Terjerat Pesona Sang Direktur

Terjerat Pesona Sang Direktur
Takut Kehilangan


__ADS_3

Angelia baru saja selesai membersihkan dirinya, ia kini duduk di depan televisi dan menonton sebuah berita. Disana terdapat berita mengenai kebangkrutan yang dialami Virendra, kini Virendra masuk ke rumah sakit dan rumahnya telah disita oleh pihak bank.


“Akhirnya,” gumam Angelia tersenyum.


“Ibu, Kakek, akhirnya aku membalaskan semuanya. Mereka kini telah hancur,” gumam Angelia.


“Setidaknya kalian sudah bisa beristirahat dengan tenang,” seru Angelia.


Bip Bip


Angelia mendengar bel rumahnya di tekan oleh seseorang, ia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu rumahnya, ia membuka pintu dan memekik kaget saat seseorang mendorong tubuhnya dan menerobos masuk ke dalam rumah.


“Kau!” pekik Angelia saat melihat Caroline di depannya.


Caroline menutup pintu rumah dan tiba-tiba saja menodongkan pistol ke arah Angelia.


“Caroline! Jangan macam-macam!” seru Angelia.


Caroline melirik ke arah televisi yang sedang menayangkan berita mengenai keluarganya.


“Apa kau puas sekarang, anak haram? Apa kau puas telah menghancurkan keluargaku!” pekik Caroline.


“Kalian yang pertama menghancurkan keluargaku! Aku hanya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku!” seru Angelia tanpa rasa takut.


“Kau menjadi sangat sombong setelah menjadi pelacurnya Mr. Danial! Kau pikir kau selamanya akan berada di posisi ini, eh?” seru Caroline.


“Aku tidak memohon bantuan apapun padanya, seperti yang kamu lakukan untuk mendapatkan ketenaran!” seru Angelia.


Plak


Caroline menampar pipi Angelia dengan keras.


“Lancang sekali mulutmu!”


“Kenapa? Bukankah yang aku katakan itu benar. Sesuatu yang bukan milikmu akhirnya tidak akan pernah menjadi milikmu! Baik itu ketenaran, kekayaan dan cinta dari Cristian.”


“Kamu benar-benar ingin mati!” pekik Caroline menodongkan pistolnya ke depan wajah Angelia.


Angelia masih berdiri dan melirik ke arah vas bunga yang berada tidak jauh dari sisinya. Tangannya langsung menggapai vas bunga itu dan menyiramkan air yang berada di dalamnya ke wajah Caroline hingga tembakan mengarah ke langit-langit rumah. Angelia mendorong Caroline dan berlari menggapai pintu rumahnya.


Saat ia membuka pintu, saat itu juga Regan hendak masuk.


“Regan!”


“Angel!” pandangan Regan tertuju pada Caroline yang kini sudah kembali berdiri dan langsung melepaskan peluru tembakannya ke arah Angelia, saat itu juga Regan memeluk tubuh Angelia dan memutar posisi mereka.


Dor


“Regan!” pekik Angelia saat tembakan itu mengenai punggung Regan, darah mengucur deras.


Mendengar suara tembakan, Jose datang menghampiri mereka.


“Tuan!”

__ADS_1


“Ti-tidak, bukan aku yang melakukannya!” pekik Caroline melemparkan pistolnya.


“Bawa dia ke kantor polisi,” perintah Regan yang dipatuhi Jose.


“Tidak! Lepaskan aku! Aku tidak bersalah. Semua ini ulah wanita ****** itu!” teriak Caroline saat Jose menariknya keluar rumah.


“Regan!” seru Angelia saat melihat Regan sudah berkeringat dingin dan tangannya yang berada di punggung Regan dapat merasakan hangat dari darah yang mengalir deras.


“Aku tidak apa-apa,” seru Regan.


“Aku akan selalu melindungimu,” seru Regan sebelum akhirnya kehilangan kesadarannya.


“Regan!”


***


Saat ini Angelia berdiri di depan ruang operasi dengan sangat gelisah, jantungnya terus berpacu dengan sangat cepat dari kejadian beberapa jam yang lalu. Air matanya tak urungnya berhenti, rasa takut kehilangan sangat menyesakkan dadanya.


‘Tuhan jangan ambil dia dariku!’ batin Angelia, ia menyandarkan punggungnya ke dinding di belakangnya.


‘Tuhan, Regan Danial adalah orang yang selalu membuatku merasa aman. Dia memberiku sebuah harapan dan perlindungan, membuatku tidak perlu takut akan apapun saat aku bersama dengannya. Perasaan aman yang gagal diberikan orang tua dan keluargaku padaku setelah kepergian Kakek dan Ibu Tuhan, jangan ambil pria ini. Aku sangat mencintainya, dia terluka karena aku. Kalau bisa di tukar, maka tukarlah nyawanya dengan nyawaku. Aku rela mati untuk menukar nyawaku untuknya,’ Angelia menangis dalam diam.


“Angelia!” seruan itu membuat Angelia menengadahkan kepalanya.


“Mr. Calvin?”


“Bagaimana kabar Regan?” tanya Calvin yang terlihat baru saja datang.


Angelia menggelengkan kepalanya.


“Kamu yang tenang yah. Aku yakin Regan akan segera melewati masa kritisnya,” seru Calvin.


“Semua ini salahku,” gumam Angelia.


“Kalau saja aku tidak selalu mengandalkan Regan dan selalu meminta perlindungan darinya.”


“Regan melakukan itu karena dia begitu mencintai kamu. Kamu wanita yang sangat istimewa untuknya,” seru Calvin.


“Aku sangat mengetahui karakter sepupuku itu, dia begitu dingin dan sangat tidak peduli apalagi pada seorang wanita. Tetapi kepadamu, dia berbeda. Aku yakin kamu sangat istimewa baginya.”


Angelia terdiam dan merasa hatinya menghangat mendengar kata-kata dari Calvin.


Lampu di atas pintu ruang operasi telah berubah warna, baik Angelia maupun Calvin keduanya menoleh ke arah pintu ruang operasi yang dalam beberapa menit muncullah seorang Dokter dengan masih memakai pakaian steril operasi.


“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Angelia yang mendekati Dokter diikuti Calvin.


“Kami sudah berhasil mengeluarkan peluru dari tubuh pasien, pasien pun sudah melewati masa kritisnya. Pasien akan dibawa ke kamar perawatan,” seru Dokter mampu membuat Angelia bernafas lega.


***


Angelia memasuki kamar president suite yang digunakan Regan sebagai kamar perawatan, ia duduk di kursi yang ada disisi brankar yang ditempati Regan. Kekasihnya itu masih terlelap dengan wajah tampannya yang sedikit pucat.


“Hai, apa kabar?” seru Angelia mengambil tangan besar Regan dan menggenggamnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


“Kamu tau, aku sangat ketakutan saat mengetahui kamu tertembak dan mengeluarkan banyak darah. Rasanya pasokan oksigen di sekitarku semakin menipis sampai rasanya aku tercekik,” air mata menggantung di pelupuk matanya.


“Sebenarnya kamu adalah orang pertama yang memberiku rasa aman. Jadi ini membuatku selalu ingin bergantung padamu. Tetapi aku sadar, kamu bukanlah Tuhan. Kamu punya permasalahanmu sendiri dan juga frustasimu sendiri. Karena itulah aku juga ingin bisa melindungimu Regan, bisakah kamu bergantung kepadaku juga?” seru Angelia.


“Aku tidak terbiasa bergantung pada seseorang,” seruan itu membuat Angelia menoleh dan matanya berbinar senang saat melihat Regan sudah membuka kedua matanya dan kini sedang melihat ke arahnya.


“Regan? Kamu sudah bangun!” Angelia langsung bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Regan.


“Aww...”


“Ah! Maafkan aku!” Angelia menarik kembali tubuhnya dari atas tubuh Regan.


“Tidak masalah,” seru Regan memeluk pinggang Angelia seakan menahan posisi mereka yang begitu dekat dan intim.


“Se-sejak kapan kamu terbangun?” tanya Angelia sedikit gugup dengan posisi mereka.


“Sejak kamu menyentuh tanganku. Apa kamu sangat ketakutan?” tanya Regan menghapus air mata di pipi Angelia.


“Sangat! Jangan pernah tinggalkan aku atau berpikir untuk meninggalkanku,” seru Angelia dengan nada manja.


“Tergantung.”


“Apa maksudmu?” tanya Angelia mengernyitkan dahinya.


“Tergantung seberapa kuat kamu mengikatku,” goda Regan.


“Aku akan memborgolmu kalau ikatan bisa di lepas,” seru Angelia membuat Regan tersenyum.


“Aku tidak akan pergi kemanapun. Bukankah kamu hanya bisa bergantung kepadaku?” seru Regan membelai pipi Angelia.


“Iya kamu benar, aku hanya bisa bergantung padamu. Untuk selanjutnya, aku juga ingin kamu mengandalkanku dan bergantung kepadaku,” seru Angelia.


“Baiklah, kalau begitu rawatlah aku disini. Aku tidak ingin di rawat oleh para suster, aku ingin di rawat olehmu,” seru Regan dengan kerlingan nakalnya.


“Ck aku bisa membaca pikiran mesum darimu,” seru Angelia membuat mereka terkekeh.


“Ehem...”


Deheman itu membuat mereka berdua menoleh ke sumber suara dan terlihat Agneta berdiri di ambang pintu bersama dengan Dave.


“Ah!” Angelia yang tersadar lebih dulu menarik tubuhnya menjauh dari Regan.


“Sepertinya dia sudah sehat. Dia sudah bisa bermesraan seperti itu,” sindir Dave. Regan terlihat santai dengan sindiran Ayahnya itu.


“Apa kabar Angelia?” sapa Agneta yang memeluk Angelia dan mencium pipi kiri juga kanannya.


“Kabarku baik, Bunda. Kabar Anda sendiri bagaimana?”


“Kabarku juga baik,” seru Agneta.


“Kau bisa kembali kerja hari ini, Son. Kau sudah terlihat sehat dan menggoda seorang wanita,” sindir Dave.


“Ck kau ini,” seru Agneta membuat Dave diam dan Regan hanya bisa tersenyum bahagia karena pembelaan dari sang Bunda.

__ADS_1


***


__ADS_2