Terjerat Pesona Sang Direktur

Terjerat Pesona Sang Direktur
Simpanan Direktur


__ADS_3

Akhirnya Angelia bisa pulang kerumahnya setelah beberapa hari menginap di Villa milik Regan, ia akhirnya bisa merebahkan tubuhnya di atas sofa.


“Akhirnya aku pulang, setelah si Devil itu mengurungku di Villa,” seru Angelia meregangkan seluruh tubuhnya.


Ting tong


Angelia menoleh ke arah pintu dengan kernyitan didahinya.


“Siapa yang bertamu malam-malam begini?” seru Angelia mengintip dari lubang kecil yang ada di pintu.


“Angel buka pintunya! Kalau tidak akan aku dobrak!” teriakan itu membuat Angelia memutar bola matanya.


“Ada apa? Kau hanya membuat keributan saja disini,” seru Angelia membuka pintu.


“Akhirnya kau membuka pintu juga!” seru Rita yang masuk ke dalam rumah.


“Heh kemana saja kamu beberapa hari ini? Kau menghilang begitu saja dan tidak memberikan kabar. Kau sungguh teman yang durhaka! Kau ingin membuatku mati karena rasa khawatir!”


“Kau sungguh kembaran dari burung beo.”


“Kau malah menghinaku, dasar tak tau di untung!” seru Rita.


“Duduklah dan santailah dulu, kau berbicara dalam satu kali helaan nafas. Apa itu tidak membuatmu sesak?” tanya Angelia yang kini duduk di atas sofa dengan bersandar santai.


“Ck kau ini, sekarang cepat katakan kau kemana saja selama ini.”


“Aku tinggal di Villa milik Regan,” seru Angelia.


“Benarkah?” seru Rita terlihat kedua bola matanya berbinar hebat.


“Apa kalian melakukan sesuatu yang mengesankan? Apa kau dan Direkturmu itu sudah-?”


“Ck, berhenti berpikir kotor. Aku tidak melakukan apapun dengannya,” jawab Angelia


“Aih sangat mengecewakan. Kau benar-benar gadis yang tidak menggoda,” seru Rita.


“Apa maksudmu?”


“Ayolah kau bukan anak kecil lagi. Kalian kini bersama, apa salahnya melakukan itu. Pastilah Direkturmu itu sangat gagah perkasa,” seru Rita tersenyum berbincar.


Puk

__ADS_1


“Jangan mengkhayal hal kotor tentang Direkturku!” seru Angelia dengan posesif membuat Rita terkekeh.


“Galak sekali!” Kekehnya.


“Jadi bagaimana dengan Sang Kera?”


“Dia? Aku sudah beberapa hari ini tidak mendapatkan kabar apapun darinya,” jawab Angelia.


“Apa mungkin sudah move on? Secepat itu,” seru Rita.


“Mungkin sekarang dia bersama dengan Caroline.”


“Bisa jadi,” jawab Rita.


Angelia menceritakan apa yang ia lalui beberapa hari ini termasuk mengenai mendapatkan saham VP sebesar 15%.


“Apa kau bilang? Bersama dengan Direkturmu ini kamu dapat melakukan apapun dan membalaskan dendammu dengan sangat cepat,” seru Rita.


“Ya dan aku menjadi menyimpan harapan besar padanya. Tetapi disisi lain aku juga takut, aku takut akan terjatuh sangat dalam,” seru Angelia termenung.


***


Di perusahaan Virendra Production, Virendra terlihat kebingungan.


“Kenapa tidak ada perusahaan yang mensponsori acara ini,” gerutunya merasa kesal. Ia menekan intercom.


“Nita, apa ada yang menghubungi kita mengenai proposal yang aku ajukan beberapa hari yang lalu?” tanya Virendra.


“Sampai saat ini belum ada Mr. Virendra,” seru Nita membuat Virendra menutup panggilan telponnya dengan kesal.


“Apa aku benar-benar harus mengeluarkan biaya besar untuk project ini?” Gumamnya.


“Tetapi project ini kalau sampai berhasil maka akan mendapatkan untung yang besar dan menarik beberapa sponsor untuk bekerjasama dengan perusahaan. Apalagi ada W.E Inc yang mendukung,” gumam Virendra.


“Mungkin kali ini aku harus berkorban lebih banyak untuk mendapatkan untung yang sangat besar,” seru Virendra sangat yakin dengan senyuman lebar dibibirnya.


Virendra kembali menekan intercom.


“Nita, buatkan janji bertemu dengan Direktur dari perusahaan GU dan minta manager Han untuk datang ke ruanganku dengan membawa kontrak yang kemarin perlu diperbaiki,” perintah Virendra.


“Baik Sir.”

__ADS_1


Brak


“Dad!”


Virendra menengadahkan kepalanya dan melihat putrinya berdiri di ambang pintu.


“Caroline, ada apa?” tanya Virendra menatap putrinya itu.


“Kenapa aku gagal mendapatkan pemeran utama dalam film sutradara Michael! Daddy sudah berjanji akan membuatku menjadi pemeran utama disana!” seru Caroline kesal.


“Kenapa bisa seperti itu?” tanya Virendra.


“Ada pendatang baru dan sutradara Michael langsung memilih wanita rubah itu untuk menjadi pemeran utamanya. Aku ingin Daddy membantuku dan menjadikan aku pemeran utamanya!” rengek Caroline.


“Tenang dulu putriku sayang, mungkin ada salah paham disini. Aku sudah membicarakan hal ini dengan sutradara Michael tetapi kenapa mendadak berubah,” seru Virendra.


“Aku tidak mau tau, pokoknya aku harus jadi pemeran utamanya!”


“Baiklah, kamu tenang dulu. Daddy akan menyelesaikan semua ini,” seru Virendra.


***


Angelia baru saja sampai di kantor. Entah sampai jam berapa ia minum semalam dengan Rita, hari ini kepalanya benar-benar sangat berat dan pening.


“Yo! Bukankah ini simpanannya Direktur,” seruan itu membuat Angelia menoleh dan melihat Rosie disana.


“Melihatmu masih datang ke kantor ini aku rasa masalahmu sudah selesai,” seru Angelia.


“Jelas. Tanpa bantuan darimu pun aku masih bisa menyelesaikannya,” jawab Rosie dengan nada angkuh.


“Syukurlah,” jawab Angelia berjalan memasuki lift saat pintu lift terbuka diikuti Rosie.


“Aku tidak akan melepaskanmu Angelia! Mulai sekarang aku benar-benar akan menantangmu!” seru Rosie penuh penekanan.


Angelia melihat ke arah Rosie dengan kernyitan didahinya.


“Baiklah. Terserah kau saja,” jawab Angelia dengan nada santai.


“Jangan harap selamanya kau akan tetap berada di atas angin,” seru Rosie.


Angelia hanya meliriknya saja dan malas meladeni Rosie.

__ADS_1


***


__ADS_2