
Satu jam kemudian, Regan datang menghampiri meja mereka. Angelia tampak sudah terlelap dengan kepala yang bersandar ke meja. Rita memang mengangkat telpon dari Regan saat ia menghubungi Angelia, Rita memberitahu kondisi Angelia dan mengatakan saat ini mereka ada dimana.
“Berapa banyak dia minum?” tanya Regan.
“Lebih banyak dari sebelumnya, aku tidak bisa menghentikannya. Sepertinya dia memang butuh minum,” seru Rita.
Regan melepaskan jas yang ia gunakan dan menyelimutkannya ke tubuh Angelia, kemudian Regan membopong tubuh Angelia ala bridal.
“Aku akan membawanya pulang. Thanks Rita,” seru Regan.
Rita tersenyum tulus.
“Oke, hati-hati di jalan.”
Regan pun pergi meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju mobilnya dimana Jose sudah berdiri di dekat pintu penumpang yang sudah terbuka. Regan merebahkan tubuh Angelia di atas jok dan mengangkat kepala Angelia untuk rebahan di atas pahanya.
“Hmm, apa sesakit itu?” gumam Regan membelai rambut Angelia.
“Ke Villa, Jose!”
“Baik Sir.”
- - -
Angelia terbangun dari tidurnya dengan kepala yang terasa sangat berat, seketika perutnya bergejolak hebat membuat Angelia memaksakan diri berlari ke arah kamar mandi.
“Ah!” Ia memekik saat keningnya menyambar dinding di samping pintu kamar mandi, ia benar-benar pusing. Kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahkan sesuatu yang bergejolak di dalam perutnya.
Saat itu sentuhan lembut nan hangat terasa ditengkuknya dan memijatnya dengan lembut, setelah itu tanpa merasa jijik membantu Angelia mengelap mulut Angelia dengan tisu.
Angelia menoleh ke seseorang itu dengan kernyitan didahinya.
“Re-regan?”
“Sudah lebih baik?” tanya Regan dan kemudian membopong tubuh Angelia dan membawanya kembali ke atas ranjang. Angelia baru sadar kalau ia tidur di ranjang yang sama dengan Regan dan Regan hanya memakai celananya saja tanpa mengenakan pakaian atasannya dan membiarkan tubuh kekarnya terekspos, menyadari itu Angelia memalingkan wajahnya yang bersemu merah.
“Ke-kenapa bisa aku ada disini?” tanya Angelia
“Aku membawamu pulang dari restaurant Rita, kenapa kamu minum banyak sekali hmm?” seru Regan saat ia merebahkan tubuh Angelia di atas ranjang, disana pun Angelia baru menyadari kalau pakaiannya telah berganti.
“Aku hanya merasa sedikit tertekan,” cicit Angelia.
“Apa sekarang sudah lebih baik?” tanya Regan dengan tatapan menyelidik, Angelia pun menjawab dengan anggukan kepala.
“Tunggu disini, aku akan mengambil obat untuk keningmu yang memar dan meminta asisten rumah tangga membuatkan sup untuk menghilangkan mabuk,” seru Regan dan Angelia kembali menganggukkan kepalanya.
Regan tersenyum kecil melihat kucing kecilnya yang menjadi penurut.
- - -
Regan sudah kembali duduk disisi ranjang dan mengoleskan salep untuk luka lebam di kening Angelia.
__ADS_1
“Sekarang minum supnya,” seru Regan menyuapkan sup ke dalam mulut Angelia.
“Regan,” seru Angelia setelah menerima suapan Regan itu.
“Hmm…”
“Apa kamu akan meninggalkanku suatu saat nanti?” pertanyaan Angelia menghentikan gerakan Regan, kini tatapan tajam Regan tertuju pada Angelia.
“Apa aku terlihat akan meninggalkanmu?” seru Regan.
“Aku serius, jawablah Regan. Aku- aku memiliki harapan untuk hidup bersamamu selamanya, bisakah kamu berjanji untuk tidak meninggalkanku walau bagaimanapun keadaannya?” seru Angelia terlihat bersungguh-sungguh.
“Kenapa kamu bertanya hal itu? Apa kamu memikirkan pria yang sudah meninggalkan Ibumu saat Ibumu mengandungmu?” seru Regan.
“Please, jawab pertanyaanku!” seru Angelia sedikit menuntut.
Regan menyimpan mangkuk ditangannya ke atas meja nakas, kemudian tangannya menggapai tangan Angelia dan menggenggamnya dengan lembut.
“Aku mencintaimu, Angelia dan aku ingin hidup bersama denganmu selamanya. Aku berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkanmu,” seru Regan membuat Angelia tersenyum lebar. Angelia pun langsung beranjak dari rebahannya dan memeluk tubuh Regan.
“Aku juga mencintaimu, Regan.”
Regan tersenyum seraya membalas pelukan Angelia dan membelai punggung Angelia dengan lembut.
***
Hari ini Regan mengajak Angelia untuk berkuda, disana juga ada beberapa teman Regan yang juga suka bermain kuda disana. Regan sengaja membawa Angelia kesana supaya Angelia bisa lebih rileks dan melupakan rasa sakitnya.
“Tidak begitu suka tapi aku pernah menaiki kuda,” seru Angelia.
“Baiklah.”
Mereka berjalan masuk menghampiri teman-teman Regan.
“Wah lihat siapa yang datang. Mr. Danial lama tidak berjumpa,” seru salah satu dari mereka.
“Teman kita yang satu ini sungguh orang sibuk. Sampai berkali-kali menolak untuk berkumpul,” sahut yang lainnya.
“Angelia, ini Bryan tuan muda dari keluarga Andrea. Ini Firdaus dari keluarga Amzar dan ini Dareen dari keluarga Mahardika,” seru Regan.
“Hallo semuanya. Saya Angelia,” seru Angelia.
“Emm perdana Tuan Muda Wiratama membawa seorang wanita kemari,” seru Firdaus.
“Memang apa yang special dari dia?” seru wanita yang berdiri di samping Firdaus.
“Ini Greeta, dia seorang model dan dia kekasihku!” seru Firdaus.
Disana hanya Regan dan Firdaus yang membawa seorang wanita, yang lainnya hanya seorang diri.
“Aku ingin latihan,” seru Regan.
__ADS_1
“Tunggu!” seru Greeta.
“Ada apa sih, Greet?” tanya Firdaus.
“Wanita yang bersama dengan Mr. Danial kan baru datang dan bergabung dengan kita, aku sungguh penasaran dengannya. Bagaimana kalau kita bertaruh?” seru Greeta.
“Bertaruh? Jangan macam-macam, Greeta. Kau tidak mengenal Regan,” bisik Firdaus memperingatkan.
“Aku tidak peduli, pokoknya aku ingin bertaruh dengan wanita itu. Apa dia masih berani sombong saat dia kalah nanti,” seru Greeta.
Regan hendak menjawab tetapi di tahan oleh Angelia dengan memegang tangan Regan.
“Baiklah, lalu apa taruhannya kalau aku kalah?” seru Angelia.
“Kamu harus meninggalkan Mr. Danial dan berguling keluar dari tempat ini,” seru Greeta dengan nada angkuh.
“Berani sekali kau!” Regan mulai menggertak dengan kesal.
“Kalau aku menang, apa yang bisa aku dapatkan?” tanya Angelia.
“Apapun yang kamu inginkan,” seru Greeta meremehkan Angelia.
“Aku ingin kalungmu,” seru Angelia melirik kalung berlian mewah dan terlihat antik di leher Greeta.
“Sepakat!”
“Kalau begitu aku yang akan menjadi wasit kalian,” seru Dareen dengan semangat.
“Ayo ke lapangan,” seru Firdaus.
“Angelia, kenapa kamu menerima taruhan ini. Apa kamu sungguh tidak ingin bersamaku? Batalkan taruhan ini sekarang juga,” seru Regan menahan pergelangan tangan Angelia yang hendak pergi.
“Apa kamu tidak percaya padaku, sayangku?” goda Angelia tersenyum penuh percaya diri.
“Baiklah. Melihat senyumanmu aku yakin kamu tidak akan kalah,” seru Regan mempercayai Angelia.
“Kamu memang kekasihku,” seru Angelia dengan berani mengerlingkan sebelah matanya membuat Regan tersenyum kecil.
Angelia sudah naik di atas kuda yang biasa digunakan oleh Regan dan Greeta sudah duduk di kuda pilihannya.
“Tunggu! Ini tidak adil,” seru Greeta.
“Ada apa lagi, Greet?” seru Firdaus yang terlihat kesal dengan kekasihnya itu.
“Wanita ini menggunakan kuda milik Mr. Danial yang jelas-jelas larinya sangat cepat dan hebat. Kuda ini lebih cepat dan gesit daripada kudaku,” rengeknya membuat semua orang memutar bola matanya kesal.
“Kau bisa menggunakan kuda milikku,” seru Firdaus.
“Kecepatannya hampir sama dengan Bruto milik Regan.”
“Aku tidak mau!” rengek Greeta membuat semua orang jengah.
__ADS_1