
Makan siang pun datang, Regan tampak keluar dari ruangannya.
“Angelia, Nickolas dan aku akan makan diluar bersama client. Apa kamu mau ikut?” tanya Regan.
“Tidak Mr. kebetulan saya ada janji,” ucap Angelia.
“Seorang pria atau wanita?” Angelia menjadi kikuk dengan pertanyaan Regan yang penuh intimidasi itu, apalagi disana masih ada Nickolas.
“Itu- seorang perempuan,” jawab Angelia.
“Baiklah kalau begitu, kamu hati-hati. Ayo Nick!” seru Regan.
“Baik Mr.”
Mereka berdua berlalu meninggalkan Angelia seorang diri.
“Baiklah, sekarang temui artis itu.”
Angelia lupa membawa handphonenya.
- - -
Dan disinilah sekarang, Angelia berjalan memasuki sebuah cafe, ia ingin tau apa yang diinginkan Janeeta sebenarnya.
Seorang waiters menyapa di depan pintu masuk, ia mempersilahkan Angelia dan mengantarnya menuju lantai dua dimana Janeeta berada.
Angelia melihat Janeeta sudah duduk dengan angkuh di salah satu kursi yang berada dekat dengan tangga.
“Terima kasih,” ucap Angelia pada waiters yang telah mengantarnya tadi.
Waiters itu pun berlalu pergi meninggalkan Angelia.
“Nona Janeeta,” seru Angelia membuat Janeeta menoleh kearahnya dengan melepaskan kacamata hitam yang sebelumnya ia gunakan.
“Duduklah,” perintahnya dengan nada angkuh.
Angelia pun duduk dihadapan Janeeta.
“Kamu mau pesan apa? Silahkan pesan saja biar aku yang traktir,” seru Janeeta.
“Tidak perlu, saya tidak ingin apapun.”
Angelia menolaknya dengan sopan.
“Ngomong-ngomong apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya?”
“Baiklah. Aku juga tidak ingin berlama-lama dan berbasa basi,” serunya merogoh sesuatu dari dalam tas brandednya.
“Angelia. Kartu ini akan menjadi milikmu,” seru Janeeta menunjukkan sebuah kartu berwarna gold. “Aku ingin kau tinggalkan Regan Danial.”
Angelia masih diam memperhatikan setiap perkataan yang diucapkan oleh Janeeta.
__ADS_1
“Kalau perlu kau keluar kerja dari kantornya Regan dan kartu ini akan menjadi milikmu,” seru Janeeta kini menyodorkan kartu itu ke arah Angelia.
Angelia mengambil kartu itu membuat Janeeta tersenyum merendahkan.
'Dasar orang miskin! Dengan kartu itu saja sudah membuatmu begitu senang dan puas,' batin Janeeta.
“Di dalam kartu Nona Janeeta ini isinya hanya ratusan ribu atau jutaan dollar? Apa Anda tau, harga seorang Mr. Regan Danial sang Direktur dari salah satu perusahaan ternama di Negara bahkan dunia hanya segini? Apa Anda pikir aku akan meninggalkan Mr. Danial hanya untuk uang sedikit ini?” seru Angelia tersenyum kecil membuat Janeeta kaget mendengar tanggapan Angelia, Angelia menyimpan kartu itu di atas meja.
“Ck, ternyata kamu wanita yang begitu tamak. Kamu mendekati Regan hanya demi uang!” seru Janeeta terlihat emosi.
“Kalau Mr. Danial tidak memiliki uang, apa kamu juga masih berani mendekatinya dan berkata bahwa Regan adalah pria yang kamu sukai?” seru Angelia tersenyum sinis.
“Kau! Beraninya kau mengatakan hal itu kepadaku?” seru Janeeta yang sangat marah.
“Aku rasa pembicaraan kita cukup sampai disini, Nona Janeeta yang terhormat. Aku tau kamu begitu sibuk dan aku tidak ingin mengganggu waktu yang berharga Nona Janeeta, permisi.”
Angelia beranjak dari duduknya.
“Angelia, berhenti! Kalau kamu pergi, kamu pasti akan menyesal.”
Janeeta berdiri dari duduknya dan mencekal pergelangan tangan Angelia.
“Lepaskan saya, Nona Janeeta. Jangan mencari masalah!” seru Angelia berusaha melepaskan pegangan Janeeta.
“Kamu lihat saja apa yang terjadi,” seru Janeeta tersenyum misterius seraya melepaskan pegangannya.
Angelia berjalan menuju tangga dan siapa yang menyangka kalau Janeeta menyusul dan memegang kedua pundak Angelia membuat Angelia kaget. Kini Janeeta berada tepat dihadapan Angelia dengan memegang kedua pundak Angelia.
“Kau akan tamat!” bisik Janeeta dan saat itu juga menjatuhkan tubuhnya dan berguling di tangga yang tidak begitu tinggi, hanya ada 10 anak tangga.
“Kau!” Angelia merasa jengkel dengan tingkah Janeeta, dia benar-benar seorang artis yang pintar beracting.
Yang membuat Angelia kaget adalah saat kedatangan wartawan disana yang langsung menyerbu dirinya.
“Apa yang sudah kamu lakukan?”
“Kenapa kamu mendorong Nona Janeeta?”
“Apa kamu memiliki dendam kepada Nona Janeeta?”
“Benar, ada dendam apa antara kalian berdua. Sampai Anda setega itu?”
“Apa kau hanya iri padanya?”
“Aku juga tidak tau apa yang membuatnya begitu tersinggung. Dia langsung mendorongku jatuh,” seru Janeeta dengan nada lemah penuh kesakitan.
“Cepat di jawab, Nona. Kenapa Anda begitu tega mendorong Nona Janeeta hingga terluka parah?”
'Kenapa bisa muncul begitu banyak wartawan? Apa Janeeta yang merencanakan semua ini?' batin Angelia.
“Diam! Bukankah yang lebih penting sekarang adalah membawanya ke rumah sakit?” seru Angelia.
__ADS_1
“Apa Anda marah karena merasa malu dan merasa bersalah?” tanya salah seorang wartawan.
“Sekarang baru berpikir untuk mengantar orang ke rumah sakit? Apa Anda tidak merasa sudah terlambat?” jawab yang lainnya.
Angelia tidak tau harus menjawab apa, ini membuatnya sangat kebingungan.
Saat itu pun Angelia melihat kedatangan Regan disana, Angelia menatap mata Regan yang tidak melihat kearahnya.
'Regan? Apa kamu juga tidak mempercayaiku?' batin Angelia saat melihat Regan berjalan mendekati Janeeta yang tersenyum puas.
“Regan, ah. Sekretarismu entah bagaimana mendorongku,” seru Janeeta yang kesakitan dan dua orang waiters terlihat berusaha membantunya, tetapi Janeeta menolak karena ingin Regan menggendongnya.
Tetapi khayalan tidak seindah ekspektasi, Regan tadi hanya berdiri dengan tatapan dinginnya meneliti dan melihat Janeeta. Setelah itu Regan berbalik menaiki undakan anak tangga membuat Janeeta melongo kaget.
Regan menarik lengan Angelia dan membawanya ke dalam pelukannya.
“Aku sudah datang. Tidak apa-apa,” bisik Regan memeluk Angelia dengan begitu lembut. Pelukan Regan itu mampu menghangatkan juga menenangkan bagi Angelia, bak seorang malaikat tanpa sayap.
“Direktur Danial, kenapa Anda bisa muncul disaat seperti ini? Apakah karena Anda sudah mendengar isu?” tanya salah seorang wartawan.
“Aku tidak memiliki kewajiban untuk menjawab pertanyaan dari kalian. Kalau kalian adalah wartawan, tolong tunjukkan kartu pengenal kalian.” Regan berkata dengan begitu tajam dan penuh intimidasi hingga membuat semua wartawan itu dibuat segan juga takut hanya karena melihat tatapan mata dan aura yang menyelubungi tubuh Regan.
“Kalau tidak bisa menunjukkannya, maka aku akan lapor polisi. Karena sudah mengganggu ketenangan orang lain,” seru Regan.
“Nickolas, urus mereka!” Perintah Regan pada Nickolas yang juga ada disana.
“Baik Sir.”
“Jose, antar Nona Janeeta ke rumah sakit!” Perintah Regan pada Jose yang juga berada disana bersama Nickolas.
“Baik Sir.”
“Regan, Nona Angelia pasti bukan sengaja. Aku tidak apa-apa,” seru Janeeta berusaha berdiri dengan memegang perutnya.
Regan kini melepaskan pelukannya pada Angelia dan membawanya dalam rangkulannya, ia berjalan mendekati Janeeta yang berdiri tertatih, kini Regan sudah berdiri di hadapan Janeeta.
“Saat kamu jatuh, perutmu tidak mengenai benda yang tajam. Kenapa bisa berdarah begitu banyak?” tanya Regan.
“Itu- aku juga tidak tau. Mungkin karena terbentur cukup keras,” seru Janeeta merasa kebingungan. Semuanya kaget melihat kantong putih berisi cairan merah yang sudah tinggal sedikit.
“Re-regan, aku melakukan ini karena aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kehilanganmu,” seru Janeeta dengan tangisannya.
“Aku tidak membutuhkan cinta darimu. Ayo pergi, Angelia!” seru Regan membawa Angelia hendak meninggalkan tempat itu.
“Kamu menolak cintaku yang tulus, apa kamu tau kalau wanita disampingmu itu adalah seorang yang sangat matrealistis!” Seru Janeeta menghentikan langkah Regan juga Angelia.
“Dia mendekatimu hanya karena menginginkan uangmu saja!” seru Janeeta.
Regan menoleh sedikit tanpa berbalik.
“Lalu memangnya kenapa? Toh aku memiliki banyak uang, aku tidak akan membuat wanitaku merasa kekurangan.”
__ADS_1
Ucapan Regan berhasil membungkam mulut Janeeta, ia kini sangat kesal juga malu, ia bergegas meninggalkan cafe itu setelah kepergian Regan bersama yang lainnya. Tanpa sepengetahuan Janeeta, ternyata kejadian itu di rekam oleh salah seorang wartawan gadungan itu.
***