Terjerat Pesona Sang Direktur

Terjerat Pesona Sang Direktur
Hidup Penuh Drama


__ADS_3

“Bagaimana?” tanya Regan pada seseorang di seberang telephone.


“……”


“Oh jadi Angelia berhasil membuat kesepakatan dengan Virendra?”


“……”


“Baguslah, kamu tetap temani Angelia disana Gilby. Aku masih sibuk di kantor,” seru Regan kepada seseorang di seberang sana.


Regan tersenyum puas seraya mematikan sambungan telponnya.


“Aku tidak mengira dia bisa menanganinya sendiri,” gumam Regan.


“Yah, pada awalnya dia memang bukan kucing kecil yang jinak.” Regan tersenyum puas.


- - -


Regan menjemput Angelia ke kantor Angelia, ia masuk ke dalam ruangan Angelia dan terlihat Angelia sedang berdiri memunggunginya menatap keluar melalui dinding kaca.


“Hallo sayang,” seru Regan seraya memeluk tubuh Angelia dari belakang dan berhasil menyadarkan lamunan Angelia.


“Eh kamu, kapan datang?” seru Angelia tersadar dari lamunannya.


“Ada apa? Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Regan menarik tubuh Angelia untuk berbalik menghadapnya.


“Ada apa?” tanya Regan menangkup kedua pipi Angelia membuat tatapan Angelia bertemu dengan mata tajam milik Regan, Regan dapat melihat mata sendu sehabis menangis di mata Angelia.


“Angelia, katakan padaku apa yang terjadi? Apa Virendra menyakitimu?” seru Regan terdengar sangat menyeramkan saat emosinya terpancing.


“Tidak, dia tidak melakukan apapun padaku,” seru Angelia.


“Kalau begitu siapa yang sudah menyakitimu?” tanya Regan.


Angelia menarik kedua tangan Regan dari pipinya, ia menghela nafasnya dengan berat.

__ADS_1


“Pantas saja dia begitu membenciku. Ternyata aku bukan darah dagingnya,” seru Angelia dengan nada lirih.


“Apa maksud kamu?”


Angelia pun menceritakan semua yang Virendra katakan kepadanya, ia berjalan menuju sofa dan duduk disana diikuti Regan.


“Jadi Virendra bukan Ayah kandung kamu?” tanya Regan dan Angelia menjawab dengan gelengan kepala.


“Apa mungkin Ayah kandung kamu ada hubungannya dengan orang yang membunuh Ibu Anne,” seru Regan membuat Angelia menatapnya dengan intens.


“Setelah aku selidiki Virendra tidak ada hubungannya dengan kejadian kebakaran waktu itu,” seru Regan.


“Aku juga sempat berpikir begitu, entah siapa orang itu dan siapa Ayahku. Semua ini sangat membingungkan,” seru Angelia menghela nafasnya.


“Jangan terlalu dipikirkan! Setidaknya apa yang menjadi tujuanmu sudah terpenuhi sekarang,” seru Regan mengusap kepala Angelia.


“Virendra sudah menandatangani kesepakatan itu?”


“Sudah. Dia sudah menerima kesepakatannya dan sekarang sudah pindah ke rumah yang ada di lahan itu,” seru Angelia.


“Setidaknya dia juga sudah berjanji tidak akan pernah menunjukkan wajahnya lagi di depanku.”


“Aku ingin melihat rumah itu, tetapi tidak ingin aku tempati,” seru Angelia.


“Kenapa?”


“Aku tidak mau tinggal seorang diri di rumah besar itu, apalagi menyimpan banyak sekali kenangan manis dan pahit. Aku rasa rumah itu cukup untuk jadi kenangan saja,” seru Angelia.


“Baiklah, terserah kamu. Yang penting jangan sedih lagi,” seru Regan membelai kepala Angelia.


***


Saat ini Angelia sedang bersama dengan Rita di restaurant ayam milik Rita.


“Mau temani aku minum?” tanya Angelia.

__ADS_1


“Kau datang kesini hanya untuk minum, eh?” seru Rita.


“Kebetulan Regan sedang ada pekerjaan, jadi aku ingin minum sampai tidak sadar. Temani aku yah,” seru Angelia.


“Aku ada beberapa bir. Akan aku bawakan untukmu,” seru Rita tidak banyak bertanya, ia paham kalau saat ini sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja.


Rita kembali ke meja dimana Angelia berada dengan membawa tiga botol berisi bir dan juga dua gelas mug, kemudian Rita menuangkan bir itu ke dalam dua gelas. Tanpa menunggu lama, Angelia langsung meneguk miliknya.


“Pelan-pelan Angel!”


“Huft... Hidupku sungguh penuh dengan drama,” keluhnya menatap nyalang ke depan.


“Ada apa?” tanya Rita.


“Aku ingin balas dendam pada Virendra dan ternyata selama ini dia menjadikanku tempat pelampiasan dendamnya dari Ibu dan pria yang merupakan Ayah biologisku,” seru Angelia tersenyum miris.


“Apa? A-ayah biologis? Maksudnya bagaimana? A-apa Virendra bukan Ayah kandungmu?” tanya Rita kaget.


“Iya, kenyataannya seperti itu. Virendra bukanlah Ayah kandungku! Dia di paksa untuk menikahi Ibuku oleh Kakek hanya untuk menutupi aib karena Ibu hamil diluar nikah dan pria bajingan itu pergi meninggalkan Ibu,” seru Angelia meneguk kembali minumannya.


“Ya Tuhan! Apa Virendra tau kalau Ibumu sedang hamil? Lalu kenapa dia mau tetap menikahi Ibumu?” tanya Rita.


“Katanya dia sudah menyukai Ibu sejak lama, dia mau menerima kondisi Ibu saat itu dan berusaha menerimaku sebagai anaknya sendiri. Tetapi sayangnya Ibu menolak untuk membuka hatinya, ia tetap menolak Virendra dan bahkan tidak ingin tidur bersama dengan Virendra.”


“Karena itu dia membalas dendam dan berselingkuh dengan Suya?” seru Rita.


Angelia tersenyum mengejek.


“Tetapi aku tidak bahagia, aku malah merasakan sakit. Aku tidak tau siapa pria bajingan itu dan siapa pria yang membunuh Ibu dengan sangat kejam. Aku masih belum bisa tenang sebelum menghukum pembunuh Ibu,” seru Angelia meneguk habis minumannya dan menghentakkan gelas ke atas meja dengan cukup keras hingga menimbulkan bunyi nyaring.


“Apa tidak seharusnya kamu berhenti saja? Kini kamu sudah mendapatkan harta warisan milik keluarga Calief. Di tambah kamu sudah memiliki orang yang begitu mencintai kamu dan sangat melindungi kamu, kini ada Regan Danial di dalam hidupmu. Tidakkah itu cukup dan kamu sekarang coba nikmati kehidupanmu saja,” seru Rita.


“Bagaimana bisa begitu?” seru Angelia mulai kacau dan terkekeh kecil seraya meneguk minumannya.


“Ibuku harus beristirahat dengan tenang.”

__ADS_1


Rita hanya bisa diam memperhatikan Angelia, ia sangat simpati melihat kondisi sahabatnya itu.


***


__ADS_2