Terjerat Pesona Sang Direktur

Terjerat Pesona Sang Direktur
Mr. Possessive


__ADS_3

Angelia sedikit termenung saat ia tengah membuat teh hangat untuk tamu yang tak di undang. Ia menghirup udara dan menghembuskan perlahan. Menghadapi orang ini perlu tenaga penuh.


Angelia membawa teh yang sudah ia buat dan membawanya menuju Caroline yang tengah duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya angkuh. Dagunya terlihat terangkat ke atas dan matanya menatap rendah kepada Angelia.


“Aku tidak memiliki yang special, hanya teh saja,” seru Angelia dengan nada datar seraya menyimpan minumannya di atas meja di hadapan Caroline.


“Sebenarnya tak perlu repot-repot membuatnya, toh aku tidak akan meminumnya. Aku tidak terbiasa meminum minuman sembarangan apalagi dari kalangan bawah seperti ini,” seru Caroline dengan nada merendahkan membuat Angelia memalingkan wajahnya kesal.


“Jadi ada urusan apa datang kemari?” tanya Angelia.


“Baiklah, aku tidak akan berbasa basi lagi. Daddy memiliki dua permintaan padamu,” seru Caroline.


“Pertama kamu harus pergi meninggalkan Negara ini dan jangan pernah lagi muncul dihadapan kami. Jangan sampai kita bertemu lagi,” Angelia mengepalkan kedua tangannya saat mendengar ucapan Caroline barusan.


“Dan kedua, jauhi Cristian.” seru Caroline dengan nada tajamnya. Ia kemudian merogoh sesuatu dari dalam tasnya.


“Ini ada uang yang Daddy berikan. Ini cukup untuk mengurus kepindahanmu dan untuk kehidupanmu selama satu tahun. Walau bagiku ini hanya cukup untuk sekali makan saja, itupun tanpa bisa mentraktir teman,” seru Caroline dengan nada mengejek.


“Ingat yah, jauhi Cristian. Aku tidak peduli ada hubungan apa di antara kalian, yang jelas aku ingin kamu meninggalkan dan menjauhi Cristian.”


Angelia tersenyum sinis mendengar semua penuturan Caroline. Ia mengambil segepok uang di dalam amplop coklat yang diberikan oleh Caroline. Terlihat senyuman merendah dari Caroline melihat Angelia mengambil uang itu.


Plak


Caroline kaget saat Angelia melemparkan uang itu ke pangkuan Caroline dengan keras.


“Kalau sudah selesai berbicara, maka silahkan keluar dari rumah ini. Aku lelah dan sedang malas meladeni tamu seperti kamu,” seru Angelia berdiri dari duduknya.


“Kau! Beraninya kau?” pekik Caroline berdiri dari duduknya dengan kesal.


“Dengar Nona besar yang terhormat. Aku tidak ada urusan denganmu juga keluargamu. Jadi jangan harap bisa mengatur kehidupanku. Sekarang keluar dari rumahku!” seru Angelia penuh penekanan.


“Ck, kau sombong sekali.”


“Bukan urusanmu! Dan satu lagi, aku dan Cristian memang dekat dan tidak ada yang bisa memisahkan kami. Apa kau paham?” seru Angelia.


“Cristian milikku!”


“Cristian bukan barang dan dia sekarang dekat denganku!” seru Angelia membuat Caroline melayangkan tangannya hendak menampar pipi Angelia tetapi Angelia menahan pergelangan tangan Caroline.


“Jaga sikapmu, Nona Caroline Virendra. Kalau kamu berbuat macam-macam, aku tidak akan segan-segan melapor ke pihak yang berwajib karena kau membuat ulah di rumahku,” seru Angelia.


“Sialan!” seru Caroline seraya menghempaskan tangan Angelia hingga terlepas.


Caroline mengambil amplop berisi uang tadi bersama dengan tasnya. Ia berjalan menuju pintu keluar dengan sangat kesal.


“Satu lagi Nona Caroline. Tolong sampaikan pada Mr. Virendra, aku akan segera merebut apa yang seharusnya menjadi milikku!” seru Angelia penuh penekanan.


Caroline berbalik ke arahnya dengan senyuman sinis.


“Jangan bermimpi Angelia.”


Setelah itu, Caroline meninggalkan rumah Angelia. Angelia menjatuhkan tubuhnya kembali duduk di atas sofa dengan menghela nafasnya.


“Mereka sama sekali tidak berubah. Hah, apa benar pria seperti itu Ayahku?” gumamnya menatap nanar ke depan.


***


Angelia baru saja keluar dari kantornya sekitar pukul 8 malam. Ia menatap langit gelap yang tengah hujan.


“Nona Angelia,” seruan itu membuatnya menoleh.


“Iya, kenapa Pak?” tanya Angelia saat seorang security menghampirinya.

__ADS_1


“Ini payung,” serunya menyerahkan payung kepadanya.


“Emm tapi-?”


“Itu saya diberitahu oleh sekretaris Direktur untuk menyerahkan payung ini pada Anda,” jelasnya dan kemudian berpamitan pergi.


Angelia membeku di tempatnya seraya menatap payung dalam genggamannya.


Bip bip


Angelia merogoh handphone dalam saku blazer yang ia gunakan.


Handsome Devil


Aku tau kamu pasti tidak membawa payung. Gunakan payung itu dan jangan sampai kehujanan. Jaga dirimu baik-baik selama aku tidak ada.


Angelia semakin terharu membaca pesan dari Regan. Sudah 3 hari Regan melakukan perjalanan bisnis keluar Negeri dan entah kapan akan kembalinya. Tetapi setiap hari ia selalu memberikan perhatian yang tidak disangka-sangka.


“Apa aku pantas mendapatkan semua ini?” gumam Angelia.


Ia akhirnya menggunakan payung itu untuk sampai di halte bus dan pulang ke rumah.


Selama tiga hari ini pun, tidak ada lagi gangguan dari Caroline. Dan untuk Cristian, ia semakin gencar menghubunginya dan mengajaknya untuk keluar bersama walau Angelia menolaknya. Entah kenapa sekarang ini hatinya kacau dan ia menjadi bimbang akan rencana yang sudah ia siapkan selama ini.


***


Disisi lain Regan tengah duduk santai di atas sofa di dalam kamar hotelnya. Segelas anggur dalam genggamannya dan tatapan elangnya menatap lurus ke depan dimana cuaca disana tidaklah hujan dan begitu indah dengan pemandangan bintang di langit dan kerlap kerlip lampu. Regan mengetahui kondisi di tempat Angelia hujan karena ia menghubungi salah satu sekretarisnya.


“Wanita itu sungguh membuatku gila,” gumamnya saat ia menatap layar handphonenya yang sama sekali tidak ada jawaban dari Angelia.


“Apa dia sedang menguji kesabaranku?”


Regan menghubungi seseorang melalui handphonenya.


“Hallo Nickolas...”


“.....”


“......”


“Tidak ada alasan. Buat klien kita segera menandatangani kontrak dan jangan mencoba bermain-main denganku. Kalau masih terus mengulur waktu, maka akan aku tarik kembali perjanjian kerjasama ini.”


“.....”


Regan memutuskan sambungan telponnya dan melempar handphone ke sampingnya. Ia menyesap anggur dalam genggamannya dengan tatapan masih lurus ke depan.


***


Tak terasa satu minggu pun berlalu. Angelia masih disibukkan dengan pekerjaannya. Ini adalah hari senin dimana pekerjaan sedang banyak-banyaknya.


“Angelia,” panggil Adam berdiri tak jauh dari kubikelnya membuat karyawan lain pun ikut mendengar.


“Iya Pak?” tanya Angelia berdiri dari duduknya.


“Saya tidak tau kesalahan apa yang telah kamu perbuat. Tetapi Direktur memanggilmu ke ruangannya,” seru Adam membuat semua mata para karyawan lainnya membelalak lebar.


“Emm tapi ada apa yah Pak?” seru Angelia merasa tak nyaman dengan tatapan menuduh dari yang lainnya.


“Saya tidak tau Angelia. Cepatlah pergi dan jangan membuat Direktur menunggu,” seru Adam.


“Angel, kamu serius gak membuat ulah kan?” tanya Rosie.


Angelia hanya mengedikkan bahunya dan beranjak pergi meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Sepeninggalan Angelia, semua karyawan langsung bergosip dan berprasangka mengenai Angelia. Karena pasalnya tak pernah ada karyawan biasa yang dipanggil oleh Direktur langsung ke dalam ruangannya, kecuali ia melakukan kesalahan yang fatal.


“Apa Angelia berusaha merayu Direktur yah?”


“Bisa jadi. Atau dia mengirimkan semacam surat atau bunga untuk merayu Direktur?”


“Tutup mulut kalian semua!” bentak Rosie. “Ini semua belum jelas. Dan tuduhan kalian itu benar-benar bikin geram dan salah paham. Angelia itu teman kita, kalian sudah tau karakternya bagaimana. Seenaknya saja menuduh orang! Rosie terlihat kesal karena ucapan orang-orang itu.


- - -


Angelia sampai di depan ruangan Direktur dan seorang wanita cantik nan anggun menyapanya.


“Angelia?” tanyanya membuat Angelia menganggukkan kepalanya.


“Silahkan masuk. Direktur sudah menunggu Anda.” Wanita yang diketahui bernama Jessy itu membukakan pintu ruangan Direktur membuat Angelia masuk ke dalam.


Angelia berjalan memasuki ruangan luas itu dan terlibat Regan tengah duduk di atas kursi kebesarannya dan sibuk dengan dokumen di depannya. Angelia diam-diam memperhatikan wajah tampan Regan. Satu minggu tak bertemu, Regan terlihat semakin tampan.


“Sudah puas menatapku? seru Regan menyadarkan lamunan Angelia dan ia kini beradu tatapan dengan mata tajam Regan.


“Ada apa Anda memanggil saya? Apalagi melalui Pak Adam,” seru Angelia.


“Duduklah,” seru Regan mempersilahkan Angelia untuk duduk dengan sebelah tangannya.


Angelia pun berjalan semakin dekat dan duduk di hadapan Regan yang terhalang meja kerja Regan.


Regan beranjak dari duduknya. Ia berjalan menuju Angelia dan duduk di atas meja tepat di hadapan Angelia membuat Angelia menengadahkan kepalanya untuk menatap mata Regan.


“Itu hukuman untukmu karena kamu sudah mengabaikanku selama satu minggu ini,” seru Regan dengan santai.


“What?”


Regan tersenyum kecil menatap wajah cantik nan imut dari Angelia.


'Aku merindukanmu, Angel.' Batin Regan.


“Anda mempermainkan saya?” seru Angelia.


“Tidak juga. Aku hanya ingin bertemu denganmu,” jawab Regan dengan santai.


“Hah?” Angelia semakin dongkol dan tak percaya dengan ucapan Regan itu. Padahal tadi tatapan dari rekan kerjanya seperti menyudutkannya penuh kecurigaan dan ingin menerkam dirinya. Dan Regan menjawab hal itu dengan begitu santai.


“Kalau tidak ada yang ingin dikatakan lagi, saya permisi,” seru Angelia beranjak dari duduknya dan hendak melangkah pergi tetapi Regan menahan pergelangan tangannya membuat Angelia menoleh kearahnya dan ia sempat kaget saat Regan memasangkan sesuatu di pergelangan tangannya.


“Kemarin saat perjalanan bisnis, aku melihat ini dan aku rasa ini cocok untukmu. Dan ternyata memang begitu cocok,” seru Regan manatap gelang berlian bermotif sederhana dan tampak indah dan elegan di tangan Angelia.


“Tapi-“


“Aku tidak menerima penolakan,” jawab Regan kini menatap Angelia dihadapannya. “Jangan sampai di lepas.”


Regan melepaskan genggamannya di tangan Angelia membuat Angelia terdiam sesaat.


“Kalau begitu saya permisi.” Angelia berjalan menuju pintu besar itu. Sebelum menyentuh knop pintu, ia kembali menoleh ke arah Regan yang masih duduk di sudut meja dengan maskulinnya.


“Emm terima kasih.”


Setelah Angelia berjalan keluar ruangan dan menutup pintu ruangan itu. Ia menyandarkan tubuhnya di daun pintu setelah menutup pintu dengan menghembuskan nafasnya.


“Ada apa? Apa kamu baik-baik saja?” tanya Jessy menyadarkan Angelia.


“Eh? Aku baik-baik saja.” Angelia bergegas meninggalkan tempat itu membuat Jessy menatapnya dengan sinis.


Angelia memasuki lift dan menekan tombol menuju ruangannya. Ia bersandar ke dinding lift seraya memegang pergelangan tangannya. Ia menatap gelang yang berkilau indah disana. Jantungnya terasa berdebar sangat cepat.

__ADS_1


'A-apa yang aku pikirkan? Bagaimana mungkin dia menyukaiku?' batin Angelia.


***


__ADS_2