
Hari ini Regan tidak masuk kerja karena menjemput Angelia dari rumah sakit dan mengantarnya pulang.
“Padahal tidak perlu sampai izin kerja untuk mengantar saya,” seru Angelia saat mereka sampai di rumah Angelia.
Angelia berada di dalam gendongan Regan. Ia masuk ke dalam kamar Angelia dan merebahkan tubuh Angelia di atas ranjang.
“Aku akan memasakkan makanan untukmu. Kamu istirahat saja,” seru Regan beranjak pergi meninggalkan Angelia.
Angelia masih menatap Regan dengan kedua pipinya bersemu merah. Melihat Regan memakai pakaian casual, sungguh sangat cocok dengannya dan terlihat sangat tampan.
“Aduh, apa yang sedang aku pikirkan. Sadarlah Angelia, jangan terlalu percaya diri dan berharap yang tidak pasti,” gumamnya menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang.
***
Angelia menatap keluar jendela kamarnya. Ia merenung memikirkan semua rencananya, tujuannya sejak awal. Sepertinya belum ada yang berjalan lancar. Kini ia malah menghindari Cristian karena ia memang tidak menyukai Cristian.
“Kenapa aku jadi lengah begini,” gumam Angelia.
Bip bip
Angelia mengambil handphonenya saat ada pesan masuk.
Amrita
Hei... Apa kau sudah melupakanku, hm?
Jahat sekali tidak ada kabar. Ngomong-ngomong besok jemput aku di Bandara. Aku akan memberi hukuman untukmu...
Angelia tersenyum lebar menatap pesan itu.
“Akhirnya kau kembali juga, Rita.”
Amrita adalah sahabat Angelia dari saat di panti asuhan. Dia mengetahui semua masalah yang dialami oleh Angelia. Dan bagi Angelia, Rita bukan hanya sahabat baiknya, melainkan seorang Kakak baginya.
“Aku tidak akan kesepian lagi saat dia kembali nanti,” gumam Angelia terlihat bahagia.
***
“Regan, apa kamu sedang sibuk,” seru Agneta saat mengetuk kamar putranya.
“Tidak Bun. Masuk saja,” sahut Regan dari dalam.
Agneta pun masuk ke dalam kamar Regan dan terlihat Regan tengah sibuk dengan beberapa dokumen di hadapannya.
“Kau masih saja sibuk walau di akhir pekan,” seru Agneta duduk di samping Regan.
“Ada apa? Apa Bunda butuh sesuatu?”
“Tidak, nak.” Agneta kemudian mengeluarkan sebuah kotak persegi berukuran kecil.
“Ini.” Agneta menyerahkan kotak itu pada Regan membuat Regan menerimanya. Kemudian ia membuka kotak itu hingga memperlihatkan kilauan berlian di dalamnya.
“Namanya Angel Kiss. Itu adalah cincin berlian turun temurun dari keluarga Ayahmu,” seru Agneta.
“Bunda tau kalau saat ini kamu sudah menemukan seseorang yang kamu sukai. Kalau kamu sudah yakin padanya dan ingin melamarnya, maka berikan cincin itu.”
“Tapi ini bukannya masih dipakai sama bunda?” tanya Regan.
“Tidak masalah. Karena kamu kini sudah dewasa dan memiliki seseorang dihatimu. Maka kapanpun kamu bisa melamarnya dengan cincin ini. Lagipula Bunda memiliki cincin lain dari Ayahmu,” seru Agneta tersenyum penuh keibuan.
“Baiklah. Regan akan menyimpannya,” ucap Regan menutup kotak itu kembali.
Agneta tersenyum menatap putranya itu. Waktu bergulir begitu cepat. Ia tidak menyangka bahwa kini putranya yang dulu begitu imut, menggemaskan dengan kecerdasannya juga bicaranya yang cadel. Regan yang menjadi penguat hidup untuk dirinya dalam menghadapi semua ujian hidupnya. Kini putranya itu telah menjadi pria dewasa yang begitu tampan dan sangat bijaksana. Agneta berharap Regan mampu mendapatkan kebahagiaannya. Tak ada doa lain dari seorang Ibu, selain kebahagiaan anaknya.
“Bunda, ada apa?” tanya Regan menyadarkan lamunan Agneta yang terlihat berkaca-kaca.
“Tidak. Kamu sudah menjadi pria dewasa yang begitu tampan,” serunya membuat Regan tersenyum dan mencium tangan Agneta.
***
Angelia berdiri dengan menatap pergelangan tangannya dimana jam tangannya bertengker.
“Rita mana sih, kok belum keluar juga yah. Padahal penerbangannya sudah mendarat 20 menit yang lalu,” gumam Angelia.
“Angel!”
__ADS_1
Panggilan itu membuat Angelia berbalik badan dan matanya melebar saat melihat sahabatnya datang.
“Rita!”
“Akhirnya kau kembali setelah meninggalkanku seorang diri disini,” seru Angelia melepaskan pelukannya.
“Ah akhirnya studyku selesai. Dan kini aku bisa kembali kesini dan menjalankan bisnis restaurant keluargaku,” seru Rita membuat Angelia terkekeh.
“Tunggu Angel. Kenapa wajahmu semakin bulat dan lihat lemak di lenganmu ini, pahamu juga, ya Tuhan. Angel, apa kau tidak pernah berolahraga? Dan terus makan ayam goreng!” Pekik Rita.
“Kau baru saja datang. Jangan menceramahiku. Uh, sekarang tak akan ada lagi kenikmatan hakiki saat menikmati ayam goreng,” keluh Angelia.
“Tidak akan ku biarkan! Astaga Angelia, bagaimana para pria akan jatuh cinta padamu. Lihat dirimu saat ini, sangat memprihatinkan,” seru Rita membuat Angelia memutar bola matanya jengah.
“Ayo pergi.”
“Bawakan tasku, lihat barang bawaanku begitu banyak,” seru Rita.
“Ck, kebiasaan yang tidak pernah berubah.”
“Wah ada kedai ayam goreng,” seru Angelia sebelum memasuki mobil.
“Tidak lagi Angel. Kau harus diet,” seru Rita.
“Ayolah Rita, sekali ini saja.”
“No! Ayo masuk ke mobil,” seru Rita menarik Angelia untuk masuk ke dalam mobil. Ia tidak peduli walau Angelia terlihat cemberut.
***
“Jessy, aku memahami kalau kau sangat kesal karena sekretaris baru yang tak tau diri itu,” seru Mona, salah satu teman Jessy.
“Mona benar. Dia bahkan menggoda Direktur sampai Direktur begitu perhatian kepadanya,” sahut Mona.
“Kau tidak boleh diam saja. Kita perlu memberinya sebuah pelajaran,” seru Mona.
“Pelajaran bagaimana? Apa kalian bisa membantuku?” tanya Jessy.
“Serahkan pada kami berdua. Kau tenang saja, kita akan buat perhitungan pada ****** itu,” seru Mona penuh semangat.
- - -
“Apa yang sedang mereka lakukan dan untuk siapa minuman yang diberi obat itu?” gumam Angelia begitu bingung dan bertanya-tanya.
Selang beberapa menit, Angelia memasuki ruang rapat dan ternyata disana sudah ada Jessy.
“Jessy?” gumamnya membuat Jessy menoleh.
“Hallo Angelia, ayo duduklah. Beberapa menit lagi rapat akan di mulai dan Direktur akan datang bersama para pemegang saham lainnya,” seru Jessy membuat Angelia mengambil duduk di sampingnya.
“Apa semuanya sudah kau siapkan?” tanya Jessy melirik berkas yang ada di genggaman Angelia.
“Sudah.”
“Ini minumlah dulu, kau pasti begitu tegang karena akan ikut hadir dalam presentasi di hadapan semua pemegang saham mengenai produk baru yang akan launching,” seru Jessy membuat Angelia mengernyitkan dahinya.
Tumben sekali Jessy begitu ramah dan baik kepada dirinya. Setaunya kemarin-kemarin Jessy selalu jutek padanya.
'Gelas ini?' batin Angelia saat melihat gelas di depannya.
Angelia mengingat kejadian tadi di pantry, Jessy terlihat memasukkan sesuatu ke dalam gelas. Dan kini gelasnya ada dihadapannya.
Angelia mendekatkan gelas itu ke dalam hidungnya dan ia mencium aroma obat walau samar-samar.
'Kenapa? Kenapa Jessy ingin menjebakku? Obat apa yang dia berikan kepadaku.' Batin Angelia.
Angelia sadar bekerja di samping Regan sungguh membuatnya dalam bahaya. Ia benar-benar harus sangat berhati-hati dan tidak boleh sampai kecolongan sedikitpun. Mereka yang ingin menjebaknya sungguh sangat kejam.
'Baiklah Jessy, aku akan memberikan minuman ini kembali kepadamu,' batin Angelia.
Para pemegang saham pun sudah memasuki ruangan itu. Jessy dan Angelia berdiri dari duduknya saat mengetahui Direktur juga sudah akan memasuki ruang rapat. Dan saat Jessy mengalihkan pandangannya ke arah pintu, Angelia langsung menukar gelas miliknya dengan gelas milik Jessy.
Acara rapat pun dimulai. Regan meminta Angelia untuk memulai presentasinya.
Angelia pun beranjak dari duduknya dan saat itu Jessy terlihat menyeringai.
__ADS_1
“Pertunjukkan di mulai,” gumamnya.
Angelia membuka berkas yang ia bawa dan betapa kagetnya ia saat melihat isinya kosong.
'Sialan!' Batin Angelia dan ia melihat Jessy tersenyum puas seraya meneguk minumannya.
'Ah apa ini semua pekerjaan sekretaris senior itu?' Batin Angelia.
“Ada apa Angelia?” tanya Regan membuat Angelia melihat ke arah Regan dan menatap ke yang lainnya yang tampaknya sedang menunggunya memulai presentasi.
'Tenang Angel tenang...' batin Angelia seraya menghirup udara dan menghembuskannya perlahan.
“Saya akan memulai presentasinya.”
Angelia mulai berbicara dan memulai presentasinya tanpa melihat isi berkas. Untungnya ia sudah membaca dan memahami bahan presentasi ini dalam beberapa hari ini karena ia tidak ingin ada kesalahan dan itu ternyata bisa membantunya untuk sekarang. Angelia dapat melihat tatapan kaget penuh kekesalan dari Jessy.
'Sialan! Bagaiman mungkin dia bisa menghafal semua isi presentasinya?' batin Jessy. 'Dan kenapa obatnya belum juga bereaksi.'
“Ah. Kenapa rasanya tidak nyaman dan begitu panas,” gumam Jessy tidak nyaman dalam duduknya. Rasanya ia ingin membuka semua pakaiannya dan meminta seseorang untuk memuaskannya.
“Ah...”
“Sekretaris Jessy, apa ada masalah?” tanya Nickolas terlihat memperhatikan gerak-geriknya.
“Ah itu anu- anu-“ Jessy menjadi begitu gagap dan berkeringat dingin, apalagi saat ini semua mata tertuju kepadanya.
“Ada apa?” seru Regan dengan nada dingin membuat Jessy menjadi ciut. “Aku tidak suka ada yang mengganggu saat meeting berlangsung!”
“Sekretaris Jessy, apa kau tidak enak badan?” tanya Calvin dengan nada lembut.
Kedua sepupu itu sungguh berbanding terbalik sifatnya, pikir Angelia.
“Sa-saya permisi ke kamar mandi.” Tanpa menunggu jawaban, Jessy langsung berlari keluar ruangan.
“Jangan biarkan dia masuk kembali ke ruang rapat,” seru Regan. “Mengganggu saja!”
Semuanya hanya diam tertunduk karena suara Regan yang terdengar dingin dan menakutkan.
“Angel silahkan di lanjut.”
Angelia pun melanjutkan presentasinya.
- - -
Meeting telah usai. Regan mempersilahkan semuanya untuk bubar dan keluar lebih dulu. Angelia beranjak hendak keluar ruangan tetapi Regan menahan pergelangan tangannya.
“Eh?”
“Kecuali kau tidak boleh meninggalkan ruangan,” seru Regan.
“Lepaskan tangan saya,” seru Angelia sangat kaget. Tatapan matanya kembali melihat ke orang-orang yang sudah mulai meninggalkan ruangan itu. Ia takut ada yang melihat tangannya di genggam oleh Direktur. Ia tidak ingin membuat kehebohan lagi.
Kini hanya tinggal Regan dan Angelia berdua saja di ruangan itu.
“Jadi apa yang sudah kau lakukan pada minuman Jessy?” tanya Regan membuat Angelia mengernyit bingung. “Aku melihat saat kau menukar gelasmu dengan milik Jessy, Kucing Kecil.”
“Kau melihatnya, lalu kenapa tidak menghentikanku?” tanya Angelia.
“Aku ingin tau apa yang ingin kau lakukan pada Jessy.”
“Sejujurnya bukan aku yang ingin mencelakai dia. Minuman itu awalnya Jessy yang memberikannya kepadaku, tetapi aku sadar kalau ada aroma aneh dalam minuman itu. Makanya aku tukarkan dengan minumannya. Aku juga tidak menyangka kalau ternyata Jessy memasukkan obat perangsang di dalam minumanku. Mungkin dia ingin mempermalukanku saat aku presentasi, seru Angelia. “Bahkan bukan hanya itu, bahan presentasiku pun ada yang menukarnya. Tapi untung aku hafal semua bahan presentasi hari ini, kalau tidak. Mungkin aku tidak akan bisa presentasi dan mempermalukan Direktur,” jelas Angelia panjang lebar menjelaskannya.
'Ah kenapa aku harus menjelaskan semua padanya,' batin Angelia.
“Mungkin dia ingin menyingkirkanmu dari posisi sekretaris. Dia tau kalau aku tidak menyukai kesalahan saat meeting berlangsung,” seru Regan.
“Entahlah. Tolong lepaskan tanganku!”
Bukannya melepaskan, Regan malah menyudutkan Angelia ke meja dan mengurung tubuhnya dengan kedua tangannya. Angelia berusaha menghindar tetapi percuma saja, jarak di antara mereka begitu dekat.
“Aku tidak menyangka kalau kucing kecilku ini sangat cerdik,” puji Regan.
“Aku tidak akan mengusik seseorang, kalau dia tidak mengusikku,” seru Angelia.
“Aku suka itu,” seru Regan membuat Angelia membeku mendengarnya.
__ADS_1
***