Terjerat Pesona Sang Direktur

Terjerat Pesona Sang Direktur
Kenyataan Baru


__ADS_3

Angelia sedang memeriksa beberapa laporan di meja kerjanya dan juga di dalam laptop. Perusahaan ini telah di kelola oleh Virendra dalam kurun waktu yang lama, ia ingin tau apa saja yang telah dilakukan oleh Virendra untuk perusahaan ini.


“Angelia,” panggilan itu membuat Angelia menoleh ke sumber suara. Di depan pintu terlihat Virendra masuk begitu saja.


“Maafkan saya Miss. Mr. Virendra masuk begitu saja,” seru Sisil yang merupakan sekretaris Angelia.


“Tidak apa-apa. Kau boleh meninggalkan kami berdua,” seru Angelia yang diangguki Sisil dan pergi meninggalkan ruangan.


Angelia duduk bersandar dengan angkuh dan melipat kedua tangannya di dada.


“Mari minum kopi bersama di suatu tempat. Aku ingin bicara denganmu,” seru Virendra dengan nada lembut.


“Tidak ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda,” jawab Angelia dengan nada datar.


“Angelia, kamu tetaplah anakku. Kita pernah menjadi keluarga, jadi jangan membesar-besarkan masalah. Mengenai perusahaan ini kita bisa bicarakan dengan baik-baik,” seru Virendra.


“Kalau kamu memang ingin bekerja disini, maka Ayah akan dengan senang hati menerima kamu. Tetapi untuk menjadi Direktur Utama, tidakkah itu terlalu cepat, Nak? Apalagi kamu belum memiliki pengalaman apapun di dunia bisnis ini,” jelas Virendra.


“Keluarga, apa saya tidak salah dengar? Lalu bagaimana dengan yang terjadi di masalalu? Kenapa Anda tidak memikirkan saat Anda menyakitiku dan Ibuku, juga merebut semua harta milik Ibu dan Kakekku?” sindir Angelia dengan nada tajam membuat Virendra diam membisu.


“Jadi sebaiknya mari kita bicarakan mengenai sisa saham Anda,” Angelia berdiri dari duduknya dan berjalan mengitari setengah meja. Kemudian ia berdiri dengan angkuh dengan kembali melipat kedua tangannya di dada.


“Saya memiliki penawaran yang menarik untuk Anda, saya akan memberikan tanah yang ada di daerah M untuk Anda. Tanah itu cukup luas dan Anda bisa membuka usaha perkebunan yang Anda inginkan. Sebagai gantinya serahkan 25% saham Anda kepada saya,” seru Angelia dengan tenang.

__ADS_1


“Kau! Sombong sekali kau!” seru Virendra sangat kesal.


“Kau berniat mengusirku dari perusahaan ini!”


“Pikirkan baik-baik Mr. Virendra. Kalau Anda tetap bersikeras untuk memimpin perusahaan ini, apa Anda memiliki pendukung? Lalu mau dibawa kemana perusahaan ini selanjutnya, belum lagi hutang yang Anda miliki. Rumah dan property milik Anda tidak cukup untuk menutup semua hutang Anda itu dan jangan lupa kalau saya juga tidak akan pernah tinggal diam. Kau tau siapa orang yang ada di belakangku, bukan?” seru Angelia membuat Virendra terdiam.


“Bukankah saya masih memiliki hati nurani dengan memberikan tanah milik Ibu yang selalu menjadi incaranmu dan bukankah sejak dulu kamu begitu menginginkan sebuah perkebunan, di banding usaha di bidang entertainment seperti ini. Bukankah Anda lebih tertarik dengan bisnis perkebunan? Seperti yang sudah Anda lakukan pada anak perusahaan Virendra Production di kota S. Jadi kenapa tidak Anda terima saja penawaran dari saya,” seru Angelia.


“Lalu kenapa?” tanya Virendra membuat Angelia menaikkan sebelah alisnya.


“Kenapa kamu masih menolongku? Kenapa kamu memberikan lahan itu, bahkan Ibumu pun tidak pernah memberikannya padaku,” seru Virendra.


Angelia menghela nafasnya dan berjalan menuju dinding pembatas, ia berdiri memunggungi Virendra dan menatap keluar dimana banyak orang berlalu lalang dan kendaraan yang ramai.


“Seperti yang Anda katakan tadi, kita pernah menjadi sebuah keluarga. Saya masih ingat saat masih kecil, kamu selalu mengajakku bermain dan menggendongku walau itu hanya untuk sesaat sebelum kamu membawa pulang selingkuhan dan anakmu,” seru Angelia dengan mata yang berkaca-kaca.


“Aku tau kesalahanku sangatlah besar padamu dan Ibumu. Aku sudah cukup berterima kasih kamu masih peduli dengan hidupku dengan memberikan lahan itu. Aku akan menyerahkan saham 25% itu padamu. Bagaimanapun juga semua itu bukanlah milikku,” seru Virendra terdengar lemah.


“Tetapi sebelum aku pergi, aku masih ingin mengatakan sebuah kenyataan penting kepadamu. Alasan kenapa aku melakukan semua ini pada Ibumu,” seru Virendra menundukkan kepalanya diiringi helaan nafas berat.


Angelia masih diam membisu, ia seakan menunggu kelanjutan dari ucapan Virendra.


“Maafkan aku, sebenarnya aku sangat mencintai Ibumu dan kamu tidak bersalah akan hal ini. Hanya saja rasa sakit dihatiku begitu besar dan dalam, sampai membuatku buta dan begitu ingin membalas dendam. Kenyataannya setelah aku merebut semua harta milik Anne, bahkan mengetahui Ibumu meninggal, membiarkanmu hidup di panti asuhan. Tetapi semua itu sama sekali tidak membuatku puas dan merasa menang, aku selalu saja ingin marah setelah melihatmu. Padahal aku tau kamu tidak bersalah sama sekali. Ini hanya karena ada darah bajingan itu di dalam tubuhmu,” seru Virendra membuat Angelia kaget hingga membuatnya menoleh ke arah Virendra.

__ADS_1


“Apa maksudmu? Darah bajingan siapa?” seru Angelia menatap Virendra dengan tatapan menuntut.


“Angelia, sebenarnya kamu bukanlah putri kandungku.”


Deg


“Saat Kakekmu menemuiku untuk menikahi Ibumu. Ibumu sudah dalam keadaan mengandung,” seru Virendra semakin membuat Angelia kaget.


“Aku memang mencintai Ibumu, bahkan saat kami masih sama-sama di senior high school aku sudah menyimpan perasaan kepadanya. Tetapi Ibumu tidak pernah membalas cintaku, dia bahkan tidak pernah memandangku. Saat itu Kakekmu datang dan memintaku untuk menikahi Anne yang saat itu dalam kondisi mengandung karena pria yang sudah menghamilinya meninggalkannya begitu saja tanpa kabar. Karena takut reputasi keluarga Calief hancur, dia memintaku menikahi Anne. Aku yang saat itu hanya seorang pria yatim piatu yang bahkan tidak memiliki masa depan yang cerah. Aku kebetulan bekerja untuk Kakekmu di perusahaan ini. Hari itu Kakekmu tiba-tiba datang ke rumahku dan mengatakan maksudnya. Aku yang memang mencintai Anne, tidak banyak pertimbangan lagi langsung menerima penawaran dari Kakekmu. Aku memiliki kesempatan untuk bersama dengan Ibumu, tetapi sayangnya walau sudah menikah dia tetap menjaga jarak dariku. Dia menutup dirinya dariku dan bahkan dia tidak pernah mau tidur satu ranjang denganku!” pekik Virendra.


“Aku kalut dan frustasi, aku hanya dimanfaatkan saja. Sedangkan Ibumu masih bersikap dingin padaku dan tetap mencintai bajingan itu. Aku Akhirnya memiliki hubungan dengan Suya hingga memiliki Caroline, apa menurutmu aku salah karena berselingkuh? Sedangkan Ibumu yang merupakan istriku menolakku mentah-mentah. Aku sangat marah dan membenci kalian, aku ingin membalas dendam. Tetapi semua yang aku lakukan malah semakin membuatku sengsara,” seru Virendra terlihat emosional.


Kenyataan baru lagi membuat Angelia terpaku dan tidak bisa berkata apapun. Pantas saja Virendra sangat tidak peduli dan jahat kepadanya, berbeda dengan perlakuan Virendra terhadap Caroline yang begitu perhatian dan sangat memanjakannya. Jadi ini alasan semuanya, akhir kenapa Virendra begitu dendam terhadap Ibu dan dirinya.


“Aku akan menerima kesepakatan kita dan aku berjanji aku tidak akan pernah datang lagi mengusik kehidupanmu. Aku berharap kamu bisa bahagia,” seru Virendra begitu tulus.


Angelia memalingkan wajahnya, ia sekuat tenaga menahan air mata yang ingin jatuh membasahi pipinya.


“Aku akan menyiapkan berkasnya,” seru Angelia membalikkan badannya memunggungi Virendra.


“Baiklah,” jawab Virendra menatap Angelia dengan tatapan sendu, ia pun beranjak pergi meninggalkan Angelia seorang diri.


Saat mendengar suara pintu di tutup, tubuh Angelia oleng sampai ia harus berpegangan pada ujung meja.

__ADS_1


‘Pantas dia tidak pernah menyayangiku, ternyata ini alasannya. Dia memiliki dendam pada Ibu, lalu siapa pria itu? Siapa pria yang sudah menghamili dan meninggalkan Ibu? Lalu apa hubungannya dengan seseorang yang membunuh Ibu. Pria itu, aku yakin dia tidak memiliki hubungan dengan Virendra,’ batin Angelia.


***


__ADS_2