
“Eh tunggu Nona, Anda tidak bisa masuk!” teriak sekretaris Cristian saat seseorang yang menggunakan jacket, topi, masker juga kacamata menerobos masuk ke dalam ruangan Cristian.
“Cris ini aku,” seru seseorang itu membuka masker dan kacamatanya di hadapan Cristian yang sudah berdiri dari duduknya.
“Caroline?”
“Mr. Cristian maaf. Orang ini menerobos masuk begitu saja,” seru sekretarisnya.
“Tidak apa-apa, aku mengenalnya. Kamu pergilah,” seru Cristian yang diangguki sekretarisnya dan beranjak keluar dari ruangan Cristian.
“Cris!” sepeninggalan sekretaris Cristian Caroline langsung berlari dan memeluk tubuh Cristian dengan isakannya.
“Tolong aku, Cris. Hu hu hu…” isaknya.
“Aku sudah melihat beritanya,” seru Cristian melepaskan pelukan Caroline dan sedikit mendorongnya untuk menjauh darinya.
“Cris!”
“Aku tidak menyangka kamu orang seperti ini,” seru Cristian tersirat kekecewaan disana.
“Kamu menghalalkan segala cara hanya untuk memenuhi keinginanmu.”
“Tidak Cris, aku sudah di fitnah. Tolong bantu aku, aku ingin mencari siapa yang berusaha memfitnahku. Tolong aku, hikz...”
“Berita ini begitu besar dan menjadi trending topik. Ini tidak dapat dihapuskan begitu saja Car,” Cristian beranjak menuju kursi kebesarannya dan duduk disana.
“Apa kamu percaya aku melakukan semua itu?” tanya Caroline menggebrak meja dihadapan Cristian membuat Cristian menatap manik mata milik Caroline.
“Semua bukti sudah menjelaskan segalanya,” seru Cristian.
“Dan aku tidak bisa membantumu!”
“Kamu!”
“Pergilah atau aku akan memanggil keamanan untuk membawamu keluar dari sini!” seru Cristian dengan nada tegas.
“Cris kenapa? Apa begini persahabatan kita? Kita sudah bersama dari kecil dan ini yang bisa kamu lakukan kepadaku?” seru Caroline semakin terluka.
“Aku tidak ingin terseret karenamu dan lagi aku juga tidak ingin nama perusahaan GU tercoreng namanya. Aku harus menjaga nama baik perusahaan juga keluargaku,” seru Cristian dengan nada tenang.
“Lalu kamu anggap apa aku selama ini? Aku bahkan begitu mencintaimu!” isak Caroline.
“Sejak awal aku hanya menganggapmu sebagai temanku saja,” jawab Cristian. Di dalam hatinya masih ada Angelia dan dirinya sama sekali belum mampu melupakan wanita itu.
“Kamu jahat Cris!” pekik Caroline dan berlari keluar ruangan.
__ADS_1
“Kamu harus mempertanggung jawabkan apa yang telah kamu lakukan Caroline,” Cristian hanya bisa diam menatap kepergian Caroline.
***
Angelia sudah siap dengan dress cantik yang Regan siapkan untuknya. Malam ini dirinya akan pergi menemui kedua orang tua Regan, Angelia sangat gugup dan penuh ketakutan.
‘Bagaimana kalau kedua orang tua Regan tidak menerimaku? Aku hanya seorang wanita yang hidup sebatang kara tanpa kejelasan asal usulnya,’ batin Angelia terlihat gugup juga cemas.
“Apa kau sudah siap?” tanya Regan yang kini sudah berdiri di ambang pintu kamar, saat ini Angelia berada di Villa milik Regan.
“Su-sudah, apa penampilanku tidak terlihat jelek?” tanya Angelia begitu gugup.
Regan tersenyum dan berjalan mendekati Angelia, ia menyentuh dagu Angelia dan menariknya hingga Angelia menengadahkan kepalanya dan beradu pandangan dengan Regan di depannya.
“Kamu terlihat begitu mempesona dan luar biasa cantik,” puji Regan.
“Kenapa mulutmu begitu manis,” seru Angelia menghindari Regan dengan memalingkan wajahnya yang bersemu merah membuat Regan tersenyum kearahnya.
“Ayo kita berangkat,” seru Regan membawa tangan Angelia untuk bergelayut di lengannya dan mereka beranjak meninggalkan kamar.
- - -
Mereka sampai di kediaman Wiratama yang begitu mewah dan sangat luas.
‘Ya Tuhan ini rumah apa sebuah istana,’ batin Angelia saat ia sudah menuruni mobil dan menatap sekelilingnya. Di sekelilingnya banyak sekali tanaman dan pepohonan, sungguh membuat suasana disana begitu sejuk. Bahkan halaman rumahnya sangat luas, dari gerbang utama sampai ke pintu rumahnya cukup jauh.
Angelia menoleh ke arah Regan yang sudah mengulurkan tangannya, Angelia menyambut uluran tangan Regan dan berjalan bersama menuju pintu rumah.
“Bunda sangat menyukai rumah dengan penuh pepohonan dan banyak tanaman. Dia sangat suka berkebun dan inilah hasil dari karyanya,” seru Regan saat mereka berjalan memasuki rumahnya.
Angelia semakin dibuat terkagum-kagum dengan suasana di dalam rumah, benar-benar sebuah istana.
“Akhirnya kamu pulang,” seruan itu membuat Angelia mengalihkan tatapannya. Tidak jauh di depannya, terlihat seorang wanita cantik dan begitu keibuan sedang berdiri berdampingan dengan seorang pria tampan yang Angelia kenal sebagai Mr. Davero.
“Apa Bunda merindukanku?” seru Regan tersenyum lebar dan begitu hangat.
Regan mencium tangan Agneta dan Davero membuat Angelia terpaku dan cukup kaget dengan perubahan sikap Regan itu.
“Ini Angelia kekasihku,” seru Regan.
Angelia menjadi kikuk dan tersenyum ke arah dua orang di depannya yang tampak melihat ke arah dirinya yang juga tersenyum.
Angelia memberanikan diri mengikuti Regan mencium tangan kanan mereka berdua. Angelia tau Regan berasal dari Negara Indonesia dan ini merupakan budaya di Indonesia sebagai penghormatan kepada yang lebih tua, Regan tersenyum melihat Angelia mengikutinya.
“Hallo Angelia, aku sudah mendengar tentangmu sebelumnya. Aku Agneta Bundanya Regan,” seru Agneta begitu ramah seraya memegang tangan Angelia membuat Angelia kembali dibuat terpaku. Sebelumnya ia berpikir kalau Bunda Regan sangat keras dan pasti tidak akan setuju dengan hubungan mereka, apalagi Angelia hanya sebatang kara. Ternyata kenyataannya, Bunda Regan begitu hangat dan sangat ramah.
__ADS_1
“Saya Angelia, om, tante,” seru Angelia.
“Sebaiknya kita masuk dan berbicara di dalam,” seru Davero.
Mereka berempat berjalan bersama menuju ruang makan.
“Kakak!” seseorang berlari dan langsung memeluk tubuh Regan.
“Kemana saja, aku sangat merindukan kakak!” rengek gadis itu.
“Adikku sayang. Aku juga sangat merindukanmu,” seru Regan membalas pelukan Renata.
‘Ini gadis yang waktu itu datang ke restaurant Rita bersama dengan Regan, ternyata benar-benar adiknya. Aku sudah salah paham terhadap Regan,’ batin Angelia.
“Hallo kakak ipar, aku Renata. Adik kak Regan yang paling cantik juga imut,” seru Renata sangat bersemangat dan mengulurkan tangannya ke arah Angelia.
Angelia tersenyum dan menyambut jabatan tangan Renata.
“Hallo, aku Angelia,” seru Angelia.
“Akhirnya aku punya teman untuk di ajak pergi berbelanja dan ke salon,” seru Renata begitu bersemangat.
‘Gadis ini benar-benar energik,’ batin Angelia.
“Sudah sudah. Ayo sebaiknya kita makan,” seru Agneta.
Mereka semua menduduki kursi di meja makan. Regan berdampingan dengan Angelia dan Agneta berdampingan bersama Renata, Davero di kursi utama.
Tidak lama beberapa pelayan datang dan menyajikan makanan pembuka untuk mereka.
‘Ah siput, bagaimana cara memakannya?’ batin Angelia saat melihat seafood dihadapannya, seekor siput yang di masak dan masih dalam cangkangnya.
Angelia melihat yang lain bagaimana cara memakannya, ia pun mengambil garpu bersama penjepit, ia kemudian menjepit siput dan menusukkan garpu ke dalam lubang siput itu dan ia mendapatkan daging siputnya.
‘Ah ternyata begitu empuk dan mudah terlepas, syukurlah aku tidak membuat malu Regan. Walau sebenarnya ini pertama kalinya aku memakan menu seperti ini,’ batin Angelia.
Regan yang memperhatikan Angelia hanya bisa tersenyum, tanpa perlu ia arahkan lagi Angelia sudah dapat mempelajarinya dengan cepat.
“Apa belum cukup menatapnya, kakak?” goda Renata terkikik kecil.
“Kamu ini,” seru Agneta.
“Habis kakak sejak tadi menatap kakak ipar terus, ayah. Sepertinya harus segera menikahkan kakak dengan kakak ipar,” seru Renata membuat Angelia bersemu merah.
“Ck anak kecil tau apa tentang pernikahan,” seru Regan.
__ADS_1
“Jangan salah. Aku tau dengan jelas,” seru Renata menjulurkan lidahnya.
“Sudah Rena. Kamu habiskan saja makananmu,” seru Dave.