Terjerat Pesona Sang Direktur

Terjerat Pesona Sang Direktur
Bimbang


__ADS_3

Angelia telah kembali dan menjalani hari-hari seperti biasanya. Ia juga Direkturnya tengah disibukkan dengan berbagai pekerjaannya di kantor. Setelah kejadian itu pun, tidak ada pembahasan apapun lagi yang Regan katakan pada Angelia.


Angelia cukup sibuk karena mengerjakan pekerjaan Jessy yang baru ia ketahui sudah di pecat. Tidak ada perasaan sedih atau kasihan pada Jessy. Menurut Angelia, itu pantas karena Jessy sudah melakukan kesalahan dan mendapatkan balasan yang setimpal.


“Kopi.” Seseorang menyimpan satu cup kopi yang masih panas di atas mejanya. Seseorang itu adalah Nickolas yang menjadi lebih baik padanya setelah kembali dari perjalanan bisnis.


“Terima kasih Nick,” jawab Angelia dan menyeduhnya. “Apa pekerjaanmu sudah selesai?” tanya Angelia pada Nickolas yang kini sudah duduk di kursinya.


“Sedikit lagi.”


Walau masih menjawab dengan singkat, tetapi Nickolas jauh lebih baik dan perhatian kepadanya.


“Angel, ke ruangan saya,” seru Regan melalui intercom.


Angelia masuk ke dalam ruangan Regan setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk.


“Anda memanggil saya, Sir?” seru Angelia.


Regan tampak pucat dan dia terlihat kelelahan sekali.


“Apa Anda mau saya buatkan teh jahe hangat?” seru Angelia membuat Regan menatapnya.


“Baiklah.”


Angelia bergegas keluar ruangan itu.


“Kau menolakku tetapi sikapmu sebaliknya. Sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku,” gumam Regan mengusap wajahnya dengan gusar.


Selang beberapa menit Angelia kembali dengan membawa nampan berisi segelas teh.


“Ini tehnya, Sir.” Angelia menyimpan teh itu di atas meja kerja Regan.


“Angel, bisakah kamu menghadiri sebuah seminar di salah satu kampus,” seru Regan.


“Siang ini?” tanya Angelia yang diangguki Regan.


Regan menyerahkan undangannya. “Datanglah kesana sebagai perwakilan saya, pekerjaan saya cukup banyak dan saya tidak bisa pergi,” seru Regan.


“Baiklah Sir, saya akan pergi,” seru Angelia.


“Dan berikan ini pada Dekan di kampus,” seru Regan menyerahkan berkas. “Di dalamnya ada sebuah cek, berikan padanya, itu untuk pengelolaan kampus.”


Angelia termenung menatap nama Universitas yang tertulis di map, itu adalah Universitasnya dulu saat ia kuliah dan ia mendapatkan beasiswa disana. Angelia tidak menyangka kalau Regan adalah investor universitas.


“Ada apa?” tanya Regan.


“Emm tidak ada,” jawab Angelia tersenyum kecil dan mengambil map itu.


“Jose akan mengantarmu. Dia sudah menunggumu dì bawah,” seru Regan.


“Baiklah. Kalau begitu saya permisi.”


***


Angelia baru saja sampai di Universitas, ia menuruni mobil dan menatap bangunan tinggi, megah dan kokoh di depannya. Ia menjadi teringat masa-masa ia kuliah dulu. Tidak banyak teman yang ia miliki saat kuliah disini kecuali Rita dan Cristian. Sebenarnya ada kejadian yang tidak menyenangkan yang dilakukan oleh Cristian saat itu, Angelia tidak membenci Cristian tetapi setiap bersamanya ia merasa sangat tersiksa dan merasakan sakit yang cukup membekas dihatinya. Tetapi takdir malah menyuruhnya untuk selalu disisi Cristian dan menghancurkan hidupnya sendiri hanya untuk balas dendam dimasa lalu.


“Apa Anda baik-baik saja, Nona?” seru Jose karena Angelia masih terpaku di tempatnya berdiri.


“Ah ya,” jawab Angelia.


“Saya akan menunggu Anda disini. Bos Regan meminta saya untuk menunggu Anda sampai selesai,” seru Jose.


“Sebenarnya tidak perlu sampai seperti itu. Aku bisa pulang sendiri,” seru Angelia merasa tidak enak.


“Tidak apa-apa. Ini merupakan tugas saya,” seru Jose.


Sepertinya Jose tidak akan mendengarkan ucapan Angelia. Akhirnya Angelia mengalah dan berjalan memasuki area kampus.

__ADS_1


Angelia berjalan menyusuri lorong kampus dan menatap sekelilingnya. Kepingan demi kepingan kenangan saat ia kuliah dulu terbayang di kepalanya. Angelia tersenyum kecil saat mengingat saat-saat yang lucu dan menyenangkan.


“Angelia?”


“Kamu juga datang untuk seminar?” tanya Cristian tersenyum lebar dan berjalan mendekatinya.


“Ah iya, aku mewakili perusahaan. Kamu juga dapat undangan,” seru Angelia.


“Kebetulan sekali. Ngomong-ngomong bagaimana kabarmu? Sudah lama aku tidak mendengar kabar darimu,” seru Cristian.


“Kabarku baik. Ayo sambil kita jalan menuju aula,” seru Angelia yang diangguki Cristian.


Mereka berdua pun larut dalam obrolan mengenai masa-masa kuliah yang cukup menyenangkan.


***


Regan mendapat kabar dari Jose kalau Angelia memintanya pulang terlebih dulu karena Angelia akan pulang bersama temannya.


“Siapa temannya itu, Jose?”


“......”


Rahang Regan terlihat mengeras karena kesal mendengar penjelasan dari Jose melalui telpon.


“Baiklah. Kau kembali saja ke kantor,” seru Regan dan memutuskan sambungan telponnya.


“Sialan!”


Kedua tangan Regan berpegangan pada meja kerjanya, posisinya berdiri dan terlihat kesal.


“Wanita itu benar-benar,” seru Regan memejamkan matanya seraya menghembuskan nafasnya kasar.


“Ada apa dengan Kakakku yang tampan, sampai harus menghela nafas sekeras itu.” Seruan seseorang membuat Regan melihat ke arahnya.


“Ada apa kamu kemari, Rena?” tanya Regan saat melihat Renata sang adik berada di ruangannya.


“Ck, setiap hari juga bertemu,” seru Regan.


“Tidak untuk beberapa hari ini. Kau selalu pulang saat aku sudah tidur,” ucap Renata.


Renata memang begitu di manja oleh Dave juga Regan sang Kakak.


“Jadi ada apa kemari?” tanya Regan duduk di kursi kebesarannya.


“Sudah waktunya pulang, bukan? Ayo temani aku makan diluar. Aku ingin makan ayam goreng,” seru Renata.


“Ck, kenapa makan itu. Kalau Bunda tau dia bisa menceramahimu,” seru Regan.


“Aku bosan makanan sehat ala Bunda. Ayo temani aku makan diluar. Ada sebuah restaurant yang menjual ayam goreng dan rasanya sangat enak,” seru Renata.


“Baiklah.”


Regan akhirnya mengalah dan beranjak dari duduknya, ia menyambar handphonenya dan memasukkannya ke dalam saku jasnya.


Mereka berdua pergi bersama dengan Jose yang juga baru tiba di depan Perusahaan.


***


Sesampainya di restoran, mereka masuk ke dalam restaurant yang terlihat tidak begitu mewah. Renata langsung menarik Regan untuk duduk di salah satu kursi yang ada di dekat jendela dan saat itu juga tatapan elang Regan menangkap sosok Angelia yang juga tengah menikmati ayam goreng bersama dengan Direktur perusahaan GU yang tak lain adalah Cristian. Angelia sempat kaget saat beradu pandang dengan Regan, tetapi ia berusaha mengabaikannya.


Sialnya Regan dan Renata malah duduk di samping meja Angelia dan Cristian.


“Ah Mr. Danial, Anda disini?” seru Cristian saat menoleh dan sempat kaget melihat kehadiran Regan.


“Ya, kami ingin makan malam,” seru Regan melirik Angelia yang hanya bisa melirik ke arahnya dan wanita di samping Regan yang terus saja bergelayut manja kepada Regan.


“Emmm aku mau ini, ini dan ini. Kamu mau apa?” tanya Renata.

__ADS_1


“Ck, kau makan begitu banyak. Aku hanya ingin minum kopi saja,” seru Regan.


“Baiklah.” Renata pun memesan makanan yang mereka inginkan.


Setelah itu Renata tampak sibuk dengan gadgetnya.


“Lihat ini, bukankah ini sangat bagus. Belikan satu untukku yah,” rengek Renata masih bergelayut manja di lengan Regan.


“Baiklah,” jawab Regan.


“Ahhh kau memang yang terbaik... muach...” Renata mencium pipi Regan dan itu membuat Angelia membelalak lebar.


Ada seorang wanita yang menciumnya dan itu membuat Angel membelalak lebar.


'Benar-benar Devil playboy!' batin Angelia merasa sangat kesal.


“Ada apa Angelia? Apa kamu baik-baik saja?” tanya Cristian yang merasa aneh dengan perubahan sikap Angelia. Atmosfer disana pun terasa menjadi tidak nyaman.


“Aku ingin ke kamar mandi dulu,” seru Angelia.


“Baiklah,” jawab Cristian.


Angelia pun beranjak pergi meninggalkan meja itu dan berjalan menuju dapur restaurant.


“Kenapa kau masuk kemari?” seru Rita yang tengah sibuk dengan Ayam yang ia goreng.


“Ah sungguh membuat kesal saja,” seru Angelia kini berdiri di samping Rita.


“Ada apa?”


“Pria itu menyatakan cinta padaku, tapi sekarang dia malah bersama wanita lain dan terlihat sangat mesra. Kenapa semua pria itu sama, dia hanya ingin mempermainkanku!” seru Angelia merasa sangat kesal.


“Siapa maksudmu? Direkturmu itu?” tanya Rita yang masih kebingungan.


“Iya, siapa lagi.”


“Memangnya dia ada disini? Mana, aku ingin melihatnya,” seru Rita malah menjadi heboh.


“Kau ini, aku sedang kesal!”


“Lalu kenapa? Aku hanya ingin melihatnya saja,” seru Rita tanpa merasa bersalah.


Rita menyerahkan spatula yang ia pegang pada pegawai lainnya. Kemudian ia menarik Angelia menuju pintu dan ia langsung menyisir seluruh penjuru restaurant, mencari sosok Direktur itu.


“Mana, yang mana?” seru Rita.


“Yang duduk bersama wanita yang rambutnya diikat kuda,” seru Angelia.


“Oh God! Apa matamu mulai rabun? seru Rita.


“Tidak, memang kenapa?” tanya Angelia merasa bingung.


“Kau menolak pria setampan itu?” seru Rita sangat heboh.


“Pelankan suaramu,” seru Angelia merasa sebal.


“Dasar kau ini bodoh!”


“Hei, siapa yang kau sebut bodoh itu,” seru Angelia merasa tidak terima.


“Kaulah siapalagi. Kau menolak seorang Direktur yang sangat tampan, apalagi dia juga sudah beberapa kali menolongmu. Ah kau sungguh tidak tau di untung,” seru Rita.


“Hei, kenapa kau malah memakiku?” seru Angelia semakin kesal.


“Kau pantas menerima itu,” jawab Rita dengan santai membuat Angelia semakin kesal saja.


Sahabat macam apa ini....

__ADS_1


***


__ADS_2