Terjerat Pesona Sang Direktur

Terjerat Pesona Sang Direktur
Tak ingin berkaitan


__ADS_3

Angelia berjalan dengan anggun memasuki lobby sebuah restaurant. Seorang waiters menyapanya dan membantu melepaskan mantel yang digunakan oleh Angelia.


Setelah menyerahkan mantelnya itu, Angelia berjalan memasuki Restaurant. Mata awasnya menyisir seluruh area restaurant sampai ia menemukan sosok yang sedang ia cari. Ia pun berjalan mendekati sosok itu.


“Cristian,” sapa Angelia membuat Cristian yang tengah duduk di kursi menoleh ke arahnya.


“Angel. Ayo silahkan duduk.” Dengan gentlenya Cristian beranjak dari duduknya dan menarik salah satu kursi di sampingnya. Angelia duduk di kursi yang Cristian tarik barusan.


Setelah Angelia duduk, Cristian kembali ke tempat duduknya.


“Kamu mau pesan apa? Aku baru memesan minuman kesukaanmu saja,” seru Cristian dan Angelia melihat gelas berisi minuman kesukaan di sampingnya.


“Terima kasih. Aku memesan steak saja,” seru Angelia yang diangguki Cristian. Kemudian ia memanggil pelayan dan memesan makanan untuk mereka berdua.


“Oh iya kemarin aku cukup kaget melihat kamu ke acara pertunangan putranya Mr. Sen,” seru Cristian.


“Iya kemarin aku di minta menemani atasanku,” ucap Angelia. “Ngomong-ngomong kamu begitu dekat dengan Caroline. Apa kalian menjalin sebuah hubungan?” tanya Angelia memberanikan diri bertanya.


“Ah tidak. Kami hanya teman. Kebetulan kemarin ayahnya juga Mr. Joshi di undang tetapi diwakilkan oleh Carol.”


Angelia hanya diam membisu mendengarnya.


“Ada apa? Kenapa menanyakan hal itu?” tanya Cristian.


“Tidak ada. Aku pikir kalian sepakat untuk menikah,” kekeh Angelia.


“Aku tidak memikirkan sampai kesana, Angel. Aku menyukai wanita lain,” ucap Cristian menatap manik mata Angelia dan Angelia hanya tersenyum kecil saja.


Disaat seperti ini kenapa yang Angelia pikirkan dan bayangkan hanya wajah dari Regan, Devil yang sangat menyebalkan itu.


Pesanan mereka datang dan mereka makan bersama seraya berbincang banyak hal.


***


“Kemana sebenarnya kucing kecil itu,” gumam Regan berjalan mondar mandir berkacak pinggang seraya memegang handphonenya.


“Hah ada apa dengan kakak. Kau terus mondar mandir seperti itu, membuatku pusing melihatnya,” seru seseorang yang tengah duduk di sofa yang berada disana seraya menikmati cemilannya.


“Bukan urusanmu, Bocah,” seru Regan.


Wanita itu adalah Renata, adik kandung Regan.


“Bocah apanya. Aku sudah kuliah,” gerutu Renata tidak terima.


“Ada apa ini, kenapa kalian berdua ribut-ribut?” seru seseorang yang baru saja datang. Wanita lanjut usia yang masih terlihat begitu cantik.


“Bunda, sepertinya putra kesayangan Bunda sedang merana alias galau,” kekeh Renata menggoda kakak yang sangat ia sayangi itu.


“Ck, apasih kau bocah.” Regan berjalan menuju sofa dan duduk disana diikuti Agneta.


“Bunda buatkan cemilan untuk kalian berdua,” seru Agneta menyuguhkan makanan di atas meja.


“Ayah kemana?” tanya Regan.


“Tadi sih sedang menerima telpon di ruang kerjanya. Nanti juga kemari,” seru Agneta.


Regan mengambil salah satu cookies buatan bundanya itu dan menikmatinya.


Saat weekend memang mereka sering menghabiskan waktu di rumah hanya untuk berkumpul, seperti keinginan Agneta. Bahkan Dave tidak bisa membantah keinginan istrinya itu. Begitu juga dengan putra putrinya.


“Kalian sedang berkumpul,” seru seseorang yang baru datang membuat mereka bertiga menoleh.


“Kemarilah dan nikmati cookiesnya,” seru Agneta.


Seseorang itu adalah Davero yang kini duduk di samping Agneta.


“Regan, bagaimana di kantor?” tanya Dave. “Apa semuanya lancar?”


“Sejauh ini sih baik-baik saja,” jawab Regan seraya menikmati cookiesnya.


“Oh iya kemarin Ayah dengar dari Mr. Sen, kamu membawa CALON ISTRImu ke acara pertunangan putranya,” seru Dave penuh dengan nada sindiran.


“Oho oho oho...” Regan tersedak makanannya mendengar ucapan dari Dave.


“Calon istri?” seru Agneta sangat kaget. “Kamu sudah memiliki kekasih?”


“Kakak kan memang banyak kekasihnya, termasuk teman-teman aku juga,” seru Renata.

__ADS_1


“Apa itu benar, Regan?”


“Itu-“


“Kalau sudah memiliki wanita yang kamu pilih, bawa kesini. Kenalkan pada kami,” seru Dave.


“Benar kata Ayahmu, Regan.”


“Belum kok Bun, Ayah. Nanti kalau waktunya sudah tepat, Regan bawa dia kemari,” seru Regan.


“Memang siapa? Apa salah satu putri dari kolega kita? Atau teman sekampusmu dulu? tanya Dave.


“Dia hanya wanita dari kalangan biasa, apa tidak masalah?” tanya Regan menatap Dave.


“Jelas tidak apa-apa,” jawab Agneta dengan segera. “Kalau kamu sudah memilihnya dan hatimu sudah jatuh hati padanya. Maka kami akan selalu mendukungmu.”


“Ya, seperti yang Bundamu katakan,” seru Dave.


“Jadi ceritanya Kakak sedang jatuh cinta saat ini,” kekeh Renata.


“Begitulah,” jawab Regan tersenyum simpul.


“Segera bawa kemari dan temui kami,” ucap Agneta membuat Regan menganggukkan kepalanya.


“Dan cepat kenalkan juga padaku,” seru Renata.


Regan hanya mampu tersenyum dan merasa bahagia mendapatkan dukungan dari keluarganya.


'Aku akan segera memilikimu, Kucing Kecil...' batin Regan.


***


“Angel... Angel....”


Teriakan Rosie sungguh mengusik indra pendengarannya hingga membuat Angelia menghentikan aktivitas mengetiknya dan menoleh ke arah Rosie yang mengintip di balik kubikelnya.


“Ada apa sih burung Beo, berisik sekali!” gerutu Angelia.


“Ck, disamain sama burung Beo, suara aku lebih merdu,” cibir Rosie.


“Ini infonya penting banget tau,” seru Rosie.


“Apa?”


“Barusan aku dengar dari pak Adam, kalau divisi kita akan makan malam bersama pak Direktur. Bukankah itu berita yang sangat membahagiakan. Apalagi bagi para fansnya Direktur,” seru Rosie sangat antusias.


“Makan malam bersama, tetapi dalam rangka apa?” tanya Angelia mengernyitkan dahinya.


“Apapun alasannya, yang jelas kita akan makan malam bersama Direktur dan aku bisa memandangi wajah tampannya dalam waktu yang lama,” seru Rosie tersenyum merekah dan begitu bahagia.


“Ck, dasar fans club,” seru Angelia. “Memang kapan acaranya?”


“Kalau tidak salah sih besok malam,” seru Rosie membuat Angelia hanya ber-oh saja.


Padahal kemarin ia pulang di antar oleh Regan, tetapi pria itu tidak mengatakan apapun padanya, termasuk acara makan malam ini. Benar-benar pria misterius, pikir Angelia.


“Kamu tau, beberapa karyawan wanita di divisi lain begitu iri pada kita yang di divisi Keuangan karena bisa makan malam bersama Direktur,” seru Rosie.


“Itu bukan urusanku,” jawab Angelia dengan santai mengedikkan bahunya.


“Ya Tuhan, aku sungguh tidak sabar ingin segera besok dan menatap terus wajah tampannya. Menikmati keindahan Tuhan satu itu,” seru Rosie sangat berlebihan.


Angelia terdiam mendengar racauan Rosie itu. 'Banyak sekali wanita yang tergila-gila padanya. Kalau aku terus terlibat dengannya, aku akan semakin dalam kesulitan,' batin Angelia.


***


“Kemana dia?” gumam Regan di dalam ruangannya seraya menatap layar handphonenya. “Seharian ini dia sama sekali tidak menerima panggilanku dan membalas chattku.”


Regan menjadi tidak bersemangat untuk bekerja karena memikirkan Angelia.


Ia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju jendela besar yang menjadi pembatas dinding disana. Ia menatap keluar dimana banyak sekali bangunan bangunan pencakar langit yang seakan bersaing untuk menjadi yang lebih tinggi. Cuaca diluar begitu panas dan ramai sekali kendaraan berlalu lalang. Tetapi semua itu tidak berpengaruh pada Regan yang saat ini hanya terfokus pada satu sosok yaitu Angelia yang terang-terangan menghindarinya.


“Permisi Sir,” seruan itu membuatnya menoleh dan terlihat Nickolas disana.


“Hmm?”


“5 menit lagi Anda meeting bersama Direktur dari PT. Shuo,” seru Nickolas. “Dan Mr. Daugh sudah menunggu di ruang meeting.”

__ADS_1


“Apa tidak masalah yah aku terus mengabaikan panggilannya,” gumam Angelia menatap layar handphonenya.


Ia menghela nafasnya seraya menyandarkan punggungnya ke kursi kerjanya. Bagaimana ia bisa terbebas dan terlepas dari semua ini. Terus menerus berhubungan dengan seorang Regan Danial bukanlah hal yang baik. Apalagi Angelia memiliki tujuannya sendiri, takutnya kedekatannya dengan Regan akan menghancurkan segalanya.


“Ck malah bengong,” seruan itu menyadarkan lamunan Angelia.


“Ada apa?” tanya Angelia segera mematikan layar handphonenya.


“Erdi mengajak kita untuk makan siang bersama di cafeteria. Kamu ikut?” ajak Rosie.


“Baiklah.”


Angelia pun bergegas beranjak dari duduknya seraya menutup laptopnya dan berjalan keluar kubikel mengikuti Rosie dan Erdi salah satu rekan satu divisinya.


- - -


Mereka bertiga sudah sampai di cafeteria dan mengantri untuk mengambil menu makanannya.


Dan tiba-tiba saja disana menjadi begitu gaduh dan heboh sekali membuat mereka bertiga ikut menoleh ke sumber suara.


“Oh God!” Rosie langsung begitu antusias saat melihat sosok Regan bersama Nickolas memasuki area cafeteria. “Apa ini mimpi?”


'Dia...? Kenapa dia bisa ada disini?' batin Angelia sangat kaget saat melihat sosok Regan.


“Gila, hampir semua perempuan menyapa dan mengelilinginya. Duh memang bos kita itu tiada tandingannya,” seru Rosie.


Melihat itu, entah kenapa Angelia merasa tidak suka dan merasa terusik. Tetapi ia juga tidak bisa berbuat apapun.


Bahkan ada beberapa karyawan perempuan yang curi-curi memotret Regan yang acuh saja. Tatapan Regan terlihat lurus dan tajam menatap ke arah Angelia. Walau Angelia terhalang beberapa orang, tetapi mata elangnya tetap mampu menemukan sosok Angelia. Melihat tatapan elang milik Regan membuat Angelia tak mampu berkutik dan ia menjadi grogi dan gelisah tak menentu. Ia berkali-kali membuang muka dan menatap ke hal lain untuk menghindari tatapan tajam Regan, tetapi itu semua rasanya percuma saja.


“Dia kemari,” bisik Rosie membuat Angelia memberanikan diri menatap ke arah Regan yang memang sudah berada beberapa meter darinya.


“Sir, Anda tunggu saja di kursi. Saya yang akan memesan makanan untuk untuk Anda,” seru Nickolas.


“Tidak perlu,” jawab Regan yang ikut mengantri dan berdiri di barisan yang berdekatan dengan Angelia.


“Sir, silahkan duduk,” seru karyawan yang berada di barisan depan mereka.


Regan kemudian menoleh ke arah Angelia dan Rosie. Kebetulan sekali di dekatnya hanya mereka perempuan yang sedang mengantri.


“Ladies first...” seru Regan dengan nada baritonnya yang mampu menggetarkan hati para wanita.


“Tapi Sir,” seru Rosie merasa tidak enak.


“Silahkan kalian lebih dulu,” seru Regan sekali lagi melirik ke arah Angelia yang berusaha menghindari tatapannya.


“Kalau begitu terima kasih, Sir,” Angelia sedikit membungkukkan badannya ke arah Regan dan langsung menarik Rosie untuk pergi menuju tempat pemesanan dan pengambilan makanan.


“Aduh Angel, kenapa harus cepat-cepat pergi sih,” bisik Rosie.


“Kamu gak lihat tatapan sinis dari seluruh perempuan disini,” seru Angelia.


“Ck, mereka hanya iri saja pada kita,” seru Rosie.


“Iya kalau sampai ada yang cemburu buta, kita sendiri yang akan rugi,” seru Angelia.


Mereka sudah duduk dengan membawa nampan berisi makanan mereka dan tengah menikmati makanan mereka.


“Apa kami boleh duduk disini.” Seruan itu membuat mereka berdua menoleh ke sumber suara.


“Oho oho oho....” Rosie terbatuk-batuk saat melihat sosok Regan dan Nickolas disana dengan membawa nampan. Angelia hanya menatapnya dengan tatapan galak dan Regan tidak mempedulikan itu.


“Si-silahkan Direktur,” seru Rosie dengan cepat kilat berkata. Angelia tak bersuara dan hanya menghela nafasnya saja seraya menikmati makanannya kembali.


Regan duduk di samping Angelia dan Nickolas di dekat Rosie. Mereka menikmati makanan dengan tenang. Sedangkan bagi Rosie, ia seperti mendapatkan durian runtuh. Bahkan ia tak sanggup memalingkan pandangannya dari Regan walau hanya untuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Sedangkan Angelia, ia merasa tengah makan di atas duri dan padang pasir. Terasa begitu panas dan tidak nyaman.


“Kenapa mengabaikan pesanku?” bisik Regan membuat Angelia tertegun.


“Aku sedikit sibuk,” gumam Angelia yang masih mampu terdengar oleh Regan.


“Jangan diulangi lagi. Aku paling benci diabaikan dan di nomor duakan. Lagipula kau tidak mengerjakan pekerjaanmu juga tidak masalah. Aku adalah bosnya,” jawab Regan dengan arrogant membuat Angelia melirik ke arahnya.


“Kalau kamu mengabaikanku lagi. Aku akan membuat kehebohan lebih dari ini,” seru Regan membuat Angelia merasa sangat kesal dengan ancamannya itu.


'Berurusan dengan Regan memang bukan pilihan yang terbaik,' batin Angelia.


***

__ADS_1


__ADS_2