Terjerat Pesona Sang Direktur

Terjerat Pesona Sang Direktur
Merasakan sosok Ibu


__ADS_3

Angelia memang sudah mengetahui karakter Davero karena sebelum Regan, Beliau Direktur di W.E Inc tempat Angelia bekerja. Angelia sudah memaklumi kalau memang Mr. Davero begitu dingin dan jarang berbicara. Tetapi Angelia yakin, sosok pria dingin itu sangat baik dan bijaksana.


Setelah menu pembuka, kini disajikan menu utama mereka. Daging rusa dengan kualitas terbaik. Lidah Angelia benar-benar dimanjakan hari ini, makanannya sungguh sangat enak.


“Ayo di tambah lagi, Angelia. Coba sayurannya juga,” seru Agneta begitu ramah.


“Kakak ipar, setelah ini kita belanja bagaimana?” ajak Renata.


“Eh?”


“Angelia tidak menginap, anak kecil. Ruang gantimu sudah penuh dan tidak muat lagi. Masih berencana belanja,” seru Regan.


“Jangan pelit kakak. Aku belanja untuk kakak ipar,” seru Renata.


“Kakak ipar kalau kak Regan pelit padamu, tinggalkan saja dia. Direktur macam apa yang sangat pelit,” seru Renata membuat Angelia terkekeh.


“Jangan meracuninya,” seru Regan.


“Makanya jangan pelit-pelit,” seru Renata.


“Kalian ini, maaf Angelia. Kakak beradik ini memang selalu cekcok setiap hari,” seru Agneta.


“Tidak apa-apa kok tante,” seru Angelia tersenyum.


“Panggil Bunda saja jangan tante,” seru Agneta.


“Emm baik tan, eh Bunda,” Angelia hanya bisa tersenyum saja.


‘Nyonya Wiratama begitu ramah dan sangat hangat, ternyata keluarga Wiratama tidak seburuk yang dikatakan orang-orang diluar sana. Aku bahkan merasakan sosok Ibu di dalam diri tante Agneta,’ batin Angelia tersenyum lebar.


- - -


“Bagaimana?” tanya Regan saat dirinya dan Angelia sedang berada di dalam mobil menuju rumah Angelia.


“Aku tidak menyangka kalau mereka menerimaku dengan begitu ramah,” seru Angelia.


Regan hanya tersenyum saja.


‘Cepat atau lambat aku akan segera menjadikanmu istriku, kucing kecil,’ batin Regan.


“Kenapa tersenyum seperti itu? Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Angelia memperhatikan wajah tampan Regan, Regan menoleh kearahnya.


“Memikirkan kamu! Aku ingin sekali cepat-cepat membawamu pulang kerumahku dan kita bisa bertemu setiap hari,” seru Regan.


“Si-siapa yang bilang aku menerima lamaranmu,” seru Angelia dengan nada gugup.

__ADS_1


“Hah? Apa aku tadi bilang melamarmu?” tanya Regan dengan tatapan polosnya membuat Angelia membeku dan merasa dongkol.


“Ya sudah kalau tidak mau melamar,” seru Angelia cemberut.


“Jadi sebenarnya kamu ini ingin di lamar atau tidak?” goda Regan membuat Angelia menjadi malu sendiri dan Jose hanya mampu tersenyum kecil melihat pasangan dibelakangnya itu.


“Berhentilah menggodaku Tuan Muda Danial,” seru Angelia memalingkan wajahnya.


“Aku bertanya serius,” goda Regan.


“Tau ah!” Wajah Angelia benar-benar sudah memerah. Jelas sekali ia memang ingin di lamar, hanya saja masih banyak ketakutan dan keraguan.


“Dasar kucing kecil,” kekeh Regan mencubit pipi Angelia.


“Sakit!”


“Sini aku obati,” seru Regan mendekatkan bibirnya ke pipi Angelia.


“Eh, itu tidak perlu!” seru Angelia segera menutupi pipinya dengan telapak tangannya.


‘Bagaimana bisa Regan tidak tau malu seperti ini, bahkan di depan Jose. Ah sungguh memalukan,’ batin Angelia dan Regan hanya bisa terkekeh melihat kelucuan Angelia.


Mobil Jose telah berhenti di depan rumah Angelia, Angelia menuruni mobil diikuti Regan.


“Kenapa begitu buru-buru, hmm?”


“Ini sudah malam,” seru Angelia mengalihkan pandangannya untuk tidak menatap Regan.


Cup


“Eh?”


Regan mengecup bibir Angelia dengan lembut, kemudian ia juga mengecup kening Angelia membuat Angelia membeku ditempatnya.


“Selamat malam,” seru Regan.


“A-aku masuk!” Angelia langsung kabur meninggalkan Regan yang hanya tersenyum melihat tingkah Angelia.


***


“Sial!” amuk Virendra melemparkan berkas dihadapannya.


“Bagaimana bisa project ini gagal dan lagi banyak sponsor dan perusahaan yang membatalkan kerja sama mereka.”


“Sialan! Sungguh sial sekali, ini karena anak sialan itu!” amuk Virendra terlihat begitu stress

__ADS_1


Kali ini perusahaannya benar-benar dalam ambang batas, ia sudah kehilangan jalan untuk mempertahankan perusahaannya ini. Bahkan ada beberapa pemegang saham yang menjual saham mereka dengan harga yang begitu murah.


“Aku harus bagaimana lagi,” gumamnya. Mendadak pihak bank tidak bisa memberikan pinjaman untuknya lagi dan berniat menyita rumah dan mobil yang ia miliki untuk membayar semua hutangnya.


“Angelia!” Gumamnya.


“Ya, aku harus menemuinya.” Virendra terdiam penuh rencana jahat.


- - -


Regan dan Angelia pergi makan siang bersama di salah satu restaurant, mereka sudah duduk berhadapan dan mulai memesan makanan mereka berdua.


“Nona Angelia!”


Seruan itu membuat Angelia dan Regan sama-sama menoleh ke sumber suara.


“Kau?”


“Akhirnya kita bertemu lagi,” seru seseorang itu dengan santai yang tidak lain adalah Ansel.


“Aku masih menunggumu menepati janji lho.”


“Itu-“ Angelia menjadi kelu tidak mampu berkata, apalagi tatapan tajam Regan membuatnya merinding dan gugup. Ia memang tidak menjelaskan bahwa Ansel meminta bayaran traktiran makan sebagai tanda terima kasihnya.


“Nona Angelia, pertemuan pertama kita mungkin saja hanya sebuah kebetulan. Tetapi ini pertemuan kedua kita dimana ini adalah sebuah takdir dan kau sudah berjanji padaku untuk menemaniku makan. Tetapi kau menghilang begitu saja, kau sungguh tidak bertanggung jawab!” seru Ansel dengan nada santai dan menggoda.


“Apa maksudmu berkata seperti itu kepada kekasihku?” seru Regan penuh penekanan.


Kini Ansel melihat ke arah Regan yang menatapnya dengan tajam.


“Aku rasa Nona Angelia akan menjelaskannya kepada Anda,” seru Ansel.


“Baiklah, aku akan membiarkan kali ini. Nona Angelia ingat jangan lupa penuhi janjimu, aku tunggu kamu!” seru Ansel.


“Berhenti!” seru Regan dengan tajam saat Ansel hendak menyentuh pundak Angelia.


“Sedikit saja kau menyentuhnya, maka tanganmu akan aku patahkan!”


“Astaga ternyata kekasihmu sangat menyeramkan,” seru Ansel.


“Ingat untuk menghubungiku Nona Angelia,” seru Ansel dan beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.


Angelia menjadi sangat gugup dan berkeringat saat Regan menatapnya dengan begitu tajam seakan ingin melahapnya.


‘Bagaimana ini!’ batin Angelia.

__ADS_1


__ADS_2