
Angelia dan Regan kembali ke kantor setelah makan siang bersama dengan Ansel.
“Pokoknya semuanya sudah berakhir di hari ini. Hapus kontaknya, jangan pernah menghubunginya lagi dan jangan pernah bertemu dengannya lagi! Pria itu sangat tidak tau malu, berani merayu wanita dihadapan kekasihnya. Sangat menjengkelkan!” seru Regan saat mereka masuk ke dalam ruangan Regan.
“Kamu cemburu?” tanya Angelia menaikkan alisnya melihat Regan yang terdiam melihat ke arah Angelia. Jarak mereka begitu dekat hingga Angelia mampu merasakan nafas hangat dari Regan menerpa wajahnya.
“Kamu pikir apa?” tanya Regan.
“Bagaimana bisa aku tidak cemburu melihat kekasih sendiri berbincang dengan pria asing!” seru Regan dengan kesal.
“Kalau begitu maafkan aku,” seru Angelia.
“Aku ingin yang lainnya sebagai permintaan maaf,” seru Regan membuat Angelia kebingungan.
“Emm apa maksud kamu?” tanya Angelia kebingungan.
Regan semakin menyudutkan Angelia hingga punggungnya membentur dinding di belakangnya.
“Kamu?”
“Aku ingin permintaan maaf yang tulus darimu,” goda Regan membuat Angelia semakin bingung dengan wajah yang merona.
‘Haruskah aku?’ batin Angelia.
Angelia memberanikan diri mengalungkan kedua tangannya pada leher Regan dan menempelkan bibirnya di bibir Regan dengan menjinjitkan kakinya.
‘Ternyata kucing kecilku sudah mulai berani,’ batin Regan tersenyum saat ciuman Angelia mulai berani memagut bibirnya.
***
“Bagaimana ini, hampir semua pemegang saham menjual saham mereka dengan harga murah! Sialan!” amuk Virendra menghempaskan semua barang yang ada di atas mejanya.
“Ini semua ulah anak sialan itu! Dia benar-benar membuatku malu,” seru Virendra memejamkan matanya berusaha meredam amarahnya dan rasa nyeri dì dadanya.
Sebuah panggilan masuk menyadarkannya dan menunjukkan nama Suya disana, Virendra mengangkat telponnya.
“Ada apa?” tanya Virendra dengan kesal.
“Suamiku, bagaimana ini. Ada pihak bank datang ke rumah dan mereka hendak menyita rumah kita,” seru Suya dengan isakannya.
“Apa?” pekik Virendra.
“Pulanglah cepat,” seru Suya.
Virendra mematikan sambungan telponnya dan beranjak pergi meninggalkan kantornya.
- - -
__ADS_1
Virendra baru saja sampai dikediamannya dan terlihat banyak pria berbaju hitam dan beberapa polisi.
“Ada apa ini?” tanya Virendra.
“Mr. Virendra kami dari pihak bank, karena kasus yang menimpa putri Anda kami memutuskan untuk menyita aset yang Anda miliki. Apalagi Anda sudah menunggak selama 3 bulan,” jelasnya.
“Tapi biasanya tidak seperti ini kalau aku menunggak beberapa bulan,” seru Virendra.
“Seperti yang saya katakan tadi semenjak berita yang kini trending mengenai putri Anda, kami mengetahui bahwa banyak investor yang menarik kontrak mereka dari Virendra Production. Belum lagi beberapa saham dijual dengan harga murah, kami tidak ingin mengambil resiko. Apalagi hutang Anda sangat besar, kartu kredit atas nama Suya dan Caroline sudah melewati batas limitnya,” jelas petugas bank itu.
“Apa?” seru Virendra melihat ke arah Suya dengan sangat kesal.
“Kami meminta dalam 3 hari ke depan kalian sudah harus mengosongkan rumah ini dengan hanya membawa pakaian kalian saja. Rumah beserta isinya akan kami sita,” seru petugas bank seraya menyerahkan berkas berisi kontrak mereka dan juga surat sita.
Para petugas bank itu pergi meninggalkan kediaman Virendra, Virendra memegang dadanya yang terasa sakit dan tubuhnya luruh ke lantai.
“Suamiku!” Suya langsung merengkuh Virendra.
“Kalian! Kalian membuat hidupku hancur,” gumam Virendra menahan rasa sakit di dadanya hingga kehilangan kesadarannya.
“Tolong!!! Tolong Tuan kalian!” Teriak Suya pada pelayannya.
Caroline berdiri dengan penuh dendam dan kekesalan dari lantai dua melihat Ayah dan Ibunya, ia mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kesal.
“Ini semua ulah wanita ******, Angelia!” gerutunya dengan kesal.
***
“Angelia!”
Panggilan itu menghentikan langkahnya dan ia menoleh ke sumber suara.
“Cristian?” seru Angelia saat melihat pria itu berdiri di depannya.
“Hai, apa kabar?” tanya Cristian dengan nada lembut.
“Aku baik,” jawab Angelia.
“Kenapa kamu ada disini?”
“Aku ingin menemuimu, apa kamu punya waktu? Bagaimana kalau kita minum kopi sebentar,” ajaknya membuat Angelia menimbang-nimbang.
“Baiklah,” jawab Angelia.
Kini mereka berdua berada di salah satu kedai kopi dan sudah memesan kopi pilihan mereka.
“Jadi apa yang ingin kamu katakan?” seru Angelia menyeduh kopi miliknya.
__ADS_1
“Aku tau kamu memang selalu berseteru dengan Caroline dari sejak sekolah. Tetapi sebenarnya apa niatmu sampai kamu harus menghancurkan karier juga keluarganya,” seru Cristian penuh keingintahuan.
“Aku selalu yakin kamu adalah wanita yang baik hati. Aku tidak tau permasalahan apa yang kamu miliki dengan keluarga Virendra,” seru Cristian.
“Kenapa kamu ingin mengetahui semua itu? Aku rasa itu bukan urusanmu,” seru Angelia.
“Aku menyukaimu, Angelia. Aku tidak pernah berbohong tentang perasaanku padamu, aku benar-benar jatuh cinta padamu. Tetapi Caroline adalah sahabatku, aku tidak ingin melihatnya hancur. Apalagi kini Mr. Virendra di rawat di rumah sakit,” Seru Cristian.
“Kalau kamu bisa memaafkannya dan mengembalikan ketenarannya kembali. Aku janji akan melakukan apapun untukmu,” seru Cristian membuat Angelia terdiam menatap kopi di dalam gelasnya.
“Orang baik akan menjadi jahat saat dirinya selalu di celakai dan di usik. Kamu tidak mengetahui apapun dan aku juga tidak melakukan apapun pada Caroline, dia melakukannya sendiri. Aku tidak bisa membantu apapun untukmu,” seru Angelia.
“Apa aku boleh tau sebenarnya ada masalah apa antara kamu dan Caroline? Aku mengenal Caroline, dia tidak selalu bersikap menyebalkan dan jahat pada seseorang.”
“Kamu begitu mengenal sahabatmu itu. Kenapa kamu tidak menanyakannya langsung pada Caroline,” seru Angelia.
“Dia selalu emosi setiap kali aku menyebut namamu,” seru Cristian.
“Kenapa kamu begitu ingin mengetahui masalah kami?” tanya Angelia.
“Aku tidak ingin salah paham lagi padamu. Aku sadar, dulu aku sudah jahat dengan memilih diam dan mendukung Caroline. Kali ini aku tidak ingin melakukannya lagi, aku ingin berada disisimu dan mendukungmu, Angelia!” Cristian berucap dengan sungguh-sungguh.
“Dia tidak membutuhkan dukungan darimu!” seruan itu membuat mereka berdua menoleh ke sumber suara.
“Regan?”
“Mr. Danial.”
Regan berjalan mendekati Angelia dan menarik tangan Angelia hingga berdiri dari duduknya, ia juga merangkul Angelia dengan posesif.
“Angelia tidak membutuhkan dukungan dari pria lain dan aku harap kau tidak mengganggu kekasihku lagi!” seru Regan penuh penekanan.
Cristian berdiri dari duduknya.
“Aku hanya ingin melindungi wanita yang aku cintai,” seru Cristian.
“Lalu kemana saja kamu selama ini? Disaat kamu masih menjadi kekasihnya. Karena kamu sudah menyia-nyiakannya, jangan harap untuk menjadi pahlawan kesiangan!” seru Regan membuat Cristian terdiam.
“Ayo kita pulang,” ajak Regan yang diangguki Angelia.
Mereka berdua pergi meninggalkan Cristian seorang diri.
“Jadi apa kamu akan menjelaskan kenapa kalian bisa berada di sebuah kedai kopi berduaan?” tanya Regan saat mereka sudah berada di dalam mobil Regan.
“Dia menghampiriku dan ada yang ingin dia bicarakan. Aku hanya ingin tau apa yang dia inginkan sekarang?” jawab Angelia.
“Jauhi orang-orang seperti itu. Mereka sudah pernah menyakitimu dan aku tidak ingin mereka menyakitimu lagi,” seru Regan.
__ADS_1
“Saat ada kamu bagaimana bisa mereka menyakitiku,” seru Angelia tersenyum merekah
***