Terjerat Pesona Sang Direktur

Terjerat Pesona Sang Direktur
Sangat Memalukan


__ADS_3

Angelia terbangun dari tidurnya, ia melirik ke sampingnya yang sudah kosong.


‘Regan kemana?’ pikirnya.


Angelia beranjak dari duduknya dan menuruni ranjang dengan telanjang kaki, ia berjalan keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan Regan. Ia melihat ruangan di samping balkon pintunya terbuka, itu adalah ruangan Regan berlatih gym. Ia berjalan kesana dan benar saja terlihat Regan sedang melakukan olahraga fisik dengan peralatan yang ada disana, posisinya memunggungi Angelia.


Angelia terpaku melihat punggung lebar nan kekar milik Regan yang berkilau karena keringat. Regan hanya mengenakan celana panjang dan membiarkan tubuh bagian atasnya terekspos jelas dihadapan Angelia. Tanpa sadar Angelia menelan salivanya sendiri melihat Regan yang terlihat seksi.


“Sudah puas mengagumiku?” seruan itu menyadarkan Angelia dari keterpakuannya, Angelia bahkan tidak sadar kalau kini Regan melihat kearahnya dengan senyuman nakalnya


“Aku lapar,” seru Angelia berusaha mengalihkan pembicaraan dan berusaha menyembunyikan kegugupannya.


Regan berjalan mendekati Angelia yang berdiri di dekat pintu, Angelia melangkah mundur hingga punggungnya menyentuh dinding di belakangnya.


“Aku akan membuatmu kenyang dalam hal lain,” goda Regan yang sudah memojokkan Angelia.


“A-apa yang ingin kamu lakukan? Jangan macam-macam!” seru Angelia menyilangkan kedua tangannya di dada.


“Aku sudah melihat semuanya, apalagi yang ingin kamu sembunyikan dariku, hmm?” ucapan frontal dari Regan mampu membuat kedua pipi Angelia bersemu merah.


“Ayo kita sarapan,” seru Angelia ingin menghindar dengan berbalik ke arah kirinya, tetapi tangan Regan langsung menghalanginya membuat Angelia kembali menoleh dan menatap mata elang milik Regan.


“Aku tau apa yang kamu inginkan, Angelia!”


“A-apa yang aku inginkan?” seru Angelia menjadi gugup, ia merasa sangat malu karena ketahuan terpesona dengan tubuh seksi Regan.


“Kau boleh menyentuhnya kalau kau ingin,” seru Regan membuat Angelia membelalak lebar.


“Ti-tidak. A-aku rasa aku harus ke kamar mandi,” seru Angelia berusaha menghindar tetapi Regan semakin mendekatinya membuat jantung Angelia semakin berdebar sangat cepat. Saat posisi mereka sudah sangat dekat, Angelia menutup matanya seraya menutup mulutnya dengan tangan membuat Regan ingin tertawa.


“Sebegitu takutnya,” kekeh Regan mengusap kepala Angelia dan berlalu pergi meninggalkan Angelia.


Angelia membuka matanya saat ia tidak merasakan kehadiran Regan lagi.


“Hampir saja,” seru Angelia mengusap dadanya. Angelia belum mencuci muka dan menggosok giginya, bagaimana kalau Regan barusan menciumnya. Angelia sungguh tidak bisa membayangkannya, itu pasti sangat memalukan.


- - -


Selesai mandi dan berpakaian Angelia meninggalkan kamarnya menuju meja makan. Sesampainya disana, ia melihat Regan sudah duduk dengan elegan di kursi meja makan. Ia pun berjalan mendekati Regan dan duduk di sisi kanan Regan.


“Hari ini kita akan pergi ke kantor yang berbeda,” seru Regan menyeduh kopinya.


“Aku masih gugup. Aku takut melakukan kesalahan,” seru Angelia.

__ADS_1


“Aku yakin kamu bisa, Angelia. Kamu sudah memiliki bekal dan jiwa seorang pemimpin, kamu pasti bisa menjadi Direktur Utama disana dan menyelesaikan semua permasalahan yang ada. Aku akan membantumu dari belakang,” seru Regan.


“Semoga saja semuanya lancar dan lebih mudah,” seru Angelia yang diangguki Regan.


“Habiskan sarapanmu. Aku akan mengantarmu ke kantor,” seru Regan yang diangguki Angelia.


***


Angelia sibuk dengan beberapa berkas dihadapannya, ternyata beberapa investor langsung menerima proposal yang Virendra Production ajukan, ini semua karena dukungan besar dari WT Group Company yang menjadi pendukungnya. Cepat atau lambat perusahaan ini akan kembali stabil dan Angelia sudah bisa mengesahkan nama Calief Entertainment untuk mengganti nama Virendra Production ini


Intercomnya menyala dan Angelia menekan tombol hijau untuk menerimanya.


“Ada apa Sisil?”


“Miss ada Direktur dari perusahaan GU ingin bertemu dengan Anda. Dia belum membuat janji sebelumnya, tetapi katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan dengan Anda.”


‘Cristian, ada apa dia datang kemari?’ Batin Angelia.


“Baiklah. Persilahkan dia masuk,” seru Angelia menutup kembali sambungan intercomnya.


Tak lama pintu ruangannya terbuka dan menunjukkan sosok Cristian disana.


“Hallo Angelia, apa kabar?” sapa Cristian berjalan mendekati Angelia.


“Ada hal apa yang membuat Direktur dari perusahaan GU datang kemari,” seru Angelia.


“Bolehkah aku duduk?” seru Cristian seraya menunjuk kursi yang ada disampingnya tepat berhadapan dengan Angelia, hanya terhalang meja kerja saja.


“Silahkan.”


Cristian pun duduk disana dan menghela nafasnya.


“Aku baru tau ternyata kau salah satu keturunan dari keluarga Calief. Aku juga baru tau kalau kau saudara tiri Caroline,” seru Cristian dan Angelia masih diam membisu.


“Aku sudah menemui Caroline dan dia mengatakan segalanya. Ternyata inilah alasan kenapa kalian selalu bermusuhan dan selalu ingin menjatuhkan satu sama lainnya,” seru Cristian.


“Apa kamu datang kemari hanya untuk menceramahiku?” seru Angelia.


“Tidak. Aku tidak bermaksud menceramahimu, Angelia!” Cristian menatap Angelia dengan sangat lekat.


“Aku datang untuk meminta maaf padamu, aku banyak sekali melakukan kesalahan kepadamu.”


“Aku sudah memaafkanmu,” seru Angelia.

__ADS_1


“Terima kasih, Angelia. Tapi bisakah kita dekat lagi seperti sebelumnya,” seru Cristian.


“Dekat lagi bagaimana maksudmu?” tanya Angelia.


“Beri aku kesempatan, walau bukan sebagai kekasih. Bisakah aku menjadi sahabatmu? Aku hanya ingin selalu disampingmu, aku benar-benar tidak bisa melupakanmu,” seru Cristian.


“Maafkan aku Cris, tetapi aku tidak bisa. Kau tau Regan Danial tidak suka aku dekat dengan pria lain,” seru Angelia.


“Kamu sangat mencintainya?” tanya Cristian merasa sakit hati.


“Iya, dia adalah malaikat bagiku. Aku sangat mencintainya,” seru Angelia dengan jujur.


Cristian tampak lesu mendengar kata-kata Angelia, ia masih berharap Angelia akan kembali kepadanya.


“Jadi aku tidak memiliki kesempatan lagi?” seru Cristian terlihat penuh harap.


“Maaf Cristian,” Angelia berusaha meminta pengertian dari Cristian.


“Maafkan aku karena sejak awal aku mendekatimu hanya untuk membuat Caroline terluka, aku tidak memiliki perasaan apapun kepadamu. Aku harap kamu bisa menerimanya dan melupakanku.”


“Kamu sangat kejam, Angelia. Aku mencintaimu dengan tulus,” seru Cristian merasa kesal.


“Maafkan aku.”


“Sudahlah, aku tidak akan memaksamu. Aku juga datang bukan hanya untuk membicarakan itu,” seru Cristian menyerahkan berkas yang ada ditangannya.


“Sebelumnya aku memiliki kontrak kerjasama dengan Mr. Virendra, sempat terhenti karena kasus yang dialami Caroline dan perusahaannya yang terguncang. Kerjasama ini pembangunannya sudah setengah jalan. Aku harap kamu bisa melanjutkannya,” seru Cristian.


Angelia mengambil berkas itu dan membacanya dengan teliti.


“Kalian berencana membuat resort di sekitar pantai,” seru Angelia.


“Iya, kebetulan pantai itu belum banyak di ketahui orang-orang. Keindahannya masih natural, sekarang sudah banyak turis dan wisatawan yang datang ke pantai itu. Aku rasa membangun resort disana akan mendapatkan keuntungan yang besar,” seru Cristian.


“Aku tidak bisa menandatanganinya sekarang. Bisakah kamu kirimkan rekaman pembangunan resort dan daerah sekitarnya untuk aku pertimbangkan.”


“Aku akan menyurveinya akhir pekan ini, apa kamu bersedia pergi kesana bersama denganku?” tanya Cristian.


“Aku membutuhkan rekamannya. Tetapi aku akan pikirkan apa aku akan datang kesana atau tidak untuk menyurvei langsung,” seru Angelia.


“Baiklah. Aku akan menunggu kabar darimu,” seru Cristian.


***

__ADS_1


__ADS_2