Terjerat Pesona Sang Direktur

Terjerat Pesona Sang Direktur
Rindu yang Menyiksa


__ADS_3

Regan sudah berangkat ke Britania bersama dengan Nickolas dua hari yang lalu, hari-hari Angelia sangatlah menjenuhkan dan begitu sepi tanpa adanya Regan. Ia pikir ia akan bertahan selama satu minggu, tetapi ternyata baru dua hari saja ia sudah tidak tahan dengan rasa rindu yang menyiksa ini.


“Ah benar-benar!” keluhnya menyandarkan kepalanya ke ujung meja.


“Benar-benar menyiksa rindu ini, dia juga hanya menghubungiku satu kali,”


Angelia memutuskan untuk pulang saja, percuma saja ia bekerja sampai larut kalau tidak ada Regan disini. Angelia membereskan barang-barangnya dan beranjak dengan menenteng tasnya, ia berjalan menuju lift dan bertemu dengan Calvin disana.


“Kau mau pulang, kakak ipar?” tanya Calvin.


“Iya. Pak GM juga tumben pulang lebih cepat,” seru Angelia saat mereka sama-sama memasuki lift.


“Tidak begitu sibuk hari ini. Bagaimana kalau aku mengantarmu pulang,” seru Calvin.


“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri,” seru Angelia.


“Ayolah kakak ipar, kita juga harus membangun hubungan yang baik. Apalagi kita akan menjadi keluarga nanti,” seru Calvin.


“Kau tau karakter kakak sepupumu itu, bukan. Aku tidak ingin kau mendapat masalah Mr. GM,” seru Angelia dengan senyumannya.


“Ah benar juga. Bahkan dia sudah memperingatiku untuk selalu menjaga jarak,” seru Calvin menghela nafasnya.


“Bagaimana bisa dia tidak mempercayaiku, adiknya sendiri. Benar-benar Lion itu,” gerutu Calvin membuat Angelia terkekeh.


“Sudahlah, lagipula aku juga pulang di antar oleh Jose. Kakakmu tidak membiarkanku terlantar,” kekeh Angelia.


“Baiklah baiklah. Kau berhati-hatilah,” seru Calvin membuat Angelia mengangguk.


- - -


Angelia baru saja menuruni mobil yang dikendarai oleh Jose di depan rumahnya. Setelah melihat Angelia berjalan menuju rumah, Jose meninggalkannya.


Angelia sedang menekan tombol password rumahnya sampai sesuatu menimpuk kepalanya dari belakang hingga ia merasa kesakitan dan kepalanya sangat pusing, ia berusaha berbalik dengan memegang kepalanya sendiri. Samar-samar sebelum ia menutup mata, ia melihat sosok Rosie disana.


Tubuh Angelia ambruk di tanah membuat Rosie tersenyum puas, ia langsung melihat kanan dan kirinya dan langsung meminta dua orang pria yang datang bersamanya untuk membawa Angelia ke dalam mobil.


“Akhirnya kau jatuh dalam perangkap, Angelia. Kali ini dewa penolongmu tidak ada,” seru Rosie tersenyum bahagia.


***

__ADS_1


Di tempat lain, Caroline sedang duduk berhadapan dengan seorang pria tua berbadan tambun.


“Produser Kim, Anda harus memegang kesepakatan kita. Aku harus menjadi pemeran utama dalam film yang di sutradarai oleh Mr. Michael,” seru Caroline.


“Asal kau tidak mengecewakanku. Maka aku akan menepati kesepakatan kita,” seru pria itu dengan senyuman lebar.


“Baiklah, hadiah Anda menunggu Anda di kamar 1107. Hadiahku sangat special dan Anda akan sangat menyukainya,” seru Caroline dengan seringainya.


“Baiklah. Besok pagi datanglah ke kantor dan kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan,” seru Mr. Kim.


“Terima kasih Mr. Kim.”


Caroline tersenyum lebar saat Mr. Kim pergi meninggalkan ruangan itu, tidak lama Rosie masuk ke dalam ruangan.


“Apa semuanya selesai?” tanya Caroline.


“Sudah selesai, Nona Caroline. Angelia sudah berada di dalam kamar itu,” seru Rosie.


“Apa kamera juga sudah disiapkan di posisi yang tepat?” tanya Caroline.


“Itu juga sudah siap. Kita hanya tinggal mengambilnya besok dan menyebarkannya di media dan Angelia akan di tendang oleh Mr. Danial saat dia pulang nanti dari perjalanan bisnisnya,” seru Rosie tersenyum jahat.


Rosie dan Caroline sama-sama tertawa bahagia.


***


Angelia membuka matanya dan sayup-sayup ia mendengar suara diluar sana, ia membuka matanya perlahan seraya memegang kepala bagian belakangnya.


“Ah!” ia meringis saat merasakan rasa sakit dan ngilu di bagian kepala belakangnya, ia menatap sekeliling dan itu ada di sebuah kamar, ia berangsur bangun dari rebahannya.


‘Aku ada dimana? Ini seperti sebuah kamar hotel,’ batin Angelia. Ia memegang pelipisnya seraya memejamkan matanya berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya.


“Rosie?” gumamnya. Ia ingat sebelum pingsan, ia melihat Rosie ada di depannya.


“Apalagi yang saat ini mereka rencanakan. Ya Tuhan!” Angelia mendengar suara pintu terbuka dan seseorang memasuki kamar, dengan cepat Angelia merebahkan tubuhnya kembali dan berpura-pura masih pingsan.


Seseorang berjalan mendekati ranjang.


“Ah ternyata Caroline tidak mengecewakanku. Wanita ini sangat cantik dan begitu mempesona,” seru Mr. Kim.

__ADS_1


‘Caroline? Apa Rosie dan Caroline bersekongkol?’ batin Angelia yang kini memahami kondisinya saat ini, dirinya di jebak oleh dua wanita siluman itu.


“Kamu seperti putri tidur, begitu cantik. Aku sampai tidak bisa menahan diriku ini, sayang.” Mr. Kim melepaskan jas dan kemejanya hingga memperlihatkan perut tambunnya, ia berangsur menaiki ranjang mendekati tubuh Angelia.


‘Sekarang saatnya,’ batin Angelia.


Sekuat tenaga Angelia menendang bagian intim pria tua itu.


“Ah sialan!” pekik Mr. Kim kesakitan.


Angelia kemudian langsung bangun dan menuruni ranjang, ia mengambil sebuah asbak yang ada di meja nakas dan dengan gerakan cepat memukul pelipis Mr. Kim hingga mengeluarkan darah.


“Dasar ******! Wanita sialan!” pekiknya.


Angelia langsung berlari keluar hotel tanpa alas kaki, kepalanya masih sangat pening dan tubuhnya terasa lemas, ia berusaha berlari.


“Kejar ****** sialan itu!” teriak Mr. Kim pada anak buahnya.


Ada banyak pria yang mengejar Angelia, kini Angelia berdiri di depan pintu lift yang tidak kunjung terbuka.


“Ah sial!” gerutunya. Ia tidak bisa menghubungi siapapun, ia tidak tau di buang kemana handphone dan tasnya.


Angelia berlari menuju pintu tangga darurat, ia berlari menuruni tangga, sesekali kakinya tergelincir dan ia jatuh. Tetapi ia tidak mempedulikan semua itu, yang jelas ia harus berlari sejauh mungkin dan meninggalkan tempat itu. Gerakan Angelia terhenti saat ia melihat ke bagian tangga di bawah sana, ada banyak pria berlarian.


‘Mereka pasti anak buah dari pria tua tadi,’ batin Angelia sudah kelelahan dan seluruh tubuhnya sakit. Apalagi kepalanya masih terasa begitu sakit dan berat, Angelia menerobos masuk ke dalam pintu. Entah sedang berada di lantai berapa dirinya kali ini, ia terus berlari menyusuri lorong hotel.


Bruk


“Ah!” tubuh Angelia tersungkur ke lantai saat ia bertabrakan dengan seseorang.


“Nona, Anda tidak apa-apa?” seru seseorang membuat Angelia menengadahkan kepalanya. Di hadapannya ada seorang pria dengan pakaian casualnya juga mantel coklat, pria itu cukup tampan.


Lamunan Angelia buyar saat mendengar suara langkah kaki beberapa orang mulai mendekat.


“Tolong... Tolong saya, Tuan.” seru Angelia dengan nada lemah, ia sungguh sudah tidak memiliki tenaga lagi.


“Nona?”


Angelia kehilangan kesadarannya saat itu juga, ia tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya, ia benar-benar sudah tidak mampu lagi bertahan.

__ADS_1


__ADS_2