Terjerat Pesona Sang Direktur

Terjerat Pesona Sang Direktur
Tenggelam


__ADS_3

Regan mendengar suara berisik di bagian belakang kapal. Ia mendekat kesana dan melihat Jessy, Vina dan awak kapal berdebat.


“Ada apa ini?”


Disana juga ada Calvin dan Nickolas yang baru saja datang.


“Kenapa ribut sekali?” tanya Calvin.


“Itu itu ada yang jatuh,” seru Vina.


“Siapa?” tanya Calvin.


“Ta-tadi kami melihat seseorang terjatuh, kemudian-“ Jessy dan Vina terlihat bertele-tele menjelaskannya.


Regan yang sadar Angelia tak ada disana, tanpa pikir panjang lagi, ia langsung melompat ke lautan.


“Regan!”


“Direktur!”


Mereka semua langsung berdiri di pembatas dan melihat ke lautan.


“Hentikan kapalnya,” perintah Calvin.


Regan pun mulai menyelam dan mencari keberadaan Angelia.


'Aku harap kamu baik-baik saja, Angel.' Batin Regan. 'Kamu milikku dan aku tidak akan membiarkan kamu meninggalkanku begitu saja.'


Regan melihat tubuh Angelia semakin tenggelam ke bawah sana. Ia melihat Angelia sudah mulai kehilangan kesadarannya. Regan pun menyelam secepat yang ia bisa untuk menggapai Angelia.


Regan berhasil meraih tangan Angelia. Ia menarik tubuh Angelia ke dalam pelukannya. Angelia sudah mulai tidak mampu bernafas lagi dan sudah terlalu banyak meminum air laut. Tanpa di sangka-sangka Regan mencium bibir Angelia dan memberikan nafas buatan untuk Angelia hingga perlahan mata Angelia terbuka walau masih terlihat sayu.


Setelah melihat Angelia cukup baik, Regan melepaskan ciumannya dan membawa Angelia ke permukaan.


Regan menaiki kapal di bantu oleh Calvin dan Nickolas. Tubuh Angelia direbahkan di ubin dan Regan melakukan CPR pada Angelia beberapa kali.


Oho oho oho


Angelia terbatuk-batuk dan memuntahkan air yang sebelumnya sempat ia minum.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Regan membawa kepala Angelia ke dalam dekapan tangannya.


Angelia membuka matanya dan melihat sekeliling, sampai akhirnya matanya jatuh pada mata elang milik Regan.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Regan kembali.


“Ya,” jawab Angelia.


“Aku akan membawamu ke kamar,” seru Regan memangku tubuh Angelia ala bridal style dan beranjak pergi meninggalkan semua orang yang ada disana.


- - - -


Regan membawa Angelia ke dalam kamar Angelia dan mendudukkannya di atas sofa. Ia mengambil handuk dan mengusap kepala Angelia dengan handuk itu.


“Setelah ini gantilah pakaianmu. Aku akan memesankan lemon tea hangat untukmu,” seru Regan.


Angelia menatap Regan dengan pakaian basahnya dan seakan tidak mempedulikan kondisinya sendiri.


“Katakan padaku, siapa yang mendorongmu?” tanya Regan yang kini duduk rengkuh di hadapan Angelia dan menatapnya dengan tatapan intens.


“Aku tidak tau. Aku tidak melihat wajahnya,” seru Angelia segera memalingkan wajahnya ke arah lain. “A-aku akan berganti pakaian,” seru Angelia.


“Baiklah.” Regan pun beranjak pergi menuju pintu keluar. “Lemon tea hangat akan diantarkan kesini,” seru Regan dan keluar dari kamar Angelia, meninggalkan Angelia seorang diri.


“Tadi itu sungguh sangat berbahaya. Siapa sebenarnya yang mendorongku?” gumam Angelia.


***

__ADS_1


Angelia mendengar dari Calvin bahwa Regan tidak enak badan. Badannya demam, ia meminta Angelia untuk melihat Regan dan disinilah Angelia sekarang, di depan pintu kamar Regan.


“Aku sebelumnya belum sempat mengucapkan terima kasih pada Direktur,” gumam Angelia.


Angelia mengetuk pintu kamar itu tetapi tidak ada sahutan. ”Kenapa tidak ada sahutan yah,” gumamnya.


Angelia memberanikan diri menekan knop pintu dan ternyata tidak di kunci, ia membuka pintunya.


“Direktur...”


“Mr. Danial...”


Ia sudah masuk ke dalam kamar, Angelia mendengar gemericik air dari kamar mandi.


“Sepertinya dia sedang mandi,” gumamnya. “Sebaiknya aku kembali.”


Angelia berjalan menuju pintu yang sedikit terbuka itu.


“Kenapa pergi lagi?


Seruan itu menghentikan gerakan Angelia, ia berbalik badan dan tatapannya sedikit membelalak dengan wajah memerah saat melihat Regan hanya mengenakan handuk yang dililit di pinggangnya. Air masih bercucuran dari rambutnya yang basah, air jatuh membasahi tubuh sixpacknya membuat Angelia tanpa sadar menelan salivanya sendiri. Ia menjadi salah tingkah dan wajahnya memerah hingga telinga.


Regan berjalan mendekat Angelia yang masih terpaku di tempatnya.


Klik


Suara pintu tertutup menyadarkan Angelia dari keterpakuannya dan ia baru sadar kalau kini Regan berdiri di hadapannya tengah menundukkan kepalanya dan sangat dekat dirinya. Sebelah tangannya berada disisi kepala Angelia yang baru saja mendorong pintu hingga tertutup rapat.


“Ada apa Angelia?” bisik Regan membuat Angelia memalingkan mukanya.


Angelia menjadi begitu gugup dan salah tingkah karena Regan.


“Sa-saya datang untuk mengucapkan terima kasih pada Anda karena telah menyelamatkan saya,” seru Angelia terbata-bata.


“Hanya ucapan terima kasih?” tanya Regan.


Regan menarik dagu Angelia hingga membuatnya menengadahkan kepalanya dan kini tatapan mereka beradu satu sama lainnya. Begitu dekat dan membuatnya menjadi kepanasan. Jantung Angelia berdebar sangat kencang, bahkan Angelia sendiri merasa takut jantungnya akan meloncat keluar.


Regan mendekatkan wajahnya pada Angelia yang masih diam kaku, Angelia seakan terhipnotis oleh pesona Regan hingga ia tidak mampu berkutik sedikitpun. Regan mencium bibir Angelia dengan sangat lembut dan memagutnya, Angelia memejamkan matanya dan seakan menikmati apa yang dilakukan Regan.


Setelah cukup puas, Regan melepaskan pagutan mereka dan menjauhkan wajahnya dari wajah Angelia yang masih bersemu merah. Angelia masih menatap Regan dengan tatapan bingung.


“Angelia, aku menyukaimu. Jadilah kekasihku.”


Deg


Jantung Angelia seakan meledak mendengar seruan Regan barusan. Seorang Regan Danial, Direktur Utama perusahaan besar dan termasuk dalam barisan 10 besar pebisnis yang sukses, apa ia sedang bermimpi.


“Angel,” seru Regan kembali membuat Angelia kembali menatapnya dan ia seakan kembali ke dunia nyata. Isi kepalanya penuh dengan kilasan kenangan dimasa lalu.


“Baiklah kau tidak perlu menjawabnya. Mulai sekarang kau adalah kekasihku,” seru Regan tersenyum lebar.


“Maaf,” seru Angelia mendorong dada Regan. Regan mengernyitkan dahinya dengan sikap Angelia yang kini berjalan mundur menghindari dirinya.


“Saya tidak bisa menjadi kekasih Direktur,” seru Angelia memalingkan pandangannya.


“Kenapa?”


“Karena sudah ada seseorang yang mengisi hatiku dan saya tidak bisa mencintai siapapun lagi,” seru Angelia menundukkan kepalanya.


“Apa Cristian dari perusahaan Ar?” tanya Regan.


Mendengar itu, Angelia kembali menatap mata Regan yang menjadi lebih tajam dari sebelumnya.


“Anda mengetahuinya,” seru Angelia membuat Regan membeku di tempatnya. “Jadi saya mohon, mulai sekarang jangan ganggu saya lagi karena hati saya sudah ada Cristian dan saya kemari hanya untuk mengucapkan terima kasih pada Anda,” jelas Angelia kembali memalingkan pandangannya.


“Kalau begitu saya permisi.”

__ADS_1


Blam


Regan tersadar dari keterpakuannya saat mendengar suara pintu.


“Huft... aku di tolak oleh seorang wanita,” gumam Regan merasa tidak percaya.


Selama ini para wanita seakan berebut untuk dekat dengannya. Bahkan mereka melakukan segala cara untuk merayu dirinya atau hanya ingin di lihat olehnya dan Angelia menolak Regan begitu saja. Sungguh konyol sekali...


***


“Aku sudah melakukan hal yang tepat, bukan.” Angelia bergumam dengan duduk disisi ranjangnya. “Lalu kenapa dadaku terasa begitu sesak.”


Angelia, aku menyukaimu. Jadilah kekasihku.


Angelia kembali mengingat kata-kata Regan, kilasan kenangan demi kenangan di masalalunya bersama Regan terngiang dikepalanya.


“Aku tidak mungkin menyukainya juga, bukan?” gumamnya memeluk lututnya sendiri dengan menenggelamkan wajahnya di sela lututnya.


“Tidak bisa. Walau aku menyukainya juga, lalu kenapa? Aku tidak pantas untuk bahagia. Tujuan hidupku hanya untuk membalas dendam bukan untuk hidup bahagia,” gumamnya tanpa sadar menangis dalam diam.


***


Saat ini Regan berada di dalam ruangannya dengan termenung. Kata-kata Angelia tadi terus terngiang di telinganya. Ia sungguh tidak menyangka kalau Angelia mencintai pria lain.


“Permisi Sir. Anda memanggil saya?” seruan itu menyadarkan Regan dan ia melihat Jessy memasuki ruangannya.


“Masuklah Jessy,” seru Regan.


Jessy tersenyum menggoda. Pasalnya jarang sekali Regan memanggilnya secara pribadi seperti ini, biasanya kalau dia membutuhkan sesuatu pasti akan meminta bantuan Nickolas.


“Duduklah,” seru Regan dan Jessy pun mengambil duduk di kursi yang ada di hadapan Regan walau terhalang meja.


Regan menyerahkan sebuah tiket pesawat kepada Jessy yang sudah terdaftar dengan passportnya dan juga namanya.


“Tiket ini?”


“Setelah sampai di kota A kamu tidak perlu bekerja lagi, kamu bisa langsung kembali pulang menggunakan pesawat,” jelas Regan dan Jessy masih diam dengan kebingungan.


“Kamu masih belum paham juga, Jessy? Mulai sekarang kau di pecat tanpa pesangon,” seru Regan membuat Jessy membelalak lebar.


“Ta-tapi kenapa Sir?” serunya merasa sangat bingung sekaligus ketakutan.


“Apa kamu tidak menyadari kesalahanmu?” tanya Regan dan Jessy masih diam.


Kemudian Regan melemparkan amplop coklat ke hadapan Jessy dan Jessy segera membuka amplop itu.


Deg


Itu adalah potret dirinya yang diambil dari cuplikan cuplikan CCTV.


“Kamu mengurung Angelia di gudang penyimpanan, kemudian kamu juga mencoba meracuninya dan terakhir hari ini kamu membuat Angelia terjatuh kelaut. Apa kamu pikir saya tidak mengetahui semua ini?” seru Regan.


“Ini semua salah paham, Sir.” Saya tidak mendorong Angelia,” seru Jessy.


“Apa saya berkata kamu mendorong Angelia?” seru Regan dan Jessy membeku di tempat, Regan menjebaknya.


“Jessy, saya sudah memberi kamu kesempatan selama ini. Saya pikir kejahatanmu tidak akan berlanjut tetapi ternyata saya salah dan saya pantang menuduh seseorang tanpa bukti. Jadi sekarang bersiaplah dan bereskan barang-barangmu, sebentar lagi kita sampai di kota A dan saat sampai aku tidak ingin melihat wajahmu lagi.”


Regan berdiri dari duduknya dan berjalan keluar ruangan, tetapi Jessy tiba-tiba duduk di lantai menghentikan langkah Regan.


“Saya mohon maafkan saya, Direktur. Saya hanya merasa iri pada Angelia, setelah ini saya janji saya tidak akan mengusik Angelia lagi. Saya mohon beri saya kesempatan, saya membutuhkan pekerjaan ini,” seru Jessy terlihat menangis.


“Saya tidak terbiasa memberikan kesempatan kedua pada kesalahan yang begitu fatal dan lagi saya masih berbelas kasih dengan memesankan tiket pulang untukmu, tidak menelantarkan kamu di kota ini begitu saja. Jadi sebaiknya sekarang bergegaslah untuk pergi.” Setelah itu, Regan berjalan meninggalkan Jessy seorang diri yang menangis dalam diam.


“Ini semua karena si ****** Angelia, dia benar-benar penjilat dan melaporkan segalanya. Aku tidak akan pernah melepaskanmu, ******!” seru Jessy berapi-api.


***

__ADS_1


__ADS_2