
Angelia tengah membuatkan kopi untuk Direkturnya seperti rutinitas biasa setiap harinya.
“Hallo Nona Stalking,” sapa Calvin.
“Nama saya Angelia, Mr. Calvin,” seru Angelia sedikit kesal membuat Calvin terkekeh.
“Kalau begitu buatkan juga aku kopi,” seru Calvin.
“Tidak bisa!”
Suara tegas itu membuat mereka berdua menoleh ke sumber suara dan terlihat Regan berdiri tak jauh dari posisi mereka berdiri.
“Angelia adalah asistenku, kenapa kau meminta dibuatkan kopi padanya. Suruh sekretarismu sendiri,” seru Regan dengan tegas.
“Ck, pelit sekali Direktur ini. Aku hanya penasaran dengan rasanya, wanita imut seperti Angelia ini bisa membuat kopi seenak apasih, sampai Direktur begitu ketagihan,” seru Calvin.
“Manager sangat berlebihan,” seru Angelia tersenyum kecil.
“Ck, baru dipuji imut saja sudah merona,” ejek Regan membuat Angelia menatap sinis ke arahnya.
“Kau masuk ke ruanganku, Calvin.” Regan beranjak terlebih dulu.
“Oke. Angel, buatkan aku kopi juga yah,” seru Calvin masih berusaha.
“Tidak boleh Angelia. Gajimu akan di potong kalau kau membuatkannya,” seru Regan tanpa menoleh.
“Ck, pelit!”
“Apasih Devil itu. Hanya membuat kopi saja langsung potong gaji,” gerutu Angelia merasa kesal.
Angelia membawa kopi itu menuju ruangan Regan dan saat itu juga ia berpapasan dengan Jessy yang baru saja datang. Jessy menatapnya sinis dan membuang muka. Ia berjalan menuju meja kerjanya.
“Ck, dia yang membuat masalah, dia juga yang memusuhiku,” gerutu Angelia mengabaikan Jessy dan masuk ke dalam ruangan Regan.
***
“Ini kopi Anda, Mr.” Angelia menyimpan gelas berisi kopi di atas meja.
“Jangan terlalu dekat dengan Calvin. Dia seorang playboy,” seru Regan berucap dengan nada dingin dan tanpa menoleh ke arah Angelia. Ia tetap focus pada layar laptop di hadapannya.
“Saya tidak berniat dekat dengan pak GM juga Direktur. Saya tidak ingin memancing amarah para wanita disini,” seru Angelia dan itu membuat tatapan tajam Regan tertuju padanya dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Saya permisi,” seru Angelia karena tidak nyaman dengan tatapan dari Regan.
“Jadi kamu lebih menyukai Direktur perusahaan GU,” sindir Regan membuat Angelia sedikit membeku di tempatnya.
“Itu bukan urusan Anda.” Setelah itu Angelia berlalu pergi meninggalkan ruangan Regan.
Regan hanya menatapnya tanpa ekspresi. Setelah Angelia keluar dari ruangannya, ia pun kembali focus pada pekerjaannya.
***
Saat ini Angelia berada di kamar mandi. Ia bercermin dan merapikan tatanan rambutnya, sampai ada segerombolan wanita masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya. Di antara mereka ada Rosie yang memilih berdiri di paling belakang. Mereka langsung mengelilingi Angelia membuat Angelia mengernyitkan dahinya merasa bingung. Ia berbalik badan ke arah mereka.
“Ada apa ini?” tanya Angelia.
“Heh ******, kau semakin berulah saja karena menjadi sekretaris Direktur,” seru salah satu dari mereka.
“Aku tidak mengenal kalian dan aku tidak memiliki urusan apapun dengan kalian!” seru Angelia beranjak melewati mereka tetapi seseorang menahan lengannya.
“Kau pikir akan terbebas begitu saja setelah menjebak Jessy kemarin,” seru salah seorang dari mereka.
'Apa mereka teman Jessy?' batin Angelia sampai tatapan Angelia tertuju pada Rosie yang terlihat memalingkan pandangannya. Saat itu juga ia sadar kalau mereka memiliki semacam grup atau komunitas fans Direktur. Mungkin saja ini adalah mereka semua. Setau Angelia, Rosie tidak dekat dengan Jessy.
“Dasar ******, sombong sekali!” seru yang lainnya seraya mendorong tubuh Angelia hingga punggung Angelia membentur ujung wastafel.
“Kalian ingin bermain keroyokan, hm?” seru Angelia.
Byur
__ADS_1
Angelia kaget saat yang lainnya menyiramkan segayung air ke arahnya hingga kemeja yang ia gunakan basah.
Plak
Yang lainnya menampar Angelia.
“Itu pelajaran buat ****** sepertimu. Bermimpi untuk terus menjadi kekasih Direktur.”
“Cih!” Angelia tersenyum sinis. “Katakan saja kalau kalian iri. Karena ternyata hanya akulah yang mendapatkan perhatian dari Direktur.”
“Kau! Kau sangat sombong sekali. Kau pikir ini akan bertahan lama? Lihatlah dirimu, apa pantas bersanding dengan seorang Direktur?”
“Kenapa kalian yang repot memutuskan,” ejek Angelia.
“Ternyata kau memang munafik,” ucap Rosie membuat Angelia melihat ke arahnya.
“Wah lihat siapa ini? Seorang teman lama,” seru Angelia. “Ah kalian sungguh kompak sekali dalam menindas orang lain. Tak heran Direktur tidak pernah melirik kalian,” seru Angelia menatap tajam ke arah Rosie.
“Kau!”
Angelia menahan lengan Rosie yang hendak menamparnya.
“Jangan harap kalian mampu menindasku!” seru Angelia menghempaskan lengan Rosie hingga membuatnya mundur beberapa langkah ke belakang.
Plak
Angelia menampar wanita yang tadi sudah menampar dirinya hingga pipinya memar.
“Aku tidak terbiasa membiarkan hama yang sudah menyengatku begitu saja,” seru Angelia dengan enteng.
“Kalau kalian masih ingin mencari masalah denganku. Maka ayo lakukan satu per satu, jangan keroyokan!” seru Angelia dan saat itu juga seseorang masuk ke dalam kamar mandi.
“Ada apa ini?” tanya seseorang yang merupakan bagian dari HRD.
“Bu Sonia lihatlah, Reva terluka karena di pukul oleh Angelia. Dia begitu sombong dan menindas kami semua,” adu temannya yang lainnya.
“Reva, apa kamu baik-baik saja?” seru Sonia yang langsung menghampiri Reva yang menangis.
'Ck, acting kalian bagus sekali. Aku tau HRD ini juga salah satu dari kalian,' batin Angelia merasa jengah dengan tontonan di depannya.
“Angelia, aku tidak menyangka kau begitu arrogant,” seru Sonia. “Sekarang juga kau ikut ke ruanganku!”
Angelia mengikuti Sonia ke dalam ruangannya dan membiarkan para hama tadi tersenyum puas. Angelia masih tidak menyangka Rosie yang dulu selalu menemaninya, bersamanya selama bekerja disini dan sekarang dia berubah begitu cepat, bahkan memusuhinya begitu saja. Ah memang tidak mudah mendapatkan seorang teman yang benar-benar baik.
“Angelia, kamu sudah keterlaluan dan membuat onar disini,” seru Sonia saat mereka sampai di ruangannya. Angelia berdiri di depan meja Sonia dengan tenang.
“Kau bahkan tidak menunjukkan wajah penyesalan sama sekali. Sungguh arrogant sekali!”
“Kenapa saya harus menunjukkan rasa penyesalan saya? Saya tidak melakukan spapun, mereka yang mengusik saya duluan,” seru Angelia.
“Tutup mulutmu. Kau hanya mencari alasan saja,” seru Sonia. “Kalau begitu aku tidak akan mentolerir kamu lagi. Mulai hari ini kamu di pecat!”
“Apa?”
“Kenapa? Masih tidak jelas? Aku bilang kamu di pecat dan jangan datang lagi mulai besok. Tanda tangan disini dan saya akan kirimkan uang pesangonmu,” seru Sonia.
“Wah, siapa yang berani memecat sekretaris Direktur.”
Seruan itu membuat mereka berdua menoleh ke arah pintu.
“GM Calvin,” seru Sonia tampak kaget. Ia langsung berdiri dari duduknya.
“A-anda datang kemari? Emm a-ada apa?” tanya Sonia menjadi begitu gagap dan keringat dingin bercucuran di pelipisnya.
“Aku datang untuk meminta laporan kepadamu. Tetapi tidak aku sangka, aku harus mendengar pemecatan ini,” seru Calvin dengan nada tenangnya seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan berjalan mendekati meja Sonia.
“Apa yang kau lakukan sampai ibu Sonia ini memecatmu, wanita cantik?” tanya Calvin yang kini berdiri di samping Angelia.
“Pak GM, Angelia telah melakukan sebuah penganiayaan dan kekerasan terhadap rekan kerjanya di kamar mandi,” seru Sonia.
__ADS_1
“Oh ya?” seru Calvin masih tenang membuat Sonia ketakutan karena tidak mampu membaca ekspresi Calvin. “Bolehkah ibu Sonia memanggil mereka emm para korban kemari.”
“Itu, baiklah,” seru Sonia segera menghubungi Reva.
“Wah ternyata ibu Sonia begitu kompeten dalam bekerja, sampai kontak seluruh karyawan berbeda divisi pun, Anda memilikinya,” sindir Calvin sesaat setelah Sonia menyelesaikan telponnya.
“Itu-“
- - -
Jelang beberapa saat, lima orang yang ada di dalam kamar mandi tadi masuk ke dalam ruangan. Mereka mulai menjelaskan apa yang terjadi di kamar mandi.
“Kami hanya menyapa Angelia dan memberinya selamat atas kenaikan jabatannya. Kami hanya menggodanya dengan mengatakan kalau dia beruntung bisa dekat dengan Direktur dan ternyata dia malah menampar Reva dan mendorong tubuh kami semua. Dia juga mengancam dan memperingatkan kami untuk tidak menggoda Direktur,” jelas Tessa yang tadi lebih dulu melabrak Angelia.
“Ck, drama sekali,” seru Angelia merasa sangat jengah.
“Lihatlah kelakuannya, pak GM. Dia sungguh tidak memiliki sopan santun,” seru Sonia.
“Kau sangat hebat Angelia, bisa melawan mereka berlima seorang diri,” seru Calvin. “Kau melakukan bullying sekaligus pada 5 karyawan, kau patut di acungi jempol.”
Ucapan Calvin membuat mereka semua membeku dan merasa gelisah, kecuali Angelia yang ingin tertawa.
“Oh wajahmu yang terluka karena Angelia yah,” seru Calvin pada Reva.
“Iya pak GM. Dia dengan arogannya menampar saya. Padahal saya serius ingin berteman dengannya,” seru Reva dengan ekspresi menyedihkan.
“Ck, seharusnya kau tampar lagi pipi yang sebelahnya. Biar merahnya serasi,” seru Calvin membuat yang lain melongo.
“Pak GM!”
“Haishh kalian ini. Apa kalian pikir aku akan percaya dengan drama dan ucapan omong kosong kalian. Bagaimana mungkin Angelia mampu membullying kalian berlima seorang diri, kecuali dia melakukan perlindungan untuk dirinya sendiri. Dan lihatlah pipi gadis cantik ini,” seru Calvin menunjuk ke arah pipi Angelia. “Walau samar, tetapi masih terlihat memar disana, apa kalian meragukan ketajaman pandanganku?”
“Kami tidak berani,” sahut mereka kompak.
'Sial! Angelia benar-benar siluman, bahkan pak GM pun membelanya,' batin Rosie.
“Dan bu Sonia, apa Anda tidak takut dengan memecat Angelia? Angelia adalah sekretaris dari Direktur utama lho.Tidak ada yang berhak memecat karyawannya selain Direktur sendiri,” seru Calvin. “Kecuali kalau kau ingin membangkang pada Direktur.”
“Sa-saya tidak berani, pak GM.” Saya hanya membuat keadilan, seru Sonia.
“Walau begitu, kantor ini memiliki aturan. Sebelum membuat keputusan memecat seseorang, kau harus mengeluarkan surat peringatan dulu. Kalau surat peringatan pertama dan kedua sudah keluar, maka baru keluarkan pemutusan kontrak kerja.
“Apa kamu tidak mengetahui aturan itu, bu HRD?” tanya Calvin menatap Sonia dengan tajam.
“Ma-afkan saya pak GM,” seru Sonia menundukkan kepalanya.
“Kali ini aku akan membebaskanmu dan kalian semua. Kalau ini sampai terjadi lagi, aku akan mengeluarkan surat peringatan untuk kalian semua,” seru Calvin kini menjadi begitu datar hingga membuat semua yang ada disana hanya menunduk ketakutan.
“Angelia, ayo kembali. Direktur akan mencarimu kalau kau meninggalkan ruangan terlalu lama,” seru Calvin beranjak pergi dan diikuti oleh Angelia.
“Sialan!” gerutu mereka berlima saat Angelia dan Calvin sudah meninggalkan ruangan.
“Jalang itu benar-benar mendapat dukungan dari Direktur dan GM,” keluh Tessa.
- - -
“Terima kasih pak GM,” seru Angelia saat mereka berada di dalam lift.
“Sama-sama. Tetapi kau harus berterima kasih pada Direktur juga,” seru Calvin.
“Eh?”
“Dia yang memintaku turun ke bawah dan membantumu. Dia tidak mungkin langsung turun sendiri karena itu akan merugikanmu,” jelas Calvin membuat Angelia terpaku dengan perasaan yang menghangat.
“Ah pria itu, dia benar-benar sudah jatuh cinta padamu, Gadis Stalking,” seru Calvin.
Deg
Kedua pipi Angelia menjadi bersemu merah mendengar kata-kata Calvin barusan.
__ADS_1
***