
Jeff kemudian mengenakan pakaiannya lalu merapikan penampilannya dan keluar dari apartemen Amber menuju ke lorong apartemen. Setelah di lorong apartemen tersebut, Jeff pun kini sibuk mengutak-atik ponselnya untuk menelepon Caitlyn.
[Halo Cat!]
[Jeff, kenapa sejak tadi kau tidak mengangkat teleponku?] gerutu Caitlyn di ujung sambungan telepon.
[Maaf Cat, aku ada meeting mendadak dengan klien jadi aku terpaksa tidak mengangkat panggilan telepon darimu.] jawab Jeff sambil tersenyum.
[Owh, aku sangat mencemaskanmu Jeff.]
[Aku baik-baik saja, sayang. Kau lihat kan aku saat ini ada di lorong hotel, aku baru saja selesai meeting dan langsung meneleponmu.] ujar Jeff sambil memperlihatkan kondisi sekeliling apartemen tersebut yang nampak seperti sebuah hotel lewat sambungan panggilan videonya.
[Astaga, maafkan aku Jeff. Maaf jika aku sudah mengganggumu, aku tidak tau hari ini kau ada meeting mendadak, kau tidak mengangkat panggilan dariku, jadi kupikir sesuatu telah terjadi padamu.]
[Tidak apa-apa sayang, lagipula meetingnya juga sudah selesai. Cat, apa kau merindukan aku?]
[So miss you, honey.] jawab Caitlyn. Jeff pun tersenyum.
[Miss you too, so miss you.]
[Jeff, aku harus take sekarang. Nanti kuhubungi lagi.]
[Iya Cat.] jawab Jeff, kemudian menutup panggilan teleponnya. Dia kemudian berjalan masuk menuju ke apartemen Amber kembali.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Jeff pada Amber yang saat ini masih ada di atas ranjang. Tubuh polosnya pun hanya tertutup oleh sebuah selimut.
"Sudah jauh lebih baik, jika tidak aku tidak akan mampu melakukannya denganmu Jeff," jawab Amber yang hanya dibalas senyuman oleh Jeff. Dia kemudian merebahkan tubuhnya kembali di samping Amber lalu memeluknya sambil sesekali menciumi bahu Amber dan mereeemas gunung kembar milik Amber.
"Bagaimana dengan istrimu?" tanya Amber.
"Dia tidak curiga, dia selalu mempercayai kata-kataku."
"Mungkin sekarang seperti itu, tapi aku yakin suatu saat dia bisa curiga, Jeff."
"Kenapa kau selalu berkata seperti itu? Apa kau mau memisahkan aku dengan buah hatiku? Bukankah aku sudah berjanji untuk adil pada kalian berdua? Aku akan mempertahankan kalian berdua semampuku."
__ADS_1
"Juga mempertahankan Caitlyn?"
"Ya."
"Tapi jika dia tahu keadaan yang sebenarnya, belum tentu dia mau dimadu, Jeff."
"Tolong jangan katakan itu lagi, Amber. Aku pasti akan melakukan apapun yang terbaik untuk kita semua."
"Tapi aku merasa sangat bersalah..." Belum sempat Amber melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba Jeff sudah membalik tubuh Amber kembali kemudian mellumat bibir Amber dengan begitu bergairah yang membuat Amber tak kuasa untuk menolaknya.
...***...
"Cat, aku sudah ngantuk," keluh Alice di tengah remang-remang lampu disko dan alunan house music.
"Tapi aku masih ingin ada di sini, Alice. Begitu banyak masalah terjadi di hidupku dan aku butuh sedikit bersenang-senang."
"Tapi Catttt..," gerutu Alice.
"Baik kalau begitu lebih baik sekarang kau kembali ke kamarmu dan tidurlah dengan nyenyak, aku masih ingin di sini!"
"Tentu saja, kau pikir berapa usiaku sampai selalu harus ditemani olehmu."
"Tapi aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu, Cat. Ingat, kau seorang model yang terkenal. Siapa saja bisa berbuat jahat padamu!"
"Jangan terlalu banyak berfikir buruk, Alice. Aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Baik jika itu maumu, kau memang benar-benar keras kepala," omel Alice, Caitlyn pun hanya terkekeh melihat tingkah Alice.
"Lebih baik sekarang kau pergi ke kamarmu dan beristirahatlah, karena besok kau harus mengurus segala kebutuhanku. Aku mau bersenang-senang dulu disini," ucap Caitlyn sambil mencubit pipi Alice.
"Baiklah Tuan Puteri, aku pergi dulu ke kamar, jaga dirimu baik-baik!" sahut Alice dengan sedikit kesal. Dia kemudian bangkit dari tempat duduknya lalu keluar dari Club malam itu menuju ke kamar hotelnya.
Caitlyn kini pun duduk sendiri di atas sofa sambil memperlihatkan sekelilingnya dan melihat orang-orang yang sedang menari di bawah kelap kelip lampu disko.
"Selamat malam, Cat!" sapa sebuah. Caitlyn pun begitu terkejut melihat Edrick yang kini sudah berdiri di samping sofa.
__ADS_1
"Selamat malam," jawab Caitlyn ketus.
"Edrick, sepertinya aku harus kembali ke kamar."
Caitlyn lalu bangkit dari tempat duduknya. Namun, saat dia akan melangkahkan kakinya tiba-tiba Edrick mencegatnya.
"Tunggu Cat, tunggu sebentar. Aku hanya ingin meminta maaf padamu, aku tidak akan menggangumu lagi Cat!" ucap Edrick yang membuat Caitlyn terkejut.
"Bisakah kita bicara sebentar? Aku ingin minta maaf padamu Cat," sahut Edrick lagi. Caitlyn lalu memandang wajah Edrick yang kini terlihat mengiba. Raut wajah jumawa yang biasa dia perlihatkan kini tidak terlihat lagi di wajahnya. Caitlyn pun hanya menatap Edrick sambil mengerutkan keningnya disertai tatapan penuh tanda tanya.
"Cat, bisakah kita bicara sebentar? Aku ingin minta maaf padamu, aku hanya ingin minta maaf padamu, tidak lebih."
"Tidak lebih?"
"Ya, duduklah Cat!"
Caitlyn masih terus menatap Edrick, meskipun ragu, Caitlyn akhirnya memutuskan duduk di atas sofa bersebelahan dengan Edrick.
"Cat, aku hanya ingin meminta maaf padamu atas semua sikapku selama ini padamu, aku telah memaksakan kehendakku padamu tanpa pernah memandang posisimu sebagai wanita yang sudah memiliki seorang suami. Aku terlalu dipenuhi oleh ambisiku untuk memilikimu. Sekali lagi maafkan aku, Cat."
"Benarkah yang kau katakan, Edric?"
"Ya, tentu saja Cat. Aku benar-benar minta maaf atas semua kesalahanku, aku memang sudah banyak melakukan hal yang tidak pantas, aku menyesal Cat. Tidak sepantasnya aku bersikap seperti itu padamu. Sekali lagi maafkan aku, Cat. Aku berjanji, mulai saat ini aku tidak akan mengganggumu lagi dan akan bersikap profesional padamu, sebatas hubungan kerja. Tidak lebih."
"Baik, aku pegang janjimu."
"Ya, aku pergi dulu," sahut Edrick, namun saat dia akan bangun dari tempat duduknya tiba-tiba Caitlyn memanggilnya kembali.
"Edrick!" panggil Caitlyn.
"Ada apa Cat?"
"Duduklah sebentar, anggap saja ini awal pertemanan kita," ucap Caitlyn sambil tersenyum.
"Terimakasih sudah mau menganggapku sebagai temanmu," jawab Edrick lalu duduk di samping Caitlyn.
__ADS_1