
Saat ini Angelia berada di dalam mobil milik Regan. “Terima kasih banyak untuk hari ini Direktur,” seru Angelia membuat Regan yang duduk disampingnya menoleh kearahnya.
“Aku tidak ingin hanya ucapan terima kasih.”
“Hmm lalu?” tanya Angelia merasa bingung.
“Jose, kita ke Villa!” seru Regan kepada supirnya.
“Baik bos.”
“Ehh kenapa ke Villa?” tanya Angelia merasa sangat bingung.
“Aku ingin makan siang di Villa. Kamu yang memasak,” seru Regan dengan santai.
“Tapi masakanku tidak seenak masakan kamu,” ucap Angelia merasa pesimis.
“Aku akan memakan apapun yang kamu masak,” seru Regan dengan begitu santai.
Akhirnya Angelia pun terdiam.
- - -
Mereka sampai di Villa milik Regan, Bibi Zhi menyambut mereka berdua.
“Kamu mau berganti pakaian dulu?”
“Tidak. Aku akan langsung memasak saja,” seru Angelia langsung berjalan menuju dapur meninggalkan Regan yang sepertinya akan ke kamarnya.
“Mau saya bantu, Nona?” tanya Bibi Zhi.
“Tidak perlu Bi, saya akan menyelesaikannya sendiri. Doakan saja semoga masakanku tidak akan mengecewakan,” seru Angelia memakai celemeknya.
“Itu pasti,” kekeh Bibi Zhi.
'Gadis ini sangatlah baik, dia memang sangat cocok dengan Tuan Muda yang selama ini begitu dingin dan tertutup. Semoga harapan Nyonya Agneta ada di diri gadis cantik ini,' batin Bibi Zhi.
“Saya ada di kamar, kalau Nona Angelia butuh sesuatu. Panggil saya saja,” seru Bibi Zhi.
“Baik Bi.”
Sepeninggalan Bibi Zhi, Angelia mulai mengeluarkan bahan-bahan dari dalam kulkas dan menyimpannya di pantry. “Aku masak apa yah,” gumamnya saat melihat semua bahan.
“Sepertinya aku punya ide,” gumamnya mulai mencuci semua bahan untuk di masak.
__ADS_1
“Bagaimana, sudah terpikirkan mau memasak apa?” tanya Regan yang kini sudah berdiri disampingnya.
“Sudah,” jawab Angelia.
“Aku akan membantumu memotong sayuran yang sudah dicuci ini,” ucap Regan mengambil pisau dan mulai memotongnya dengan terampil dan begitu cepat bak seorang koki handal, Angelia sampai terpana melihatnya.
Saat sedang melihat ke arah Regan, bayangan kejadian waktu itu di kamar mandi kantor kembali terbayang dibenaknya membuat wajah Angelia memerah dan ia memalingkan wajahnya.
'Malam itu aku dan Regan melakukan hal seperti itu, sungguh aku tidak bisa melupakannya dan itu membuatku menjadi canggung. Bagaimana kami bisa seintim itu!' batin Angelia dengan wajah memerah.
'Tapi kenapa Regan terlihat bersikap biasa saja, mungkinkah kegiatan seperti itu sudah biasa baginya dan bagaikan angin lalu. Tapi kata-katanya saat itu-' batin Angelia.
Ini juga pertama kalinya aku menyentuh kulit tubuh seorang wanita dan begitu intim, itu reaksi yang normal bagi tubuh seorang pria.
'Apa benar itu juga pertama kalinya untuk Direktur?' batin Angelia.
'Tapi pelukan dan sentuhannya saat itu memang sangat menggoda. Bahkan membuatku begitu terbuai dan seakan merasa terbang,' batin Angelia saat kepingan bayangan kejadian itu kembali memenuhi kepalanya. 'Hei! Jangan berpikir sembarangan!'
“Kucing Kecil...” bisik Regan membuat Angelia memekik kaget. “Kamu terlalu lama mencuci sayurnya.”
Angelia langsung menghindar saat ia merasakan hawa panas di bagian telinganya, tetapi sialnya gerakan mendadak dari Angelia itu tidak sengaja membuat kakinya menginjak lantai yang basah dan membuatnya tergelincir.
'Habislah!' batin Angelia saat tubuhnya hampir membentur lantai.
Bruk
“Direktur!”
“Kenapa kamu ceroboh, Kucing Kecil. Lantainya basah,” seru Regan yang kini menatap Angelia di depannya.
“A-aku tidak sengaja,” jawab Angelia memalingkan wajahnya dengan wajah yang bersemu merah. Ini semua karena ingatannya saat kejadian itu di kamar mandi.
“Kamu sedang memikirkan apasih?”
“I-itu ke-kejadian waktu di kantor,” gumam Angelia dengan wajah yang sangat merah.
“Jadi kamu masih mengingat semuanya, apa yang terjadi hari itu?” goda Regan.
“Itu... Itu reaksi alami dari tubuh,” seru Angelia menghindari tatapan Regan.
'Kenapa aku harus terlibat dalam situasi canggung seperti ini,' batin Angelia gugup.
“Reaksi alami? Jadi siapapun yang menyentuh kamu, kamu akan bereaksi seperti kemarin?” tanya Regan dan Angelia langsung menggelengkan kepalanya cukup keras.
__ADS_1
“Ba-bagaimana mungkin. Aku bukan wanita seperti itu,” jawab Angelia dengan cepat.
“Kalau begitu, karena aku tubuhmu bereaksi seperti itu?” tanya Regan menarik dagu Angelia hingga tatapan mereka beradu satu sama lainnya.
'Apa karena dia? Aku bahkan tidak merasa kesal. Bahkan di sentuh olehnya malah membuatku ingin mendapatkan lebih,' batin Angelia.
“Kalau begitu jangan pernah bereaksi pada pria manapun selain aku,” seru Regan dengan nada posesifnya, Regan mencium bibir Angelia dengan lembut.
“Ahh gawat!” seru Angelia mendorong dada Regan saat air dari wastafel keluar dan membanjiri lantai juga membasahi tubuh mereka berdua yang masih dalam posisi rebahan di lantai.
Regan segera bangun dan berdiri tegak diikuti oleh Angelia, kemeja putih yang dikenakan Angelia ternyata sudah basah dan menjadi tembus pandang. Regan menelan salivanya sendiri melihat itu, ia segera memalingkan pandangannya begitu juga Angelia yang langsung menyilangkan kedua tangannya di dada juga memalingkan wajahnya.
“Pergilah ke kamarmu dan mandi, biar aku yang selesaikan masakannya,” seru Regan.
“Baiklah.” Angelia bergegas pergi tanpa menoleh lagi dengan wajah yang memerah.
- - -
Angelia menuruni anak tangga dan terlihat Regan masih sibuk memasak dengan celemek putihnya, ia berjalan mendekati Regan.
“A-apa yang perlu aku bantu?” tanya Angelia membuat Regan menoleh kearahnya.
“Tidak perlu. Kau duduklah dan tunggu makanannya siap,” seru Regan.
“Tapi sebelumnya aku yang berencana untuk memasak,” seru Angelia merasa tidak enak.
“Tidak apa-apa. Kamu pasti lelah, duduklah. Sebentar lagi akan selesai,” seru Regan dan Angelia mau tak mau menurutinya.
Setelah 30 menit, Regan sudah menyajikan beberapa makanan mewah di atas meja makan.
“Wah, ini sungguh sangat mewah!” Seru Angelia begitu terpana juga tergiur dengan aroma dan penampilan makanan yang tersaji dihadapannya.
Regan duduk dihadapannya.
“Cobalah,” ucap Regan.
Angelia mengambil sumpitnya dan mengambil salah satu menu disana.
'Lezat sekali... Bahkan ini lebih berkali-kali lipat enaknya. Rasa yang luar biasa meledak di ujung lidah,' batin Angelia.
“Bagaimana?” tanya Regan menunggu jawaban Angelia.
“Ini sangat lezat,” seru Angelia. Ia melupakan kesopanan dan imagenya sebagai perempuan, ia langsung melahap semua makanan di hadapannya dengan begitu lahap membuat Regan tersenyum puas.
__ADS_1
'Apa sesederhana ini membuatmu bahagia, Angelia?' batin Regan merasa senang melihat Angelia yang begitu bersemangat dan sangat bahagia.
***