Terjerat Ranjang Si Kembar (Wrong Bed)

Terjerat Ranjang Si Kembar (Wrong Bed)
Tentang Cinta


__ADS_3

Mendapat sorotan tajam dari lampu mobil, Amber pun mulai memejamkan matanya. Tiba-tiba seorang laki-laki keluar dari mobil itu kemudian mendekat ke arah Amber.


"Caitlyn! Kau kenapa Cat? Apa sesuatu telah terjadi padamu?" tanya seorang lelaki yang kini berdiri di hadapannya.


Perlahan Amber pun membuka matanya lalu tersenyum pada lelaki itu. "Selamat pagi, Tuan Edrick. Saya bukan Caitlyn, saya Amber. Apa anda masih mengingatku?"


Mendengar perkataan dari wanita yang kini sedang berdiri di hadapannya, Edrick pun menghembuskan nafas panjangnya.


"Astaga, kupikir kau Caitlyn. Maafkan aku, Amber. Tentu saja, tentu aku masih mengingatmu."


Amber pun tersenyum. "Kenapa kau disini Amber? Ini masih pukul tiga dini hari. Tidak seharusnya kau ada di luar rumah seperti ini, Amber. Terlalu berbahaya bagi wanita sepertimu. Lalu kenapa kau bisa ada di sini? Bukankah kau seharusnya ada di Jersey?"


"Sebenarnya saya berasal dari Brooklyn, saya sedang mencari pekerjaan di sini, dan kebetulan subway yang saya naiki sedikit terlambat, jadi saya baru sampai di sini pada dini hari. Lalu, kenapa anda juga masih ada di jalan? Bukankah seharusnya anda masih tidur nyenyak di rumah?"


Mendengar perkataan Amber, Edrick pun tampak gugup. " Emh... E... Aku, sebenarnya aku tidak bisa tidur Amber, jadi aku keluar rumah mencari udara segar lalu aku bertemu denganmu."


'Sebenarnya sejak tadi aku belum pergi dari rumah Caitlyn, aku sangat mencemaskan keadaan Caitlyn, akhirnya aku memarkirkan mobilku tidak jauh dari rumah mereka. Aku benar-benar takut sesuatu terjadi pada Cat jika dia tidak bisa mengendalikan emosinya. Aku begitu cemas, apalagi sayup-sayup aku juga mendengar teriakkan Caitlyn, aku sangat mengkhawatirkannya. Tapi apalah dayaku, aku tidak memiliki hak apapun pada hidup Cat. Aku hanya bisa mengawasinya dari jauh karena aku juga ikut bertanggung jawab atas semua yang terjadi di hidupnya. Lalu aku melihat sosok Caitlyn keluar dari rumah itu, kupikir kau adalah Caitlyn, tapi ternyata Amber. Ada apa sebenarnya? Ini benar-benar seperti sebuah teka-teki, lalu kenapa dia juga harus berbohong padaku dengan mengatakan jika dia baru saja menaiki subway? Apa yang sebenarnya dia tutupi? Ada misteri apa sebenarnya antara Jeff, Caitlyn dah Amber?' gumam Edrick.


"Owh," jawab Amber singkat.


"Amber, apa kau di sini sudah memiliki tempat tinggal?" tanya Edrick kembali pada Amber untuk menghindari kemungkinan jika Amber curiga dengan jawabannya.


"Sudah, letaknya tidak jauh dari sini."


"Bagaimana kalau kau kuantar saja?"


"Tidak Tuan, Ed. Aku tidak mau merepotkan anda."


"Sama sekali tidak merepotkan, Amber! Ayo masuk!" perintah Edrick. Dia lalu mengambil koper milik Amber yang ada di samping tubuhnya lalu memasukkan koper tersebut ke mobil kemudian dia menganggukkan kepalanya pada Amber. "Ayo Amber, masuk ke dalam!" perintah Edrick sambil membuka pintu mobil untuk Amber.


Akhirnya, Amber pun mengikuti perintah Edrick. Dia kemudian masuk ke dalam mobil itu. "Terima kasih, anda selalu baik padaku," ucap Amber saat mereka sudah masuk ke dalam mobil.


"Sama-sama, Amber," jawab Edrick sambil tersenyum, dia kemudian melajukan mobilnya menuju ke alamat yang diberikan oleh Amber. Tak berapa lama, mereka pun sudah sampai di gedung apartemen milik Amber.


"Terima kasih banyak, Tuan Edrick. Saya sudah merepotkan anda."

__ADS_1


"Tolong jangan berkata seperti itu, Amber. Kau adalah temanku. Ayo kuantar ke dalam!"


"Ah, tidak usah Tuan. Saya tidak mau merepotkan anda kembali."


"Amber, tidak akan kubiarkan seorang wanita membawa koper besar ke dalam apartemen setinggi ini. Lihat, tubuhmu bahkan sangat kurus, aku tidak mau kau pingsan sebelum sampai di depan apartemenmu."


"Hahahaha, ada-ada saja. Saya tidak selemah itu, Tuan Edrick."


"Sudahlah, ayo kita turun!" perintah Edrick pada Amber.


Mereka kemudian turun dari mobil lalu masuk ke dalam gedung apartemen itu. Namun, saat berjalan keluar dari lift, tiba-tiba kepala Amber terasa begitu sakit.


"Ouh!" ucap Amber sambil memegang kepalanya. Dia pun menyenderkan tubuhnya ke tembok.


"Astaga," gerutu Amber. Keringat dingin pun mulai keluar dari tubuhnya. Edrick yang melihat Amber kini menyenderkan tubuhnya pada tembok lalu mendekat padanya.


"Kau kenapa, Amber? Apa sesuatu telah terjadi padamu?" tanya Edrick.


"Tidak apa-apa, Tuan. Kepala saya tiba-tiba merasa sakit," jawab Amber sambil memegang kepalanya.


"Astaga, kau bilang tidak apa-apa? Lihat, wajahmu juga sangat pucat. Ayo kubantu!" ucap Edrick. Dia kemudian memapah Amber berjalan menuju ke apartemennya yang tinggal beberapa langkah saja.


"Anda tidak perlu repot-repot, Tuan Edrick. Bukankah beberapa jam lagi anda harus berangkat ke kantor? Sebaiknya anda pulang saja sekarang, anda tidak usah mencemaskan saya. Saya sudah terbiasa mengurus diri saya sendiri, Tuan."


"Kau tenang saja, aku sedang mengambil cuti selama tiga hari. Lebih baik kau istirahat saja, Amber. Kau tidak perlu cemas, aku tidak berniat jahat padamu," jawab Edrick sambil terkekeh. Amber pun ikut tersenyum.


Edrick yang kini duduk di samping Amber tiba-tiba terkejut melihat kaki Amber yang kini terlihat membengkak. "Astaga, Amber! Lihat kakimu membengkak!" ucap Edrick dengan nada begitu panik. Dia kemudian berjalan ke arah kamar mandi, lalu mengambil air hangat dari water heater dengan menggunakan wadah plastik kemudian mendekat kembali pada Amber dan menyuruhnya merendam kakinya ke dalam air hangat tersebut.


"Terima kasih, Tuan. Anda baik sekali, anda tidak sepantasnya bersikap seperti ini pada saya," ucap Amber yang merasa begitu tak enak hati melihat sikap Edrick yang begitu baik padanya. Apalagi saat ini, tanpa sungkan Edrick mulai memijit telapak kaki Amber. Raut cemas pun terlihat di wajahnya.


"Tolong jangan bicara seperti itu, Amber. Lebih baik kau pikirkan kesehatanmu."


Mendengar perkataan Edrick hati Amber pun terasa pilu. 'Jeff, aku bahkan tidak pernah mendapat perlakuan setulus ini darimu, karena yang kau lakukan hanyalah cara agar luluh padamu, tanpa memikirkan perasaanku yang sebenarnya,' gumam Amber sambil tersenyum kecut.


...***...

__ADS_1


NOTE:


❣️Ini tentang cinta. Cinta adalah ketulusan, bukanlah ambisi. Cinta adalah rasa sayang, bukan menyakiti. Memang, tidak ada yang bisa memilih kepada siapa cinta akan berlabuh, tidak ada yang bisa menahan perasaannya pada siapa dirinya akan jatuh. Memang cinta tidak pernah bisa berlogika, tapi seharusnya kau juga perlu berlogika sebelum kau benar-benar jatuh dan akhirnya membawamu pada muara yang salah. Karena seorang wanita juga harus menjaga harga dirinya, agar tidak jatuh pada cinta yang salah.


❣️ Wajib mampir juga ya ke karya othor keren yang satu ini, novelnya Kak Tyatul judulnya ANISA dijamin keren abis dan bikin baper deh.



Blurb:



ANISA


(Tyatul)



Anisa Rahman adalah seorang gadis yang hidup tanpa ayahnya. Ia hanya hidup dengan sang ibunya yang bekerja sebagai guru sedari kecil. Walau ia membutuhkan figur seorang ayah, Animasi tak pernah meminta hal itu pada sang ibu.


Hingga usianya yang ke 18 tahun, ibunya harus menyusul ayahnya ke alam sana hingga membuatnya sebagai yatim piatu. Tak mau sedih terus menerus atas kepergian sang ibu, Anisa terus melanjutkan hidupnya dengan kuliah dan bekerja paruh waktu. Hingga mempertemukan Anisa dengan orang dari masa lalunya.


"Aku mencintaimu Anisa, maukah kau menikah denganku?"


Ungkapan itu membuat Anisa senang karena dilamar oleh orang yang juga ia cintai, tapi disisi lain ia juga bimbang karena statusnya yang kini belum jelas dan masih kuliah.  Apa nanti ia bisa menjadi istri yang baik untuk suaminya?


Sebuah keputusan besar yang Anisa ambil akan membuatnya mengalami tahap baru yaitu pernikahan.ANISA


(Tyatul)


Anisa Rahman adalah seorang gadis yang hidup tanpa ayahnya. Ia hanya hidup dengan sang ibunya yang bekerja sebagai guru sedari kecil. Walau ia membutuhkan figur seorang ayah, Animasi tak pernah meminta hal itu pada sang ibu.


Hingga usianya yang ke 18 tahun, ibunya harus menyusul ayahnya ke alam sana hingga membuatnya sebagai yatim piatu. Tak mau sedih terus menerus atas kepergian sang ibu, Anisa terus melanjutkan hidupnya dengan kuliah dan bekerja paruh waktu. Hingga mempertemukan Anisa dengan orang dari masa lalunya.


"Aku mencintaimu Anisa, maukah kau menikah denganku?"

__ADS_1


Ungkapan itu membuat Anisa senang karena dilamar oleh orang yang juga ia cintai, tapi disisi lain ia juga bimbang karena statusnya yang kini belum jelas dan masih kuliah.  Apa nanti ia bisa menjadi istri yang baik untuk suaminya?


Sebuah keputusan besar yang Anisa ambil akan membuatnya mengalami tahap baru yaitu pernikahan.


__ADS_2