Terjerat Pesona Sang Direktur

Terjerat Pesona Sang Direktur
Permainan Dimulai


__ADS_3

Angelia berjalan masuk ke dalam ruangan Regan, ia melihat Regan sedang sibuk dengan laptopnya.


'Apa aku katakan saja padanya,' batin Angelia.


“Ada apa, Angel? Kemarilah!” seru Regan menyadarkan lamunan Angelia.


Angelia berjalan mendekati meja Regan dan menyimpan berkas yang ia bawa.


“Ini tadi aku sudah selesaikan dan tinggal kamu tanda tangan saja, Direktur.”


“Sepertinya ada hal lain yang ingin kamu sampaikan,” seru Regan yang kini fokus menatap Angelia. Ia memfokuskan perhatian seluruhnya pada kekasihnya itu.


“Emm Virendra menghubungiku,” seru Angelia membuat Regan menaikkan sebelah alisnya.


“Entah apalagi yang sedang mereka rencanakan. Dia memintaku datang ke rumah untuk makan malam,” ucap Angelia.


“Setelah sekian lama, bertahun-tahun berlalu. Aku harus kembali lagi ke rumah itu, rumah yang menyimpan banyak kenangan manis juga pahit,” seru Angelia.


Regan beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Angelia, ia menarik tangan Angelia dan membawanya untuk duduk di kursi kebesarannya.


“Eh?” Angelia ingin beranjak tetapi Regan menahannya.


“Duduklah dan santailah sedikit,” seru Regan memegang kedua pundak Angelia.


“A-apa yang mau kamu lakukan?” seru Angelia menoleh ke arah Regan.


“Memijatmu supaya kamu lebih rileks dan santai,” seru Regan mulai memijat pundak Angelia.


“Aduh, pelan-pelan. Ini sakit,” seru Angelia.


Regan mengurangi tekanannya.


“Ah, emm, “ Angelia terlihat menikmatinya dan Regan hanya bisa tersenyum saja.


“Nanti malam datanglah ke kediaman mereka, tetaplah bersikap angkuh dan jangan biarkan mereka menekanmu. Kamulah yang harus menekan mereka semua,” seru Regan.


“Kau dengarkan dulu apa maksudnya dan kau lakukanlah sebuah kesepakatan,” seru Regan.


“Kesepakatan?” tanya Angelia.


“Ya, akhir-akhir ini pasar saham milik Virendra cukup anjlok. Apalagi banyak perusahaan yang menarik kembali kontrak kerja sama mereka,” seru Regan.


“Benarkah?” seru Angelia sangat kaget.


“Ya dan aku yakin dia memintamu datang untuk satu hal,” seru Regan.


“Ya, aku paham sekarang. Mereka pasti ingin aku meminta kamu untuk membantu mereka.”


“Tepat.”


“Ah, mereka benar-benar licik. Pria itu bahkan memanggilku Nak sungguh menyebalkan!”


“Kesal? Karena kata-kata itu tidak tulus?”


“Tidak, aku sudah terbiasa di buang.”


“Tetapi aku tidak akan membuangmu,” bisik Regan membuat Angelia bergidik karena geli.


“Dan saat dia meminta bantuanmu. Kamu langsung ajukan syarat untuk sebuah kesepakatan,” seru Regan.


Angelia menoleh kembali ke arah Regan.


“Syarat apa?”


“Tukar bantuanku dengan saham sebesar 15% dari Virendra Production,” seru Regan.


“Apa? 15%? Apa dia akan memberikannya?” seru Angelia merasa tidak yakin.


“Kau meremehkan bantuan dariku, kucing kecil? Jangan remehkan kekuatan dari W.E Inc sangat besar,” jawab Regan dengan nada sombong.

__ADS_1


“Ck, dasar Devil yang sombong.” Angelia tersenyum kecil, ia memikirkan kata-kata Regan. Kalau sampai Angelia mendapatkan saham senilai 15% dari Virendra Production cepat atau lambat ia akan segera mengambil alih perusahaan,” seru Angelia merasa sangat bahagia.


“Jangan bahagia dulu, sayangku. Permainan baru saja di mulai,” seru Regan.


“Dan kamu akan membantunya?” tanya Angelia.


“Tentu saja tidak,” jawab Regan berjalan mendekati meja dan duduk bersandar di meja berhadapan dengan Angelia.


“Bantuanku akan semakin membuat mereka sesek dan rugi besar.”


“Ternyata kau sangat licik tetapi aku suka,” kekeh Angelia.


“Kalau begitu berikan aku sebuah ciuman,” seru Regan menarik Angelia untuk berdiri dihadapannya dan memeluk pinggang Angelia.


“Ck, dasar devil mesum!”


“Tapi kau juga menyukainya,” seru Regan memagut bibir Angelia.


Angelia mengalungkan kedua tangannya ke leher Regan dan membalas ciuman Regan, ia kini tidak menahan dirinya lagi. Ciuman mereka begitu panas, sebelah tangan Regan menyusup masuk ke dalam kemeja yang Angelia gunakan dan menyentuh titik sensitive milik Angelia hingga membuatnya melenguh panjang. Ciuman Regan turun ke leher Angelia dan ia juga membuka tiga kancing bagian atas Angelia.


“I-ini di kantor, ah!”


“Disini aman,” bisik Regan melanjutkan aktivitasnya.


***


Angelia sudah sampai di kediaman Virendra, Jose yang mengantarnya kesana. Regan yakin Angelia mampu menghadapi mereka semua seperti yang dikatakan oleh Regan sebelumnya.


Angelia berdiri di depan rumah besar itu. Tidak begitu banyak yang berubah, hampir masih sama seperti dulu saat ia meninggalkan kediaman itu. Banyak sekali kenangan tentang Ibunya juga Kakeknya di rumah ini, kenangan bahagia penuh kehangatan yang selalu Angelia rindukan.


Angelia menoleh ke taman yang berada di sebelah kiri dari tempatnya berdiri, taman dan bunga itu membuat Angelia mengernyitkan dahinya. Bunga-bunga itu di tanam oleh Ibunya dulu dan sekarang masih ada juga yang bermekaran dengan begitu indah.


“Angelia,” panggilan itu menyadarkan Angelia.


Angelia mengalihkan pandangannya ke sumber suara, terlihat Virendra sendiri yang menyambut kedatangannya diikuti oleh Suya.


Angelia berjalan memasuki rumah baik Suya maupun Virendra mereka berdua terlihat begitu ramah, sungguh menjijikkan melihat acting mereka.


“Suya sudah membuatkan makanan kesukaanmu, ayo kita makan malam bersama!” seru Virendra.


“Sebenarnya aku sudah makan malam tadi di luar,” seru Angelia berusaha berjaga-jaga, ia takut mereka mencoba meracuninya. Ia sadar saat ini dia sedang berada di wilayah lawan.


“Makan saja sedikit, Bibi sudah bersusah payah menyiapkannya,” seru Suya begitu memaksa.


“Sungguh aku sudah kenyang, waktuku juga cukup terbatas, bagaimana kalau kita langsung bicarakan saja masalah intinya. Kenapa Anda meminta saya datang kemari, Mr. Virendra?”


Suya dan Virendra terlihat beradu pandangan dan seakan berbicara melalui pandangan.


“Kalau begitu duduklah,” seru Virendra mempersilahkan Angelia untuk duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.


Angelia pun menurut dan mengambil duduk di atas sofa, begitu juga dengan Virendra dan Suya yang mengambil duduk di sofa yang berhadapan dengan Angelia.


“Yo, siapa ini? Anak haram kembali pulang,” sindiran itu membuat Angelia melirik ke arah seseorang yang baru saja bergabung disana, itu adalah Caroline.


“Caroline jaga bicaramu,” tegur Virendra.


“Daddy yang aku katakan bukankah kebenaran?” seru Caroline.


“Aku tidak ingin berbasa basi lagi. Langsung ke intinya saja,” seru Angelia.


“Baiklah,” Virendra berdehem kecil.


“Kejadian beberapa hari lalu saat Mr. Danial mengusir kami dari acara kami sendiri, para investorku pergi dan banyak yang membatalkan kerja sama dan tidak lagi menjadi sponsor. Mereka mengira aku memiliki masalah dengan W.E Inc,” Virendra menjelaskannya sesuai yang Regan katakan pada Angelia.


“Jadi aku memintamu datang adalah untuk meminta bantuanmu membujuk Mr. Danial untuk bekerja sama dengan perusahaan kami, dimana saat ini aku sedang membuat project reality show dimana memperlihatkan keseharian para artis dan aku membutuhkan salah satu kawasan milik W.E Inc. Jadi aku ingin kamu bisa membujuknya untuk menerima kerjasama ini,” seru Virendra.


“Kau ingin menggunakan namanya juga untuk menarik kembali para investor, bukan?”


“Ya,” jawab Virendra yang kembali ke tatapan mata dan ekspresi aslinya. Itu lebih nyaman bagi Angelia, daripada bersikap ramah seperti tadi sungguh membuat Angelia takut.

__ADS_1


“Lalu apa keuntungan yang akan aku dapatkan?” seru Angelia.


“Ck, benar-benar seorang yang tamak dan matrealistis,” seru Caroline.


“Bagaimana Mr. Virendra?” seru Angelia bertumpang kaki.


“Apa yang kau inginkan?” tanya Virendra.


“Tidak banyak, aku ingin saham Virendra Production sebesar 15%.


“Apa?” pekik Virendra.


“Jangan jadi kurang ajar dan sombong kau anak haram. Jangan berlagak hanya karena kau mendapat dukungan dari Mr. Danial,” seru Suya terlihat emosi.


“Kau benar-benar wanita yang licik!” kali ini Caroline yang berkata.


“Aku tidak memaksa kalian. Kalau kalian tidak mau maka kesepakatan kita tidak ada,” seru Angelia dengan tenang.


“Baiklah,” jawab Virendra membuat Angelia tersenyum.


“Dad!”


“Sayang!”


“Diamlah kalian berdua. Semua ini juga ulahmu Caroline,” seru Virendra terlihat kesal.


“Kalau saja kau lebih menjaga sikapmu, kau sudah membuatku sangat malu dan kita kini benar-benar sedang dalam masalah besar. Dengan kita bekerjasama dengan W.E Inc, kita bisa menarik kembali investor yang hilang dan kita bisa sebarkan berita bahwa semua itu adalah salah paham. Antara aku dan W.E Inc tidak memiliki masalah apapun,” seru Virendra.


“Cukup pintar,” seru Angelia.


“Tapi kau memberikan saham sebesar 15% pada anak haram itu, bahkan lebih besar dari saham yang kau berikan pada Caroline.”


“Aku tidak ada pilihan lain lagi, diamlah!” seru Virendra sangat kesal.


“Besok datanglah ke Virendra Production, aku akan siapkan surat pengalihan sahamnya.”


“Baiklah. Kita sudah sepakat,” seru Angelia.


“Kau benar-benar siluman rubah!” seru Caroline terlihat ingin menyerang Angelia.


“Aku datang kemari di antar oleh supir pribadi Mr. Danial,” ucap Angelia membuat Caroline menahan dirinya.


“Caroline masuklah ke kamar,” seru Virendra.


“Sial!” gerutu Caroline yang begitu emosi berlalu pergi.


“Baiklah, kesepakatan kita telah selesai. Aku akan datang besok pukul 10 ke Virendra Production dan kau tenang saja, aku juga akan sekalian membawa berita baik dari Mr. Danial,” seru Angelia membuat Virendra merasa puas.


“Baiklah.”


“Kalau begitu aku akan pergi. Selamat malam,” ucap Angelia beranjak dari duduknya dan berlalu pergi.


“Kau benar-benar sudah gila, Virendra.


Bagaimana bisa kau memberikan saham kita senilai 15% kepada anak haram itu!” Angelia masih mampu mendengar amukan Suya.


“Tidak ada cara lain lagi, kita sekarang benar-benar membutuhkan bantuannya. Kau tenang saja, anak bodoh itu tidak akan begitu sombong selamanya. Saat Mr. Danial sudah membuangnya, saat itu juga kita akan membuatnya tersiksa dan membayar semua penghinaan ini,” seru Virendra.


“Ya, aku harap Mr. Danial segera menendangnya!”


Angelia menaiki mobil dengan tersenyum sinis, keluarga macam apa itu. Mereka menuduh Angelia sebagai siluman rubah, padahal kenyataannya merekalah siluman rubah itu.


“Langsung pulang saja, Nona?”


“Iya Jose. Aku sangat lelah,” seru Angelia mengusap tengkuknya.


“Baiklah.”


***

__ADS_1


__ADS_2