
Angelia membuka matanya dan ia berada di dalam ruangan yang begitu gelap dan begitu menakutkan.
“Tolong... Tolongggggg...”
Angelia berteriak menggedor-gedor pintu tetapi tidak ada seorang pun yang membuka pintu itu.
“Ha... ha... ha...”
Angelia berbalik badan saat mendengar tawa dari beberapa orang.
“Kalian?” Angelia melihat keluarga Virendra disana sedang mentertawakannya.
“Dasar anak pembawa sial... Kau tidak pantas untuk hidup, kau sudah menjadi orang miskin yang sangat hina. Lihatlah kondisimu saat ini yang begitu menyedihkan, kau hanyalah seorang sampah!” seru Caroline dan mereka kembali tertawa.
“Ha... ha... ha... Dasar pecundang!” seruan itu membuat Angelia menoleh dan ia melihat Cristian disana yang tertawa puas melihatnya.
“Pergi kalian semua!” jerit Angelia menutup kedua telinganya dengan tangannya. “Pergi... Jangan datang lagi.”
“Karena ulahmu, Ibumu mati. Kau yang sudah membunuhnya,” seru Virendra membuat Angelia mengernyitkan dahinya.
“Angelia sayang...”
“Ibu......”
Angelia beranjak dan berlari hendak menerjang Ibunya tetapi sesuatu menghalangi mereka seperti ada dinding tak kasat mata di antara mereka.
“Putriku......”
“Ibu...” Angelia menangis seraya memukuli pembatas tak kasat mata itu.
Pupil mata Angelia melebar sempurna saat melihat siluet hitam bertubuh tinggi di belakang ibunya, ia menyiramkan air ke tubuh ibunya. Kemudian ia menyalakan api dan melemparkannya ke tubuh Ibunya hingga terbakar.
“IBU......!” jerit Angelia.
Angelia menjerit histeris seraya memukuli dinding itu untuk menolong Ibunya.
“Angel... Angel... Sadarlah,” seruan lembut itu pelan-pelan terdengar oleh Angelia.
“Ibu!” Angelia terbangun dari tidurnya dan ia menatap langit-langit ruangan yang terang, tubuhnya terasa begitu basah karena keringat.
“Angel, apa kamu baik-baik saja?” seruan itu membuat Angelia menoleh dan ia melihat wajah tampan Regan disana yang begitu menenangkan.
Tanpa pikir panjang, Angelia langsung beranjak dari tidurnya dan memeluk tubuh Regan.
“Hu... hu... hu...” Angelia menangis sejadi-jadinya dipelukan Regan. “Hikzzz... Aku takut, sangat takut. Hu... hu... hu...”
“Tenanglah. Ada aku disini,” seru Regan memeluk tubuh Angelia dan membelai punggungnya dengan lembut.
“Jangan tinggalkan aku, Regan.”
Deg
Regan terpaku mendengar kata-kata Angelia, ini pertama kalinya Angelia memanggil namanya secara langsung dan itu sudah membuatnya berdebar.
Regan melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Angelia dengan lembut, ia menghapus air mata di kedua pipi Angelia.
“Katakan sekali lagi,” seru Regan menatap manik mata Angelia penuh kehangatan membuat Angelia tak bisa berkutik.
“Aku-“
__ADS_1
“Katakan sekali lagi yang tadi sempat kamu katakan, Angel.”
Angelia tersadar dengan posisi mereka dan apa yang sudah ia lakukan dengan begitu lancang.
“Maafkan saya Direktur,” seru Angelia segera memundurkan badannya hingga terlepas dari pegangan Regan.
Regan masih diam menatap Angelia dengan tajam. 'Suatu saat nanti aku akan pastikan kamu akan mengatakan lagi kata-kata tadi berulang kali,' batin Regan.
“Kenapa aku bisa ada disini?” gumam Angelia saat ia menatap sekeliling dan ia tau bahwa ini adalah kamar yang ada di Villa milik Regan.
“Semalam kamu mabuk dan aku membawamu kemari,” seru Regan terdengar datar.
“Ta-tapi semalam bukannya aku dengan Rita,” gumam Angelia berusaha mengingat kejadian semalam yang sama sekali tidak bisa ia ingat selain ia pergi ke restaurant bersama Rita.
“Temanmu yang menghubungiku untuk menjemputmu,” jawab Regan dengan santai.
“Apa?” pekik Angel sangat kaget. 'Rita sialan!'
'Astaga kepalaku sakit sekali,' batin Angelia memegang kepalanya.
“Turunlah ke bawah, aku akan memasakkan soup penghilang mabuk untukmu,” seru Regan beranjak dari duduknya dan berjalan santai menuju pintu keluar.
“Tunggu!” seruan Angelia menghentikan langkah Regan dan ia menoleh ke arah Angelia.
“Ba-bagaimana aku bisa berganti pakaian. Apa yang kamu lakukan padaku?” seru Angelia menyilangkan kedua tangannya di dada.
Regan berbalik badan ke arah Angel dan menatap Angel yang juga sedang menatapnya dengan ekspresi kesal juga marah.
'Kenapa dia begitu imut, bahkan sedang marahpun dia masih begitu menawan. Benar-benar Kucing Kecilku yang menggemaskan,' batin Regan seraya memasukkan ke dalam saku celananya.
“Semalam kamu muntah dan mengenai pakaianmu dan lagi seluruh tubuhmu sangat pekat dengan aroma alkohol. Mau tidak mau aku harus mengganti pakaianmu,” jawab Regan dengan tenang.
“Memangnya kenapa? Bukankah sebelumnya juga aku sudah pernah melakukannya dan melihat segalanya,” jawab Regan begitu santai membuat Angelia memekik kaget sekaligus kesal.
Regan tersenyum kecil dan berbalik badan melanjutkan langkahnya.
“Dasar mesum!” teriak Angelia.
“Segera turun ke bawah,” ucap Regan berkata dengan begitu santai dan melanjutkan langkahnya meninggalkan kamar itu.
“Pria itu benar-benar Devil mesum!” pekik Angelia sangat kesal sekaligus malu memikirkannya.
***
Angelia berjalan menuju dapur setelah ia mengganti pakaian dan mandi, Regan memang menyediakan beberapa keperluan wanita di kamar itu seakan memang di khususkan untuk Angelia.
“Kemarilah dan minum soupnya, ini bisa meringankan sakit kepalamu,” seru Regan menyuguhkan semangkuk soup di atas meja.
Angelia duduk di kursi meja makan itu.
“Bibi Zhi tidak terlihat,” seru Angelia dan kini Regan sudah melepaskan celemek putih yang sebelumnya ia gunakan dan duduk di hadapan Angelia.
“Dia sedang membeli bahan makanan,” jawab Regan seraya meneguk teh yang ada di hadapannya.
“Makanlah mumpung masih hangat.”
Angelia mengambil sendok dan menyuapkan soup ke dalam mulutnya.
'Ini benar-benar lezat,' batin Angelia. 'Bagaimana bisa ada seorang pria yang begitu sempurna.' Angelia melirik ke arah Regan yang tampak santai membaca koran dengan meminum tehnya.
__ADS_1
“Aku akan pulang setelah ini. Terima kasih karena sudah membantuku,” jawab Angelia membuat Regan melirik ke arahnya.
“Nanti malam ada acara pelelangan. Aku ingin kau menjadi pendampingku untuk menghadirinya,” seru Regan dengan tenang.
“Tapi ini weekend dan aku sudah memiliki janji,” dusta Angelia. Sebenarnya ia ingin segera menjauh dari Regan, terus bersamanya seperti ini sungguh membuatnya bisa terkena serangan jantung.
“Aku tidak ingin mendengar penolakanmu. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih darimu,” jawab Regan begitu tegas tidak ingin ada penolakan apapun.
“Baiklah,” jawab Angelia akhirnya membuat Regan tersenyum simpul.
***
Malam menjelang, Angelia sudah memakai gaun cantik berwarna pastel dengan rambut yang dihias cantik. Regan sengaja memanggil seorang penata rias ke Villanya bersama dengan designer ternama di Negara itu untuk menentukan pakaian Angelia.
Regan sudah siap dengan tuxedo berwarna abunya dan ia terlihat sangat tampan dan begitu rapi. Tak lama ia mendengar suara langkah kaki kecil yang begitu anggun, Regan menoleh ke arah tangga.
Deg
Mata Regan melebar saat melihat sosok Angelia yang sangat cantik berjalan menuruni tangga. Regan hampir saja tidak mengenali Angelia saat ini, dia sangatlah menawan dan itu malah membuat Regan tidak ingin membawa Angelia pergi ke acara pelelangan. Ia malah ingin mengurung Angelia di dalam kamarnya dan memandangi Angelia terus, hanya dirinya sendiri yang boleh melihat Angelia secantik ini.
“Emm ada apa?” tanya Angelia gugup karena di tatap begitu tajam dan penuh intimidasi oleh Regan, ia merasa seluruh atmosfer disana membuatnya berdebar dan tidak karuan.
“Apa kita tidak usah pergi saja,” seru Regan.
“Eh, apa?” Angelia kaget mendengar seruan Regan barusan.
“Kenapa kau harus berpenampilan secantik ini hanya untuk dinikmati banyak pria,” seru Regan begitu posesif dan mendengar seruan Regan itu membuat wajah Angelia merona sehingga membuatnya memalingkan wajahnya karena malu.
“Aku sudah berjanji untuk menemanimu dan aku sudah bertahan cukup lama untuk di dandani seperti ini. Apa kamu tega kalau kita tidak jadi pergi?” seru Angelia memberanikan diri berkata seperti itu untuk menetralkan debar jantung dan wajahnya yang sudah memerah.
“Apa kau tidak senang berdandan hanya untukku?” seru Regan menghapus jejak di antara mereka hingga membuat tatapan mereka beradu satu sama lainnya.
Regan merengkuh pinggang ramping Angelia hingga menempel dengan tubuhnya.
“Jawab aku, Angel. Apa kamu tidak senang memperlihatkan kecantikanmu ini hanya untukku?” seru Regan begitu dekat hingga aroma mintnya menerpa wajah Angelia.
'Kenapa pria ini menjadi begitu kekanakan,' batin Angelia. “Se-senang.”
Regan tersenyum kecil. “Kalau begitu berikan aku hadiah special supaya kita jadi berangkat.”
“Ap-“
Ucapan Angelia terhenti karena sebuah bibir menutup bibirnya dan ********** pelan, Angelia cukup terbuai oleh ciuman Regan.
Uhuk uhuk
“Begitu tidak sabarnya, Bos. Bahkan kami masih ada disini,” goda seseorang hingga membuat Angelia segera mendorong dada Regan dan ciuman mereka terlepas.
“Ck, kau merusak hari baikku,” seru Regan.
“Kau sungguh tidak sabaran,” kekeh sang penata rias yang juga salah satu kenalan keluarganya.
“Ayo berangkat,” ucap Regan beranjak pergi meninggalkan Angelia begitu saja.
“Ck, dasar pria licik,” seru Angelia merasa kesal.
Penata rias dan designer itu hanya terkekeh saja melihat kelucuan mereka berdua.
***
__ADS_1