Terjerat Pesona Sang Direktur

Terjerat Pesona Sang Direktur
Jogging


__ADS_3

Angelia baru saja bangun dari tidurnya, ia bergegas ke kamar mandi. Setelah menyelesaikan ritual paginya, Angelia mengganti pakaian dengan pakaian olahraga. Ia berencana akan jogging di taman sekitar rumahnya, biasanya saat weekend disana selalu ramai pengunjung yang berlari dan berjualan.


“Baiklah Angelia, lupakan apa yang terjadi kemarin-kemarin. Hari ini adalah weekend dan buatlah dirimu senang,” seru Angelia menatap pentulan dirinya di cermin.


- - -


Angelia berlari di sekitar taman dengan earphone terpasang di telinganya. Banyak sekali orang disana untuk melakukan olahraga pagi seperti dirinya, ada juga yang hanya berjalan-jalan dan ada juga yang berjualan.


Setelah cukup lama berlari, ia kemudian memilih duduk di salah satu kursi taman dengan meneguk minumannya hingga tandas.


“Lihatlah siapa ini,” seruan itu membuat Angelia menengadahkan kepalanya.


“Rosie?”


“Apa kabar Angelia,” seru Rosie tersenyum menyebalkan.


Setelah mengenal wajah lain Rosie, kini melihat senyumannya sungguh membuat Angelia muak.


“Baik.” Jawab Angelia beranjak dari duduknya dan berjalan melewati tubuh Rosie.


“Tunggu!” Rosie menahan lengan Angelia.


“Ada apa?” tanya Angelia menepis tangan Rosie hingga terlepas.


“Apa kamu ada waktu? Bagaimana kalau kita minum kopi?” seru Rosie.


“Wah ada angin apa sampai kamu mengajakku untuk minum kopi bersama?” tanya Angelia.


“Ayolah Angelia. Dulu kita dekat, aku hanya sedang merindukan masa-masa kita bersama,” seru Rosie tersenyum.


Angelia menimbang-nimbangnya. “Baiklah, biar aku yang tentukan tempatnya,” seru Angelia berusaha bersikap waspada. Ia tidak ingin di jebak oleh wanita rubah itu.


“Baiklah.”


Dan saat ini mereka berdua sedang duduk berhadapan di sebuah kedai kopi dengan dua gelas kopi tersaji di hadapan mereka.


“Bagaimana sekarang bekerja menjadi sekretaris Direktur? Pasti sangat menyenangkan,” seru Rosie.


“Lumayan,” jawab Angelia. “Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan, Rosie? Jangan bertele-tele lagi.”


Rosie menghela nafasnya.


“Jadi begini Angelia, aku tidak sengaja memakai uang proyek yang baru-baru ini di mulai. Aku tidak sengaja memakainya karena kondisinya saat itu sangat mendesak dan aku sangat membutuhkan uang dan sekarang Pak Adam mengetahuinya, dia masih berusaha melindungiku dan mengatakan aku hanya perlu mengembalikan uang itu maka dia tidak akan mengatakan apapun pada Direktur. Sebentar lagi laporannya akan segera diserahkan kepada Direktur, aku sudah di desak untuk mengembalikan uangnya. Tetapi sekarang aku benar-benar sedang tidak ada uang,” jelas Rosie dengan ekspresi wajah yang memelas.


“Angel, bisakah kamu memberikanku pinjaman? Aku pasti akan menggantinya.”


“Memangnya berapa uang yang kau gunakan?” tanya Angelia.


“Kurang lebih lima ratus ribu dollar,” seru Rosie membuat Angelia membelalak lebar.


“Uang sebanyak itu kamu gunakan untuk apa?” seru Angelia sangat kaget.


“Ada deh, ayo cepat bantu aku. Beri aku pinjaman uang,” seru Rosie.


Angelia menimbang-nimbang, tetapi uang tabungannya akan ia gunakan untuk membeli anak perusahaan Virendra.


“Maaf, aku tidak memiliki uang sebanyak itu.”

__ADS_1


“Bohong! Bukannya kamu dekat dengan Direktur, bagaimana bisa tidak memiliki uang segitu saja,” seru Rosie memaksa.


“Sudah aku katakan kalau aku sedang tidak ada uang. Aku harap kamu bisa memahami itu,” seru Angelia.


“Angel, aku mohon. Aku pasti akan menggantinya. Kamu minta saja ke Direktur uang segini pasti bukan apa-apa baginya,” seru Rosie tanpa tau malu. “Kamu tega membiarkan aku masuk penjara. Aku adalah temanmu, Angelia.”


“Maafkan aku Rosie, aku sungguh tidak bisa membantumu. Aku ada janji siang ini! Aku pergi dulu yah,” seru Angelia bergegas pergi meninggalkan Rosie.


“Ck, jadi simpanan Direktur saja sudah begitu sombong!” Angelia menghentikan langkahnya dengan sangat kaget mendengar ucapan Rosie barusan, ia tidak menyangka ternyata Rosie benar-benar seorang yang bermuka dua.


Angelia memilih pergi meninggalkan kedai itu, ia semakin mengenal wajah asli Rosie, dia benar-benar seorang rubah. Angelia merasa begitu marah padanya. Lain kali, ia tidak akan lagi membuang-buang waktunya hanya untuk masalah tidak penting seperti ini.


Di dalam kedai, seseorang berjalan mendekati Rosie yang masih duduk di kursinya.


“Di tolak, eh?” seruan itu membuat Rosie menatap seseorang yang berdiri angkuh di hadapannya dengan melipat kedua tangannya di dada.


“Siapa kamu?” seru Rosie tampak malas meladeni dan bergegas pergi.


“Kamu butuh lima ratus ribu dollar, bukan?” gerakan Rosie terhenti mendengar seruan itu.


“Kamu tau darimana?” tanya Rosie mengernyitkan dahinya.


Seseorang itu duduk di hadapan Rosie di tempat Angelia duduk sebelumnya.


“Aku bisa memberi uang itu padamu, tapi aku ingin kita bekerja sama untuk menghancurkan Angelia!” seru seseorang itu.


“Kamu mengenalnya?”


“Tentu. Dia adalah musuhku, begitu juga denganmu. Bukan begitu?” serunya.


“Ya, dia adalah musuhku!” seru Rosie penuh kebencian.


“Aku bersedia. Tapi kau akan memberikanku uang itu dulu, bukan?” seru Rosie.


“Tentu. Imbalannya, kau harus menuruti apa yang aku perintahkan untuk menghancurkan wanita itu.”


“Baik. Aku bersedia,” seru Rosie.


Seseorang itu menuliskan angka nominal di dalam cek miliknya, kemudian ia menyerahkannya pada Rosie begitu juga dengan kartu namanya.


“Nona Caroline? Bukankah Anda seorang model?” seru Rosie sangat kaget saat membaca kartu namanya.


“Benar.”


“Tapi, bagaimana Anda bisa menjadi musuh Angelia?” tanya Rosie, rasa ingin taunya mulai tumbuh.


“Dia sudah merebut pria milikku. Aku tidak akan melepaskannya begitu saja,” seru Caroline penuh kekesalan.


'Ck, Angelia kau benar-benar wanita ******. Kau bahkan menyinggung seorang Nona besar dari keluarga Virendra Production yang juga merupakan seorang model. Kau benar-benar kasihan,” batin Rosie merasa begitu puas, tak ada rasa simpati sedikitpun di dalam dirinya.


“Berikan nomor telponmu. Aku ingin kau siap kapanpun aku meminta bantuanmu,” ucap Caroline dengan nada memerintah dan angkuh.


“Baiklah.”


Mereka berdua berjabat tangan seakan menyepakati kerja sama mereka barusan.


***

__ADS_1


Sepulang dari pertemuannya dengan Rosie, Angelia berbelanja di salah satu toserba yang tidak jauh dari rumahnya. Ia berbelanja beberapa bahan untuk di masak.


“Baiklah, karena sekarang weekend. Aku harus makan enak hasil masakanku sendiri,” seru Angelia menyemangati diri sendiri.


Tok tok tok


Suara bel rumah berbunyi, Angelia menghentikan aktivitasnya yang sedang memotong sayuran.


“Siapa yah,” gumamnya berjalan menuju pintu dan membuka pintunya.


“Direktur?”


“Kamu baru membuka pintu, langsung menodongkan pisau kepadaku,” seru Regan membuat Angelia menarik tangannya yang memegang pisau ke samping tubuhnya.


“Kenapa Anda datang?”


“Apa aku tidak boleh datang?” tanya Regan.


“Tidak sih. Silahkan masuk,” seru Angelia memberi ruang untuk Regan masuk ke dalam rumahnya.


“Kamu memasak?” tanya Regan berjalan menuju pantry.


“Iya. Hanya menu sederhana,” seru Angelia.


“Mau aku bantu?” tanya Regan.


“Tidak perlu. Biarkan aku saja yang menyelesaikannya,” seru Angelia kembali melanjutkan irisannya.


Kembali terdengar bel rumahnya berbunyi membuat mereka berdua saling menatap.


“Apa kau mengundang seseorang untuk datang?” tanya Regan.


“Tidak,” jawab Angelia bergegas menuju pintu dan membukanya.


“Cristian?” seru Angelia kaget melihat Cristian berdiri di ambang pintu.


“Hallo, aku sengaja datang untuk menemuimu,” seru Cristian dengan memegang sebucket bunga di tangannya. Cristian berjalan ingin memeluk dan mengecup kening Angelia, tetapi refleks Angelia menghindarinya membuat Cristian merasa bingung.


“Ternyata Tuan Muda GU yang datang,” seru Regan dengan nada santai.


Mendengar itu, tatapan tajam Cristian langsung tertuju pada seseorang yang sedang duduk angkuh di atas kursi pantry dengan memegang sebuah mug yang masih mengepulkan asap.


“Mr. Danial, kenapa Anda ada disini?” tanya Cristian dengan tatapan bingung.


“Kebetulan lewat dan saya mampir kemari,” seru Regan masih dengan nada angkuh.


Cristian berjalan masuk ke dalam rumah Angelia.


“Wah ternyata memang seperti yang diberitakan bahwa kalian memang dekat,” seru Cristian terlihat kesal.


“Bisa di bilang begitu,” jawab Regan dengan begitu santai.


“Tuan, jangan lupa kalau Angelia adalah kekasihku. Untuk kedepannya, bisakah Anda jangan menggoda kekasih saya lagi?” seru Cristian mulai menatap tajam ke arah Regan yang masih dengan tenang menikmati minumannya.


“Tidak bisa!”


Regan dengan jelas membalas tantangan Cristian.

__ADS_1


'Haduh bagaimana cara aku mengusir mereka berdua keluar dari sini? Jangan sampai berantem di dalam rumahku,' batin Angelia.


***


__ADS_2