
Angelia masuk ke dalam ruangan Regan seraya menyerahkan dokumen di tangannya.
“Ini dokumen yang Anda minta, Sir,” seru Angelia.
“Ya, terima kasih.” Regan tampak serius dengan pekerjaannya.
Regan menghentikan gerakannya dan kini tatapannya tertuju kepada Angelia di hadapannya. “Ada apa?” tanya Regan karena Angelia masih diam di tempatnya.
“Emm anu. Terima kasih karena telah membantu saya, kata Mr. Calvin tadi Anda yang menyuruhnya untuk turun ke bawah dan menolong saya,” seru Angelia.
“Hanya ucapan terima kasih saja?” tanya Regan menaikkan sebelah alisnya.
“Eh?” Angelia menatap Regan yang juga tengah menatap dirinya seakan menunggu sesuatu yang menarik dari Angelia.
“”S-saya akan mentraktir Anda, bagaimana?” seru Angelia.
“Boleh saja, tetapi aku menginginkan hal lainnya,” seru Regan.
“Emm apa itu?” tanya Angelia.
“Aku ingin berkencan denganmu. Bagaimana kalau itu saja sebagai tanda terima kasihmu,” ucap Regan terlihat tenang.
“Apa? Ke-kencan?”
“Iya. Apa kau keberatan?” tanya Regan.
Angelia menjadi merasa gugup sekali, ia tidak menyangka Regan akan mengajaknya berkencan.
“Bagaimana Angel?”
“Emm baiklah. Weekend ini kita kencan,” seru Angelia.
“Sepakat!”
***
“Ah sial, berkali-kali dibayangkan tetap saja membuatku berdebar,” keluh Angelia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia mengingat ekspresi tampan Regan tadi saat mengajaknya untuk berkencan.
“Kenapa dia selalu bisa membuatku menjadi begitu lemah,” gerutunya.
“Siapa yang sudah membuatmu begitu gelisah,” seru seseorang membuat Angelia menoleh.
“Kau datang,” seru Angelia saat melihat sahabatnya Amrita.
“Ya, aku datang dengan membawa ayam berbeque dari toko Ayahku,” seru Rita menyimpan dua box berukuran sedang di atas meja dihadapan Angelia.
“Ah Rita, kau memang Dewiku. Kau tau saja aku hanya punya mie instan disini,” kekehnya dan langsung membuka box itu. Tanpa menunggu lama lagi langsung melahap satu buah paha ayam.
“Ck, cuci tangan dulu,” seru Rita seraya mengeluarkan dua botol minuman beralkohol rendah dan menyimpannya di atas meja.
“Kau menggerutu untuk siapa tadi?” tanya Rita yang kini duduk di hadapannya seraya meminum minumannya.
“Untuk Direkturku,” jawab Angelia.
Angelia pun menceritakan kejadian di kantor tadi dimana ia yang hampir di pecat dan terjebak. Tetapi Direktur mengutus seseorang untuk menolongnya dan imbalannya adalah kencan satu hari.
“Menurutmu Direktur itu memiliki maksud terselubung, kan?” seru Angelia melahap paha ayam yang kedua.
“Ck, sudah jelas-jelas Direkturmu itu terpikat olehmu dan dia jatuh cinta padamu,” seru Rita dan Angelia tertawa cukup keras.
“Ck, aku tidak akan sepercaya diri itu,” seru Angelia.
“Haduh nih anak, kadar kepekaannya semakin menurun,” seru Rita. “Tapi Ngel, sepertinya kalau kau memanfaatkan kebaikan Direktur ini untuk menjadi pendukungmu melawan Virendra, sangat ampuh,” seru Rita. “Seperti di dongeng-dongeng yang datang menyelamatkanmu. Pangeran berkuda putih.”
“Naif sekali,” seru Angelia.
“Tapi kau menyukainya, bukan? Jujur saja padaku,” seru Rita.
“Menyukainya?” Angelia terdiam beberapa saat. “Entahlah, dia memang sangat sempurna, wanita mana yang tidak akan terpesona olehnya,” seru Angelia.
“Dan lagi untuk memanfaatkannya, aku tidak bisa,” tambah Angelia.
“Kenapa?” tanya Rita sangat penasaran. Padahal Regan memiliki segalanya untuk menjatuhkan Virendra.
“Aku tidak ingin melibatkan orang lain yang tidak ada hubungannya dengan masalahku. Cristian tetap harus mendapatkan apa yang dulu pernah dia perbuat padaku,” seru Angelia penuh dendam.
“Baiklah, terserah padamu saja. Tetapi rasanya sayang sekali melepaskan Direktur Danial itu,” seru Rita.
“Berhentilah membahasnya dan biarkan aku focus menikmati ayamku,” seru Angelia membuat Rita mencibir.
***
Akhir pekan pun datang dan sesuai dengan rencananya, hari ini ia akan berkencan dengan Regan.
Angelia menatap pantulan dirinya di depan cermin, ia terlihat cantik dengan dress seatas lutut berwarna merah dipadu dengan cardigan berwarna mocca. Dress itu disiapkan oleh sabatnya Rita, ia kembali menatap pantulan dirinya dimana ia hanya memulas make up sederhana dengan rambut yang diurai. Rambut bergelombang terlihat cantik dan begitu indah.
__ADS_1
“Inikan hanya kencan biasa sebagai ucapan terima kasih. Kenapa aku harus segugup ini,” gumamnya berjalan mondar mandir merasa tidak karuan dan begitu gugup.
“Come On Angel, jangan berlebihan. Ini hanya jalan biasa saja,” serunya berusaha menenangkan jantungnya yang terus berdebar cepat.
Ia mendengar suara deru mesin mobil dan klakson mobil di depan rumahnya.
“Dia sudah sampai, aku harus tenang,” seru Angelia kembali menarik nafasnya dan menghembuskan perlahan.
Angelia berjalan keluar dari rumahnya dan saat itu juga tatapannya sedikit terpaku dan langkahnya terhenti saat melihat sosok Regan yang tengah berdiri dengan bersandar ke mobil sportnya. Penampilan Regan dengan gaya casualnya sungguh membuat Angelia terpukau. Bagaimana bisa ada makhluk Tuhan sesempurna itu. Bahkan langkah Angelia dibuat terhenti karena terpesona oleh penampilan dan ketampanan Regan.
Ternyata bukan hanya Angelia yang terpaku karena terpesona. Regan pun terpaku menatap Angelia yang berdiri tak jauh di depannya dan terlihat begitu cantik juga anggun. Angelia tersadar dari lamunannya begitu juga dengan Regan. Mereka berdua sama-sama memalingkan wajahnya yang merasa malu.
Angelia pun berjalan mendekati Regan.
“Kamu sudah siap?” tanya Regan yang diangguki Angelia.
Regan berjalan menuju pintu penumpang mobil diikuti Angelia. Ia membukakan pintu untuk Angelia dan Angelia pun menaiki mobil.
Regan memasuki mobil dan meninggalkan tempat itu.
***
Sesuai rencana, mereka pertama akan pergi untuk menonton film di sebuah bioskop. Kini mereka telah sampai di bioskop dan baru saja memasuki area itu, mereka berdua sudah menjadi pusat perhatian. Terutama Regan yang menjadi tatapan lapar dan terpesona para wanita disana dan itu membuat Angelia merasa tidak percaya diri. Ia berjalan sedikit di belakang Regan, ia sungguh tidak menyukai dan merasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian seperti ini.
Regan menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Angelia yang berjalan cukup berjarak dengannya. Regan kini berjalan menghampiri Angelia yang kini hanya berdiri di tampatnya. Angelia sempat kaget saat Regan tiba-tiba saja membawa tangan Angelia dan menggenggam jemarinya membuat tatapan mereka bertemu satu sama lainnya.
“Berjalanlah di sampingku,” seru Regan dan itu membuat jantung Angelia semakin berdebar sangat cepat. Ia pun mau tak mau ikut berjalan di samping Regan dengan tangannya yang berada dalam genggaman pria tampan itu.
- - -
Saat ini Regan dan Angelia sudah berada di dalam studio dan tengah menonton sebuah film action. Film ini adalah pilihan Angelia, sebenarnya ia tidak tau harus menonton film apa karena ia tidak mengetahui Regan menyukai film apa. Jadi ia lebih memilih action saja, daripada harus menonton film romantic.
Sialnya, walau filmnya action. Tetapi yang menonton kenapa malah banyak yang berciuman dan bercumbu bahkan di sebelah mereka banyak pasangan yang berciuman tanpa rasa malu dan itu membuat Regan juga Angelia merasa tak nyaman.
Angelia terus menyeruput minumannya dengan mata berusaha focus ke depan tanpa melirik ke kiri dan kanan.
“He he he...”
Angelia sangat kaget mendengar kekehan ringan yang merdu itu. Ia kali pertama mendengar seorang Regan Danial terkekeh. Angelia menoleh ke Regan dengan kernyitan didahinya.
“Apa harus seserius itu menontonnya, hm?” seru Regan seraya membelai jidat Angelia yang berkerut.
“Apa semenarik itu filmnya?” seru Regan yang kini wajahnya semakin dekat dengannya dan itu membuat Angelia semakin berdebar juga gugup.
“Ck, kucing kecil,” seru Regan tersenyum menawan menatap kepergian Angelia yang terburu-buru.
***
Saat ini mereka tengah berjalan-jalan menyusuri jalanan yang begitu ramai orang berlalu lalang dan juga para penjual kaki lima. Tempat itu memang selalu ramai apalagi di akhir pekan.
Angelia berjalan menatap ke kanan dan kiri melihat berbagai jenis barang dan makanan di perjualbelikan disana.
“Ah aku ingin Corn Dog,” seru Angelia seraya berjalan cepat menuju booth counter itu dan memesannya.
“Anda mau?” tanya Angelia saat Regan kini berdiri disampingnya.
“Tidak,” jawab Regan seraya mengeluarkan dompetnya untuk membayar.
Mereka mendapatkan makanannya dan Angelia memakannya dengan lahap sambil berjalan.
“Rasanya sangat enak. Apalagi masih hangat,” seru Angelia memakannya dengan lahap.
“Benar-benar pemakan yang hebat,” seru Regan.
“Anda mau mencobanya? Ini sangat enak,” seru Angelia menyodorkan satu buah corn dog yang masih ada di dalam cup.
“Jangan terlalu formal saat kita tidak sedang di kantor,” seru Regan seraya memegang tangan Angelia yang tengah memegang corn dog. Ia mengarahkan corn dog bekas gigitan Angelia ke dalam mulutnya dan menggigitnya.
“Enak,” seru Regan dengan lembut dan itu membuat wajah Angelia bersemu merah.
Bersama Regan benar-benar membuatnya serangan jantung. Sejak pertama kali, ia berkali-kali membuat jantung Angelia hampir meloncat keluar.
***
Saat ini Angelia dalam perjalanan bisnis bersama Regan, Nickolas, Jessy, Calvin dan Vina yang merupakan sekretaris Calvin. Saat ini mereka sudah berada di sebuah kapal pesiar mewah milik keluarga Regan dan di kapal itu hanya ada mereka saja dan beberapa pelayan yang bertugas melayani disana. Kapal itu tak sebesar kapal pesiar penumpang, kapal ini lebih sederhana tetapi sangat mewah dan sangat menakjubkan. Saat menaiki ini, Angelia sudah dibuat terpana berkali-kali.
Saat ini Angelia baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Ia berjalan keluar kamarnya dengan pakaian santai, ia berjalan ke hall depan kapal. Langkahnya terhenti saat melihat sosok tampan, walau hanya melihat bagian punggungnya saja, ketampanan pria itu sudah terlihat jelas. Regan terlihat berdiri disana menghadap ke arah lautan, dengan hanya memakai kemeja putih dimana bagian lengannya sudah di lipat hingga siku. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya.
Angelia menjadi bimbang sendiri, antara harus mendekati Regan atau tidak. Karena tidak ingin mengganggu Regan, ia memilih untuk berbalik badan.
“Kenapa hanya berdiri disana, kemarilah,” seru Regan menghentikan gerakannya.
Angelia melihat ke arah Regan yang hanya menoleh dan kembali menatap ke depan. Angelia pun tak ada pilihan lain selain mendekati Regan dan berdiri di sampingnya. Angin berhembus cukup kencang hingga membuat rambut Angelia melambai-lambai menutupi wajahnya. Angelia cukup kesulitan merapikan rambutnya itu hingga tangan kekar membantu merapikannya. Angelia menoleh ke arah Regan yang membantu merapikan rambutnya dan jarak di antara mereka berdua begitu dekat karena Regan juga tengah menoleh ke arahnya. Tatapan mereka beradu satu sama lainnya.
“Eh itu-“ Angelia melangkah menjauh untuk menghindari Regan. Saat pegangan Regan sudah terlepas, Angelia secepatnya menggulung rambutnya tanpa ingin melihat lagi ke arah Regan.
__ADS_1
Regan terdengar menghela nafasnya dan kembali menatap ke arah depan, ia memasukkan kembali kedua tangannya ke dalam saku celananya.
“Aku selalu merasa damai saat berada di atas lautan seperti ini. Hembusan angin, deburan ombak dan laut biru, sungguh sangat menenangkan dan menyegarkan,” ucap Regan membuat Angelia melihat ke arahnya.
“Bagaimana denganmu?” tanya Regan melirik ke arah Angelia.
“Eh?”
“Apa kamu menyukai lautan?” tanya Regan.
“Tidak. Walau terlihat indah dan memukau di permukaan, tetapi lautan ini begitu dalam dan laut dalam itu sangat menakutkan juga begitu gelap dan menyimpan berbagai misteri juga binatang yang menakutkan. Aku tidak ingin terpukau hanya karena permukaannya saja,” seru Angelia.
Regan tersenyum. “Menarik.”
“Maksud Anda?” tanya Angelia mengernyitkan dahinya bingung.
“Apa kamu tidak bisa hanya menikmati keindahan di depan mata saja,” tanya Regan.
“Tidak bisa. Semua itu palsu, semua ini menipu, dibalik keindahan itu terdapat sesuatu yang sangat menakutkan,” seru Angelia terlihat menahan sesuatu yang membuat emosinya meluap.
“Angel, aku merasa kamu selalu menutup dirimu dan menyembunyikan sesuatu yang begitu dalam. Sebenarnya apa yang sudah kamu alami dan kamu sembunyikan,” seru Regan.
“Itu hanya menurut Anda saja. Aku tidak menyembunyikan apapun,” jawab Angelia dengan cepat.
“Benarkah seperti itu,” seru Regan.
“Aku akan kembali ke kamarku, permisi Direktur,” seru Angelia berbalik hendak pergi tetapi langkahnya terhenti saat tangannya di cekal oleh Regan.
Ia menoleh ke arah Regan yang juga tengah melihat ke arahnya.
“Aku hanya ingin kamu tau. Apapun yang sudah kamu alami dan sedang kamu hadapi, jangan pernah takut dan merasa sendirian. Aku akan selalu ada untukmu dan melindungimu.”
Deg
Angelia terpaku mendengarkan penuturan Regan, ia bahkan menahan nafasnya karena itu. Setelah beberapa detik sadar dari keterpakuannya, Angelia segera memalingkan wajahnya dan menelan salivanya sendiri.
Kegiatan mereka di lihat oleh Jessy juga Vina sekretaris Calvin. Mereka merasa kesal melihat kedekatan Regan dan Angelia.
***
Angelia termenung di atas ranjangnya dengan mengingat kata-kata Regan beberapa saat yang lalu.
Aku hanya ingin kamu tau. Apapun yang sudah kamu alami dan sedang kamu hadapi, jangan pernah takut dan merasa sendirian. Aku akan selalu ada untukmu dan melindungimu.
Jantung Angelia kembali berdebar sangat kencang mengingat kata-kata itu.
“Kenapa dia harus melakukan itu. Kalau dia terus bersikap seperti ini, aku akan benar-benar terhanyut dan lupa akan tujuanku. Ini benar-benar tidak baik,” gumamnya.
“Sadarlah Angelia, dia hanya menggodamu dan mempermainkanmu saja.”
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Angelia pun beranjak dari duduknya dan membuka pintu.
“Vina? Ada apa?” tanya Angelia.
“Mr. Calvin menunggumu di bagian belakang kapal. Ada masalah yang ingin dia diskusikan denganmu,” seru Vina.
“Mr. Calvin? Emm baiklah,” jawab Angelia.
Angelia berjalan mengikuti Vina menuju bagian belakang kapal dimana terdapat sebuah kolam renang dengan kursi santai.
“Dimana Mr. Calvinnya?” tanya Angelia karena disana ternyata kosong tak ada orang sama sekali.
“Ah sebentar, aku akan mencarinya,” seru Vina bergegas pergi meninggalkan Angelia seorang diri. Angelia melihat Vina sudah berjalan cepat dan menghilang di balik tangga.
“Sebenarnya apa yang ingin di diskusikan oleh Mr. Calvin?” gumam Angelia berjalan menuju pembatas kapal. Ia berdiri disana dengan menatap lautan luas.
Angelia berdiri disana dengan tatapan ke depan. Ia tidak sadar bahwa sesorang sedang berdiri di belakangnya dengan tatapan penuh kebencian. Kemudian orang itu mendorong tubuh Angelia.
Byurr......
Tubuh Angelia terjatuh melewati pagar pembatas yang tidak tinggi itu dan tubuhnya jatuh ke lautan.
Angelia kesulitan untuk berenang ke permukaan karena gelombang ombak yang dikeluarkan oleh kapal. Ia bahkan tidak bisa berenang.
Tenaganya mulai terkuras habis untuk melawan gelombang supaya tidak terdorong terlalu jauh. Kini tubuhnya melemah dan tubuhnya semakin tertarik ke bawah. Ke bagian dalam lautan yang gelap dan menakutkan. Tatapan Angelia tertuju pada permukaan air laut dimana ia masih mampu melihat langit biru.
'Apa ini akhir dari hidupku? Apa aku akan mati sia-sia tanpa bisa mencapai tujuanku?' batin Angelia.
'Maafkan aku, Mom.'
Sebelum sepenuhnya kesadaran Angelia menghilang, ia melihat siluet terjun ke lautan dan berenang ke arahnya. Membuatnya tanpa sadar mengulurkan tangannya.
'Akankah aku selamat...'
__ADS_1