
Angelia terbangun di pagi hari saat mendengar kicauan burung dan sinar matahari yang menerobos masuk ke jendela, ia terduduk di atas ranjang dengan mata yang sayu karena efek menangis semalaman.
“Kenapa aku harus menangisi semua itu,” gumamnya. “Bukankah mereka memang tidak memiliki hati.” Angelia menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi rongga dadanya yang kosong, kemudian ia menghembuskannya perlahan.
Angelia bergegas menuruni ranjang dan berjalan menuju ke kamar mandi.
- - -
Angelia menuruni tangga, setelah ia sudah selesai mandi dan berpakaian.
“Selamat pagi Nona,” sapa Bibi Zhi.
“Selamat pagi Bibi Zhi.” Angelia celingak celinguk mencari keberadaan Regan yang tak dapat ia temukan disana.
“Tuan Muda ada di halaman belakang. Saya sudah membuatkan teh untuk Anda, minumlah selagi hangat.” seru Bibi Zhi.
“Terima kasih Bibi Zhi. Aku akan menemui Tuan Muda dulu,” seru Angelia dan berlalu pergi menuju halaman belakang.
Angelia melihat Regan sedang berdiri dengan memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana dan pandangannya tertuju pada kolam dimana banyak sekali ikan disana.
“Sepertinya begitu menyenangkan melihat ikan ikan itu berenang,” ucap Angelia berdiri di samping Regan yang kini menoleh ke arahnya.
“Rasanya menyenangkan memberi mereka makan dan melihat mereka berebut untuk mendapatkan makanan,” seru Regan seraya menyodorkan makanan ikan yang ia pegang ke arah Angelia.
Angelia mengambilnya dan mulai melemparkan makanan ikan itu ke kolam hingga membuat ikan ikan itu berlomba-lomba untuk mendapatkan makanan.
“Mengenai semalam, terima kasih,” seru Angelia membuat Regan melihat ke arahnya.
“Jangan melemah lagi seperti semalam,” ucap Regan membuat Angelia menatap ke arahnya. “Walau kau hanya kucing kecil, tetapi kau memiliki cakar yang tajam. Hadapi mereka dengan penuh percaya diri. Ingat, dibelakangmu ada seekor singa yang akan selalu melindungi dan mendukungmu.”
Deg
Wajah Angelia merona mendengar kata-kata Regan barusan.
“Sebaiknya kita sarapan. Aku akan mengantarmu ke kantor,” ucap Regan mengusap kepala Angelia sebelum beranjak pergi meninggalkan Angelia seorang diri.
'Regan!'
Angelia dan Regan telah sampai di kantor dan kini Angelia mulai disibukkan dengan beberapa pekerjaan yang setiap hari selalu menumpuk. Syukurnya ia memiliki rekan kerja seperti Nickolas yang bisa bekerja cepat dan membantunya menyelesaikan pekerjaan ini hingga memudahkan Angelia menyelesaikannya.
Dering dari handphone mengalihkan perhatian Angelia dari layar komputer ke layar handphonenya, tertera nama sang kera disana.
“Ada apa dia menghubungiku di jam segini,” gumam Angelia menerima panggilan itu.
“Hallo”
“......”
“Siang nanti?”
“......”
“Baiklah.”
Angelia memutuskan sambungan telponnya, Cristian mengajaknya untuk makan siang bersama.
***
Dan disinilah sekarang, Angelia bersama Cristian di salah satu restaurant yang tidak jauh dari kantor Angelia. Mereka memesan makan siang mereka.
“Jadi apa yang kamu kerjakan selama aku dinas keluar kota?” tanya Cristian.
“Tidak ada. Aku hanya bekerja,” jawab Angelia dengan santai.
“Aku dengar kamu kemarin malam menghadiri Gala Charity Party bersama dengan Mr. Danial,” seru Cristian membuat Angelia menatap ke arahnya.
“Itu benar. Aku menemaninya ke acara itu,” jawab Angelia masih dengan nada tenang.
__ADS_1
“Kenapa tidak mengatakannya padaku sebelumnya? Bahkan aku harus mendengarnya dari Caroline,” seru Cristian tampak kesal.
“Kenapa kau begitu kesal? Aku saja tidak marah kau pergi dinas bersama Caroline,” seru Angelia membuat Cristian membeku di tempatnya.
“Bagaimana kamu tau?” seru Cristian kaget.
“Kenapa begitu kaget? Aku tau darimana, itu tidaklah penting,” ucap Angelia.
Seorang waiters datang dan menyajikan pesanan mereka.
“Angel, aku bisa jelaskan! Ini tidak seperti yang kamu pikirkan,” seru Cristian menjadi gelisah.
“Santai saja Crist. Memangnya seperti apa yang aku pikirkan?” tanya Angelia dengan santai. “Sebaiknya kita nikmati saja makan siang kita.”
Angelia menikmati makan siangnya dengan tenang seakan tidak terpengaruh apapun, Cristian akhirnya ikut menikmati makanannya dengan sesekali melirik ke arah Angelia berusaha menebak apa yang Angelia pikirkan.
***
Angelia kembali ke kantornya dan Regan langsung memanggilnya ke ruangannya.
“Anda memanggil saya, Sir?” tanya Angelia saat sudah berdiri di hadapan Regan yang duduk angkuh di kursi kebesarannya.
Regan menunjukkan atmosfer tidak bersahabat disana, membuat Angelia merasa gugup.
“Buatkan aku kopi,” seru Regan yang diangguki Angelia. Ia bergegas keluar ruangan dan membuat kopi untuk Regan.
“Sebenarnya apa yang dia harapkan dari pemimpin perusahaan GU itu. Apa aku tidak lebih kaya darinya,” seru Regan tampak tidak senang. Ia mengetahui kalau Angelia makan siang keluar bersama dengan Cristian.
Selang 5 menit, Angelia kembali masuk dengan membawa segelas kopi. Ia berjalan mendekati Regan.
“Oh Tuhan!”
Angelia memekik saat hak sepatunya tergelincir dan membuatnya jatuh ke lantai, kopi yang ia pegang pun tumpah menimpa tubuhnya di bagian dada.
“Astaga Angel!” Regan segera membantu Angelia berdiri dari duduknya.
“Bodoh! Kopi itu masih mendidih dan masih sangat panas!” Regan segera menggendong tubuh Angelia dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
“Cepat dinginkan dengan air dingin!” seru Regan menurunkan Angelia di bawah shower dan ia langsung memutar kran hingga air dari shower jatuh mengguyur tubuh Angelia.
“Ssshhhh!” Angelia meringis saat air menerpa kemejanya dan masuk ke tubuhnya. Mengalir dan membasahi bagian dadanya yang terluka.
Regan membantu melepaskan blazer yang digunakan Angelia hingga kini hanya tersisa kemeja dan rok pendeknya saja, Regan juga melepaskan jas miliknya hingga menyisakan kemeja putihnya saja.
“Itu- biar aku sendiri saja, Direktur.” Angelia berusaha menahan rasa sakitnya dan melihat tubuh Regan juga ikut terguyur air. “Ssshhhh!”
“Jangan bergerak! Ini bukan lelucon. Suhu kopi ini tidak rendah, jika tidak ditangani tepat waktu akan menimbulkan bekas luka!” seru Regan penuh intimidasi membuat Angelia tidak bisa berkutik.
“A-apa yang Anda lakukan?” seru Angelia saat Regan mulai membuka kancing kemeja Angelia, Angelia langsung menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Angel, singkirkan tanganmu. Pakaian yang menempel pada luka akan menyebabkan peradangan. Kalau dibiarkan nanti akan meninggalkan bekas,” seru Regan.
'Bagaimana ini. Kalau begitu akan terlihat semuanya olehnya,' batin Angelia.
“Ti-tidak perlu Direktur,” ucap Angelia dengan bibir bergetar karena kedinginan.
'Walau aku tau dia hanya ingin menolongku, tetapi ini benar-benar sangat memalukan!' Batin Angelia.
“Patuhlah Angelia. Singkirkan tanganmu,” seru Regan menarik tangan Angelia menjauh dari dadanya dan Angelia tak mampu melawannya.
Angelia akhirnya membiarkan Regan membuka satu persatu kancing kemejanya. Setelah lepas semua, Regan melepaskan kemeja Angelia hingga kini hanya menyisakan kain yang menempel di dadanya. Regan melihat luka merah di bagian dadanya itu.
“Biarkan airnya langsung membasuh lukanya.”
Deg
Seketika Regan terpaku dengan Angelia yang hanya memakai bagian bawah dan branya saja, itu membuatnya menjadi tidak nyaman. Regan berdehem dan memalingkan wajahnya.
__ADS_1
“Itu- aku akan melakukan sisanya sendiri. Kamu bisa keluar saja,” seru Angelia memalingkan wajahnya yang sudah memerah menahan malu.
“Dibutuhkan air dingin untuk membasuh luka selama 30 menit. Apakah kamu tidak kedinginan? Jika kamu masuk angin, apa yang harus aku lakukan?” seru Regan yang menghapus jarak di antara mereka.
“Lagipula sebelumnya aku sudah pernah melihat semua ini,” gurau Regan dan itu mampu membuat wajah Angelia memerah seperti kepiting rebus.
“Aku tidak masuk angin. Tubuhku dalam keadaan sehat,” ucap Angelia. “Hacuhhhh!”
“Uh!” Angelia merasa malu karena tingkah konyolnya itu, Regan hanya tersenyum kecil.
“Patuhlah kucing kecil,” seru Regan melepaskan kemejanya hingga kini bertelanjang dada memperlihatkan dada bidangnya dan tubuhnya yang kekar juga sangat menawan, Angelia sesekali melirik dan terpaku melihat karya indah di hadapannya itu.
Regan langsung memeluk tubuh Angelia dan menempelkan kulit tubuhnya yang keras nan kekar ke kulit tubuh Angelia yang halus dan lembut.
“A-apa yang sedang kamu lakukan?” seru Angelia semakin merasa tak nyaman.
“Dengan begini tidak akan membuatmu masuk angin,” Regan berbisik pelan.
'Dia menggunakan tubuhnya untuk membuatku tetap hangat!' Batin Angelia.
Perlahan tangan Angelia memeluk tubuh Regan.
'Berpelukan telanjang seperti ini... ada panas dari kulit tubuhnya yang kencang, suara air yang lembab dan berirama, nafasnya yang hangat di telingaku. Panas dan dingin saling berkaitan, tubuhku rasanya seperti terbakar!' Batin Angelia.
“Direktur, aku-“ Angelia merasa tubuhnya mulai tidak nyaman, ada sesuatu yang menggelitiknya dan membuatnya ingin sekali meluapkan semua yang tertahan itu.
'Tunggu! Yang di bagian bawah, yang menabrakku dan terasa begitu hangat ini adalah...?'
“Di-direktur, kamu-?” seru Angelia semakin tidak nyaman dan cukup syok membuatnya menjadi gelisah. “Itu kamu kenapa?”
Regan membuka matanya dan terlihat tersiksa. “Ini juga pertama kalinya aku menyentuh kulit tubuh seorang wanita dan begitu intim. Itu reaksi yang normal bagi tubuh seorang pria.”
Regan mengatakannya dengan satu kali tarikan nafas, ia benar-benar tersiksa.
“Ta-tapi...”
“Berhenti bergerak, Angel. Jika kamu tidak ingin terjadi sesuatu yang lebih dari ini,” peringatan Regan membuat tubuh Angelia membeku dan kaku.
'Aku... Aku tidak ingin terjadi sesuatu! Astaga! Ternyata disanannya pria bisa begitu panas seperti gunung berapi yang siap meletus,' batin Angelia.
Angelia mulai merasa sesuatu di bagian bawahnya berdenyut dan gatal membuatnya merasa sangat tidak nyaman dan juga terasa panas. Ini juga pengalaman pertamanya merasakan hal seperti ini.
'Ke-kenapa aku merasa seluruh tubuhku memanas dan begitu tak nyaman. Bagian bawahku pun terasa menghangat dan aku merasakan sesuatu di dalam tubuhku,' batin Angelia.
“Direktur... Direktur tunggu sebentar. Tubuhku... Aku merasa tidak nyaman,” seru Angelia mulai bernafas tidak beraturan.
“Sudah aku katakan jangan bergerak!” seru Regan melepaskan pelukannya.
“Tapi tubuhku sangat tidak nyaman,” seru Angelia.
Regan menelan ludahnya sendiri saat melihat guyuran air membasahi tubuh seksi Angelia yang putih mulus. Bekas luka itu sudah menghilang, Angelia terlihat terengah dengan posisi bersandar ke dinding kamar mandi.
“Aku sudah menahannya dan itu tidak tertahankan,” seru Regan menelam salivanya sendiri. “Kamu adalah seorang wanita yang sangat menggoda.”
“Direktur...”
Regan kembali menghapus jarak di antara mereka dan mengunci kedua tangan Angelia dengan sebelah tangannya di atas kepala Angelia.
“Apakah nyaman saat bersentuhan begini, kucing kecil? Kau sungguh sangat menggoda. Apakah kamu tau bagaimana cara melayaniku?” seru Regan.
'Apa yang dia katakan? Panas sekali! Aku tidak bisa berpikir!' Batin Angelia.
“Maaf Angelia, aku sudah berusaha menahannya.” Regan langsung memagut bibir pucat Angelia dan menciumnya dengan penuh nafsu. Angelia tidak menolaknya dan ia malah merasa nyaman dengan perlakuan Regan itu.
Tangan Regan yang bebas mulai menyentuh bagian dadanya, ia bahkan melepaskan pengait kain tipis itu hingga kini bagian dada Angelia terekspos jelas di hadapannya. Tangannya tidak mampu menahan lagi untuk tidak menyentuh dan memainkannya, Regan melepaskan ciumannya dan menatap wajah Angelia yang penuh gairah.
'Kamu begitu sensitive, kucing kecil. Angel, hanya aku yang boleh melihatmu begitu manis begini dan kamu hanya bisa menjadi milikku! Cepat atau lambat suatu hari nanti, kamu hanya akan menjadi milikku!' Batin Regan dan kini mulai menciumi bagian dada Angelia dengan begitu lembut, hingga membuat Angelia hanyut ke dalam kenikmatan Itu.
__ADS_1
***