Terjerat Pesona Sang Direktur

Terjerat Pesona Sang Direktur
Kenangan Indah


__ADS_3

Setelah selesai bekerja, Angelia bersama dengan Regan mendatangi IAO Production yang berada cukup jauh dari daerah kota, lebih mendekati perbatasan.


Mereka duduk berdampingan di kursi penumpang, Angelia terlihat focus menatap keluar jendela.


“Apa yang sedang kamu lihat?” tanya Regan.


“Pemandangannya cukup menarik,” seru Angelia.


“Kalau lelah, kau bisa tidur di pundakku,” seru Regan membuat Angelia menoleh kearahnya.


“Aku baik-baik saja,” jawab Angelia merasa tidak nyaman dengan Jose kalau ia bersikap kurang ajar pada atasannya. Walau hubungan mereka tidak bisa dikatakan sebagai atasan dengan bawahannya.


“Sudah sampai, Mr.” ucap Jose membuka pintu penumpang membuat Regan dan Angelia menuruni mobil.


Angelia menatap bangunan dihadapannya, gedung 10 tingkat itu cukup mewah untuk setelan anak perusahaan. Tetapi keadaannya sekarang cukup mengkhawatirkan karena telah lama dibiarkan terbengkalai.


“Ayo kita masuk,” ajak Regan menarik tangan Angelia untuk masuk ke dalam.


Angelia menatap tangannya yang di genggam oleh Regan dan ia tersenyum kecil, entah kenapa akhir-akhir ini Regan selalu saja membuatnya terbang dan berbunga-bunga.


Mereka berdua memasuki lobby kantor yang penuh dengan kardus, meja resepsionis dan penuh dengan debu.


“Kita tidak bisa semakin memasuki kantor. Sebaiknya melakukan renovasi dulu,” seru Regan.


“Sepertinya sudah dibiarkan terbengkalai begitu lama,” ucap Angelia. “Dulu saat aku masih kecil, mendiang Kakek pernah mengajakku datang kesini. Saat dia mengontrol setiap anak perusahaannya beliau selalu mengajakku,” ucap Angelia membuat matanya berkaca-kaca.


Kenangan indah itu sudah berlalu cukup lama.


“Setelahnya kau pasti meminta dibelikan ayam goreng yang banyak,” gurau Regan membuat Angelia menoleh kearahnya dengan tersenyum.


“Kok berhasil menebaknya,” kekeh Angelia.


'Aku lebih senang melihatmu tersenyum,' batin Regan.


“Jadi karena aku sudah membawamu kemari dan perjalanan yang cukup melelahkan. Aku akan membayarnya dengan mentraktirmu makan ayam goreng,” seru Regan.


“Serius?” pekik Angelia.


“Ya, ayo sebaiknya kita pergi. Biar nanti aku yang urus masalah renovasinya, kau buatlah desain untuk kantornya nanti. Aku akan meminta Yosef bagian desain untuk membantumu,” seru Regan.


“Terima kasih banyak Direktur,” seru Angelia.


“Panggil Regan saja saat diluar kantor. Apa aku harus merekam kata-kata itu dan membuatmu mengingat setiap saat,” seru Regan membuat Angelia terkekeh.


“Baiklah Regan,” Regan tersenyum kecil mendengarnya.


“Mau makan di tempatnya Rita?” tanya Regan.

__ADS_1


“Iya.”


***


Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, akhirnya mereka sampai di restaurant orang tua Rita. Angelia memasuki restaurant lebih dulu dan Regan mengikutinya dari belakang.


“Lihatlah wajah cantikmu sekarang penuh minyak,” gurau Angelia pada Rita yang sedang menggoreng ayam.


“Angelia!” pekik Rita. “Dasar kau bocah tengik, kemana saja kau selama ini? Bahkan tidak memberiku kabar sama sekali, kau benar-benar durhaka pada temanmu ini!”


“Ck, kau merindukanku?” seru Angelia.


“Sudah pasti, gadis bodoh!” Rita menjewer telinga Angelia membuatnya terkekeh.


“Aku juga merindukanmu, ibu tiriku,” seru Angelia memeluk Rita.


“Diamlah,” seru Rita. “Kau datang membawa Handsome Devil apa Sang Kera?”


“Kau? Bagaimana kau tau?” seru Angelia berbisik pelan.


“Aku melihatnya di kontakmu. Ck, kau ini benar-benar gadis nakal,” ucap Rita membuat Angelia terkekeh.


“Ehem...”


Deheman itu membuat mereka menoleh dan Angelia melepaskan pelukannya, terlihat Regan berdiri di ambang pintu.


“Pergilah! Aku akan menyiapkan ayam goreng caramel kesukaanmu,” seru Rita.


Kini Angelia dan Regan sudah duduk berhadapan di salah satu meja yang berada di dekat jendela.


“Aku tidak tau kalau kalian begitu dekat. Selama ini aku tidak pernah melihatmu sedekat ini dengan teman di kantor,” seru Regan.


“Amrita adalah temanku saat kami berada di yayasan panti asuhan, saat itu dia di adopsi oleh sepasang suami istri yang begitu menyayanginya. Tetapi setelah itu, Amrita semakin sering datang menemuiku di yayasan dan bahkan membantuku mendapatkan uang untuk kebutuhan kuliahku. Dia adalah keluarga yang aku miliki, aku sudah menganggapnya sebagai kakakku sendiri,” jelas Angelia membuat Regan paham.


“Permisi pesanan kalian, aku memberikan dua porsi ayam goreng special untukmu.”


Rita menyajikan pesanan mereka.


“Kau yang terbaik!” seru Angelia begitu berbinar.


“Apa kabar, Mr. Danial?”


“Kabar baik, bagaimana dengan Nona Amrita?”


“Kabarku juga baik, kalau begitu aku tidak akan mengganggu lagi. Silahkan menikmati makanannya,” seru Rita berlalu pergi.


“Makanlah,” ucap Regan yang diangguki Angelia, ia langsung melahap ayam gorengnya dengan begitu lahap.

__ADS_1


“Pelan-pelan Angelia!” Regan menghapus noda di sudut bibir Angelia dan itu membuat Angelia terpaku dengan wajah yang bersemu merah.


***


Angelia termenung di dalam kamarnya, dihadapannya ada liontin yang diberikan oleh Anne, Ibunya. Di dalam liontin itu terdapat foto Ibunya bersama dengan seorang pria dimana bagian wajah prianya sudah berjamur dan tidak terlihat jelas.


“Apa dia Virendra?” gumam Angelia.


“Ibu aku sudah mendapatkan salah satu anak perusahaan IAO Production. Terkadang aku merasa pesimis, apa aku dapat menghancurkan keluarga Virendra hanya dengan keadaanku yang seperti ini. Ibu, andaikan ibu masih hidup mungkin hidupku tidak akan sesulit ini. Akan ada ibu yang selalu mendukungku dan menyayangiku.”


Sekelebat wajah tampan Regan muncul dibenaknya dan semua yang telah Regan lakukan untuk selalu membantunya.


“Regan? Apa Tuhan menghadirkan kamu untuk mengganti Ibuku?” gumamnya.


Angelia kemudian mengambil sebuah kertas yang di lipat di dalam laci meja nakasnya, ia membuka kertas itu hingga memperlihatkan sketsa wajah seseorang.


“Pria ini, dia yang sudah membunuh Ibuku!” gumam Angelia sangat kesal dan penuh dendam, di wajah pria itu yang Angelia ingat adalah adanya bekas goresan luka yang mulai memudar di ujung alisnya sebelah kiri.


“Suatu saat nanti kamu pasti akan membayar semua yang sudah kamu lakukan pada Ibuku. Walau nyawa taruhannya, aku akan terus mencari siapa kamu sebenarnya dan ada motif apa sampai dengan kejinya membakar ibu.” Tanpa terasa air mata Angelia jatuh membasahi pipinya, ia begitu ketakutan dan merasa ngeri kala mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Bahkan sampai sekarang ia masih terus dihantui mimpi buruk itu.


***


Beberapa hari berlalu dan Angelia sudah memberikan desain untuk kantornya IAO Production yang di bantu oleh Yosef. Sesuai ucapan Regan waktu itu, kantor pun dalam proses renovasi.


Dering handphone mengalihkan focus Angelia yang sedang mengetik sesuatu di laptopnya.


“Siapa yah?” gumamnya saat melihat private number di layar handphonenya.


“Hallo,” Angelia mengangkat panggilan telponnya.


“Ini dengan Angelia?”


“Iya benar, ini siapa?”


“Aku Janeeta Tsurayya.”


Angelia terpaku mendengar nama itu. 'A-ada apa wanita ini menghubungiku?' batin Angelia.


“Aku ingin bertemu denganmu siang nanti!”


“Ada keperluan apa yah?”


“Ini mengenai Regan, kau harus datang ke Kafe Wilson.”


Angelia terdiam sesaat, sebenarnya ada apa Janeeta mencarinya. Sebelumnya mereka tidak terlibat percakapan apapun yang lebih mendalam.


“Baiklah.”

__ADS_1


Akhirnya karena rasa penasaran, Angelia menyetujui keinginan Janeeta, ia ingin tau apa yang diinginkan Janeeta dari dirinya. Setau Angelia, dia belum pernah menyinggung apapun pada artis itu.


***


__ADS_2