
Virendra tidak dapat mengatakan apapun selain beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
“Dan jangan menemui Angelia lagi hanya untuk meminta bantuanku, saya sama sekali tidak ingin membantu maupun menolong keluarga Virendra. Jangan jadi besar kepala karena saya menerima kerja sama kita!”
Virendra tidak mampu berkata apapun dan memilih pergi meninggalkan rumah Angelia, Regan melihat ke arah Angelia yang sejak tadi diam membeku di posisinya.
“Dia sudah pergi,” seru Regan membelai pundak Angelia.
“Kenapa? Apa salahku?” gumam Angelia tanpa mampu di tahan lagi air matanya mengalir membasahi pipinya.
“Apa salahku sampai dia begitu membenciku? Bahkan dia sudah ingin membunuhku saat aku masih dalam kandungan. Kenapa Ayah kandungku harus sekejam ini?” gumam Angelia hanya bisa menangis. Sekuat apapun dirinya, hatinya tetaplah lemah, ia sangat kesakitan juga sesak mendengar kata-kata terakhir dari Virendra. Dirinya dan Caroline adalah anak dari Virendra, tetapi kenapa Virendra hanya menyayangi Caroline. Apa masalahnya? Apa salah Angelia?
Regan menarik Angelia ke dalam pelukannya dan membelai punggung Angelia dengan lembut.
“Jangan pikirkan kata-katanya, lupakan saja. Dia akan menyesal karena telah membuang putri sebaik kamu,” bisik Regan.
Angelia hanya bisa menangis dalam pelukan Regan.
- - -
Angelia memasuki ruangan Regan saat ia memanggilnya.
“Kamu memanggilku?” tanya Angelia.
“Kemarilah,” seru Regan membuat Angelia berjalan mendekati Regan yang duduk tegap di atas kursi kebesarannya.
“Lihatlah ini,” seru Regan menunjukkan sesuatu di layar laptopnya saat Angelia sudah berdiri disisinya.
“Apa itu?” tanya Angelia merasa sangat bingung.
“Ini adalah penjualan saham,” seru Regan.
“Saham?”
“Saham Virendra Production. Ada beberapa pemegang saham disana yang menjual sahamnya,” seru Regan.
“Ini kesempatanmu untuk merebut kembali segalanya. Virendra sedang dalam kondisi kacau, banyak pemegang saham yang tidak ingin rugi. Makanya mereka menjual saham mereka dengan harga yang relatif murah,” seru Regan membuat Angelia tersenyum penuh arti
“Ayo kita membelinya,” seru Angelia sangat bersemangat.
“Aku yang akan membelinya dengan uangku sendiri.”
“Tapi?”
__ADS_1
“Tidak Regan, kali ini biarkan aku membelinya dengan uangku sendiri. Semua ini adalah milik keluarga Calief yang dicuri oleh Virendra. Kini keluarga Calief akan kembali bangkit,” seru Angelia berapi-api.
Regan tersenyum melihat Angelia yang begitu bersemangat, ia lebih senang melihat kekasihnya seperti ini daripada seperti kemarin yang menangis dan bersedih.
“Jangan menangis lagi,” seru Regan memegang tangan Angelia membuat Angelia menoleh kearahnya dan beradu tatapan dengan mata elang Regan.
“Terima kasih. Aku tidak tau harus berapa kali aku mengucapkan terima kasih kepadamu,” seru Angelia tersenyum lebar.
“Cukup kamu selalu berada disisiku selamanya. Aku ingin hidup bersamamu selamanya, Angel.” seru Regan membuat Angelia merasa sangat terharu dan jantungnya berdebar sangat cepat.
***
Sesuai perjanjiannya dengan Ansel, hari ini Angelia dan Regan pergi menemui Ansel di salah satu restaurant mewah. Mereka telah sampai lebih dulu dan memilih tempat duduk.
“Ck, terlambat!” gerutu Regan membuat Angelia tersenyum.
“Sabarlah sedikit. Kalau dia tidak datang, itu bukan salah kita. Kita bisa makan berdua saja,” seru Angelia.
“Ya, aku melakukan ini karena kamu. Aku tidak ingin dia terus mengusikmu dengan alasan sebuah janji. Setelah ini jangan pernah menemuinya lagi!” seru Regan dengan tegas.
“Kau betah memiliki kekasih yang selalu mengancam seperti ini, Angelia?” seruan itu membuat mereka berdua menoleh ke sumber suara.
Ansel berdiri di ambang pintu VIP itu dengan seorang waiters yang mengantarnya.
“Kau sudah datang,” seru Angelia.
“Aku tidak menyangka kau akan membawa seorang pengawal saat menemaniku makan,” seru Ansel dengan santai membuat Angelia melirik Regan yang sudah menunjukkan tatapan tajam bagaikan elang yang siap menerkam mangsanya.
“Duduklah, kamu mau pesan apa? Makanan disini semuanya sangat lezat dan merupakan yang terbaik,” seru Angelia.
“Baiklah kalau begitu kau saja yang memilihkannya untukku,” seru Ansel yang tidak mempedulikan Regan.
“Jaga sikapmu!” seru Regan.
“Memang apa salahnya, aku sudah menolong Angelia dan sekarang dia sedang membalasnya sebagai ucapan terima kasih. Aku baru disini dan aku ingin dia yang merekomendasikan makanan terlezat disini,” jawab Ansel dengan santai.
“Kau!”
“Tenanglah,” seru Angelia menyentuh tangan Regan untuk menenangkannya.
“Aku akan pilihkan untukmu,” seru Angelia mulai memesan makanan untuk mereka bertiga.
“Jadi apa yang sedang kau kerjakan sekarang, Angelia?” tanya Ansel.
__ADS_1
“Jangan mencoba menggali informasi tentangnya!” seru Regan.
“Angelia, apa kau bekerja di sebuah perusahaan atau membuka usaha sendiri? Atau mungkin kau seorang artis yah? Kau sangat cantik,” seru Ansel.
“Aku bekerja sebagai seorang sekretaris,” jawab Angelia.
“Pantas saja kau begitu cekatan. Di perusahaan mana kau bekerja?” tanya Ansel.
“Sudah aku bilang jangan berusaha menggali informasi tentangnya!” seru Regan dengan tajam.
“Astaga Angelia, kau bisa meminta pengawalmu untuk diam tidak. Masa kita harus saling diam-diaman sambil menunggu pesanan,” seru Ansel terlihat kesal dan Angelia hanya bisa terkikik saja.
“Ngomong-ngomong apa yang sedang kau kerjakan disini?” tanya Angelia mengalihkan topik pembicaraan.
“Ada beberapa proyek yang harus aku selesaikan disini. Aku datang mewakili perusahaan di Britania,” seru Ansel.
“Aku tidak akan lama disini, tetapi saat kau ke Britania kau wajib menghubungiku. Aku akan menjadi guidemu selama disana,” seru Ansel.
“Kami tidak membutuhkannya!”
“Aku tidak menawarkannya padamu, Tuan Muda!” seru Ansel.
Angelia ingin segera kabur dari lingkungan yang membuatnya sangat tidak nyaman ini, atmosfer disini benar-benar tegang.
Tidak lama pesanan mereka pun datang dan menyajikannya di atas meja makan.
“Aku akan memotongkan dagingnya untukmu,” seru Regan mengambil alih piring milik Angelia dan memotongkan daging itu. Kemudian setelah selesai, ia kembali memberikannya kepada Angelia.
“Terima kasih,” jawab Angelia tersenyum membuat Ansel melirik ke arah mereka.
“Wah ini benar-benar lezat,” seru Ansel berbinar.
“Makanya aku sangat menyukai hampir semua menu berbahan dasar daging disini. Sangat lezat,” seru Angelia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
“Kamu pecinta daging?” tanya Ansel.
“Bisa dikatakan seperti itu,” seru Angelia.
“Wah berarti kita sama, aku juga sangat menyukai daging. Berbagai jenis daging,” seru Ansel merasa senang karena merasa memiliki kemiripan dan kecocokan dengan Angelia.
“Ck, peniru!” Regan berucap seraya menyuapkan makanan ke dalam mulutnya membuat Ansel melirik tajam kearahnya dan Angelia hanya bisa terkekeh saja.
‘Kenapa saat dia cemburu seperti itu sangat menggemaskan,’ batin Angelia melihat ke arah Regan.
__ADS_1
***