdiri dari duduknya walau sedikit terhuyung karena kepalanya mulai merasakan pusing.
“Kau pikir bisa lari dari kami,” seru yang lainnya dan mereka berdua langsung menerjang Angelia.
Angelia menghindar dan melayangkan tinju juga tendangannya hingga membuat mereka jatuh dan kesakitan karena Angelia sengaja memukul bagian intim mereka.
'Tidak sia-sia aku berlatih bela diri selama ini. Menghadapi semua musuh ini memang tidak mudah,' batin Angelia.
“Ah sial, obatnya mulai bereaksi,” keluh Angelia berpegangan pada dinding saat tubuhnya mulai tak nyaman dan kepalanya terasa berputar. “Aku harus segera pergi meninggalkan tempat ini.”
Angelia melompat keluar melalui jendela yang tidak begitu tinggi. Ia berlari semampunya meninggalkan gedung itu, langkahnya terhenti saat ia mendengar langkah kaki di depannya dan berjalan mendekatinya. Angelia bersembunyi di balik dinding dengan mengatur nafasnya yang terengah.
'Aku tidak boleh kehilangan kesadaranku di tempat ini. Aku harus segera meninggalkan tempat ini,' batin Angelia. Angelia mendengar suara langkah kaki itu semakin dekat dan dengan kekuatan penuh ia keluar dari persembunyiannya dengan melayangkan bogemnya kepada orang itu, tetapi sialnya pukulannya di tahan oleh telapak tangan besar orang itu membuat Angelia semakin tak berdaya.
***
__ADS_1