
“Hanya Ibu! Setiap aku di hukum dan di kurung disana, Ibu selalu duduk di depan pintu dan bercerita. Dia menceritakan sebuah dongeng yang sangat indah hingga mengurangi rasa takutku, aku tidak merasa begitu ketakutan setelah Ibu bercerita. Ibu sampai harus tidur di depan pintu hanya untuk menemaniku,” isaknya. “Virendra benar-benar pria paling kejam dan tidak punya hati, dia juga sering menyiksa Ibuku. Setiap kali kami meminta tolong pada pengacara keluarga dan pihak perusahaan, ternyata mereka sudah di hasut oleh Virendra dan mengatakan kalau Ibuku sakit. Mentalnya terganggu karena kehilangan Kakek, dia bahkan mengurung Ibu di gudang bawah tanah.”
“Setelah satu tahun berlalu, Virendra memaksa Ibu untuk menandatangani sebuah surat pernyataan bahwa seluruh harta dan juga saham yang Kakek wariskan untuk Ibu di pindah alihkan pada Virendra. Pria licik itu merebut segalanya dariku dan Ibu,” isak Angelia begitu menyakitkan.
“Ibu akhirnya menyetujuinya dengan syarat Virendra harus menceraikan Ibu dan melepaskannya,” seru Angelia.
“Virendra pun menyetujui kesepakatan itu.”
“Setelah berpindah tangan padanya, perusahaan Kakek pun yang awalnya bernama Cube Entertainment berubah menjadi Virendra Production. Dia sangatlah serakah, bahkan aku dan Ibu tidak diberi biaya sepeserpun saat keluar dari rumah.”
“Ibu berjuang keras untuk menghidupiku dan tetap menyekolahkanku, Ibu bekerja serabutan dan melakukan part time setiap harinya. Dia seakan tidak pernah merasa lelah, tetapi aku merasa bahagia walau keadaan kami sangat kekurangan saat itu.” Angelia tersenyum kecil mengingat kenangan itu.
“Tetapi Ibu selalu saja di ganggu oleh Suya, dia selalu mengusik Ibu sampai Ibu harus berkali-kali berpindah-pindah kerja. Mereka seakan tidak ada puasnya menyiksa kami, saat kami kekurangan pun mereka tetap saja mengganggu.”
“Kami berhasil melewati semua itu sampai 3 tahun berlalu dan hari itu tiba, hari dimana seseorang dengan kejam membunuh Ibuku. Hari itu Ibu pulang ke rumah dengan sangat gelisah dan begitu ketakutan, dia memintaku untuk pergi meninggalkan rumah melalui pintu belakang. Aku tidak tau apa yang terjadi, tetapi aku melihat sendiri dari jendela pria itu dia memukul Ibuku, kemudian dia membakar Ibuku hidup-hidup!” Seru Angelia semakin terisak, ia menoleh ke arah Regan.
“Orang-orang itu sangat kejam melebihi iblis, mereka tidak memiliki hati. Sebenarnya apa salah kami sampai mereka dengan tega melakukan semua itu pada Ibuku. Aku dan Ibu hanya ingin hidup damai, hikz......”
“Aku ingin mereka semua mendapatkan balasannya. Aku ingin mereka semua hancur dan sengsara lebih dari yang aku dan Ibu rasakan! Aku ingin balas dendam, aku ingin mereka mati mengenaskan! Aku ingin merebut kembali apa yang Kakek berikan pada Ibuku. Mereka hanya sampah yang tamak dan merebut segalanya dari Ibuku. Hikzzz......”
Regan menarik Angelia ke dalam pelukannya.
'Bagaimana bisa gadis ini menghadapi semua kesakitan itu,' batin Regan. Disisi lain Regan salut pada Angelia, mentalnya tidak sampai terganggu dan memiliki trauma yang berat karena terlalu banyak menyaksikan dan mengalami perlakuan buruk di masalalunya.
“Semuanya sudah berlalu,” bisik Regan.
“Aku janji padamu, aku akan membantumu membalaskan dendammu itu. Aku akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikmu. Siapapun yang menyakitimu, akan mati di tanganku!” Seru Regan penuh penekanan dengan kilatan mata tajamnya penuh tekad yang kuat.
Ia mengusap punggung Angelia berusaha menenangkannya.
Regan menatap Angelia yang terlelap di atas jok mobil disampingnya. Mereka masih ada di pantai, Angela benar-benar menangis histeris tadi hingga tertidur dalam pelukan Regan.
Regan merapikan anak rambut yang jatuh ke permukaan wajahnya, wajah Angelia masih basah dan begitu merah dengan bibir yang pucat.
“Aku pastikan ke depannya tidak akan ada lagi air mata seperti ini. Aku ingin kamu bahagia, kucing kecil. Kamu berhak bahagia,” seru Regan.
__ADS_1
Regan pun mulai fokus menatap ke depan dan menyetir mobil meninggalkan tempat itu.
***
Angelia terbangun dari tidurnya, kepalanya terasa berat sekali. Ia menatap sekeliling dan ia kenal ruangan itu, itu kamar yang ada di Villanya Regan, ia berangsur bangun.
Ia mengingat kejadian semalam, ia telah menceritakan segalanya kepada Regan dan entah kenapa ia merasa jauh lebih baik kali ini. Ia sangat mempercayai Regan.
“Masih ingin bermalas-malasan?” sindiran itu membuat Angelia menoleh.
“Regan?” seru Angelia mengernyitkan dahinya melihat Regan sudah rapi dengan setelan jasnya.
“Lihatlah sudah jam berapa ini, kau ingin aku di cap sebagai Direktur yang tidak disiplin karena sekretarisnya yang bermalas-malasan?” gurau Regan.
Angelia menatap jam di meja nakasnya.
“Oh God!” Angelia bergegas beranjak dari ranjangnya. “Aku akan mandi.”
“Cepatlah, aku tunggu di meja makan. Jangan lebih dari 10 menit, kucing kecil.” Regan beranjak pergi meninggalkan kamar Angelia.
Angelia sudah siap dengan pakaian kerjanya dan menghampiri Regan di meja makan, Regan terlihat sedang membaca koran dengan menikmati segelas kopi.
“Morning kiss dulu,” seru Regan saat Angelia hendak duduk.
“Eh?”
“Morning kiss, Angel.”
“Tapi-?”
“Kau atau aku yang memulai?” tanya Regan.
Angelia melihat sekitarnya, “baiklah.” Angelia yakin kalau Regan yang memulai, itu akan berdampak buruk pada dandanannya yang sudah rapi.
Angelia hendak mengecup pipi Regan, tetapi Regan menoleh dan ciuman Angelia mendarat di bibir Regan. Bahkan bukan hanya itu, dengan liciknya Regan langsung memegang kepala belakang Angelia dan menahannya supaya ciumannya tidak terlepas.
__ADS_1
“Hmm.”
“Sungguh pasangan muda yang penuh semangat,” seru Bibi Zhi terkekeh dan tidak jadi masuk ke dapur.
“Hmm,” Angelia mendorong dada Regan.
“Lumayan,” seru Regan tersenyum licik.
“Dasar Mesum,” gerutu Angelia mulai menikmati sarapannya.
***
Angelia baru saja mendaratkan pantatnya di kursi kebesarannya, ia tetap menjaga jarak dengan Regan saat di kantor. Walau sekarang status mereka telah berubah menjadi sepasang kekasih.
Angelia sengaja turun sebelum kantor karena tidak ingin menimbulkan kecurigaan apa-apa.
Dering handphone Angelia berdering membuat Angelia menatapnya.
“Nomor siapa yah,” gumamnya menekan tombol hijau.
“Hallo.”
“Hallo Angelia, ini Ayah.”
“Maafkan saya mungkin Anda salah sambung, saya tidak memiliki seorang Ayah!”
“Angelia tunggu! Beri saya kesempatan sekali saja, saya ingin mengundangmu datang ke rumah. Datanglah Nak, ke rumahmu dulu. Sudah bertahun-tahun kamu tidak datang.”
“Basa basi apa ini, Mr. Virendra?”
“Nanti malam datanglah, aku akan menyiapkan makan malam kesukaanmu.”
Angelia menutup sambungan telponnya setelah basa basi dari Virendra.
“Sebenarnya apalagi yang mereka rencanakan,” gumam Angelia.
__ADS_1