
Amber kemudian menatap Caitlyn. "Pergi?" tanya Amber sambil mengerutkan keningnya.
"Ya, Jeff sudah pergi. Maafkan aku, Amber. Maaf aku tidak bisa mencegahnya. Tapi dia memberikan ini untukmu," ucap Caitlyn sambil memberikan sebuah surat pada Amber.
Amber kemudian mengambil surat itu dari tangan Caitlyn. Perlahan, dia membuka surat itu sambil meremmas pakaiannya. Rasa kehilangan kini pun mulai merasuk ke dalam hatinya.
Amber,
Maaf, hanya kata itu yang bisa terucap untukmu. Aku tahu, berjuta kata maaf ku pun tidak bisa menebus semua kesalahan yang pernah kulakukan padamu. Aku tahu, kesalahanku begitu besar padamu, dan aku tahu kau pasti begitu tersakiti oleh sikapku.
Tapi Amber, kepergianku bukan untuk lari dari tanggung jawab atas apa yang terjadi padamu. Anak yang kau kandung tetaplah darah dagingku, dia tetap darah dagingku, sampai kapanpun dia adalah darah dagingku, aku menyayanginya dan tetap akan bertanggung jawab padanya sebagai ayah kandungnya untuk mencukupi semua kebutuhannya.
Maaf jika aku memilih untuk menjadi pengecut dan pergi dari kehidupan kalian. Aku hanya tidak ingin kita semakin tersakiti. Sekali lagi, aku minta maaf jika aku pernah berpura-pura mencintaimu demi mendapatkan buah hati yang sedang kau kandung itu. Awalnya aku pikir mudah bisa menjalani hubungan dengan dua orang wanita. Tapi ternyata, aku tak bisa. Hatiku sangat sakit, hatiku begitu menjerit saat malam itu melihat Caitlyn yang begitu terluka karena sikapku. Dan di saat itulah, aku baru menyadari kebodohanku yang kulakukan.
Dan setelah kejadian itu, aku tidak mau berbohong lagi Amber, karena bagiku akan lebih baik jika kita marah, sakit, bahkan kecewa asalkan dilandasi sebuah kejujuran. Dan itu jauh lebih baik dibandingkan jika kau tersenyum di atas sebuah kebohongan.
Amber, tolong maafkan aku. Maaf aku tidak pernah bisa mencintaimu, maaf aku hanya bisa menyakitimu, dan maaf jika kau tidak pernah menjadi pilihan dalam hatiku. Maafkan aku, cinta memang tidak pernah bisa dipaksakan, dan aku tidak mau kau menderita jika hidup bersama denganku karena aku yang tak pernah bisa mencintaimu. Bertahan dengan orang yang hatinya bukan untukmu itu sebenarnya sangat menyakitkan, Amber. Dan aku tidak mau kau tersakiti lagi olehku. Pulanglah ke tulang rusuk yang semestinya, menikahlah dan berbahagialah dengan laki-laki yang bisa tulus menyayangimu, dan itu bukan aku.
Sampai kapanpun aku akan selalu menyayangi anak yang ada di dalam kandunganmu, anak kita Amber. Terima kasih telah memberikan anugerah terindah di dalam hidupku, kau adalah wanita spesial yang menjadi ibu dari anakku, itulah tempatmu di dalam hatiku, ibu dari anakku, namun sayangnya hanya itu tempat yang bisa kuberikan padamu. Sekali lagi maafkan aku, Amber.
^^^Laki-laki Pengecut^^^
__ADS_1
^^^Jefferson Hugo^^^
'Kau memang benar-benar pengecut yang sesungguhnya, Jeff. Kalian berdua memang sama saja,' gumam Amber.
Amber kemudian menutup surat itu, kemudian merobeknya. Caitlyn lalu menatap Amber yang saat ini sedang tersenyum kecut.
"Amber, sekali lagi maafkan aku. Maaf aku tidak bisa memaksa Jeff untuk bisa bertahan dan menikahimu."
"Sebaiknya kau tutup mulutmu, Cat. Aku tahu ini salah satu bagian dari rencana kalian untuk mempermainkanku!" bentak Amber. Dia kemudian bangkit dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan Caitlyn menuju ruang perawatan Edison karena Jenny saat ini memberikan kode pada mereka berdua untuk masuk ke dalam ruang perawatan tersebut.
Caitlyn menatap kepergian Amber dengan tatapan pilu. Sementara di balik salah satu tembok rumah sakit tersebut, tampak seorang laki-laki melihat Caitlyn dengan tatapan nanarnya.
"Hidup itu selalu tentang pilihan, Caitlyn. Dan pilihan hatiku selamanya hanya untukmu, meskipun kau tidak pernah lagi memilihku sebagai pilihlah hatimu, aku akan selalu mencintaimu, dan menjagamu dengan caraku. Entah cinta apa ini, anggap saja aku gila. Aku sudah gila sejak aku jatuh cinta padamu, meskipun di balik kegilaan itu aku pernah melakukan kesalahan terbesar di dalam rumah tangga kita, tapi selamanya hanya kau yang akan menjadi pilihan hatiku. Maaf aku sudah menyakiti kalian semua."
"Selamat tinggal, Caitlyn. Selamanya hati ini hanya milikmu, aku mencintaimu, Cat," ucap Jeff sambil meneteskan air matanya saat melihat Caitlyn yang kini masuk ke dalam ruang perawatan Edison.
Jeff lalu pergi dari tempat itu, sedangkan seorang laki-laki kini menatap Jeff dari kejauhan.
"Jadi kau memilih pergi, Jeff? Aku tahu ini pasti begitu berat bagimu. Memaksakan sebuah cinta itu memang tidak mudah, dan aku sudah merasakannya saat memaksakan cintaku pada Caitlyn. Sampai kapanpun, cinta memang tidak pernah bisa dipaksakan, apalagi memaksakan sebuah cinta karena hanya terikat keadaan. Aku hanya bisa berharap, dua orang yang saling mencintai, tidak pernah lagi terpisah oleh keadaan, semoga Caitlyn bisa menerima kembali cintamu, Jeff."
"Edrick!" panggil seseorang yang kini menepuk bahu Edrick.
__ADS_1
"Oh, Tante Diane. Aku sebaiknya pulang dulu. Sampaikan salam dariku untuk mereka, aku tidak ingin kehadiranku menggangu kebahagiaan mereka semua."
"Aunty baik-baik saja kan?"
"Ya, aku baik-baik saja. Memang sudah seharusnya seperti itu, seharusnya aku sudah lama pergi dari kehidupan mereka. Selama ini aku memang tidak sadar diri, Edrick. Terima kasih untuk waktumu. Kau laki-laki yang baik, semoga kau bisa menikah dengan Amber secepatnya. Aku pulang dulu."
"Apa perlu kuantar?"
"Tidak usah, aku bisa sendiri. Aku juga ingin menikmati kesendirianku. Kesendirian yang penuh dengan kebahagiaan, karena selama ini aku sudah terlalu memaksakan kehendakku, dan apa yang kudapatkan? Bukan sebuah kebahagiaan, tapi kehampaan. Dan kini, aku benar-benar sendiri, tapi aku saat ini bahagia dengan kesendirianku. Sekali lagi, terima kasih banyak sudah menemaniku dan mendengar kisahku. Aku pulang dulu."
"Iya Aunty, hati-hati."
Diane lalu tersenyum, kemudian melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Edrick, keluar dari rumah sakit tersebut. Sedangkan Edrick kini melangkahkan kakinya menuju ke ruang perawatan Edison.
Saat memasuki ruangan tersebut, senyum pun merekah di bibir Edison dan Jenny. "Jadi kau yang akan menikah dengan Amber putriku?" tanya Edison saat Edrick berdiri di samping brankar.
Edrick pun hanya tersenyum, sambil menatap Amber yang kini juga menatapnya dengan tatapan dalam.
Bersambung...
NOTE:
__ADS_1
Cinta memang tidak bisa dipaksakan, karena hati berhak untuk memilih. Tapi percayalah bahwa cinta itu akan selalu menemukan jalannya, karena cinta akan pulang ke tulang rusuk yang semestinya, bukan yang hanya pernah menjadi tempat singgah sementara baginya.