Terjerat Pesona Sang Direktur

Terjerat Pesona Sang Direktur
Anak Yatim Piatu


__ADS_3

“Jadi apa kau ingin menjelaskan sesuatu padaku mengenai pria tadi, Angel?” seru Regan saat Ansel sudah pergi meninggalkan mereka berdua.


“Pria tadi adalah orang yang menolongku pada malam itu dari kejaran anak buah Produser Kim,” jelas Angelia.


“Aku tau, kamu sudah menceritakannya soal itu. Mengenai menemani makan? Apa itu?” tanya Regan masih bersedekap dengan tatapan tajamnya membuat Angelia semakin gugup dan seakan hendak di terkam oleh Regan.


“Dia menolongku dan membawaku ke rumah sakit, tetapi dia meminta bayaran sebagai ucapan terima kasihnya. Dia ingin aku menemaninya makan, katanya dia baru datang dari Britania dan belum mengetahui tempat makan yang enak. Maka dari itu dia memintaku untuk merekomendasikan salah satu restaurant yang enak,” jelas Angelia.


“Kenapa kamu tidak mengatakan hal ini sebelumnya?” tanya Regan masih dengan ekspresi datar dan tatapannya yang begitu tajam.


“Itu-“ Angelia terdiam sesaat.


“Aku tidak berniat untuk memenuhi keinginannya,” kekeh Angelia.


“Maafkan aku karena tidak mengatakannya dari awal,” seru Angelia.


“Aku melarangmu berbicara dengannya lagi! Aku melarangmu tersenyum padanya! Dan aku melarangmu untuk muncul dihadapannya!” seru Regan terlihat kesal.


“Eh?”


“Ada apa? Apa kamu keberatan?” tanya Regan membuat Angelia menggelengkan kepalanya.


‘Kalau Regan cemburu dan marah sungguh menakutkan,’ batin Angelia.


“Apa kamu keberatan, Angel?” seru Regan penuh penekanan.


“Tidak. Aku sama sekali tidak keberatan,” seru Angelia menampilkan senyumannya.


“Memang sejak sebelumnya aku tidak berniat memenuhi keinginannya,” jawab Angelia.


Regan terdiam sesaat, ia seakan memikirkan sesuatu membuat Angelia bertanya-tanya dan mencari tau apa yang sedang Regan pikirkan.


“Aku berubah pikiran. Kau penuhi janji kalian,” seru Regan membuat Angelia memekik kaget.


“Tapi kenapa?”


“Aku rasa pria itu akan terus mengganggu kamu sampai kamu memenuhi janjinya, sebaiknya kamu penuhi janjinya untuk menemani dia makan. Buatlah janji dengannya, tetapi aku akan datang bersamamu!” seru Regan tidak terbantahkan.


“Baiklah. Terserah kamu saja,” seru Angelia tidak ada pilihan lain, untuk saat ini sebaiknya ia menurut pada Regan.

__ADS_1


“Sekarang habiskan makananmu,” perintah Regan.


***


Angelia baru saja bangun dari tidurnya, ia bersiap untuk berangkat ke kantor. Regan menghubunginya kalau hanya Jose yang akan menjemputnya karena Regan ada meeting pagi. Regan tidak ingin mengganggu Angelia, makanya dia meminta Nickolas yang menemaninya.


Angelia sudah bersiap dan menghabiskan sepotong roti juga susunya, ia beranjak keluar dari pintu rumahnya dan gerakannya terhenti saat ia membuka pintu.


“Mr. Virendra?” seru Angelia kaget melihat keberadaan Virendra di depan pintu rumahnya.


“Angelia, Ayah ingin berbicara denganmu,” seru Virendra dengan nada lembut.


“Bagaimana Anda bisa tau rumah saya?” tanya Angelia merasa ada yang janggal dengan sikap Virendra.


“Saya menyelidikinya, Angelia. Ayah ingin bicara denganmu,” seru Virendra.


“Apa yang ingin Anda katakan?” tanya Angelia mengernyitkan dahinya.


“Kalau mengenai kerjasama kita, kita bisa bicarakan itu di kantor saja. Saya sudah terlambat, saya harus berangkat ke kantor,” seru Angelia dengan nada dingin.


“Sebentar saja Nak, beri Ayah kesempatan,” seru Virendra membuat Angelia risih dengan panggilan Nak dan Ayah dari mulut Virendra.


Angelia melihat pergelangan tangannya kemudian menatap Virendra.


“Baiklah.”


“Mereka masuk ke dalam rumah, Virendra melihat sekeliling ruangan di rumah Angelia yang tampak begitu sederhana. Tatapan matanya tertuju pada potret Anne yang terpajang di meja sudut, Virendra berjalan mendekati meja dan mangambil pigura itu. Angelia memperhatikan tatapan mata Virendra ke arah potret itu, entah kenapa terlihat kemarahan juga rasa sakit yang begitu dalam. Bahkan mata Virendra memerah seakan menahan air matanya.


‘Ada apa dengan ekspresinya itu? Apa dia sedang beracting dihadapanku?’ batin Angelia.


“Waktu Anda terus berjalan Mr. Virendra. Silahkan katakan keperluan Anda datang menemui saya,” seru Angelia dengan nada datar.


Virendra terlihat mengusap matanya dengan jemari tangannya. Kemudian ia menyimpan kembali pigura itu ke tempatnya dan kini menoleh ke arah Angelia.


“Angelia, aku tidak tau kamu tinggal di rumah kecil seperti ini. Kamu pasti sudah lama menderita, sebaiknya kamu pulang kembali ke rumah,” seru Virendra.


“Mr. Virendra, apa hal ini yang ingin Anda katakan hingga membuat Anda menahan saya disini?” sindir Angelia.


“Sebenarnya bukan itu. Aku datang kemari hanya ingin meminta bantuanmu melalui Mr. Danial,” seru Virendra membuat Angelia tersenyum kecil.

__ADS_1


‘Tidak mungkin pria tua itu mendadak menjadi ayah yang baik kalau bukan ada maunya,’ batin Angelia.


“Apa yang bisa saya bantu Mr. Virendra?” tanya Angelia.


“Kamu pasti sudah mengetahui kasus yang menjerat adikmu, Caroline. Aku tau Mr. Danial memiliki kekuasaan yang besar di Negara ini, aku ingin kamu berbicara kepadanya dan membantu menutup kasus yang menjerat Caroline. Kalau bisa bantu kami mengumumkan ke media sosial kalau Caroline telah di fitnah,” seru Virendra.


‘Bagaimana mungkin Regan membantu kalian. Orang dia sendiri yang melakukan ini,’ batin Angelia.


“Apa kamu bisa melakukan itu? Bagaimanapun juga kamu masih termasuk keluarga Virendra dan Caroline adalah adikmu. Bagaimanapun juga kita adalah keluarga sudah seharusnya kamu membantu adikmu menyelesaikan masalahnya,” seru Virendra.


“Keluarga?” Angelia terkekeh meremehkan kata-kata Virendra.


“Kemana saja Anda beberapa tahun ke belakang? Bahkan setelah perceraianmu dengan Ibuku, kamu menelantarkan kami tanpa memikirkan kalau aku adalah putrimu dan sekarang Anda mengatakan kalau aku bagian dari Virendra? Apa saya salah dengar?”


“Angelia, itu karena masalahku dan Ibumu di masa lalu. Tidak perlu kau ungkit masalah itu, aku hanya sedang marah padanya. Bagaimanapun juga kita adalah keluarga,” seru Virendra.


“Waktu Anda telah habis Mr. Virendra, saya harus berangkat ke kantor dan jemputan saya telah datang. Mengenai Caroline maaf saya tidak bisa membantunya, Anda adalah Ayahnya. Maka Anda selesaikan saja seorang diri,” seru Angelia beranjak pergi.


“Angelia jangan kurang ajar! Apa ini hasil didikan Ibumu sampai kamu begitu kurang ajar kepadaku?” seru Virendra kini menjadi kasar.


Angelia menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Virendra.


“Saya bukan pion Anda Mr. Virendra, jangan harap saya akan membantu keluarga Virendra. Hubungan kita sudah putus sejak lama, tidak ada lagi ikatan apapun di antara kita!” seru Angelia penuh penekanan dan menekan rasa sakit di dalam hatinya.


“Kau sungguh anak tidak tau di untung! Seharusnya aku melenyapkanmu dari sejak kamu di dalam perut Anne. Sejak awal kamu hanya membawa sial dan menyebabkan hubungan aku dan Anne hancur! Semua karena kamu, seharusnya kamu tidak dilahirkan. Dasar anak sial!”


Deg


“Apa yang Anda katakan Mr. Virendra?” seruan itu membuat mereka berdua menoleh dan Regan terlihat berdiri di ambang pintu masuk, Virendra sempat terpekik kaget saat melihat kehadiran Regan disana.


“Ah Mr. Danial,” seru Virendra kembali mengecilkan suaranya.


“Saya tidak tau Anda datang!”


“Tidak perlu berbasa-basi, apa yang sudah Anda katakan pada kekasihku? Berani sekali Anda menghinanya dan membentaknya!” seru Regan penuh penekanan dan membuat Virendra tidak mampu berkutik, Regan selalu saja berhasil mengintimidasinya.


“Ini hanya masalah keluarga saja Mr. Danial,” seru Virendra.


“Kemarahan Ayah kepada putrinya.”

__ADS_1


“Setau saya Angelia adalah anak yatim piatu dan dia dibesarkan di panti asuhan,” seru Regan penuh penekanan membuat Virendra tidak bisa berkata-kata lagi.


“Kalau tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, tolong tinggalkan tempat ini Mr. Virendra dan jangan pernah datang lagi kemari,” seru Regan


__ADS_2