
Terlihat seorang gadis cantik berusia 12 tahun sedang membaca buku di sofa yang ada di ruang televisi. Seketika terdengar suara pintu terbuka hingga membuat gadis kecil itu menoleh dan tersenyum lebar saat melihat siapa yang datang.
“Ibu...” gadis itu menghampiri wanita itu yang masih terlihat cantik walau usianya tidak muda lagi. “Ibu, ada apa?”
Gadis itu merasa ada yang janggal dengan ekspresi dari ibunya, ibunya terlihat tegang dan gelisah.
“Ibu, ada apa?” tanya Angelia menyentuh tangan sang ibu yang terasa dingin membuat Ibunya melihat kearahnya.
Tetapi bukannya menjawab, wanita yang dipanggil ibu itu melepaskan pegangan sang gadis dan berjalan memasuki kamar, ia mengambil tas ransel milik anaknya dan memasukkan beberapa helai pakaian ke dalam tas itu, ia juga memasukkan beberapa lembar uang dan sebuah buku tabungan, ia kemudian melepaskan sebuah liontin dari lehernya. Kemudian memakaikannya ke leher gadis yang terlihat kebingungan itu.
“Ibu?” gadis itu sangat kebingungan dan hanya terus memanggil Ibunya.
Wanita itu kini berjongkok dihadapan sang gadis dengan memegang kedua pundaknya.
“Angelia, dengarkan ibu. Jangan lepaskan liontin ini, teman ibu sudah menunggumu di pertigaan jalan dekat taman yang biasa kita jalan-jalan. Kamu duduk dan tunggu saja di kursi taman itu dan teman ibu akan mengenalimu dengan melihat liontin ini,” seru wanita yang bernama Anne itu.
“Tapi bagaimana dengan ibu? Kenapa aku harus pergi?” tanya Angelia kecil begitu kebingungan.
“Dengar Angelia! Ibu masih ada keperluan disini,” jelas Anne. “Angelia, apa kamu menyayangi ibu?”
Angelia menganggukkan kepalanya, “sangat ibu.”
“Kalau begitu dengarkan kata-kata ibu, sekarang pergilah dan temui teman ibu yang bernama Seruni. Nanti ibu akan menyusulmu disana,” seru Anne. “Tidak ada waktu lagi, sekarang kamu harus pergi melalui pintu belakang. Ayo, ayo...”
Anne menarik tangan Angelia menuju pintu belakang rumahnya.
“Angelia, apapun yang terjadi dan apapun yang kamu dengar jangan pernah menoleh ke belakang. Ingat, jangan pernah kembali kesini. Temui teman ibu di taman,” jelas Anne.
“Tapi kenapa? Kenapa ibu tidak pergi dengan Angelia?” tanya gadis itu.
“Ibu akan menyusul nanti. Sudah yah! Cepat pergi, Angelia. Lari sejauh mungkin dari sini,” Anne menatap Angelia dengan tatapan pilu dan air mata sudah menggantung di pelupuk matanya. Ia tidak bisa menangis dihadapan putrinya, ia tau putrinya itu begitu cerdas dan keingintahuannya begitu besar. Ia tidak sanggup menjawab semua pertanyaan yang akan dilontarkan oleh Angelia.
“Pergilah sayangku, ingatlah satu hal. Ibu selalu menyayangi Angelia, kamu adalah malaikat kecil ibu.” Anne mencium kedua pipi gembil Angelia dan keningnya.
Setelahnya Anne memasuki rumah dan mengunci pintu, Angelia berjalan mendekati pintu dan menggedor pintu itu. “Ibu... ibu buka pintunya. Kenapa Angelia harus pergi sendirian, bu?”
Anne menangis dengan menutup mulutnya sendiri menggunakan telapak tangannya. 'Maafkan ibu, nak. Hiduplah bahagia,' batin Anne.
Gedoran pintu terhenti saat Angelia mendengar suara keras dari dalam dan suara teriakan beberapa orang. Karena penasaran, Angelia berlari ke samping rumahnya. Itu adalah tempat bermainnya dimana ada ayunan disana, Angelia menaiki ayunan dengan posisi berdiri dan menggerakkan ayunannya sekuat tenaga. Karena ayunan bergerak, Angelia mampu melihat apa yang terjadi di dalam melalui jendela ventilasi kecil.
Di dalam sana terlihat beberapa orang pria datang berhadapan dengan ibunya, Anne. Entah apa yang terjadi di dalam sana, mereka terlihat berdebat dan rambut Anne di jambak oleh seorang pria berjas hitam.
__ADS_1
“Ibu!”
Sebuah tamparan mendarat di pipi ibunya hingga tubuhnya jatuh ke lantai. Kemudian pria itu menyiramkan sesuatu ke tubuh ibunya, lalu pria itu melemparkan percikan api ke tubuh ibunya dan saat itu juga Angelia melihat api yang semakin lama semakin menyebar cepat dan besar, ia melihat tubuh ibunya terbakar juga mendengar jeritan dari ibunya.
“Ibu......!”
Angelia meloncat dari atas ayunan hingga terjatuh dan membuat lututnya terluka. Angelia tidak memedulikan lukanya, ia berlari menuju pintu belakang. Hampir saja ia menggedor pintu itu, seseorang menahan tubuh kecilnya dengan memeluknya.
“Lepaskan! Ibu... Ibu...!” jerit Angelia dan seseorang memeluknya dengan erat.
“Tenanglah Angelia sayang. Ayo ikut tante Seruni, kita pergi!” ucap seseorang yang merupakan teman Anne.
- - -
“Ibu!”
Angelia terbangun dari tidurnya dengan tubuh yang sudah basah kuyup karena keringat, tubuhnya bergetar hebat dan ia sangat ketakutan.
“Mi-mimpi itu lagi,” gumamnya memeluk tubuhnya sendiri dengan posisi duduk dan bersandar ke kepala ranjang. Angelia sangat gelisah juga ketakutan tanpa pikir panjang Angelia mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang.
Dalam dering ketiga panggilan terjawab.
“Angelia, ada apa?”
“Ada apa? Aku kerumahmu sekarang.”
“Tidak, tidak. Aku hanya bermimpi buruk,” gumam Angelia menyembunyikan wajahnya disela lututnya.
“Tenangkan dirimu, semua itu hanya mimpi. Tidak akan ada yang menyakitimu lagi,” seru Regan.
'Mendengar suaranya yang sangat menenangkan, membuatku merasa tenang sekaligus juga begitu lemah tidak berdaya,' batin Angelia.
“Angelia, kamu masih disana?”
“Iya, terima kasih. Aku-aku akan tutup telponnya, ini sudah malam.”
“Dalam 15 menit aku akan sampai di rumahmu, jangan tutup telponnya kalau kamu merasa takut.”
'Kenapa? Kenapa pria ini begitu lembut dan sangat memahami diriku? Aku tidak bisa menahan lagi perasaan ini, haruskah aku selalu bergantung kepadanya?' batin Angelia.
Setelah 15 menit, Regan berkata sudah di depan pintu rumahnya, padahal jarak rumah Regan dengan rumah Angelia cukup jauh. Bahkan biasanya kalau jalanan sedang lancar, bisa menghabiskan waktu 30 menit paling cepat. Regan datang dalam waktu 15 menit, dia benar-benar menjadi seorang pembalap untuk malam ini.
__ADS_1
“Angelia!” seru Regan, saat pintu terbuka Angelia langsung memeluk tubuhnya.
“Tenanglah. Aku sudah ada disini,” bisik Regan membelai punggung Angelia.
Setelah cukup tenang, Angelia melepaskan pelukannya dan menjadi gugup sendiri dengan tingkahnya barusan.
“Emm masuklah,” ucap Angelia memberikan ruang membuat Regan masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya.
“Aku akan membuatkan minuman untukmu,” seru Angelia berusaha pergi untuk menghindari Regan. Ia sangat malu dengan apa yang sudah ia lakukan barusan, ia menolak Regan tetapi sikapnya begitu memalukan kepada Regan.
“Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Regan menghalangi langkah Angelia membuat Angelia menengadahkan kepalanya dan menatap wajah tampan Regan dihadapannya.
“A-ku sudah merasa lebih baik,” jawab Angelia.
“Kamu tidak perlu membuatkanku minum, ayo aku akan menemani kamu sampai kamu tertidur. Aku tau kamu belum berani untuk kembali tidur,” ucapan Regan berhasil membungkam mulut Angelia.
Kini Regan duduk disisi ranjang dengan Angelia yang sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya, Angelia malah menjadi gelisah dan tidak bisa tidur karena kehadiran Regan.
“Tidurlah,” ucap Regan membelai kepala Angelia.
“Direktur, apa kamu tidak ingin mempertanyakan apapun mengenai semua yang aku lakukan dan kenapa aku menginginkan anak perusahaan Virendra,” ucap Angelia menatap Regan yang juga menatap dirinya.
“Angelia, sebelumnya aku sudah mencari tau mengenai kehidupan masa lalumu dengan keluarga Virendra, walau aku tidak tau apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku hanya tau bahwa kamu adalah putri dari Virendra,” ucap Regan.
Angelia menatap kosong ke arah langit-langit. “Terlalu sulit untuk aku katakan, tetapi hidupku dipenuhi oleh dendam masalalu. Aku, aku ingin mengambil semuanya dari Virendra,” ucap Angelia melirik ke arah Regan seakan mencari tau apa tanggapan Regan mengenai dirinya yang seperti ini.
“A-apa menurutmu aku adalah orang yang tamak dan sangat jahat?” tanya Angelia kembali seakan ingin mengetahui tanggapan dari Regan.
“Tidak,” jawab Regan dengan tegas. “Tidak masalah bagiku, apapun yang kamu lakukan. Aku yakin kamu memiliki alasan yang kuat,” ucap Regan dengan nada tenang dan tatapan mata yang tajam penuh kehangatan.
'Dia... Ya Tuhan akhirnya ada yang paling mempercayaiku,' batin Angelia merasa sangat terharu juga lega.
“Terima kasih,” ucap Angelia.
“Kenapa harus berterima kasih? Aku hanya ingin kamu juga dapat mempercayaiku dan bergantung padaku, Angelia! Apapun yang mau kamu lakukan untuk kedepannya, maka aku akan selalu melindungi dan mendukungmu. Jangan pernah merasa takut dan ragu lagi,” seru Regan membuat Angelia semakin terbuai dan tidak bisa berkata-kata lagi.
“Sekarang kamu jangan berpikir apa-apa lagi. Tidurlah dengan nyenyak, setelah bangun nanti, semuanya akan menjadi lebih baik lagi,” seru Regan membuat Angelia mengangguk dan memejamkan matanya.
Belaian lembut dikepalanya membuat Angelia semakin lama semakin mengantuk, ia pun mulai kehilangan kesadarannya dan larut dalam dunia mimpinya yang indah kali ini.
“Kalau kamu ingin menggila, maka aku akan menggila denganmu. Kalau kamu ingin mencari masalah, aku akan selalu melindungimu. Asalkan kamu selalu ada disisiku, bersamaku. Itu sudah sangat cukup untukku kucing kecil,” Regan mengecup kening Angelia.
__ADS_1
***