
'Ternyata dia dengan mudah menahan tinjuku. Habislah aku!' Batin Angelia memejamkan matanya dengan tubuh bergetar.
“Angelia jangan panik, tenanglah. Ini aku.”
Deg
Angelia sangat kaget saat seseorang menarik tubuhnya ke dalam pelukan hangatnya.
'Suara ini...'
“Jangan takut. Aku sudah ada disini,” serunya.
'Regan Danial...'
Angelia melepaskan pelukannya dan menatap pria di depannya, dia benar-benar adalah Regan.
“Di-direktur,” gumam Angelia.
'Aku sudah aman sekarang. Setelah merasa lega, aku merasa seluruh tubuhku sakit dan kaku. Juga perasaan aneh ini, sungguh membuatku tidak nyaman,' batin Angelia.
Regan mengerutkan dahinya saat ia memegang kedua pundak Angelia. Ia menatap tubuh Angelia yang penuh luka lebam, tumpahan anggur dan pakaiannya yang robek di bagian lengan juga di dadanya walau tidak begitu besar. Melihat semua itu, Regan menggertakkan giginya penuh amarah. Ia langsung membawa Angelia ke dalam gendongannya.
“Mereka ada dimana?” tanya Regan terdengar begitu menakutkan membuat Angelia merasa takut melihat aura gelap yang menyelubungi tubuh Regan.
“Di gedung itu,” seru Angelia menatap Regan yang terlihat mengerikan saat marah.
“Bereskan mereka semua!” Seru Regan. Angelia baru sadar kalau Regan tidak datang seorang diri, ada tiga orang bodyguard di belakangnya.
“Baik Sir.” Mereka bertiga langsung menuju tempat para penjahat itu.
Regan berjalan meninggalkan tempat itu dengan menggendong tubuh Angelia menuju mobilnya.
“Ah tubuhku terasa aneh,” racau Angelia saat seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat dingin yang membuatnya sangat tidak nyaman.
“Angel, kamu kenapa?” tanya Regan menyentuh kening Angelia.
Regan memperhatikan Angelia. “Sepertinya memberikan sesuatu pada Angelia,” gumam Regan.
“Pergi ke Villaku,” seru Regan kepada supirnya.
- - -
Regan masih menggendong Angelia dan membawanya masuk ke dalam villa miliknya.
“Emm panas, ah rasanya panas sekali. Tubuhku terasa aneh,” racau Angelia dengan mata terpejam.
Regan membawa masuk Angelia ke dalam kamarnya dan memasuki kamar mandi. Ia kemudian merebahkan tubuh Angelia di dalam bathtub, kemudian menyalakan air untuk mengisi bathtup itu. Perlahan tubuh Angelia terendam oleh air dingin.
“Maafkan aku Angelia, tapi aku harus melakukan ini,” seru Regan terpaksa merobek pakaian Angelia yang sudah kotor dan melepaskannya dari tubuh Angelia.
“Eunghhh...”
Regan memalingkan wajahnya saat ia berhasil melepaskan seluruh pakaian Angelia. Ia berusaha menahan dirinya dan tidak ingin melakukan sesuatu yang akan membuat Angelia kecewa kepadanya. Regan bukanlah pria brengsek yang akan memanfaatkan situasi seperti ini.
__ADS_1
Tubuh Angelia seluruhnya sudah terendam air dan kini ia terlihat menggigil.
“Dia harus berendam setidaknya 30 menit untuk menghilangkan efek obatnya,” gumam Regan yang kini melepaskan pakaian yang ia gunakan walau masih memakai celananya.
Regan ikut masuk ke dalam bathtub dan memeluk tubuh Angelia dari belakang, setidaknya itu tidak akan membuat Angelia menggigil.
“Uhh sial!” keluh Regan yang benar-benar tersiksa dengan reaksi tubuhnya. Dia adalah pria normal dan wajar saja mendapat respon seperti itu saat tubuhnya bersentuhan dengan seorang wanita yang ia cintai.
“Kamu benar-benar menyiksaku Angel,” bisik Regan pada telinga Angelia yang terlelap dalam pelukannya.
- - -
Regan sudah mengganti pakaian Angelia dan merebahkan tubuh Angelia di atas ranjang, ia juga mengobati lebam-lebam yang ada di tubuh Angelia. Kemudian menyelimuti tubuh Angelia hingga batas dada.
Regan kini duduk disisi ranjang dan menatap wajah Angelia yang terlelap.
'Tubuhnya begitu kurus, bagaimana bisa dia menerima semua penyiksaan ini!' batin Regan penuh dengan amarah.
'Tidak peduli apa yang telah kamu alami dan apa yang sudah kamu pikul. Mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan kamu sendirian menghadapi semua ini. Disaat kamu membutuhkanku, aku akan selalu ada untukmu.' Batin Regan menatap Angelia dengan intens.
“Shhh sakit... Jangan bunuh ibuku. Jangan pergi ibu,” Angelia meracau dalam tidurnya dengan tubuh yang bergetar. Bahkan dia menangis dalam tidurnya membuat Regan ikut merasakan sakit juga sedih melihatnya.
“Angelia tenanglah, jangan takut. Semuanya sudah berlalu,” bisik Regan mengecup kening Angelia dan saat itu juga Angelia mulai tenang dan kembali terlelap.
***
“Tidak...... Ibu......!!!” Angelia terbangun dari tidurnya dengan tubuh yang bergetar hebat dan sangat ketakutan.
“Di-direktur,” gumam Angelia.
Regan berjalan mendekatinya, ia menyimpan nampan di atas meja nakas dan kini duduk disisi ranjang.
“Ada apa? Apa kamu baik-baik saja?” tanya Regan. “Apa aku perlu memanggil dokter?”
“Itu tidak perlu. Aku hanya mimpi buruk,” seru Angelia memalingkan wajahnya. 'Tampangku sekarang pasti terlihat sangat menyedihkan, malah di lihat Direktur lagi.' Batin Angelia masih memalingkan wajahnya karena malu.
“Sini, ulurkan tanganmu,” seru Regan mengambil tangan Angelia membuat Angelia mengernyitkan dahinya menatap ke arah Regan.
“Direktur, apa yang Anda lakukan?” seru Angelia terpekik kaget saat Regan membawa tangan Angelia ke dada kanannya.
“Jangan takut, letakkan tanganmu disini. Rasakan detak jantungku. Hal ini bisa menghilangkan kecemasanmu,” seru Regan begitu lembut. “Mimpi buruknya sudah berlalu, mereka tidak akan bisa menyakitimu lagi.”
'Aku juga tidak akan membiarkan mereka mempunyai kesempatan untuk menyakitimu!' Batin Regan.
Deg
Deg
Deg
Wajah Angelia bersemu merah mendengar ucapan Regan yang begitu lembut dan merasuk ke dalam hati, mata mereka berdua terpaut satu sama lain.
'Sulit di percaya, tangannya yang begitu hangat dan detak jantungnya itu mampu membuatku merasakan ketenangan. Irama detak jantungnya yang tidak menentu dan terkadang berdebaran,' batin Angelia.
__ADS_1
“Mr. Danial terima kasih,” seru Angelia tersenyum tulus.
Deg
'Sial, entah itu wajahnya yang bersemangat atau tingkahnya yang penuh semangat. Yang berhubungan denganmu, semuanya begitu menawan, Angel.' Batin Regan.
“Kamu memang terlihat paling cantik saat tersenyum,” puji Regan membuat Angelia memalingkan wajahnya karena malu.
Angelia menarik tangannya dari genggaman Regan, ia sudah cukup tenang. Sampai kepingan semalam muncul begitu saja dibenaknya, ia juga mengingat saat Regan memeluknya di dalam bathtub dan itu membuat matanya membelalak dan wajahnya menjadi semakin memanas.
Angelia langsung menatap tubuhnya dibalik selimut dan terlihat memakai piyama tidur.
“Ini?”
“Pakaianmu yang semalam sudah tidak bisa di gunakan lagi. Jadi aku menggantikannya,” jawab Regan masih terdengar tenang.
“Semalam kita?”
“Tidak terjadi apapun Angelia, aku masih menghargai dirimu. Aku hanya membantumu mengganti pakaian,” seru Regan.
'Tapi semalam kita di dalam bathtub dan aku tidak memakai pakaian. Bagaimana ini bisa terjadi,' batin Angelia semakin memerah. 'Tapi aku juga tidak bisa menyalahkan Mr. Danial, dia sudah membantuku.'
“Aku bisa pastikan kalau semalam tidak terjadi apapun,” seru Regan.
“Aku mempercayainya,” gumam Angelia.
Setelah beberapa saat saling terdiam, Angelia kini menatap ke arah Regan.
“Bagaimana Anda bisa menemukan saya?”
“Aku memasang alat pelacak di kalungmu,” seru Regan membuat Angelia tertegun.
Kemarin ia ke salon dan Mr. Calvin yang menyiapkan gaun beserta aksesorisnya, tidak menyangka kalau ternyata Direktur yang menyiapkan semuanya.
“Aku melakukan itu karena aku tidak percaya Calvin bisa melindungimu dan ternyata memang kejadian,” seru Regan membuat Angelia kembali bersemu merah.
“Aku sangat berterima kasih untuk semua bantuan Mr. Danial,” seru Angelia. 'Dia selalu menolongku setiap aku kesulitan. Bagaimana aku bisa membalas budi kepadanya,' batin Angelia.
“Hanya ucapan terima kasih?” tanya Regan membuat Angelia menatapnya.
“A-apa yang Anda inginkan?” tanya Angelia.
“Saat ini belum terpikirkan. Aku akan mengatakannya saat aku sudah memikirkannya,” seru Regan.
“Baiklah.”
“Sekarang sarapan dulu. Ini masih hangat,” seru Regan mengambil mangkuk bubur.
“Aku bisa makan sendiri,” seru Angelia ingin merebut mangkuk di tangan Regan.
“Tidak perlu. Biar aku yang melakukannya,” seru Regan tanpa ingin di bantah. Angelia pun mengalah dan menerima suapan dari Regan.
***
__ADS_1