
Angelia terbangun dari tidurnya, ia menatap sekeliling kamar dan ia ingat kalau ia masih di Villa milik Regan. Setelah sarapan dan meminum obat, Angelia kembali terlelap.
“Sepertinya aku harus mandi,” gumam Angelia berangsur bangun. Ia melihat beberapa kantong dengan berbagai merk terkenal, itu adalah beberapa set pakaian wanita yang Regan siapkan untuk dirinya.
Angelia memasukkan tubuhnya ke dalam bathtub dan menikmati berendam air hangat, juga aromatherapy dan aroma yang menyegarkan dari sabun. Angelia baru sadar kalau semua perlengkapan mandi itu baru, Regan menyiapkan semuanya yang merupakan favorite Angelia.
Kilasan bayangan mengenai semalam begitu saja terlintas di kepala Angelia, wajah Angelia memanas hingga memerah saat ia mengingat bagaimana Regan mengurusnya. Bagaimana dirinya dan Regan berada di dalam bathtub yang sama berbagi kehangatan, selain itu kata-kata Regan juga masih terngiang di telinganya.
“Bagaimana dia mampu bersikap seperti itu? Apa dia sungguh ingin melindungiku?” gumam Angelia yang akhirnya menenggelamkan seluruh dirinya ke dalam air bathtub.
- - -
Angelia berjalan menuruni anak tangga dengan berpakaian rapi, ia menatap sekeliling dan begitu terpukau dengan Villa yang begitu besar dan mewah bagai istana.
“Selamat siang Nona, apa Anda ingin makan siang?” sapaan seseorang mengalihkan perhatian Angelia dari kekagumannya terhadap Villa itu.
Di ujung tangga, seorang wanita paruh baya berdiri dan tersenyum ke arahnya.
“Perkenalkan nama saya Bibi Zhi, saya ART di Villa ini,” seru Bibi Zhi saat Angelia tak memberi jawaban.
“Hallo Bibi Zhi, saya ingin bertemu Mr. Danial. Dia ada dimana yah?” tanya Angelia.
“Mr. Danial ada di taman belakang sedang bermain golf. Mari, saya akan mengantar Anda,” seru Bibi Zhi dengan ramah.
“Kalau begitu maaf aku merepotkanmu,” seru Angelia dan Bibi Zhi tersenyum hangat padanya.
Sungguh membuat Angelia semakin merindukan Ibunya melihat kehangatan penuh keibuan yang diberikan Bibi Zhi.
Angelia melihat Regan sedang bermain golf seorang diri, seorang pria berpakaian pelayan berdiri tidak jauh darinya dan terlihat sedang menemani. Angelia berhenti sebentar dan melihat Regan dengan pakaian olahraga dan juga mengenakan topi di kepalanya.
'Apapun yang menempel ditubuhnya, selalu begitu menawan,' batin Angelia.
Angelia berjalan mendekati Regan.
“Direktur,” seruan itu membuat Regan menoleh kearahnya dan menghentikan aktivitasnya yang akan memukul bola.
“Angel, kamu sudah bangun,” seru Regan mendekati Angelia.
“Ya,” jawab Angelia.
Angelia memekik saat Regan menyentuh keningnya.
“Bagaimana keadaanmu sekarang? Sebaiknya jangan banyak bergerak dulu,” seru Regan.
“Aku sudah merasa lebih baik. Anda tidak perlu khawatir,” ucap Angelia. “Emm, apa saya boleh pulang.”
Ekspresi Regan berubah seketika, rahangnya tampak mengeras dan ia menunjukkan ekspresi tidak setuju membuat Angelia menjadi kikuk.
“Apa kamu ingin mencoba bermain golf? seru Regan mengabaikan ucapan Angelia sebelumnya.
“Emm, aku tidak bisa bermain golf,” seru Angelia.
“Kemarilah, aku akan mengajarimu,” seru Regan menarik tangan Angelia.
Regan mengarahkan Angelia cara memegang tongkat golf, Angelia merasa gugup saat tangan kekar Regan menyentuhnya di setiap tubuhnya dan kilasan bayangan waktu itu kembali muncul di benaknya membuat Angelia melepaskan tongkatnya dan berdiri tegak hingga punggungnya membentur dada bidang Regan.
“Ada apa?” tanya Regan.
__ADS_1
“Itu aku-“
Ucapan Angelia belum selesai, Regan sudah memangku tubuhnya ala bridal style.
“Aku sudah katakan sebaiknya kamu beristirahat saja,” seru Regan.
Angelia merebahkan kepalanya di dada bidang Regan dan ia kembali mendengar debaran jantung Regan yang membuatnya menghangat, detak jantung ini selalu membuatnya tenang juga nyaman.
***
Angelia terbangun di tengah malam karena mimpi buruk itulagi, ia berangsur bangun dari rebahannya dan memeluk kedua lututnya.
“Kenapa? Kenapa mimpi itu selalu saja muncul,” gumamnya.
Setelah merasa tenang, Angelia beranjak dari atas ranjang. Ia mengambil gelas yang kosong dan berjalan keluar kamar, tenggorokannya terasa begitu kering.
Angelia berjalan menuruni tangga, pencahayaan di seluruh ruangan begitu remang-remang. Ia berpegangan kuat pada pegangan tangga karena merasa takut.
Angelia sampai di dapur dan sebelum memasuki dapur, ia menangkap sebuah siluet di ruang keluarga saat ia melewatinya. Karena rasa penasaran, ia mengurungkan niatnya untuk berjalan ke dapur. Ia kembali dan berjalan menuju ruang keluarga dengan langkah perlahan ia berjalan memasuki ruangan itu dan mencari siluet yang tadi ia lihat.
“Ah!”
Angelia memekik kaget saat tangannya ditarik seseorang dan tubuhnya disudutkan ke dinding.
“Angel.”
Mendengar namanya dipanggil, perlahan Angelia mengangkat kepalanya dan menatap wajah seseorang dihadapannya. Itu adalah Regan, mata tajamnya sedang menatap Angelia dengan begitu tajam.
“Bau alkohol,” gumam Angelia. “Apa Anda Mabuk?”
“Aku tidak mabuk,” seru Regan dan tanpa basa basi langsung memagut bibir Angelia dengan rakus, seakan itu adalah obat baginya.
Angelia merasa seluruh tubuhnya lemas dan kedua kakinya mendadak menjadi lembek seperti jelly, tetapi tangan Regan menahan tubuh Angelia hingga kini tubuh mereka menempel satu sama lainnya.
“Direktur,” gumam Angelia saat ciuman Regan kini mulai merambat ke area rahang dan lehernya.
“Regan,” seru Angelia.
“Terus sebut namaku,” seru Regan tidak menghentikan aktivitasnya.
“Ah Regan!”
Angelia sudah begitu terbakar gairah karena ulah Regan.
“Angel, jangan pernah berfikir untuk pergi dariku,” bisik Regan dan kini tatapan mereka kembali beradu satu sama lainnya.
“Sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi milikku.”
Setelah mengatakan itu, tubuh Regan ambruk ke tubuh Angelia.
“Astaga, dia berat sekali,” keluh Angelia meringis.
Angelia berusaha keras memapahnya walau sangat berat dan ia begitu kesusahan.
Angelia tidak mengetahui dimana kamar Regan, jadi ia terpaksa membawa Regan ke dalam kamarnya. Ia merebahkan tubuh Regan di atas ranjang.
“Dia berat sekali,” keluh Angelia.
__ADS_1
Ia menyelimuti tubuh Regan dan ia pun merebahkan tubuhnya disisi ranjang yang lainnya, mereka terpaksa harus tidur satu ranjang karena keadaan mendesak.
- - -
Regan mengerjapkan matanya, kepalanya terasa begitu berat. Ia memijat pangkal hidungnya.
“Hmm apa semalam aku minum terlalu banyak,” gumamnya.
Regan sedikit memekik saat lengan dan dadanya terasa di tindih sesuatu yang tidak begitu berat, ia kemudian melirik ke sisinya dan matanya sedikit membelalak melihat Angelia tidur disampingnya.
“Dia terlihat begitu imut dan menggemaskan,” gumamnya tersenyum kecil.
Tidak bosan Regan menatap wajah cantik Angelia, gadis disampingnya ini benar-benar sudah menyita seluruh perhatian juga hatinya.
“Bagaimana aku bisa mendapatkan hatimu seutuhnya?” gumam Regan.
Angelia mulai mengerjapkan matanya dan Regan segera berpura-pura masih terlelap.
“Eunghhh...”
Angelia terbangun dari tidurnya dan ia membelalak lebar saat menyadari ia sedang memeluk seseorang.
“Astaga, apa yang aku lakukan,” seru Angelia bergegas melepaskan diri tetapi sulit karena Regan memeluknya dengan erat.
“Ya Tuhan, siapa yang awalnya memeluk seperti ini. Bukankah aku seharusnya tidur di sebelah-“ ucapan Angelia menggantung di udara saat ia menyadari kalau dirinya yang mendekati Regan dan memeluknya seperti guling.
Angelia dengan perlahan memindahkan tangan Regan dari dirinya dan ia berusaha berguling untuk menjauhi Regan sebelum Regan bangun. Mau di taruh dimana wajahnya kalau Regan tau dirinya yang mendekatinya dan memeluknya seperti itu.
“Berniat kabur, eh?”
Gerakan Angelia terhenti saat mendengar seruan itu, ah ternyata Regan sudah bangun dan dirinya sangat malu sekali.
“Aku ingin ke kamar mandi,” seru Angelia hendak kabur tetapi Regan menahan pergelangan tangannya dan menarik Angelia hingga kini posisinya terlentang. Regan mengungkung tubuh Angelia dengan berada di atas tubuh Angelia dan bertumpu pada kedua tangannya.
“Aku tidak tau kalau kau begitu inisiatif dengan membawaku ke kamarmu, Kucing Kecilku.”
“Jangan salah paham! Kamu mabuk semalam dan aku terpaksa membawamu ke kamar ini, karena aku tidak tau dimana kamarmu.”
“Bukankah kamarku ada di samping kamarmu, kau lupa akan hal itu?” seru Regan.
“Eh?”
'Ah sial! Bagaimana aku melupakan itu. Dia pernah bilang kalau dia tidur di kamar sebelah,' batin Angelia mengutuk kebodohannya.
“Ternyata sekarang kau begitu berterus terang,” goda Regan.
“Jangan terlalu percaya diri. Aku tidak berniat mendekatimu,” seru Angelia memalingkan wajahnya.
“Benarkah?” goda Regan semakin mendekati wajah Angelia.
“A-apa yang mau kamu lakukan?” seru Angelia merasa gugup.
“Menurutmu?” Disaat seorang wanita menggoda seorang pria apalagi dipagi hari.”
“Jangan macam-macam! Angelia menyilangkan kedua tangannya di dada membuat Regan terkekeh.
Cup
__ADS_1
“Aku hanya ingin memberimu morning kiss,” seru Regan membuat wajah Angelia merona hingga ke daun telinganya.
***