
Disisi lain Mr. Kim mengamuk dan masuk ke dalam ruangan dimana sebelumnya ia bertemu dengan Caroline, ternyata disana Caroline masih duduk bersantai dan minum bersama Rosie seakan sedang merayakan sesuatu.
“Dasar sial, kau menipuku!” pekiknya sangat marah hingga mengagetkan Rosie dan Caroline.
“Mr. Kim?” seru Caroline sangat kaget melihat Mr. Kim terluka di bagian pelipisnya.
“A-apa yang terjadi Mr. Kim?”
“Wanita ****** mana yang kau hadiahkan kepadaku? Dia kabur dan melukaiku seperti ini! Kau harus bertanggung jawab!” bentak Mr. Kim sangat marah.
“Apa? Dia kabur? Tetapi bagaimana bisa?”
“Kenapa kau mempertanyakannya padaku? Kau yang tidak benar memberikan hadiah kepadaku! Kesepakatan kita batal,” seru Mr. Kim sangat emosi dan berjalan keluar ruangan.
“Mr. Kim tunggu sebentar! Jangan begitu marah,” seru Caroline menahan Mr. Kim.
“Kesepakatan kita harus tetap berjalan. Aku akan mengganti kerugian Anda,” seru Caroline.
“Bagaimana cara menggantinya?” seru Mr. Kim sangat kesal.
Caroline langsung menarik lengan Rosie untuk berdiri disampingnya.
“Bagaimana kalau dia sebagai ganti hadiah sebelumnya?” seru Caroline.
“Nona?” seru Rosie sangat kaget.
“Diamlah, kau harus menurutiku sekarang. Kau lupa dengan hutangmu padaku! Turuti saja apa yang aku perintahkan kalau kau masih ingin hidup nyaman!” bisik Caroline penuh ancaman.
“Bagaimana Mr. Kim?” seru Caroline.
Mr. Kim si pria mata keranjang itu meneliti Rosie dari atas hingga bawah.
“Ini tidak secantik dan seindah wanita sebelumnya. Tetapi tidak masalah asalkan dia bisa menyenangkanku malam ini, maka aku akan menyetujui kesepakatan kita.”
“Dia pasti akan menyenangkan Anda, Mr. Kim.”
“Ingat, jangan mengecewakanku! Atau kau akan tau akibatnya,” bisik Caroline penuh ancaman membuat Rosie tidak berdaya.
“Ikut denganku,” seru Mr. Kim menarik Rosie pergi.
“Nona?” Rosie berusaha meminta tolong tetapi Caroline hanya acuh tak acuh.
“Angelia sialan. Keberkahan apa yang dia miliki sampai dia selalu lolos dari jebakanku!” gerutu Caroline sangat kesal.
***
Angelia membuka matanya perlahan dan cahaya lampu dalam ruangan yang pertama kali ia tangkap oleh kornea matanya. Angelia membuka matanya dengan sempurna, kemudian ia melihat sekelilingnya dan bagian tangannya yang terdapat jarum infusan.
“Aku berada di rumah sakit,” gumamnya memegang kepalanya yang ternyata memakai perban.
“Kamu sudah bangun?” seru seseorang membuat Angelia menoleh ke sumber suara, pria yang semalam ia tabrak dan ia mintai tolong.
“Anda?”
__ADS_1
“Ansel Fathir Mahatma, panggil aku Ansel,” serunya memperkenalkan dirinya.
“Saya Angelia,” seru Angelia.
“Emm, terima kasih banyak karena sudah menolongku.”
“Tidak masalah. Sebenarnya aku tidak terbiasa peduli dengan sekitarku, tetapi kamu pingsan dihadapanku setelah kita bertabrakan. Maka dari itu aku rasa perlu menolongmu,” serunya penuh karisma. Tetapi tetap Regan yang paling unggul menurut Angelia.
“Kepalamu terluka dan berdarah, apa kamu tidak menyadarinya? Bahkan darahnya sudah mengering,” seru Ansel membuat Angelia terdiam.
“Aku mengalami beberapa hal yang sulit, sekali lagi terima kasih sudah membantuku,” seru Angelia.
“Aku tidak ingin hanya ucapan terima kasih,” seru Ansel.
“Eh?”
“Aku baru datang kesini, aku dari Britania dan aku belum mengetahui tempat-tempat disini. Bagaimana kalau ucapan terima kasihmu dengan menjadi guideku,” seru Ansel.
“Ah itu-“ Angelia terdiam sesaat.
‘Bagaimana mungkin aku menjadi guidenya. Regan begitu cemburuan dan bisa fatal akibatnya kalau aku pergi menemani pria ini,’ batin Angelia.
“Sebenarnya aku bekerja sebagai seorang sekretaris dan aku cukup sibuk. Tidak memiliki waktu luang,” seru Angelia tersenyum kikuk.
“Baiklah. Kalau hanya untuk makan siang atau makan malam, bagaimana? Kamu setidaknya membawaku ke restaurant paling enak disini. Bagaimana? Apa ini juga sulit, aku sudah menolongmu loh. Bahkan dari para preman-preman itu,” seru Ansel sungguh pria dengan mulut yang manis membuat Angelia kesulitan untuk menolak.
“Emm baiklah,” jawab Angelia akhirnya tidak ada pilihan lain.
“Kalau begitu beritahu aku nomor ponselmu,” seru Ansel.
“Begitu yah,” Ansel mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.
“Ini kartu namaku, ingat hubungi aku. Jadilah gadis yang bertanggung jawab,” seru Ansel penuh penekanan.
‘Bertanggung jawab untuk apa? Hah pria ini sepertinya cukup sulit menghindarinya,” batin Angelia.
“Baiklah. Aku juga akan pulang hari ini,” seru Angelia.
“Aku akan mengantarmu,” seru Ansel.
“Tidak perlu, tetapi bisakah kamu meminjamkan handphonemu padaku. Aku ingin menghubungi temanku,” seru Angelia.
“Baiklah,” seru Ansel menyerahkan handphonenya.
Angelia menghubungi Rita untuk datang menjemputnya.
***
“Sebenarnya apa yang terjadi, Angel? Kenapa kamu bisa terluka seperti ini?” seru Rita saat mereka sampai di rumah Angelia, sepanjang perjalanan tadi Rita sudah mengajukan puluhan pertanyaan yang tidak satu pun Angelia jawab.
“Siapa pria tadi dan kemana handphonemu?” seru Rita melihat luka Angelia, ada perban di pergelangan kakinya dan kepalanya. Belum lagi luka memar di pipinya dan lengannya.
“Rita, aku sangat lapar,” seru Angelia dengan wajah memelas.
__ADS_1
“Astaga! Kau ini sungguh seperti anak yang terlantar,” seru Rita seraya berjalan ke dapur untuk memasakkan sesuatu untuk Angelia.
“Ah bukan anak, tetapi kekasih yang terlantar.”
“Tutup mulutmu dan fokuslah buatkan aku makanan yang sangat enak,” seru Angelia menyandarkan kepalanya ke kepala sofa seraya memejamkan matanya.
- - -
Angelia sudah menghabiskan satu mangkuk penuh sup jagung yang dibuatkan sahabatnya itu.
“Ck, kau sedang sakit tetapi nafsu makanmu tidak berkurang,” seru Rita.
“Aku sangat kelaparan. Sejak kemarin terlalu banyak hal yang terjadi sampai aku tidak makan,” seru Angelia.
“Jadi apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Rita.
“Angelia menghela nafasnya dan mengingat kejadian kemarin.
“Caroline dan Rosie menjebakku, mereka memberikanku pada seorang pria tua mesum. Kalau aku terlambat siuman, mungkin hidupku sudah hancur,” seru Angelia.
“Haishh dua siluman rubah itu, mereka masih terus mencari masalah!” seru Rita sangat kesal.
“Lalu siapa pria tampan tadi?”
“Dia yang menolongku semalam. Dia membawaku pergi meninggalkan hotel itu dan membuatku terlepas dari pria tua mesum itu,” seru Angelia.
“Ya Tuhan, keberuntungan apa yang sedang menimpamu. Kenapa pria yang dekat denganmu tampan tampan semua. Jangan begitu rakus, Angel. Setidaknya berikan satu padaku! Kau tau, aku ini seorang jomblo yang sangat kesepian. Sehari-hari hanya bercumbu sama minyak dan ikan,” seru Rita sangat menyedihkan membuat Angelia terkekeh.
“Aku hanya menginginkan Regan. Lagipula dia yang paling tampan,” seru Angelia.
“Ya ya, karena dia kekasihmu. Aku akan berpikir kau gila kalau kau menjawab pria tadi yang lebih tampan,” seru Rita.
Angelia hanya mengedikkan bahunya.
“Ngomong-ngomong kamu akan diam saja dan tidak akan membalas apapun pada dua siluman rubah itu? Setidaknya balas mereka dan buat mereka menyesal karena mengganggumu,” seru Rita.
“Aku punya cara untuk menghancurkan Caroline dan keluarga Virendra, hanya menunggu waktu saja. Aku yakin mereka akan sangat hancur,” seru Angelia menyeringai.
“Lalu si siluman rubah Rosie gimana? Apa yang akan kau lakukan padanya,” seru Rita.
“Dia hanya diperintahkan oleh Caroline, tanpa aku membalasnya. Dia juga akan mendapatkan karmanya suatu saat nanti,” seru Angelia.
“Baiklah, sekarang cukup berbincangnya. Minum obatnya dulu dan pergilah beristirahat. Dokter bilang kamu harus istirahat total,” seru Rita menyodorkan obat beserta gelas berisi air kepada Angelia.
“Thanks.”
“Aku akan tinggal disini. Kalau butuh sesuatu katakan saja,” seru Rita.
Angelia tersenyum dan memeluk tubuh Rita dari belakang.
“Terima kasih banyak kakakku tersayang,” seru Angelia merasa beruntung memiliki Rita, sahabat terbaiknya.
Angelia tidak butuh banyak teman yang bermuka dua, dia hanya menginginkan satu orang sahabat yang benar-benar tulus.
__ADS_1
***