
Sesampainya di salah satu hotel di kota A Angelia diberi satu kunci kamar hotel oleh Nickolas, ia sedikit bingung saat hanya dirinya seorang perempuan yang ada disana. Entah kemana perginya sekretaris Calvin dan Jessy.
Angelia berjalan mengikuti yang lainnya menuju kamarnya, ia menatap punggung lebar nan tegap milik Regan yang berjalan paling depan. Setelah penolakan itu, ia tidak berbicara apapun dengan Regan. Regan pun seakan menjaga jarak dan tidak menggodanya seperti biasanya.
Mengetahui semua itu, entah kenapa ada rasa sesak dihati Angelia. Ia merasa sedikit kehilangan Regan, Handsome Devilnya.
Angelia masuk ke dalam kamar hotel yang sangat besar, Presidential Suite ia harus menempatinya seorang diri.
“Ah rasanya sangat lelah. Aku harus mandi,” seru Angelia bergegas ke kamar mandi.
Ia merendam tubuh telanjangnya ke dalam bathtub dimana sudah terisi air hangat dan aromatherapy, aroma strawberry dari sabunnya menguar menggelitik hidung dan itu sangat membuatnya nyaman.
Angelia termenung dan kembali mengingat ungkapan perasaan dari Regan.
Angelia, aku menyukaimu. Jadilah kekasihku.
“Sebenarnya dia sungguh menyukaiku atau hanya menginginkan hal yang lain?” gumam Angelia. “Lalu kenapa rasanya aku menyesal karena menolaknya. Kenapa sekarang aku malah merasa begitu kehilangan dia. Apa aku juga menyukainya?”
“Sadarlah Angel. Kau tidak berhak mendapatkan semua itu. Lalu kenapa kalau dia menyukaimu? Itu tidak akan merubah apapun.” Angelia berucap dengan begitu lirih dan sendu.
Angelia menenggelamkan seluruh tubuh dan kepalanya ke dalam air, ia ingin semua kenangan dan ucapan dari Regan terhapus semuanya oleh air, ia tidak ingin memikirkan apapun lagi tentang Regan, ia ingin melepaskan semuanya.
***
Saat ini Regan, Calvin, Angelia dan Nickolas pergi menuju tempat proyek dimana ia diundang oleh client untuk melihat langsung proyek mereka. Selama itu Regan tampak sibuk dengan client dan meminta bantuan Nickolas untuk memenuhi kebutuhannya. Angelia hadir disana tanpa mengerjakan apapun, sebenarnya dia merasa jenuh juga kesal karena sikap Regan yang berubah menjadi dingin padanya. Tetapi mungkin ini semua kesalahannya yang sudah menolak Regan, mungkin dengan begini itu bagus karena ia pun bisa lebih cepat melupakan Regan.
“Minum,” seseorang menyodorkan sebotol minuman ke depan wajah Angel membuat Angelia menoleh ke sampingnya dan melihat Calvin berdiri disana.
“Terima kasih, Mr. GM,” seru Angelia menerima botol itu.
“Sepertinya kita akan cukup lama disini. Kau duduklah disana, jangan sampai kepanasan,” seru Calvin menunjuk ke arah tenda yang tersedia tidak jauh darinya berdiri.
“Saya baik-baik saja,” seru Angelia meneguk minumannya.
“Sebenarnya ada masalah apa antara kamu dengan Direktur,” seru Calvin.
“Kami tidak memiliki masalah apapun,” ucap Angelia.
“Ck, kau tidak perlu sungkan untuk berbagi cerita padaku,” seru Calvin saat keingintahuannya sedang mode on.
“Saya pikir kita tidak sedekat itu untuk saling berbagi cerita,” jawab Angelia. “Saya permisi, Mr. GM.” Angelia beranjak pergi meninggalkan Calvin seorang diri.
“Ck, sungguh pasangan yang cocok. Sama-sama berhati dingin,” gumam Calvin. “Sebaiknya aku mencari wanita cantik disini untuk aku goda.” Calvin beranjak pergi.
__ADS_1
- - - -
Saat ini Angelia sedang berjalan-jalan dan menunggu Direkturnya menyelesaikan pekerjaannya. Mereka masih di tempat proyek dan ia memilih untuk berjalan-jalan seorang diri.
Tempat itu begitu berbatu, banyak kendaraan besar yang digunakan untuk proses pembangunan. Disana juga banyak sekali barang-barang pembangunan dan alat berat.
Angelia berjalan-jalan di dekat sebuah mobil pengangkut yang besar dimana masih ada banyak barang-barang yang sedang dipindahkan. Angelia tidak sadar kalau dirinya dalam bahaya dimana seseorang menyimpan sebuah kardus besar dalam posisi yang tidak tepat, membuat tumpukan kardus itu bergetar dan jatuh ke bawah hampir mengenai Angelia.
“Ah!”
Angelia memekik kaget saat seseorang memeluk tubuhnya dan membawanya menjauh dari sana hingga tubuhnya terjatuh ke tanah begitu juga dengan beberapa kardus yang jatuh ke tanah.
“Sampai kapan kamu berada diatas tubuhku?” seruan seseorang membuat Angelia menengadahkan kepalanya hingga tatapan matanya bertemu dengan mata tajam seperti elang yang selalu mampu mengintimidasinya.
“Mr. Danial, apa Anda baik-baik saja?” seru Mr. John yang merupakan client Regan.
Angelia segera beranjak dari atas tubuh Regan, ia tidak sangka kalau Reganlah yang menolong dirinya tadi, Regan pun kini sudah berdiri di hadapan Angelia dengan beberapa luka gores di tangannya karena tergores bebatuan di tanah. Mungkin bagian punggungnya juga memar karena benturan keras, Angelia menoleh ke arah mobil tadi dimana sudah banyak barang dari dalam kardus yang berserakan di tanah. Ternyata di dalam kardus itu bukan barang ringan, kalau Angelia sampai tertimpa itu. Entah bagaimana sekarang kondisinya, mungkin sudah terluka parah. Tetapi Regan begitu tepat menolongnya, padahal ia sedang sibuk dengan clientnya.
“Ayo akan saya antar ke tenda kesehatan untuk mengobati luka Anda,” seru John.
“Baiklah,” seru Regan kini melihat ke arah Angelia yang juga melihat ke arahnya.
“Jangan berkeliaran di tempat yang berbahaya lagi, tunggu saja di tenda atau di mobil.” Setelah mengucapkan itu, Regan beranjak pergi meninggalkan Angelia tanpa menunggu jawaban dari Angelia.
“Sudah selesai,” ucap Dokter itu.
Tanpa mengatakan apapun, Regan langsung mengenakan kemeja putihnya kembali. Setelah melipat kemeja di bagian tangannya, Regan beranjak dengan menenteng jasnya. Langkahnya terhenti saat melihat Angelia berada diluar tenda.
Tanpa mengatakan apapun, Regan beranjak melewati tubuh Angelia.
“Tunggu sebentar,” seru Angelia menghentikan langkah Regan. Regan menoleh ke arahnya.
“Ada apa?” tanya Regan.
“Mengenai hal tadi, emm terima kasih,” seru Angelia.
“Hmm...” Regan beranjak pergi meninggalkan Angelia begitu saja. Angelia hanya menatap Regan yang berlalu pergi meninggalkannya.
***
Saat menjelang malam, Angelia memberanikan diri datang ke kamar Regan. Entah ini keputusan yang tepat atau bukan.
Regan sudah membuka pintu kamar saat Angelia mengetuknya beberapa kali.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Regan yang sudah mengenakan kaos putih polos dan celana training panjang.
“Itu aku-“ Angelia menjadi gagap, ia tidak tau harus mengatakan apa.
“Masuklah.” Regan langsung mempersilahkan Angelia untuk masuk.
Angelia pun berjalan memasuki kamar hotel Regan.
“Jadi ada apa, miss Angel datang ke kamar saya di malam hari?” seru Regan melipat kedua tangannya di dada dan berdiri menghadap ke arah Angelia.
“Aku... Sa-saya ingin berterima kasih untuk hal tadi, karena Anda sudah menolong saya.”
“Hanya untuk berterima kasih?”
“Sa-saya juga ingin merawat luka Anda,” ucap Angelia melirik perban di lengan Regan.
“Hanya itu?”
“Itu-?” Angelia menjadi gagap dan bingung harus berkata apalagi.
Regan terus menyudutkan Angelia yang berjalan mundur perlahan sampai penggungnya menyentuh daun pintu, Regan menghapus jarak di antara mereka.
“Bagaimana kalau aku meminta hal lain sebagai ucapan terima kasih?” seru Regan.
“A-apa?” tanya Angelia.
“Dirimu.”
Deg
Regan tiba-tiba saja memagut bibir Angelia begitu dalam dan penuh gairah membuat seluruh darah Angelia terbakar dan terasa bergejolak. Ia semakin memperdalam ciumannya dan menyisir seluruh bagian mulut Angelia.
“Emm...”
Angelia melenguh dalam ciuman mereka saat tangan Regan menyusup ke dalam pakaian Angelia dan menyentuh sesuatu yang begitu kenyal dan membuat Angelia semakin terbakar gairah.
Regan melepaskan pagutan dirinya begitu juga dengan tangannya. Ia melihat Angelia begitu berantakan dengan bibirnya yang bengkak.
“Bibirmu menolakku, tetapi tidak dengan tubuhmu,” seru Regan membuat mereka saling bertatapan satu sama lain.
“Kau adalah milikku. Tidak peduli kau menerimanya atau tidak.”
Ucapan Regan yang dengan arogannya mengklaim dirinya membuat Angelia terpaku di tempatnya. Tetapi entah kenapa tidak ada kemarahan di dalam dirinya mendengar semua itu.
__ADS_1
***