Terjerat Pesona Sang Direktur

Terjerat Pesona Sang Direktur
Malaikat Pelindungku


__ADS_3

Saat ini Regan dan Angelia berada di dalam ruangan Regan, Regan dengan telaten mengobati luka di tangan Angelia.


“Sebenarnya apa yang terjadi? Baru 4 hari aku tinggal sudah terjadi seperti ini,” seru Regan kini menatap Angelia di depannya.


“Itu-“ Angelia terdiam sesaat.


‘Haruskah aku menceritakan yang sebenarnya, bahwa Caroline dan Rosie menjebakku.’


“Angel!”


“Aku hanya mengalami kecelakaan kecil,” serunya tersenyum kecil.


“Benarkah seperti itu?” seru Regan menaikkan sebelah alisnya.


“Jangan menyembunyikan apapun dariku, aku bisa menyelidiki semuanya dan ada masalah apa sampai Rosie begitu ingin membunuhmu?” seru Regan.


Angelia menghela nafasnya, sia-sia saja ia berbohong kepada Regan.


“Baiklah. Aku akan menceritakan semuanya,” seru Angelia dan mengalirlah penjelasannya dari saat ia pulang di antar oleh Jose, dia di pukul oleh Rosie. Caroline dan Rosie yang menjebaknya dan Ansel yang menolongnya, kemudian kejadian tadi dimana Rosie melampiaskan amarahnya karena menggantikan dirinya untuk menemani Mr. Kim.


Angelia memperhatikan wajah Regan yang terlihat dingin dan entah apa yang dia pikirkan, Angelia sama sekali tidak dapat menebaknya.


“Beristirahatlah di dalam kamar,” seru Regan membantu Angelia untuk berdiri dan ia menarik tangan Angelia dengan lembut menuju ke dalam kamar istirahat.


“Kamu tidak beristirahat? Kamu baru sampai, bukan?” seru Angelia saat ia sudah duduk disisi ranjang.


“Aku masih ada sedikit pekerjaan, nanti aku akan kemari. Sekarang istirahatlah,” seru Regan membantu Angelia berbaring di atas ranjang dan menyelimuti tubuhnya.


Regan duduk disisi ranjang dan membelai kepala Angelia dengan lembut.


“Bagaimana pekerjaanmu di Britania?” tanya Angelia.


“Semuanya sudah selesai,” jawab Regan.


“Apa tidak masalah kamu kembali lebih cepat?” tanya Angelia.


“Tidak, selanjutnya hanya undangan makan malam dan acara gala party itu tidak begitu penting. Meninggalkanmu selama 4 hari saja sudah membuatku begitu khawatir,” jawab Regan.


“Maafkan aku.”


“Kenapa kamu harus meminta maaf? Ini bukan salahmu, aku yang tidak bisa menjagamu,” seru Regan.


“Kamu selalu menjadi malaikat pelindungku,” seru Angelia tersenyum.


Regan hanya tersenyum kecil kepada Angelia dan membelai kepala Angelia, perlahan mata Angelia mulai tertutup karena rasa kantuk. Sebelumnya ia sudah meminum obatnya dan itu memiliki efek mengantuk.


Setelah memastikan Angelia tertidur, Regan menyelimuti tubuh Angelia hingga batas dada. Kemudian ia pun beranjak pergi keluar ruangan itu.


Regan mengeluarkan handphonenya dan mengetik sesuatu disana, kemudian ia menempelkan handphone ke telinganya.


“Kamu dimana? Bantu aku melakukan sesuatu,” seru Regan.


“........”


“Aku ingin kamu menyelidiki seseorang dan mengumpulkan semua bukti kebusukannya, besok pagi aku ingin semua bukti itu tersebar di media sosial!”

__ADS_1


“……..”


“Caroline Virendra.”


“……..”


“Lakukan saja, aku benci seseorang yang berusaha mengusik dan mengganggu milikku!” seru Regan dengan tajam.


Regan mematikan sambungan telponnya, ia menatap alur lalu lintas yang sangat ramai dan salju yang turun dari langit melalui dinding kaca yang menjadi pembatas di kantornya.


- - -


Angelia terbangun dari tidurnya dan ia melihat sekeliling.


“Aku masih di kantor, berapa lama aku tertidur?” gumamnya memegang kepalanya, ia melihat jam tangan yang ada di pergelangan tangannya.


“Sudah pukul 5 sore, pantas aku begitu lapar.”


Angelia menuruni ranjang dan berjalan keluar dari ruangan itu, matanya tertuju pada sosok tampan yang tertidur di atas sofa dengan menggunakan lengannya sebagai bantalan kepalanya. Angelia berjalan perlahan mendekati sosok itu, ia duduk berjongkok tepat di samping sofa dekat kepala Regan. Angelia tersenyum melihat wajah tampan Regan.


‘Dia pasti sangat kelelahan,’ batin Angelia.


Ia meneliti seluruh wajah tampan Regan, dari kedua alisnya yang tebal, bulu matanya yang lentik, hidungnya yang begitu mancung, rahangnya yang tegas dengan bulu-bulu lembut membuatnya mempesona, juga bibirnya yang sedikit tebal tetapi terlihat begitu seksi. Angelia sungguh seperti sedang melihat ukiran maha karya yang begitu luar biasa, ia merasa sangat beruntung bisa memiliki pria dihadapannya ini.


‘Semakin hari aku semakin jatuh cinta kepadamu, terima kasih karena kamu membawa cahaya ke dalam hidupku yang gelap. Terima kasih juga karena kamu membawa kembali kebahagiaan yang sudah lama tidak aku temukan,’ batin Angelia tersenyum dengan masih meneliti wajah tampan Regan.


“Sudah puas mengaguminya?” suara serak dan seksi itu menyadarkan lamunan Angelia.


“Kamu sudah bangun,” seru Angelia.


“Ya, bagaimana kondisimu sekarang? Apa kepalamu terasa sakit?” tanya Regan yang kini menatapnya.


Kruyukkk...


Tubuh Angelia membeku saat mendengar suara itu, Regan tersenyum kecil.


“Sepertinya perutmu yang tidak baik-baik saja,” gurau Regan.


“Sebenarnya aku belum makan apapun seharian ini,” seru Angelia terkekeh kecil.


“Dasar bodoh!” seru Regan menjentik pelan kening Angelia.


“Kamu ingin menyiksa dirimu sendiri. Ayo kita pergi makan,” seru Regan beranjak dari duduknya.


“Aku akan ke kamar mandi sebentar.”


***


Saat ini Regan dan Angelia sudah duduk berhadapan di sebuah restaurant mewah dengan berbagai jenis makanan tersaji dihadapannya. Semua menu tertata di hadapan mereka, dari mulai seafood, berbagai jenis daging, sayuran juga salad.


“Apa ini tidak begitu berlebihan?” tanya Angelia melihat semua menu yang tersaji.


“Tidak. Cepat makanlah,” seru Regan.


“Emm baiklah aku tidak akan sungkan,” kekeh Angelia dan mulai melahap makanannya membuat Regan tersenyum.

__ADS_1


“Pelan-pelan makannya. Aku tidak akan merebutnya darimu,” gurau Regan membuat Angelia hanya nyengir saja.


“Astaga kenyang sekali,” seru Angelia setelah menyelesaikan makannya.


“Baguslah kalau sudah kenyang,” seru Regan menyesap anggurnya.


“Ngomong-ngomong apa Virendra sudah mengantarkan kontraknya?”


“Sudah, aku juga sudah memeriksa semuanya. Isinya sesuai harapan kita, mereka saat ini sedang meninjau lokasinya dan membuat schedule untuk acaranya. Perlukah kita menghadiri itu?” tanya Angelia.


“Untuk saat ini biarkan dulu. Nanti kita langsung tinjau saja ke lokasi,” seru Regan yang diangguki Angelia.


“Ngomong-ngomong kantor IAO Production sudah 90% mungkin minggu depan sudah selesai, semua furniturenya pun sudah langsung di pasang. Kamu nanti hanya perlu langsung menempatinya saja,” seru Regan.


“A-apa bisa langsung di tempati? Tetapi aku belum tau akan memulai usaha apa nanti,” seru Angelia.


“Bagaimana kalau sebuah layanan jual beli online, kamu menyediakan lahannya. Biarkan beberapa perusahaan menggunakan jasamu untuk melakukan penjualan dan proses iklan. Bagaimana?” seru Regan.


“Itu terdengar menarik, tetapi ini akan berhasil? Layanan online seperti ini sudah ada seperti perusahaan S yang begitu terkenal,” seru Angelia.


“Tidak perlu pesimis, ada W.E Inc di belakang IAO Production. Perusahaan mana yang akan menolak,” seru Regan penuh percaya diri.


“Aku percaya kalau itu,” kekeh Angelia.


“Kamu akan menjadi CEO IAO Production,” seru Regan membuat Angelia tanpa sadar menyemburkan air yang sedang ia minum.


“Ah maafkan ketidaksopananku,” seru Angelia segera mengelap mulutnya.


“Ma-maksud kamu aku menjadi CEO? Tetapi aku tidak memiliki pengalaman,” seru Angelia.


“Kalau bukan kamu, lalu siapa lagi?” tanya Regan.


“Kamu,” jawab Angelia membuat Regan terkekeh.


“Aku tidak ingin membunuh diriku sendiri dengan pekerjaan yang menumpuk dan mengurus perusahaan lain,” gurau Regan.


“Itu milik keluargamu, jadi kamu yang bertanggung jawab. Kamu bukannya ingin mengalahkan Virendra, bukan? Inilah saatnya, saat anak perusahaan mengalahkan perusahaan utama,” seru Regan tersenyum sarkasis.


“Tapi aku tidak memiliki pengalaman untuk memimpin sebuah perusahaan,” seru Angelia.


“Kamu tenang saja. Aku akan membantumu,” seru Regan.


“Baiklah. Aku akan percaya padamu,” jawab Angelia.


“Oh iya ini untukmu,” seru Regan menyerahkan sebuah kantong belanjaan ke arah Angelia.


“Apa ini?” tanya Angelia.


“Handphone, bukankah kamu kehilangan handphonemu?” seru Regan.


“Ah iya. Terima kasih,” seru Angelia membuka kantong itu dan melihat handphonenya yang merupakan handphone keluaran terbaru.


“Ah harganya bahkan lima kali lipat dari gajiku,” gumam Angelia saat melihat handphonenya.


“Kamu menyukainya?” tanya Regan.

__ADS_1


“Ya, aku sangat suka. Terima kasih,” seru Angelia tersenyum.


***


__ADS_2