Terjerat Pesona Sang Direktur

Terjerat Pesona Sang Direktur
Jebakan


__ADS_3

Jessy memperhatikan Angelia yang sedang sibuk bekerja membantu Nickolas di meja Nickolas.


'Sebenarnya kenapa Direktur merekrut wanita itu sebagai sekretarisnya? Padahal pekerjaan selama ini mampu di handle oleh aku dan Nickolas berdua. Lagipula gadis itu terlihat begitu santai,' batin Jessy.


“Angel,” seruan itu membuat mereka bertiga menoleh ke sumber suara.


“Direktur, ada apa?” tanya Angelia berdiri dari duduknya.


“Bersiaplah. Kau ikut denganku menemui klien,” seru Regan.


“Baik,” jawab Angelia.


Setelah mengatakan itu, Regan kembali masuk ke dalam ruangannya.


“Kamu tidak pergi menemani Direktur, Nick? tanya Jessy.


“Kau tadi tidak dengar apa yang dikatakan Direktur. Hanya Angel yang ia minta,” jawab Nickolas dengan datar.


Nickolas memang di kenal sebagai pria datar dan dingin. Ia tidak pernah tersenyum maupun menyapa siapapun. Dia sangat jarang sekali berbicara dan selalu menjawab singkat. Kecuali kepada Regan, dia memang sekretaris yang loyal.


“Emm, pak Nickolas apa saja yang harus saya bawa yah?” tanya Angelia sungguh tidak tau dan takut melakukan kesalahan.


“Tab”


Jawaban singkat dari Nickolas sudah membuat Angelia mengerti. Ya, Angelia sudah mulai memahami Nickolas. Sudah 3 hari ia bekerja menjadi sekretaris disini, ia sudah paham cara pembicaraan Nickolas yang hanya mengeluarkan beberapa kata saja dan sisanya Angelia harus menebaknya sendiri. Syukurlah ia cukup pintar, jadi dia tidak kebingungan memahami pekerjaannya itu.


“Ayo pergi,” seru Regan yang sudah keluar dari ruangannya dengan sudah mengenakan setelan jasnya.


“Sekalian bawa tasmu, kita tidak akan kembali ke kantor,” seru Regan kembali.


“Emm baiklah.” Angelia bergegas membawa tas kerjanya.


“Nick, kau tetap di kantor dan handle beberapa pekerjaanku. Kalau ada tamu yang datang, sampaikan aku sedang ada pekerjaan diluar dan buatlah janji kembali,” seru Regan.


“Baik.”


Regan berjalan lebih dulu, diikuti Angelia yang berjalan dengan memeluk tabnya. Nickolas dan Jessy kembali duduk saat sebelumnya mereka berdiri dari duduknya untuk memberi hormat kepada Direktur.


“Apa kau sudah makan siang? tanya Regan saat mereka berada di dalam lift.


“Emm belum,” jawab Angelia.


“Kalau begitu kita makan siang dulu baru bertemu dengan klien,” seru Regan.


Angelia hanya diam saja tanpa mengiyakan. Telpon Regan berdering membuat ia mengangkat telponnya dan mulai sibuk berbicara dengan seseorang di seberang sana. Angelia diam-diam memperhatikan Regan dari sampingnya.


'Sebenarnya kenapa? Kenapa kamu begitu perhatian kepadaku. Sebenarnya apa yang kamu harapkan dariku? Aku sangat tidak paham dengan semua perhatian darimu ini,' batin Angelia.


“Ada apa?” tanya Regan ternyata sudah menyelesaikan telponnya dan kini menatap ke arah Angelia.


“Eh?”


Sebelum Angelia menjawab, pintu lift sdh terbuka lebar membuat mereka akhirnya memilih berjalan keluar dari lift.


- - -


Kini mereka sudah duduk berhadapan di sebuah restaurant. Tanpa bertanya, Regan sudah langsung memesankan makanan berbahan dasar daging dengan kualitas terbaik. Ia tau kalau Angelia pecinta daging.

__ADS_1


“Bagaimana bekerja bersama Nickolas?” tanya Regan.


“Cukup menyenangkan. Hanya harus lebih cerdik saja untuk memahami maksudnya,” seru Angelia membuat Regan tersenyum.


“Itulah menariknya dia,” seru Regan.


Pesanan mereka pun datang.


“Terima kasih,” seru Angelia pada pelayan itu yang kini sudah berlalu pergi.


“Makanlah yang banyak, aku sengaja memesan ini semua untukmu. Supaya kamu lebih berisi,” seru Regan membuat Angelia mengernyitkan dahinya bingung.


“Maksud Anda apa? Aku tidak berisi bagaimana?” seru Angelia karena merasa badannya tidak begitu kurus.


“Ck, kau bahkan tidak sadar. Lihatlah bahkan tidak terlihat,” seru Regan dengan tatapan tajamnya terarah pada bagian dada Angelia.


“Eh? Apa maksud Anda? Dasar mesum!” seru Angelia langsung menyilangkan kedua tangannya di dada membuat Regan terkekeh.


“Makanlah,” seru Regan mulai menikmati makanannya.


Angelia hanya bisa mencibir dan menikmati makanannya.


***


“Angelia,” seru Jessy saat Angelia tengah mengerjakan sesuatu di laptopnya.


“Ada apa?” tanya Angelia.


“Kamu tolong carikan berkas ini yah di gudang penyimpanan berkas yang ada di ujung lorong sana,” seru Jessy menyerahkan satu lembar kertas.


“Baik,” seru Angelia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju gudang penyimpanan di ruangan itu.


'Gudang itu ada di ujung lorong dan jarang sekali orang melalui lorong itu. Kali ini kau akan dapatkan akibatnya, dasar perempuan penjilat,' batin Jessy.


Angelia masuk ke dalam gudang itu dan mulai mencari berkas yang dibutuhkan. Ia tampak fokus mencari berkas.


Bruk


Suara pintu tertutup rapat membuatnya menoleh dan berjalan menuju pintu. “Kenapa pintunya tertutup,” gumamnya.


Angelia berusaha membuka pintu itu tetapi sulit. “Di kunci, bagaimana ini. Hei,, siapa diluar! Buka pintunya,” teriak Angelia menggedor pintu tetapi tak kunjung terbuka.


Ia juga lupa tidak membawa handphonenya. Sial sekali! Sebenarnya siapa yang sudah menjebaknya disini. Pikir Angelia.


“Eh?” pekik Angelia saat lampu gudang mati begitu saja.


“Ke-kenapa lampunya mati? Dimana saklarnya,” gumam Angelia.


Tubuh Angelia mulai bergetar dan keringat dingin bercucuran di tubuhnya.


“Tolong!!! Siapapun tolong aku...” teriak Angelia sangat ketakutan.


Ia berjalan perlahan dengan tatapan siaga penuh ketakutan dan kecemasan.


“Ah siapa itu!” pekiknya berbalik badan.


Ia berdiri dengan tatapan cemas penuh ketakutan. Ia merasa di ruangan itu ada mata dan tangan tak kasat mata yang sedang mendekatinya, selain itu ia merasa dinding ruangan itu bergerak dan semakin menghimpitnya. Ia juga mendengar suara-suara tak jelas dan begitu menakutkan.

__ADS_1


“Tidak... tidak...!!! Pergi pergi!” teriak Angelia mulai meracau penuh ketakutan hingga menangis. Ia terduduk di lantai dengan kedua tangan menutup kedua telinganya.


“Tolong... Siapapun tolong aku...” Angelia sudah menangis terisak penuh ketakutan. “Tolong... aku sudah tidak bisa bernafas.”


Angelia menundukkan kepalanya dan masih terus menangis penuh ketakutan.


'Kenapa? Kenapa aku masih begitu lemah...' batin Angelia.


***


Bruk


“Angelia!”


Mendengar itu, ia menengadahkan kepalanya dan tatapannya yang sudah mulai berkabut dapat melihat samar-samar sosok tampan yang terlihat begitu khawatir menghampirinya.


“Re-regan...” Angelia kehilangan kesadarannya dan saat itu juga Regan menahan kepala Angelia supaya tidak sampai terjatuh membentur lantai.


Dengan sigap, Regan mengangkat tubuh Angelia ala bridal. Ia berjalan cepat keluar dari ruangan. Banyak tatapan tertuju kepada mereka berdua selama perjalanan Regan menuju keluar kantor. Regan mengabaikan semua tatapan dari para karyawannya dan focus pada Angelia yang kini kehilangan kesadarannya.


***


“Eummm...”


Angelia membuka matanya perlahan dan pertama kali yang mampu ia lihat adalah cahaya dari lampu dan langit-langit ruangan berwarna putih.


“Kamu sudah sadar,” seru seseorang membuat Angelia menoleh ke sumber suara. Ia melihat sosok Regan disana.


“Direktur?” gumam Angelia menatap Regan yang tengah berdiri dengan bersedekap. Kemudian ia menatap sekeliling dan ternyata ia tengah berada di rumah sakit. Angelia ingat tadi ia terjebak di dalam gudang.


“Apa Anda yang menyelamatkan saya?” gumam Angelia.


“Menurut kamu?” seru Regan kini berjalan mendekati Angelia dan sedikit membungkuk ke arah Angelia.


“Itu... itu terima kasih,” seru Angelia merasa gugup dengan posisi mereka.


“Kamu memiliki phobia? tanya Regan membuat Angelia tertegun.


“Sa-saya phobia ruangan gelap,” seru Angelia.


“Dokter berkata kamu hanya perlu beristirahat saat ini. Besok kamu sudah boleh pulang,” seru Regan.


“Terima kasih Direktur.”


“Kau boleh memanggilku Regan saat kita tidak sedang di kantor,” seru Regan dengan tatapan lembutnya.


“Bagaimana bisa. Anda adalah atasan saya,” seru Angelia.


“Maka dari itu menurutlah dan panggil aku Regan,” ucap Regan tanpa bantahan.


“Emm...” ucapan Angelia terhenti karena Dokter datang untuk memeriksa kondisi Angelia. Regan pun memberi ruang untuk Dokter.


“Bagaimana kondisinya saat ini?” tanya Regan saat Dokter telah selesai memeriksa kondisi Angelia.


“Dia sudah lebih baik. Besok sudah boleh pulang,” ucap Dokter dan beranjak pergi.


“Beristirahatlah. Aku akan membeli makanan untukmu,” seru Regan membelai kepala Angelia membuatnya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


***


__ADS_2