
Caroline berjalan keluar dari sel tahanan karena ada seseorang yang datang menemuinya, ia berjalan di dampingi satu orang polisi menuju ruang pertemuan.
Sesampainya disana, Caroline dapat melihat punggung lebar milik seseorang yang ia kenali dan begitu ia kagumi sejak lama.
“Cris?” seru Caroline membuat Cristian menoleh ke arahnya, ia meneliti kondisi Caroline yang jauh dari kata baik-baik saja. Caroline menundukkan kepalanya karena merasa malu.
“Kenapa kamu bisa melakukan ini semua, Car? Sebesar apa dendam kamu padanya. Kenapa kamu begitu ingin membunuhnya?” seru Cristian tampak emosional.
Caroline tersenyum mengejek.
“Sampai saat ini pun hanya wanita itu yang kamu pikirkan,” seru Caroline.
“Kenapa Cris? Padahal bertahun-tahun lamanya aku sudah mencintaimu, tetapi kamu selalu tidak bisa membalasnya. Tetapi pada wanita itu, kamu begitu berbeda. Kenapa Cris? Apa kurangnya aku?”
“Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Hatiku sudah terpatri untuk Angelia,” jawab Cristian dengan santai. Tetapi bagai sambaran petir bagi Caroline.
“Baiklah. Kalau begitu tidak perlu lagi kamu menemuiku,” seru Caroline hendak beranjak pergi meninggalkan Cristian tetapi Cristian menahan pergelangan tangan Caroline.
“Apalagi?” pekik Caroline terlihat kesal dengan mata yang memerah menahan air mata.
“Aku ingin tau, sebenarnya ada dendam apa antara kamu dengan Angelia?” tanya Cristian.
“Bukan urusanmu!”
“Caroline please. Aku perlu tau, kenapa kamu begitu membenci Angelia. Bahkan kamu begitu ingin membunuhnya,” seru Cristian.
“Angelia adalah saudara tiriku. Karena dia hidupku menderita! Karena dia Ayahku harus meninggalkanku dan Ibuku. Karena dia Ibu harus melahirkan aku seorang diri. Dia enak hidup sebagai tuan putri di keluarga Calief, sedangkan aku? Aku sangat menderita dan hidup di jalanan. Dia begitu sombong dan memiliki segalanya, berbeda denganku. Padahal kami dari Ayah yang sama!” isak Caroline.
“Kamu iri padanya,” seru Cristian.
“Aku tidak iri padanya! Kamu terus saja membelanya. Aku membenci kamu,” pekik Caroline berlari memasuki ruangan menuju sel.
__ADS_1
Cristian masih berdiri di tempatnya menatap kepergian Caroline.
“Ternyata Angelia putri dari Mr. Virendra,” gumam Cristian.
“Tetapi kenapa mereka semua terlihat begitu membenci Angelia. Ada apa sebenarnya,” gumam Cristian.
- - -
Suya sedang menemani Virendra di rumah sakit, Virendra telah siuman dan melewati masa kritisnya.
“Bagaimana bisa anak itu kembali membuat ulah,” seru Virendra begitu kesal.
“Suamiku, tolong keluarkan putri kita dari penjara. Ayo kita bayarkan dendanya,” seru Suya.
“Kau tau kondisi kita saat ini? Bahkan besok kita harus keluar dari rumah! Biarkan saja anak sial itu, lagi pula kekacauan besar ini karena ulahnya!” Virendra terlihat begitu kesal.
“Suamiku, kasihan Caroline. Dia pasti sangat menderita di dalam sel tahanan,” seru Suya.
“Aku tidak bisa berbuat apapun. Kalau kau ingin membebaskannya maka minta tolong saja pada Angelia,” seru Virendra terlihat acuh tak acuh.
***
Angelia datang ke dalam kamar president suite dimana Regan di rawat, ia melihat Regan duduk di atas brankar dengan laptop di atas pangkuannya.
“Sibuk sekali,” seru Angelia membuat Regan menoleh dan tersenyum.
“Kamu datang bersama Jose?” tanya Regan yang diangguki Angelia.
“Jangan terlalu memaksakan diri, kamu belum sehat benar. Sebaiknya istirahat saja,” seru Angelia.
“Aku sudah baik-baik saja. Nanti sore juga sudah boleh pulang,” seru Regan.
__ADS_1
“Tetapi lukamu masih belum kering,” seru Angelia.
Regan menarik lengan Angelia hingga mendekat kepadanya.
“Berhenti mengomel dan duduklah di sampingku,” seru Regan membuat Angelia akhirnya duduk di samping Regan.
“Lihat ini,” seru Regan menunjukkan apa yang ada di layar laptopnya.
“Emm ini-?” Angelia terdiam dengan mata membelalak lebar.
“Iya, ini saham Virendra atas namamu. 60% saham yang kamu miliki Angelia,” seru Regan tersenyum lebar.
“Ta-tapi bagaimana bisa?” tanya Angelia tidak percaya.
“Virendra Production sedang dalam keadaan kacau saat ini, banyak sponsor dan investor yang memutuskan kontrak kerjasama. Para pemegang saham yang ketakutan rugi karena sadar Virendra Production akan segera bangkrut menjual saham Virendra Production dengan harga yang sangat murah. Aku membeli semuanya dengan mudah,” seru Regan tersenyum puas.
Regan tersenyum melihat ekspresi Angelia yang terlihat syok.
“Kucing kecil,” seru Regan menggenggam kedua tangan Angelia membuat Angelia menoleh ke arahnya.
“Selamat, kini Direktur Utama Virendra Production adalah kamu Angelia Malikha Calief keturunan sah dari keluarga Calief,” seru Regan membuat mata Angelia berkaca-kaca.
“A-aku... Terima kasih banyak,” Angelia memeluk Regan dengan tangisnya yang pecah
“Terima kasih, aku tidak tau harus berkata apalagi. Semuanya berkat kamu,” isaknya.
“Apasih kucing kecil,” seru Regan melepaskan pelukannya dan ia menangkup wajah Angelia, ia menatap mata merah Angelia yang juga menatapnya.
“Sudah aku katakan, aku akan membantumu merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikmu. Sebagai gantinya kamu harus menjadi kekasihku dan selalu disisiku. Jadi aku tidak begitu saja menolongmu kucing kecil,” Angelia tersenyum lebar.
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu,” seru Angelia memberanikan diri mencium bibir Regan.
__ADS_1
“Kamu mulai berani menggodaku, hmm. Jadi jangan salahkan aku,” seru Regan menekan tengkuk Angelia dan memperdalam ciuman mereka.
***